Kebutuhan nutrisi pada pasien kanker kerap diabaikan, sedangkan nutrisi yang optimal merupakan salah satu faktor penting yang berperan dalam proses penyembuhan kanker. Pendekatan pada kebutuhan nutrisi pasien kanker harus sudah dipertimbangkan sejak awal pasien terdiagnosa, bukan setelah pengobatan dimulai atau ketika muncul permasalahan penurunan berat badan. Oleh karena itu intervensi gizi harus berjalan bersamaan dengan penanganan kanker yang seringnya bersifat multimodal, melibatkan berbagai pendekatan terapi seperti operasi, kemoterapi, radioterapi, imunoterapi, dan sebagainya.
Bagaimana Nutrisi Pasien Kanker dan Berapa Kebutuhannya?
Pendekatan dukungan nutrisi pada pasien kanker sebaiknya dimulai dari bentuk paling dasar, yaitu konseling nutrisi. Tujuannya adalah membantu pasien mengatasi gejala yang memengaruhi nafsu makan serta mendorong peningkatan asupan makanan tinggi energi dan protein, serta cairan yang dapat ditoleransi dengan baik. Pola makan tinggi energi dan protein merupakan cara utama yang direkomendasikan untuk mempertahankan atau memperbaiki status gizi pasien.
Apabila intervensi diet tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan gizi harian, maka disarankan untuk menambahkan Oral Nutritional Supplement (ONS). Dukungan nutrisi medis (baik enteral maupun parenteral) perlu dipertimbangkan apabila pasien tidak mampu makan dalam jumlah yang cukup, misalnya asupan kurang dari 50% kebutuhan selama lebih dari satu minggu, atau hanya mencapai 50โ75% kebutuhan selama lebih dari dua minggu.
Prinsip dasar kebutuhan nutrisi yang optimal untuk pasien kanker adalah tetap mengacu kepada diet gizi seimbang yang tidak hanya energi/kalorinya terpenuhi tetapi juga komposisinya lengkap, yaitu terdiri dariย protein, karbohidrat kompleks, lemak sehat, serat serta vitamin dan zat mikronutrisi lainnya. ย Jumlah dan komposisi nutrisinya akan ditentukan oleh dokter untuk mengoptimalkan kebutuhan tubuh pasien.
Untuk mempertahankan status gizi yang stabil, asupan energi harus disesuaikan dengan total kebutuhan energi tubuh, yang merupakan penjumlahan dari Resting Energy Expenditure (REE), aktivitas fisik, dan thermogenesis akibat makanan. Pada pasien kanker, REE yang diukur melalui indirect calorimetry (standar emas untuk penilaian metabolisme energi) dapat menunjukkan variasi โ tetap, meningkat, atau menurun โ bila dibandingkan dengan individu sehat. ย ย Kebutuhan energi total (Total Energy Expenditure/TEE) pada pasien kanker, apabila tidak diukur secara individual, dapat diasumsikan serupa dengan individu sehat, yaitu berkisar antara 25โ30 kkal/kg berat badan/hari. Nilai ini digunakan sebagai dasar untuk memperkirakan kebutuhan energi harian pasien kanker, dengan penyesuaian lebih lanjut sesuai kondisi klinis, tingkat aktivitas, dan status metabolik pasien.
Berikut adalah rumus perhitungan kebutuhan kalori untuk pasien kanker:
- Untuk pasien kanker dengan obesitas harus mempertahankan BB dengan 21-25 kal/kgBB.
- Untuk pasien dewasa yang tirah baring, kebutuhannya 25-30 kal/kgBB.
- Pasien dengan sedikit hipermetabolisme atau yang perlu menaikkan BB maka kebutuhannya 30-35 kal/kgBB.
- Terakhir, untuk pasien yang mengalami hipermetabolisme atau stress berat, maka kebutuhan kalorinya adalah 35 kal/kgBB atau dinaikkan sesuai dengan indikasinya.
Selanjutnya untuk kebutuhan protein, normalnya adalah 0,8-1,0 g/kgBB. Disarankan agar asupan protein pada pasien kanker lebih dari 1 g/kg berat badan per hari, dan bila memungkinkan dapat ditingkatkan hingga 1,5-2 g/kg/hari. Kebutuhan protein yang lebih tinggi ini bertujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan massa otot, mendukung fungsi imun dan penyembuhan jaringan, serta membantu pasien mengatasi stres metabolik akibat penyakit dan pengobatan kanker.
Jika pasien tidak ada stress, maka 1,0-1,5 g/kgBB. Jika ada transplantasi sumsum tulang, maka kebutuhannya 1,5 g/kgBB. Dan jika protein hilang dalam jumlah besar, dapat diberikan 1,3-2,5 g/kgBB.
