Konstipasi kronis adalah masalah kesehatan yang sering dianggap remeh, padahal dampaknya bisa luar biasa: dari menurunkan produktivitas hingga menguras kantong karena biaya berobat dan pembelian obat pencahar yang terus-menerus. Lebih dari sekadar rasa tidak nyaman, konstipasi yang berkepanjangan bisa menjadi sinyal adanya gangguan pada sistem pencernaan yang memerlukan penanganan serius. Artikel ini akan menjelaskan lebih lanjut soal konstipasi kronis, termasuk gejala, penyebab, dan cara mengatasi dan mencegahnya.
Mengenal Konstipasi Kronis
Secara medis, konstipasi atau sembelit didefinisikan sebagai frekuensi buang air besar (BAB) yang kurang dari tiga kali dalam seminggu. Namun kata “kronis” di sini menunjukkan bahwa masalah tersebut telah berlangsung selama setidaknya tiga hingga enam bulan terakhir.
Menurut Seoul Consensus on Clinical Practice Guidelines for Functional Constipation, misalnya, konstipasi didefinisikan melalui berbagai macam gejala, bukan hanya hitungan berapa kali BAB dalam seminggu.
Jadi jika baru saja mengalami susah BAB setelah makan makanan pedas atau dalam perjalanan jauh, belum tentu itu masuk kategori kronis. Konstipasi kronis dapat mengganggu kualitas hidup secara signifikan sehingga memerlukan penanganan yang lebih baik.
Data epidemiologi menunjukkan bahwa konstipasi kronis sangat umum terjadi. Sebuah meta-analisis yang mengulas beberapa studi lintas sektoral menemukan bahwa prevalensi konstipasi kronis pada wanita hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan pria.
Gejala Konstipasi Kronis
Gejala konstipasi kronis bisa sangat bervariasi pada setiap orang. Para ahli menyepakati bahwa konstipasi kronis ditandai dengan kombinasi dari beberapa hal berikut:
- BAB kurang dari 3 kali per minggu
- Feses yang keras dan kecil seperti kotoran kambing (biasanya tipe 1 atau 2 dalam Bristol Stool Chart)
- Rasa tidak tuntas setelah BAB
- Rasa tersumbat atau terblokir di area anus atau rektum
- Perlu usaha ekstra keras atau bahkan bantuan manual (seperti menggunakan jari) untuk mengeluarkan feses
Gejala-gejala ini tidak hanya dapat mengganggu secara fisik, tapi juga secara psikologis karena berkaitan erat dengan tingkat stres dan kecemasan.
Penyebab Konstipasi Kronis
Penyebabnya konstipasi kronis bisa sangat beragam, dari faktor gaya hidup hingga gangguan anatomi.
Faktor Gaya Hidup dan Pola Makan
- Kurang minum/dehidrasi
- Kurang serat
- Kebiasaan menahan BAB
Efek Samping Obat-obatan
Banyak obat resep maupun bebas yang bisa menyebabkan konstipasi. Beberapa yang paling sering adalah:
- Obat pereda nyeri yang kuat seperti morfin atau tramadol
- Antikolinergik yang banyak ditemukan pada obat alergi dan antidepresan trisiklik
- Suplemen zat besi (iron) dan kalsium
- Obat tekanan darah
Gangguan Anatomi dan Fisiologis
Beberapa orang mengalami gangguan pada mekanisme buang air besar itu sendiri. Ini terjadi ketika ada ketidakmampuan koordinasi antara otot-otot panggul dan sfingter ani. Seseorang mungkin merasa ingin BAB, tapi otot dasar panggul justru tegang atau berkontraksi saat seharusnya rileks, sehingga feses “terjebak”. Kondisi ini sering terjadi pada perempuan yang pernah melahirkan atau mereka yang mengalami gangguan saraf.
Selain itu, penyebab medis lain seperti hipotiroidisme (kelenjar tiroid kurang aktif), diabetes melitus yang tidak terkontrol (menyebabkan kerusakan saraf otonom), penyakit Parkinson, atau sumbatan fisik seperti tumor usus besar bisa menjadi penyebab.
Cara Dokter Mendiagnosis Konstipasi Kronis
Diagnosis konstipasi kronis memerlukan pendekatan sistematis. Berdasarkan pedoman dari American Gastroenterological Association (AGA) dan World Gastroenterology Organisation (WGO), proses diagnosis biasanya meliputi:
- Wawancara medis mendalam tentang riwayat gejala, frekuensi BAB, konsistensi tinja, riwayat diet, aktivitas fisik, serta obat-obatan yang sedang dikonsumsi.
- Pemeriksaan fisik, terutama pemeriksaan colok dubur. Dokter akan merasakan adanya sumbatan, menilai tonus otot sfingter saat istirahat, serta meminta pasien untuk mengejan seolah-olah BAB untuk menilai apakah otot dasar panggul berfungsi dengan baik.
