Menjaga kecukupan gizi merupakan salah satu kunci agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Selama masa bayi dan balita, tubuh membutuhkan protein, energi, vitamin serta mineral dalam jumlah yang cukup untuk menunjang pertumbuhan organ, perkembangan otak, dan sistem kekebalan tubuh. Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dalam waktu lama, risiko terjadinya gizi buruk akan meningkat.
Salah satu bentuk gizi buruk yang perlu mendapat perhatian adalah marasmus. Kondisi ini terjadi ketika tubuh mengalami kekurangan energi dalam jangka panjang sehingga cadangan lemak dan massa otot digunakan sebagai sumber energi. Akibatnya, berat badan anak menurun drastis, tubuh tampak sangat kurus, dan daya tahan tubuh menjadi lemah.
Dalam praktik sehari-hari, tidak sedikit anak datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisi gizi buruk sudah cukup berat. Sebagian orang tua mengira anak hanya memiliki nafsu makan yang kurang atau memang bertubuh kecil sejak lahir. Padahal, penurunan berat badan yang berlangsung terus-menerus bukanlah hal yang normal dan perlu segera dievaluasi oleh dokter.
Marasmus bukan hanya memengaruhi berat badan, tetapi juga dapat menghambat pertumbuhan, mengganggu perkembangan anak, serta meningkatkan risiko infeksi dan komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan tepat. Namun, kondisi ini dapat dicegah dan memiliki peluang untuk pulih apabila dikenali sejak dini dan mendapatkan penanganan yang sesuai.
Apa Itu Marasmus?
Marasmus merupakan kondisi malnutrisi berat yang disebabkan oleh kekurangan energi dalam waktu yang lama. Pada kondisi ini, tubuh beradaptasi dengan menggunakan cadangan lemak dan otot sebagai sumber energi agar organ-organ vital tetap dapat berfungsi. Akibatnya, anak mengalami penurunan berat badan yang sangat drastis hingga jaringan lemak di bawah kulit hampir tidak tampak.
Berbeda dengan kwashiorkor, yang ditandai dengan pembengkakan tubuh akibat edema, anak dengan marasmus umumnya tampak sangat kurus tanpa pembengkakan. Tulang-tulang terlihat menonjol, pipi menjadi cekung, dan kulit tampak kendur karena berkurangnya jaringan lemak serta massa otot.
Marasmus paling sering terjadi pada bayi dan balita, terutama pada periode ketika kebutuhan nutrisi sedang meningkat pesat. Kondisi ini juga lebih mudah terjadi pada anak yang mengalami infeksi berulang, memiliki penyakit kronis tertentu, atau hidup dalam lingkungan dengan keterbatasan akses terhadap makanan bergizi dan pelayanan kesehatan.
Menurut World Health Organization (WHO), gizi buruk akut masih menjadi salah satu penyebab penting meningkatnya angka kesakitan dan kematian pada anak di bawah usia lima tahun. Oleh karena itu, deteksi dini dan penanganan yang tepat menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.
Penyebab Marasmus pada Anak
Marasmus tidak terjadi dalam waktu singkat. Kondisi ini berkembang secara perlahan ketika kebutuhan energi anak tidak terpenuhi dalam waktu yang lama. Pada awalnya, tubuh akan menggunakan cadangan glikogen sebagai sumber energi. Ketika cadangan tersebut habis, tubuh mulai memecah jaringan lemak, kemudian massa otot, agar organ-organ vital tetap dapat berfungsi. Inilah yang menyebabkan anak tampak semakin kurus dari hari ke hari.
Dalam praktik klinis, marasmus jarang disebabkan oleh satu faktor saja. Sebagian besar kasus merupakan kombinasi antara asupan nutrisi yang tidak adekuat, penyakit infeksi, serta kondisi sosial dan lingkungan yang kurang mendukung.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya marasmus antara lain:
- Asupan nutrisi yang tidak mencukupi
Penyebab tersering marasmus adalah kurangnya asupan energi dalam jangka panjang. Anak mungkin tidak mendapatkan makanan dalam jumlah yang cukup, atau makanan yang dikonsumsi tidak mengandung zat gizi yang sesuai dengan kebutuhannya.