Untuk kebutuhan lemak bagi pasien kanker, umumnya serupa dengan individu sehat, sekitar 25-35% dari total energi. Pada pasien dengan resistensi insulin atau penurunan berat badan, proporsi lemak dapat ditingkatkan hingga 50% dari total non-protein energi dengan pengurangan karbohidrat. Asam lemak omega-3 (EPA) direkomendasikan (1โ2 g/hari) untuk membantu mempertahankan berat badan, massa otot, dan nafsu makan pada pasien yang menjalani kemoterapi. ESPEN menegaskan bahwa diet rendah lemak atau pembatasan energi yang ketat tidak dianjurkan pada pasien kanker, terutama bila terdapat risiko atau tanda-tanda malnutrisi. Pembatasan tersebut dapat memperburuk status gizi dan menurunkan respons terhadap terapi kanker.
Adapun kebutuhan cairan biasanya disesuaikan dengan kondisi pasien saat menjalani kemoterapi atau radiasi. Karena sering ada yang mengalami mual, muntah, dan diare sehingga harus dicukupi kebutuhan cairannya.
Vitamin dan mineral juga sangat dibutuhkan karena pasien kanker umumnya mengalami defisiensi vitamin dan mineral. Pasien dapat diberikan suplemen dengan kadar yangย jumlahnya sebsuai denganย Angka Kecukupan Gizi (AKG), terutama bila pola makan terbatas atau ada risiko malnutrisi. ย Penggunaan suplemen multivitamin-mineral dosis tinggi tidak dianjurkan kecuali jika ada defisiensi spesifik yang telah terdiagnosis
Mengapa Nutrisi Penting Selama dan Sesudah Pengobatan Kanker?
Menurut Indonesian Journal of Cancer, nutrisi pada pasien kanker berguna untuk mencegah defisiensi zat nutrisi, mempertahankan berat badan, dan meminimalkan efek samping terapi. Nutrisi pasien kanker sangat dibutuhkan agar energi, protein, kadar vitamin, mineral, dan elektrolit tetap seimbang.
Kecukupan nutrisi dibutuhkan oleh semua stadium kanker untuk menyeimbangkan gejala akibat dari terapi yang dilakukan. Nutrisi yang cukup juga akan menurunkan komplikasi pasca operasi, menurunkan tingkat infeksi, dan memperpendek waktu rawat inap.
Apa Saja Makanan untuk Penderita Kanker?
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bagi pasien kanker seperti yang sudah dijelaskan di atas, maka ada beberapa makanan yang disarankan. Tentunya, dokter akan memberikan rekomendasi yang tepat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien.
- Pertama, buah-buahan dan sayuran segar yang kaya akan vitamin, mineral dan antioksidan. Misalnya karotenoid dalam wortel, tomat dan jeruk.
- Kedua, biji-bijian utuh sebagai sumber karbohidrat kompleks dan serat yang baik untuk energi. Misalnya nasi merah, gandum utuh, maupun oatmeal.
- Ketiga, asupan protein dapat dicukupi dengan beberapa jenis ikan yang berlemak, seperti salmon, makarel, dan ikan teri. Bisa juga protein dari telur dan sumber protein nabati lainnya.
- Keempat, lemak sehat bisa didapatkan dari minyak zaitun, minyak ikan .
- Kelima, dianjurkan memberikan minuman sehat seperti air kelapa dan teh hijau.
Pemberian makanan untuk penderita kanker juga harus memerhatikan alergi yang dimiliki. Jangan lupa juga untuk memastikan makanan dimasak hingga matang dan kurangi penggunaan minyak, garam, dan gula terlalu banyak.
Bagaimana Cara Meningkatkan Nafsu Makan Saat Kemoterapi?
Nafsu makan memang cenderung turun saat kemoterapi. Namun, penting sekali untuk mengetahui cara meningkatkan nafsu makan saat proses penyembuhan. Penting untuk berdiskusi dengan dokter agar memberikan rekomendasi pola makan untuk pasien.
Cara pertama yang bisa dilakukan adalah mengatur pola makan. Biasakan untuk makan dalam porsi kecil namun lebih sering. Bagilah porsi makan menjadi 4-6 kali dalam sehari agar tidak terlalu banyak dalam satu kali makan. Bisa juga siapkan camilan sehat yang tinggi kalori dan protein agar lebih sering makan.
Kedua, pasien juga harus menjaga kebersihan gigi dan mulut. Karena obat kemoterapi dapat memengaruhi lapisan dalam mulut dan fungsi kelenjar ludah. Pasien bisa mengalami sakit gigi dan infeksi gusi sehingga bisa menurunkan nafsu makan.
Ketiga, perhatikan rasa makanan untuk pasien. Jangan berikan makanan yang hambar, tapi berikan penyedap rasa alami seperti jahe, kayu manis, dan bawang putih, hindari penggunaan MSG. Rempah-rempah alami juga bisa meningkatkan nafsu makan dan lidah menjadi lebih peka.