- Jika diperlukan, dokter akan melakukan tes tambahan:
- Kolonoskopi untuk pasien dengan tanda bahaya atau yang berusia di atas 45-50 tahun untuk menyingkirkan kemungkinan kanker usus besar.
- Tes darah untuk memeriksa fungsi tiroid, kadar kalsium, dan gula darah.
- Tes fisiologi anorektal jika pengobatan lini pertama tidak berhasil.
Cara Mengatasi Konstipasi Kronis
Untuk mengatasi konstipasi kronis, mengonsumsi obat pencahar sebanyak mungkin justru tidak disarankan. Berikut ini cara yang dianjurkan:
- Perubahan pola makan dengan meningkatkan asupan serat secara bertahap hingga mencapai 25-30 gram per hari. Sumber serat terbaik meliputi gandum utuh, kacang-kacangan, sayuran hijau, dan buah-buahan seperti apel dan pir.
- Memastikan minum air putih yang cukup. Serat membutuhkan air untuk bekerja. Tanpa cairan yang cukup, serat justru bisa memperkeras feses.
- Rutin beraktivitas fisik dan olahraga untuk membantu meningkatkan kontraksi alami otot usus.
- Penggunaan obat sesuai dengan resep dokter.
- Bagi yang mengalami disfungsi dasar panggul, terapi biofeedback bisa dilakukan untuk melatih otot-otot panggul bekerja lebih sinkron saat buang air besar.
Komplikasi Konstipasi Kronis
Membiarkan konstipasi kronis tanpa penanganan tidak hanya mengganggu kenyamanan. Bisa muncul komplikasi serius seperti:
- Wasir karena mengejan terus-menerus meningkatkan tekanan pada pembuluh darah vena di sekitar anus hingga membengkak
- Robekan pada lapisan kulit anus (fisura ani)
- Feses mengeras dan menumpuk di rektum hingga menyumbat total
- Turunnya rektum hingga keluar dari anus
- Divertikulitis, yakni peradangan hingga pecahnya kantong-kantong kecil (divertikula) di dinding usus yang terbentuk karena tekanan akibat mengejan terlalu kuat
Pencegahan Konstipasi Kronis
Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Berikut ini strategi pencegahan konstipasi kronis yang disarankan:
- Perbanyak makan sayur, buah, dan biji-bijian utuh yang mengandung banyak serat
- Minum air putih minimal 1,5-2 liter per hari
- Jadwalkan olahraga secara teratur
- Jangan biasakan menahan BAB
- Cobalah rutin BAB di waktu yang sama setiap hari (misalnya setelah sarapan) guna melatih ritme tubuh
- Posisi BAB dengan berjongkok atau menggunakan pijakan kaki jika memakai toilet duduk agar feses lebih mudah keluar
- Konsultasikan dengan dokter jika obat yang dikonsumsi menyebabkan konstipasi
- Mengelola stres karena berpengaruh terhadap kesehatan pencernaan
Kapan Harus ke Dokter?
Meskipun konstipasi kronis sering dialami banyak orang, ada beberapa tanda bahaya yang mengharuskan Anda segera berkonsultasi dengan profesional medis. Misalnya darah dalam feses, penurunan berat badan yang tidak direncanakan, nyeri perut yang hebat dan terus-menerus, serta demam yang menyertai sembelit. Diagnosis dini dapat mendeteksi kondisi mendasar yang lebih berbahaya daripada konstipasi seperti kanker kolorektal atau penyakit radang usus.
Ditinjau oleh:
dr. Ondo Renaisan Sitorus, Sp.B
Spesialis Bedah
Primaya Hospital PGI Cikini
Referensi:
- Chronic Constipation in Adults. https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2022/0900/chronic-constipation-adults.html. Diakses 28 Maret 2026
- Chronic constipation. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5976340/. Diakses 28 Maret 2026
- Bristol Stool Chart. https://my.clevelandclinic.org/health/articles/bristol-stool-chart. Diakses 28 Maret 2026
- Constipation. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/constipation/symptoms-causes/syc-20354253. Diakses 28 Maret 2026
- Etiology and evaluation of chronic constipation in adults. https://sjr.uptodate.com/contents/etiology-and-evaluation-of-chronic-constipation-in-adults/. Diakses 28 Maret 2026
- Seoul Consensus on Clinical Practice Guidelines for Functional Constipation. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12305091/. Diakses 28 Maret 2026
- Constipation. https://www.msdmanuals.com/professional/gastrointestinal-disorders/symptoms-of-gastrointestinal-disorders/constipation. Diakses 28 Maret 2026
- Side-By-Side: Diagnosis and Management of Chronic Constipation (AGA, WHO, & ASCRS). https://www.guidelinecentral.com/insights/sept-2025-chronicconstipation-guideline-sidebyside/. Diakses 28 Maret 2026