Pada masa bayi, kondisi ini dapat terjadi apabila bayi tidak memperoleh ASI secara optimal atau tidak mendapatkan pengganti ASI yang sesuai ketika menyusui tidak memungkinkan. Sementara itu, pada usia di atas enam bulan, pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang terlambat, jumlahnya kurang, atau kandungan gizinya tidak seimbang juga dapat menyebabkan kebutuhan nutrisi anak tidak terpenuhi.
- Penyakit infeksi yang berulang
Anak yang sering mengalami diare, pneumonia, tuberkulosis (TBC), maupun infeksi lainnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami gizi buruk. Saat sakit, kebutuhan energi tubuh meningkat untuk melawan infeksi, tetapi pada saat yang sama nafsu makan anak biasanya justru menurun. Akibatnya, berat badan dapat turun dengan cepat apabila kondisi ini berlangsung berulang atau berkepanjangan.
Hubungan antara infeksi dan malnutrisi sering kali membentuk suatu lingkaran. Gizi buruk membuat daya tahan tubuh menurun sehingga anak lebih mudah sakit, sedangkan infeksi yang berulang semakin memperburuk status gizinya.
- Gangguan penyerapan nutrisi dan penyakit kronis
Pada sebagian anak, marasmus dapat terjadi meskipun asupan makan terlihat cukup. Hal ini dapat dijumpai pada beberapa penyakit yang mengganggu penyerapan zat gizi di saluran cerna, penyakit jantung bawaan tertentu, kelainan metabolik, maupun penyakit kronis lainnya yang meningkatkan kebutuhan energi tubuh.
Karena itu, dokter tidak hanya berfokus pada peningkatan asupan makan, tetapi juga mencari kemungkinan adanya penyakit yang mendasari apabila pertumbuhan anak tidak sesuai harapan.
- Faktor sosial ekonomi dan lingkungan
Keterbatasan akses terhadap makanan bergizi masih menjadi salah satu penyebab penting terjadinya marasmus. Selain itu, lingkungan dengan sanitasi yang kurang baik meningkatkan risiko diare, kecacingan, dan berbagai penyakit infeksi lain yang dapat memperburuk status gizi anak.
Upaya pencegahan gizi buruk tidak hanya berkaitan dengan pemberian makanan, tetapi juga mencakup akses terhadap air bersih, sanitasi yang layak, imunisasi, serta pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau.
Tanda dan Gejala Marasmus Yang Perlu Dikenali Orang tua
Marasmus biasanya berkembang secara bertahap sehingga tidak selalu mudah dikenali pada tahap awal. Banyak orang tua baru menyadari adanya masalah ketika tubuh anak sudah tampak sangat kurus. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan perubahan berat badan dan pertumbuhan anak secara berkala, bukan hanya melihat penampilannya.
Salah satu tanda paling khas adalah berat badan yang tidak bertambah atau justru terus menurun. Seiring berjalannya waktu, jaringan lemak dan massa otot semakin berkurang sehingga tulang-tulang, terutama pada dada, lengan, dan tungkai, tampak semakin menonjol.
Wajah anak juga mengalami perubahan. Pipi menjadi cekung karena hilangnya lemak di bawah kulit sehingga wajah tampak lebih tua dibandingkan usianya (old man’s face). Kulit terlihat lebih kendur, terutama di daerah bokong, paha, dan lengan, akibat berkurangnya jaringan penyangga di bawah kulit.
Selain perubahan fisik, perilaku anak juga dapat berubah. Pada tahap awal, sebagian anak menjadi lebih rewel karena sering merasa lapar. Namun ketika kondisi semakin berat, anak justru tampak lemas, kurang aktif, lebih banyak tidur, dan tidak lagi tertarik bermain seperti biasanya.
Rambut dapat menjadi lebih tipis, kusam, mudah patah, dan mudah rontok. Daya tahan tubuh yang menurun juga menyebabkan anak lebih mudah mengalami infeksi, seperti diare atau infeksi saluran pernapasan, yang sering kali berulang.
Berbeda dengan kwashiorkor, anak dengan marasmus umumnya tidak mengalami pembengkakan (edema). Justru tubuh tampak sangat kurus dengan hilangnya hampir seluruh cadangan lemak di bawah kulit.