Keempat, ciptakan suasana makan yang nyaman dan menyenangkan untuk pasien. Misalnya dengan menghias makanan agar lebih menarik. Hindari juga membicarakan kanker saat sedang makan, justru bangun pembicaraan yang seru dan menyenangkan.
Kelima, perlu juga mengganti alat makan logam dengan plastik. Karena biasanya pasien lebih peka terhadap bau logam, sehingga perlu mengganti bahan alat makan. Namun pastikan alat makan plastik yang digunakan juga sehat dan aman untuk makanan.
Apakah Boleh Memberikan Suplemen untuk Pasien Kanker?
Jawabannya adalah boleh, karena tidak ada larangan bagi penderita kanker untuk mengonsumsi suplemen. Hanya saja, perlu dipastikan bahwa suplemen tersebut telah direkomendasikan oleh dokter. Jangan memberikan sembarang suplemen karena justru bisa berbahaya.
Biasanya, suplemen yang diberikan adalah suplemen nutrisi pasien kanker untuk mencukup kebutuhan nutrisi. Ada juga yang menyarankan suplemen Vitamin D maupun Vitamin C. Ada juga yang merekomendasikan suplemen herbal seperti Ginseng atau Lingzhi Maitake.
Pada intinya, suplemen yang diberikan harus sesuai dengan izin dokter. Karena jika asal memberikan, justru bisa bereaksi dengan obat kemoterapi dan mengganggu efektivitas obat. Suplemen yang tidak tepat juga bisa memunculkan efek samping yang membahayakan pasien.
Apa Saja Makanan yang Harus Dihindari Penderita Kanker?
Selain memahami makanan-makanan yang direkomendasikan untuk penderita kanker, ada juga pantangan makanan setelah pengobatan kanker. Makanan yang perlu dihindari biasanya akan disampaikan oleh dokter. Berikut adalah beberapa diantaranya:
- Hindari sumber protein yang mentah atau setengah matang seperti telur mentah, daging mentah, sashimi, seafood mentah, dan lainnya.
- Hindari produk protein yang diawetkan, seperti sosis, kornet, daging asap, ham, daging atau ikan kalengan, ikan asin, dan lainnya.
- Hindari juga sumber lemak jenuh seperti minyak samin, mentega, dan lemak babi.
- Jangan makan sayuran mentah atau tidak matang dan buah yang tidak dicuci.
- Hindari juga makanan yang mengandung bumbu tajam seperti cabai, merica, saos, dan lainnya.
- Hindari minuman beralkohol dan kurangi minuman berkafein.
Mengapa makanan-makanan di atas perlu dihindari? Jawabannya karena beberapa makanan yang tinggi gula, lemak trans dan makanan olahan dapat meningkatkan peradangan. Beberapa zat di dalam makanan olahan juga dapat memicu pertumbuhan sel kanker.
Ditinjau oleh:
dr. Evi Verawati, M. Gizi, Sp. GK
Spesialis Gizi Klinik
Primaya Evasari Hospital
Referensi:
- National Cancer Institute. (2024, October 15). Nutrition during cancer. U.S. Department of Health and Human Services. Retrieved September 25, 2025, from https://www.cancer.gov
- Deakin University. (2018, May 30). Nutrition and cancer: Why are nutrition recommendations different for cancer prevention compared to cancer treatment? Deakin Nutrition Blog. Retrieved September 25, 2025, from https://blogs.deakin.edu.au/deakinnutrition/2018/05/30/nutrition-and-cancer-why-are-nutrition-recommendations-different-for-cancer-prevention-compared-to-cancer-treatment/?utm_source=chatgpt.com
- Muscaritoli, M., Arends, J., Bachmann, P., Baracos, V., Barthelemy, N., Bertz, H., โฆ & Bischoff, S. C. (2021). ESPEN practical guideline: Clinical nutrition in cancer. European Society for Clinical Nutrition and Metabolism. https://doi.org/10.1016/j.clnu.2021.02.005
- American Cancer Society. (n.d.). Nutrition for people with cancer. Retrieved September 25, 2025, from https://www.cancer.org/cancer/survivorship/coping/nutrition.html
- Memorial Sloan Kettering Cancer Center. (n.d.). Nutrition and cancer. Retrieved September 25, 2025, from https://www.mskcc.org/experience/patient-support/nutrition-cancer
- Cancer Council NSW. (2025, July). Nutrition and cancer. Retrieved September 25, 2025, from https://www.cancercouncil.com.au/cancer-information/living-well/nutrition-and-cancer/
- Stanford Health Care. (n.d.). Nutrition during cancer treatment. Retrieved September 25, 2025, from https://stanfordhealthcare.org/medical-clinics/cancer-nutrition-services/during-cancer-treatment.html



