• Ambulance
  • 150 108
  • Chatbot

Kanker Serviks: Gejala, Deteksi Dini, dan Langkah Pencegahan

Kanker Serviks Gejala, Deteksi Dini, dan Langkah Pencegahan

Kanker serviks masih menjadi salah satu masalah utama kesehatan wanita baik di dunia khususnya Indonesia. Menurut data Globocan 2020 yang dimuat International Agency for Research on Cancer, kanker serviks menduduki peringkat ketiga jenis kanker yang paling banyak menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan karena masih banyaknya masyarakat yang belum memahami factor resiko, gejala dan tanda kanker serviks sehingga sering mengabaikan gejala awal kanker serviks atau tidak mengetahui akses ke layanan kesehatan yang tepat. Gejala kanker serviks sering tidak khas dan kerap terabaikan sehingga diagnosis dan penanganannya sering terlambat dan berakibat fatal. Oleh karena itu, edukasi seputar kanker serviks, mulai dari pengenalan gejala, pencegahan dan pengobatan sangat penting.

 

buat jani dokter primaya

Apa penyebab kanker serviks?

Kanker serviks adalah tumor ganas yang berkembang pada leher rahim atau serviks. Kanker terjadi ketika inti sel tertentu dalam tubuh yang mengalami mutasi (perubahan DNA sel) sehingga sel sel tersebut membelah tak terkendali dan berkembang secara abnormal dan membentuk tumor atau keganasan. Penyebab mutasi sel bermacam-macam seperti faktor genetik hingga pengaruh lingkungan seperti infeksi virus tertentu, papasan dengan radiasi, atau zat kimia tertentu

Infeksi virus HPV adalah penyebab pasti kanker serviks.  Terdapat ratusan strain dari virus HPV. Berdasarkan kemmapuannya memicu mutase sel, virus HPV digolongkan menjadi onkogenik type (memicu mutase sel dan menimbulkan keganasan) dan non onkogenik type (tidak memicu mutase dan keganasan). Virus HPV tipe onkogenik (khususnya HPV  tipe 16 dan 18) ditemukan pada 99% kasus kanker serviks.  Infeksi persisten (menetap) tipe onkogenik HPV (human papillomavirus) menimbulkan mutase sel dan menjadi penyebab kanker serviks. Perjalanan infeksi HPV sampai menimbulkan kanker serviks bisa sangat bervariasi mulai dari 3 sampai 20 tahun.  Kanker serviks atau kanker leher rahim umumnya berkembang secara perlahan-lahan dan sering tidak bergejala dan bisa menjalar ke bagian tubuh lain bila tak mendapat penanganan yang tepat.

 

Faktor Resiko

Berbagai factor telah dikaitkan dengan factor resiko kanker serviks. Berbagai factor terkait dengan Paparan dengan virus HPV menjadi factor resiko utama kanker serviks.faktor resiko kanker serviks adalah

  • Multiple seksual partner atau partner seksual dengan multiple seksual partner, yang meningkatkan resiko terpapar virus HPV dari pasangan seksual
  • Aktivitas seksual usia dini (kurang dari 18 tahun). Aktivitas seksual usia dini menigkatkan resiko 5x untuk mengalami kanker serviks. Hal ini disebabkan karena pada usia dini, sel sel di leher Rahim belum matur sehingga sangat rentan mengalami kerusakan saat terpapar dengan berbagai hal dari luar .
  • Riwayat mengalami penyakit menular seksual. Penyakit menular seksual menimbulkan kerusakan pada leher rahum sehingga memudahkan virus HPV yang terpapar saat aktivitas seksual dengan mudah masuk ke dalam lapisan sel leher Rahim
  • Multiparitas (melahirkan berkali kali)
  • Merokok atau sering terpapar asap rokok
  • Sistem imun atau kekebalan tubuh yang lemah
  • Ada anggota keluarga yang mengalami kanker serviks
  • Mengonsumsi alkohol berlebihan
  • Pola makan tidak sehat
  • Menggunakan kontrasepsi hormonal jangka panjang
  • Factor genetic. Sekelompok wanita dengan polimorfisme genetic mengalami peningkatan resiko untuk mengalami kanker serviks
Baca Juga:  Jangan Takut Periksa Payudara, Deteksi Dini Selamatkan Nyawa