Apabila orang tua melihat berat badan anak terus menurun, pakaian menjadi semakin longgar, atau tubuh anak tampak jauh lebih kurus dibandingkan sebelumnya, sebaiknya jangan menunggu hingga kondisinya semakin berat. Pemeriksaan sejak dini memungkinkan penyebabnya segera diketahui sehingga penanganan dapat diberikan lebih cepat.
Kapan Orangtua Perlu Membawa Anak ke Dokter
Tidak semua anak yang bertubuh kurus mengalami marasmus. Sebagian anak memang memiliki postur tubuh yang lebih kecil karena faktor genetik, tetapi tetap tumbuh dan berkembang sesuai usianya. Oleh karena itu, penilaian status gizi tidak dapat dilakukan hanya dengan melihat penampilan fisik, melainkan perlu mempertimbangkan grafik pertumbuhan, riwayat makan, serta kondisi kesehatan anak secara menyeluruh.
Orang tua sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter apabila menemukan beberapa kondisi berikut:
- Berat badan anak tidak bertambah atau justru malah menurun dalam beberapa bulan terakhir
- Anak tampak semakin kurus sehingga tulang-tulang mulai terlihat jelas
- Nafsu makan menurun dalam jangka waktu yang lama
- Anak sering mengalami diare, muntah, atau infeksi berulang
- Anak tampak lemas, kurang aktid, lebih banyak tidur atau tidak seceria biasanya
- Muncul kekhawatiran bahwa pertumbuhan anak tidak sesuai dengan usianya
Semakin dini penyebab hangguan pertumbuhan diketahui, semakin besar peluang untuk mencegak terjadinya gizi buruk yang lebih berat. Pada banyak kasus, intervensi nutrisi sejak awal dapat memperbaiki pertumbuhan anak tanpa harus mengalami komplikasi yang lebih serius.
Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis Marasmus?
Diagnosis marasmus tidak hanya didasarkan pada berat badan yang rendah. Dokter akan melakukan penilaian secara menyeluruh untuk mengetahui apakah anak benar-benar mengalami gizi buruk, sekaligus mencari penyebab yang mendasarinya.
Pemeriksaan diawali dengan wawancara mengenai pola makan anak, riwayat pemberian ASI dan MPASI, riwayat penyakit yang pernah dialami, serta pemantauan pertumbuhan sejak lahir. Informasi ini membantu dokter memahami apakah gangguan pertumbuhan lebih disebabkan oleh kurangnya asupan nutrisi, penyakit infeksi, atau kondisi medis lainnya.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik, termasuk mengukur berat badan, tinggi atau panjang badan, serta lingkar lengan atas (Mid-Upper Arm Circumference atau MUAC). Hasil pengukuran tersebut kemudian dibandingkan dengan kurva pertumbuhan WHO untuk menilai status gizi anak. Pada marasmus, biasanya ditemukan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB atau BB/PB) kurang dari -3 SD, atau lingkar lengan atas kurang dari 115 mm pada anak usia 6–59 bulan, tanpa adanya edema bilateral.
Bila diperlukan, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan laboratorium untuk menilai adanya komplikasi atau penyakit penyerta, seperti anemia, infeksi, maupun gangguan fungsi organ. Pemeriksaan darah bukan digunakan untuk memastikan diagnosis marasmus, tetapi untuk membantu menentukan kondisi klinis anak secara keseluruhan.
Bagaimana Penangaan Marasmus
Marasmus merupakan kondisi yang memerlukan penanganan medis secara bertahap. Tujuan terapi bukan hanya menaikkan berat badan, tetapi juga mengatasi gangguan metabolisme, mengobati komplikasi, dan memastikan pertumbuhan anak dapat kembali berlangsung secara optimal.
Penanganan mengikuti prinsip yang direkomendasikan oleh WHO dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak.
Fase Stabilisasi
Pada fase awal, prioritas utama adalah mengatasi kondisi yang dapat mengancam jiwa, seperti hipoglikemia, hipotermia, dehidrasi, gangguan elektrolit, maupun infeksi. Anak juga akan dipantau secara ketat karena metabolisme pada gizi buruk berbeda dengan anak yang status gizinya normal. Oleh sebab itu, pemberian cairan maupun nutrisi harus dilakukan secara hati-hati dan bertahap.
