• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Kolik: Gejala, Mencegah dan Mengobati

Kolik bisa membuat orang tua panik. Terlebih bagi orang tua baru. Namun sebenarnya kolik adalah kondisi umum dan bukan tanda penyakit serius. Meski begitu, tetap saja pengalaman menghadapi bayi yang menangis keras selama berjam-jam tanpa sebab jelas disertai kulit memerah dengan tangan dan kaki menggenggam bisa menguras emosi dan fisik. Artikel ini akan menjelaskan seputar kolik, dari gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya.

Mengenal Kolik

Kolik adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan tangisan berkepanjangan dan berulang pada bayi yang tampak sehat dan berat badannya bertambah dengan baik. Berbeda dengan tangisan karena lapar atau popok basah, tangisan kolik sering terjadi tanpa penyebab yang jelas dan cenderung sulit ditenangkan.

Menurut penjelasan di American Family Physician, definisi klasik yang dikenal sebagai “rule of three” menyatakan bahwa kolik adalah tangisan lebih dari 3 jam per hari, setidaknya 3 hari per minggu, selama 3 minggu berturut-turut pada bayi yang sehat. Biasanya kolik muncul pada usia beberapa minggu setelah lahir hingga mencapai puncaknya sekitar 6 minggu dan seringkali mereda secara bertahap sampai usia 3–4 bulan.

Dikutip dari National Institutes of Health, Meskipun terdapat banyak teori mengenai etiologi kolik, kurangnya keseragaman dalam desain penelitian, kriteria diagnostik, dan persepsi pengasuh tentang tangisan yang berlebihan dan berkepanjangan menjadi tantangan dalam mengidentifikasi penyebab umum kolik.

Gejala Kolik

Penting untuk dapat membedakan antara tangisan biasa dan kolik. Gejala kolik cukup khas dan sering terjadi dalam pola yang bisa diprediksi. Berikut ini ciri-ciri utama yang perlu diperhatikan:

Pola tangisan “3-3-3” seperti disebutkan dalam rule of three.

Waktu kemunculan kolik yang cenderung konsisten terjadi pada waktu yang sama setiap hari, biasanya pada sore atau malam.

Tangisan kolik biasanya bernada lebih tinggi dan lebih melengking dibanding tangisan biasa.

Selama kolik, bayi akan menunjukkan tanda-tanda fisik yang jelas seperti wajah memerah, tinju mengepal, lutut ditarik ke arah perut, perut terasa keras, punggung melengkung, dan sering buang angin.

Penyebab Kolik

Kolik tidak memiliki satu penyebab tunggal yang jelas. Penelitian menunjukkan beberapa kemungkinan faktor yang saling berinteraksi:

  • Perkembangan sistem saraf pusat yang lebih sensitif terhadap rangsangan sehingga menangis berlebihan saat terjadi rangsangan berlebih atau overstimulasi.
  • Gangguan kecil pada pencernaan atau perbedaan mikrobiota usus yang dapat meningkatkan ketidaknyamanan. Ketidakseimbangan bakteri baik dan jahat di usus inilah yang diduga memicu peradangan dan produksi gas berlebih.
  • Refluks gastroesofageal (asam lambung naik).
  • Alergi atau intoleransi makanan, misalnya terhadap protein susu sapi atau komponen lain dalam ASI atau susu formula.
  • Faktor psikososial seperti stres pada orang tua, pola interaksi, dan respons pengasuhan dapat memperburuk pola tangisan.
  • Genetika dan karakter temperamen bayi.
Baca Juga:  Tanda-tanda Balita Gizi Buruk, Penyebab dan Cara Mengobatinya

Cara Dokter Mendiagnosis Kolik

Diagnosis kolik adalah proses eliminasi atau ekslusi. Artinya, dokter akan menyingkirkan penyebab medis serius terlebih dahulu, bukan sekadar melihat gejala permukaan. Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada kondisi medis serius yang tersembunyi di balik tangisan bayi. Caranya:

Pemeriksaan fisik dari kepala hingga ujung kaki untuk mencari tanda-tanda “red flag” yang mengindikasikan penyebab lain, termasuk penimbangan berat badan untuk memastikan tidak ada kegagalan pertumbuhan.

Menanyakan secara rinci pola tangisan (kapan, berapa lama, bagaimana karakteristiknya), pola menyusu, frekuensi buang air besar, riwayat kelahiran, dan riwayat alergi dalam keluarga.

Orang tua mungkin diminta membuat catatan harian selama beberapa hari untuk merekam durasi tangisan, waktu kejadian, dan respons terhadap upaya menenangkan.