 

Gejala

Pada tahap awal, gejala kanker serviks seringkali tidak jelas dan sulit terdeteksi. Gejala mungkin baru muncul ketika kanker telah berkembang. Di antaranya:

  • Perdarahan dari vagina di luar siklus haid atau paska berhubungan seksual
  • Perdarahan lebih banyak atau lebih lama dari haid biasanya
  • Perdarahan dari vagina setelah menopause
  • Panggul terasa nyeri ketika berhubungan seksual
  • Panggul atau perut bagian bawah terasa nyeri atau tertekan
  • Keputihan tidak normal, misalnya berbau tidak sedap atau warnanya berbeda dibanding biasanya
  • Berat badan menurun tanpa diketahui penyebabnya
  • Kelelahan berlebihan
  • Kesulitan, kesakitan, atau keluar darah saat buang air besar atau buang air kecil
  • Nyeri punggung
  • Kaki membengkak

Namun adanya gejala gejala  tersebut  di atas tidak selalu menandakan kanker serviks. Ada kemungkinan masalah kesehatan lain yang menjadi penyebabnya sehingga perlu pemeriksaan dokter jika mengalami gejala tersebut di atas

 

Cara Dokter Mendiagnosis Kanker Serviks

Terdapat beberapa prosedur standar untuk mendiagnosis kanker serviks seperti

  • Pemeriksaan fisik oleh dokter yang mencakup pemeriksaan langsung ke dalam liang kemaluan sampai leher rahim dengan menggunakan alat cocor bebek (inspekulo) dan juga pemeriksaan dalam untuk menilai perubahan pada mulut rahim
  • Dalam tes ini, dokter akan mengambil sampel sel dari leher rahim dan memeriksanya dengan mikroskop. Tes ini bertujuan mengecek apakah ada perubahan sel abnormal pada leher rahim yang merupakan tanda awal kanker serviks.
  • IVA test, dengan mengaplikasikan cairan asetat 3-5% dan melihan perubahan lesi putih pada leher Rahim. Adanya lesi putih menandakan perubahan abnormal pada sel sel leher Rahim yang disebabkan oleh infeksi persisten virus HPV
  • Tes HPV yang bertujuan mengidentifikasi adanya onkogenik type virus HPV di leher rahim.
  • Kolposkopi, yakni pemeriksaan serviks secara langsung dan mendalam dengan kolposkop (kamera khusus dengan pembesaran dan focus tertentu)
  • Tes pencitraan dengan MRI atau CT scan untuk melihat apakah kanker telah menyebar ke organ atau jaringan tubuh lain dan bagaimana persebarannya

 

Cara Mengatasi Kanker Serviks

Penanganan kanker serviks memperhatikan kondisi kesehatan pasien secara umum, usia pasien, dan tingkat keparahan kanker. Pertama-tama, pasien perlu memperbaiki gaya hidupnya dan menghindari fakto resiko, misalnya dengan berhenti merokok, makan makanan bergizi seimbang, dan rutin berolahraga. Adapun prosedur medis yang bisa dilakukan untuk mengatasi kanker serviks antara lain:

  • Operasi, yaitu tindakan mengangkat leher rahim, rahim, dan jaringan di sekitarnya yang terpengaruh kanker. Operasi bisa menggunakan metode terbuka atau dengan teknologi minimal invasif seperti laparoskopi.
  • Radioterapi: penggunaan sinar-X atau partikel energi tinggi lain untuk mematikan sel kanker.
  • Kemoterapi: penggunaan obat-obatan yang diberikan lewat suntikan atau ditelan yang bertujuan membunuh sel kanker.
  • Terapi target (targeted therapy): penggunaan monoclonal antibody hasil rekayasas genetic yang secara khusus menargetkan protein pada sel kanker guna mematikan sel abnormal tersebut.
  • Imunoterapi: penggunaan obat-obatan untuk merangsang sistem imun untuk melawan kanker.