Fase Rehabilitasi Nutrisi
Setelah kondisi umum membaik, kebutuhan nutrisi ditingkatkan secara bertahap untuk mengejar pertumbuhan (catch-up growth). Pada anak yang dirawat di rumah sakit, dokter dapat menggunakan formula terapeutik seperti F-75 pada fase awal, kemudian dilanjutkan dengan F-100 atau terapi nutrisi lain sesuai kondisi klinis dan pedoman yang berlaku. Pada beberapa kasus tanpa komplikasi, terapi dapat dilakukan secara rawat jalan dengan Ready-to-Use Therapeutic Food (RUTF) sesuai indikasi.
Pemantauan Setelah Pulang
Perawatan tidak berhenti ketika berat badan mulai meningkat. Anak tetap memerlukan pemantauan pertumbuhan secara berkala untuk memastikan proses catch-up growth berjalan dengan baik. Orang tua juga akan mendapatkan edukasi mengenai pola makan yang sesuai, jadwal kontrol, serta tanda bahaya yang perlu segera diperiksakan kembali.
Selain memperbaiki status gizi, dokter akan mengevaluasi apakah terdapat penyakit yang menjadi penyebab utama marasmus sehingga terapi dapat dilakukan secara menyeluruh dan risiko kekambuhan dapat ditekan.
Cara Mencegah Marasmus
CARA MENCEGAH MARASMUS
Sebagian besar kasus marasmus sebenarnya dapat dicegah apabila kebutuhan gizi anak terpenuhi sejak awal kehidupan. Pencegahan tidak hanya dimulai ketika anak sudah lahir, tetapi bahkan sejak masa kehamilan. Ibu hamil perlu mendapatkan asupan gizi yang cukup agar janin dapat tumbuh dengan optimal dan memiliki cadangan nutrisi yang baik saat lahir.
Setelah bayi lahir, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama merupakan langkah penting dalam memenuhi kebutuhan nutrisi dan meningkatkan daya tahan tubuh bayi. Memasuki usia enam bulan, ASI perlu dilanjutkan bersamaan dengan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang sesuai usia, cukup jumlahnya, serta mengandung karbohidrat, protein hewani, lemak sehat, sayur, dan buah.
Selain memperhatikan asupan makanan, orang tua juga perlu memantau pertumbuhan anak secara rutin di Posyandu, Puskesmas, atau fasilitas pelayanan kesehatan. Pengukuran berat badan dan tinggi badan secara berkala membantu mendeteksi gangguan pertumbuhan lebih dini, bahkan sebelum anak tampak sangat kurus.
Pencegahan marasmus juga tidak terlepas dari upaya menjaga kesehatan anak secara menyeluruh. Imunisasi yang lengkap, kebiasaan mencuci tangan, penggunaan air bersih, sanitasi yang baik, serta penanganan segera ketika anak mengalami infeksi merupakan bagian penting dalam mencegah terjadinya gizi buruk.
Perlu dipahami bahwa kebutuhan gizi setiap anak tidak selalu sama. Pada anak dengan penyakit kronis, kelainan bawaan, atau gangguan penyerapan nutrisi, pemantauan oleh dokter mungkin diperlukan lebih sering agar pertumbuhan tetap berjalan sesuai harapan.
Ditinjau oleh:
Spesialis Anak
Primaya Hospital Semarang
Refferensi:
- World Health Organization. WHO Guideline on the Prevention and Management of Wasting and Nutritional Oedema (Acute Malnutrition) in Infants and Children Under 5 Years. Geneva: WHO; 2023.
- World Health Organization. Malnutrition Fact Sheet. Geneva: WHO. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/malnutrition
- Duggan C, Watkins JB, Walker WA, editors. Nutrition in Pediatrics: Basic Science and Clinical Applications. 5th ed. Hamilton: BC Decker; 2016.
- Kliegman RM, St Geme JW, Blum NJ, Shah SS, Tasker RC, Wilson KM. Nelson Textbook of Pediatrics. 22nd ed. Philadelphia: Elsevier; 2024.
- StatPearls Publishing. Severe Acute Malnutrition: Recognition and Management of Marasmus and Kwashiorkor. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; Updated 2024. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559224/
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Rekomendasi Tata Laksana Gizi Buruk pada Anak. Jakarta: IDAI.