Pada umumnya, tidak ada tes laboratorium atau pencitraan yang diperlukan jika riwayat dan pemeriksaan fisik normal. Namun, jika dicurigai alergi susu sapi atau kelainan organik, dokter mungkin akan menyarankan uji coba eliminasi diet atau pemeriksaan ultrasonografi perut.

Cara Mengatasi Kolik

Penanganan kolik biasanya membutuhkan kombinasi beberapa pendekatan dan dilakukan secara bertahap. Di antaranya:

  • Teknik seperti menggendong, mengayun perlahan, atau berjalan dengan bayi dapat membantu menenangkan beberapa bayi. White noise atau suara latar mendengung/mendesis seperti dari mesin pengering rambut atau vacuum cleaner terbukti menenangkan bagi sebagian bayi.
  • Memastikan posisi menyusui yang tepat, memperbaiki teknik perlekatan, memberi jeda untuk sendawa, dan menyusui dalam porsi lebih kecil tapi lebih sering.
  • Menjaga rutinitas dan lingkungan yang tenang pada sore/malam hari untuk mengurangi overstimulasi.
  • Konseling, edukasi, dan kelompok pendukung bagi orang tua untuk membantu mengurangi stres dan rasa tidak berdaya.
  • Penggunaan probiotik atau susu formula khusus sesuai dengan anjuran dokter.

Komplikasi Kolik

Kolik pada umumnya tidak menyebabkan masalah jangka panjang pada bayi yang sehat. Namun ada beberapa dampak potensial yang perlu diperhatikan:

  • Stres pada keluarga: tangisan bayi yang berkepanjangan bisa meningkatkan kelelahan orang tua, risiko depresi postpartum, dan ketegangan dalam hubungan keluarga.
  • Risiko terhadap keselamatan: orang tua yang sangat frustrasi mungkin melakukan tindakan yang membahayakan, seperti mengguncang bayi. Sindrom guncangan bayi (shaken baby syndrome) adalah kondisi serius yang harus dicegah dengan edukasi dan dukungan.
  • Perawatan medis yang tidak perlu: beberapa bayi mungkin menjalani pemeriksaan atau terapi yang tidak diperlukan jika kolik salah ditafsirkan sebagai kondisi lain.
  • Secara umum, bayi dengan kolik yang ditangani dengan benar biasanya pulih tanpa efek kesehatan jangka panjang.
Baca Juga:  Ventricular Septal Defect, Kondisi Kelainan Jantung Sejak Bayi

Pencegahan Kolik

Tidak ada jaminan pencegahan total karena penyebab kolik multifaktorial. Tapi beberapa langkah dapat mengurangi risiko atau intensitas kolik:

  • Pendidikan orang tua untuk memahami pola kolik, teknik menenangkan bayi, dan pentingnya dukungan yang dapat mengurangi kecemasan dan respons berlebihan terhadap tangisan.
  • Praktik menyusui yang baik.
  • Mengurangi kebisingan berlebih, lampu terang, atau stimulasi berlebihan terutama pada sore/malam.

Jika ada kecurigaan alergi makanan (misalnya protein susu sapi), dokter mungkin menyarankan eliminasi sementara bahan pangan itu dari diet ibu untuk menilai perubahan yang terjadi. Tapi hal ini harus dilakukan dengan pengawasan medis untuk memastikan asupan gizi ibu tetap memadai.

Beberapa penelitian menunjukkan manfaat probiotik tertentu untuk bayi yang disusui. Namun penggunaan probiotik pada bayi sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter.

Kapan Harus ke Dokter?

Meskipun kolik adalah kondisi umum dan cenderung reda seiring dengan waktu, kewaspadaan dini sangat penting. Jangan tunda untuk berkonsultasi ke dokter jika:

  • Tangisan bayi tiba-tiba berubah menjadi sangat tinggi, melengking, atau merintih kesakitan
  • Demam di atas 38 derajat Celsius
  • Menolak menyusu, menyusu sangat sedikit, atau justru terus-menerus menyusu karena tidak kenyang.
  • Muntah menyemprot, muntah berwarna hijau, diare, atau tinja berdarah/berlendir.
  • Perut tampak sangat kembung dan keras atau terdapat pembengkakan di area selangkangan.
  • Berat badan tidak naik atau bahkan turun.

Orang tua merasa sudah tidak sanggup menenangkan bayi dan sangat frustrasi, marah, atau cemas hingga mengganggu fungsi sehari-hari.

Ditinjau oleh:

dr. Eka Sulastri, Sp. A

Spesialis Anak

Primaya Hospital Bhakti Wara

 

Referensi:

Share to :

Buat Janji Dokter

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Sahabat Sehat Primaya

Select an available coupon below