 

Komplikasi

Kanker serviks bisa menyebabkan komplikasi ringan hingga berat dan mengancam jiwa. Komplikasi juga bisa terjadi akibat pengobatan yang dilakukan. Di antaranya:

  • Mudah terkena infeksi karena sistem kekebalan tubuh yang menurun, misalnya infeksi saluran kemih atau saluran reproduksi
  • Kanker menjalar ke organ pangggul dan dinding panggul atau jaringan lain di dalam tubuh sehingga sering menyebabkan sumbatan pada saluran kencing (ureter) dan ginjal sehingga memicu gagal ginjal. Penjalaran kanker ke area rectum/usus besar menimbulkan kesulitan buang air besar. Penyebaran penyakit ke organ lain yang jauh akan menimbulkan masalah terkait fungsi organ tersebut
  • Problem seksual seperti rasa sakit ketika berhubungan seksual
Baca Juga:  Jangan Takut Periksa Payudara, Deteksi Dini Selamatkan Nyawa

Adapun komplikasi yang merupakan efek samping pengobatan atau terapi kanker termasuk penurunan berat badan, kelelahan berlebih, dan penurunan daya tahan tubuh, kerusakan organ organ kandungan seperti indung telur akibat radiasi dan kemoterapi

 

Pencegahan

Kanker serviks bisa dicegah dengan menghindari factor resiko yang dapat dihindari dan juga memberikan perlindungan bagi tubuh jika terpapar dengan virus HPV. Pemberian vaksinasi HPV akan membentuk zat kekebalan tubuh yang cukup yang dapat mengeliminasi virus HPV yang masuk ke dsalam mulut Rahim. Vaksinasi ini merupakan salah satu program imunisasi dasar yang disediakan gratis oleh pemerintah bagi anak-anak mulai usia 9 tahun. Selain vaksinasi, cara mencegah kanker serviks bisa dilakukan dengan:

  • Mempraktikkan seks yang aman dan sehat (single sex partner)
  • Menghindari rokok
  • Memilih kontrasepsi jangka Panjang non hormonal
  • Menerapkan pola makan gizi seimbang
  • Berolahraga secara rutin
  • Menjaga daya tahan tubuh
  • Melakukan pemeriksaan dan pengobatan jika mengalami gejala gejala infeksi pada mult Rahim seperti keputihan
  • Melakukan deteksi dini secara rutin melalui iva test atau papsmear

 

Kapan Harus ke Dokter?

Kanker serviks adalah penyakit serius yang bisa mengancam jiwa jika terlambat teridentifikasi. Bila mengalami gejala tertentu yang berkaitan dengan kanker serviks, segera datangi dokter untuk menjalani screening dan pemeriksaan lebih lanjut untuk menegakkan diagnosis dan menentukan pengobatan yang tepat.

 

Reviewer

drChristina SitorusSp.OG

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan

Primaya Hospital Bekasi Barat

Referensi:

  • Indonesia Fact Sheet. https://gco.iarc.fr/today/data/factsheets/populations/360-indonesia-fact-sheets.pdf. Diakses 5 April 2023
  • Vaksinasi HPV Bersifat Wajib dan Dibiayai Negara. https://indonesiabaik.id/infografis/vaksinasi-hpv-bersifat-wajib-dan-dibiayai-negara. Diakses 5 April 2023
  • Overview-Cervical cancer. https://www.nhs.uk/conditions/cervical-cancer/. Diakses 5 April 2023
  • What Is Cervical Cancer?. https://www.cancer.gov/types/cervical. Diakses 5 April 2023
  • Cervical Cancer. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK431093/. Diakses 5 April 2023
  • Cervical cancer: Epidemiology, risk factors and screening. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7797226/. Diakses 5 April 2023
  • Cervical Cancer. https://www.cancer.org.au/cancer-information/types-of-cancer/cervical-cancer. Diakses 5 April 2023
  • Cervical cancer: ESMO Clinical Practice Guidelines for diagnosis, treatment and follow-up. Clinical Practice guidelines. Annals of Oncology 28 (Supplement 4): iv72–iv83, 2017 doi:10.1093/annonc/mdx220
  • Agustiansyah P, Sanif R, Nurmaini S, et al. Epidemiology and Risk Factors for Cervical Cancer. Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Bagikan ke :

Buat Janji Dokter

Promo

Search

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.