• Emergency
  • 150 108

Benarkah Usia Ayah Mempengaruhi Perkembangan Janin

Benarkah Usia Ayah Mempengaruhi Perkembangan Janin

Perkembangan janin tidak hanya berhubungan ibu yang mengandung. Ayah juga punya peran dalam proses menuju hadirnya buah hati ini. Menurut beberapa penelitian, antara lain di Stanford University School of Medicine, Amerika Serikat, usia ayah berpengaruh terhadap kondisi janin dalam kandungan. Pengaruh itu terutama menyangkut risiko janin.

 


Mengenal Perkembangan Janin

Perkembangan janin adalah tahap tumbuh dan berkembangnya janin selama masa kehamilan hingga tiba waktunya persalinan. Prosesnya bermula dari awal kehamilan. Dari embrio, janin akan terus berkembang dari waktu ke waktu sampai terlahir sebagai bayi.

Kehamilan biasanya berlangsung sembilan bulan. Umumnya, tahap perkembangan dibagi menjadi tiga trimester. Trimester adalah hitungan untuk kira-kira tiap tiga bulan masa kehamilan, yakni:

  • Trimester pertama: 0-12 minggu
  • Trimester kedua: 12-26 minggu
  • Trimester ketiga: 27-40 minggu

Perubahan janin akan lebih terasa dalam tiap trimester kehamilan. Adanya gangguan juga dapat terdeteksi ketika dokter melakukan pemeriksaan pada masa trimester ini.

Ultrasonografi atau USG, misalnya, bisa mendeteksi bila janin tidak berkembang dengan mengacu pada ukuran janin. Ketika menemukan potensi gangguan perkembangan ini, dokter akan mengecek lebih lanjut dengan tindakan medis yang diperlukan, seperti tes darah.

Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan janin. Contohnya:

  • Asupan nutrisi dan gizi ibu hamil
  • Paparan zat beracun dan berbahaya
  • Kondisi kesehatan ibu
  • Infeksi
  • Stres

Usia ibu saat hamil juga berpengaruh langsung terhadap janin yang dikandungnya. Namun, dalam sejumlah penelitian, bukan usia ibu saja yang berpengaruh, tapi juga usia ayah.

 

Apa Hubungan Usia Ayah dengan Perkembangan Janin

Penelitian di Stanford University School of Medicine mendapati potensi dampak yang berbahaya dari usia ayah terhadap perkembangan janin. Dalam riset terhadap 40,5 juta kelahiran di Amerika Serikat selama 2007-2016, lebih dari 12 persen kelahiran bayi yang bermasalah dengan ayah berusia 45 tahun ke atas dapat dicegah bila sang ayah berusia lebih muda. Ketika ayah berusia hampir paruh baya dan istrinya hamil, ada risiko bayi lahir prematur, bobot bayi rendah, dan masalah kesehatan lain.

Salah satu penyebab munculnya dampak tersebut mungkin adalah berkurangnya kualitas sperma seiring dengan pertambahan usia. Volume sperma pria berumur 20-an tahun lebih banyak dibanding yang umurnya 40 tahun ke atas. Begitu pula bentuk dan pergerakannya.

Baca Juga:  Inseminasi Buatan : Indikasi, Persiapan dan Prosedurnya

Pria terus memproduksi sperma secara berkelanjutan setelah pubertas. Dalam proses produksi itu, bisa terjadi mutasi yang terakumulasi dalam DNA sel sperma. Genetik sperma pun bisa berubah karena paparan lingkungan. Perubahan-perubahan itu dapat mempengaruhi faktor perkembangan plasenta dan embrio. Maka ada kemungkinan makin lanjut umur pria, makin turun kualitas sperma yang dihasilkan.

 

Risiko Komplikasi Kehamilan dan Perkembangan Janin pada Usia 40 Tahun

Risiko kehamilan dan perkembangan janin terkait dengan usia ayah yang lebih tua merentang jauh hingga anak tumbuh besar. Ada dugaan hubungan antara usia itu dan meningkatnya risiko bayi lahir dengan penyakit bawaan, termasuk masalah medis seperti gangguan bipolar, autisme, dan skizofrenia.

Sebuah penelitian terhadap hampir 400 ribu pria dan perempuan yang lahir di Israel pada 1980-an, misalnya, menemukan adanya peningkatan enam kali lipat risiko anak mengalami autisme. Studi lain mendapati adanya risiko leukemia serta kanker prostat dan payudara pada anak yang lahir saat usia ayahnya lebih dari 40 tahun.

Selain itu, ada beberapa risiko kehamilan dan perkembangan janin lain yang dikaitkan dengan umur ayah 40 tahun ke atas, seperti

  • Keguguran
  • Diabetes
  • Sindrom Down
  • Kelahiran prematur
  • Berat badan bayi rendah

 

Bolehkah Memiliki Anak Ketika Usia Ayah Tak Lagi Muda?

Dokter kandungan umumnya menekankan bahwa usia sebaiknya jadi pertimbangan ketika akan merencanakan kehamilan. Makin tua usia, makin besar risikonya. Meski demikian, tidak ada larangan memiliki anak saat usia orang tua tak lagi muda.

Bagi pria, ada juga manfaat memiliki anak saat berusia lebih tua. Umumnya, orang tua yang telah mencapai umur 40 tahun ke atas punya lebih banyak waktu dan lebih sabar pada anaknya ketimbang mereka yang berusia lebih muda. Situasi finansial pun bisa jadi lebih matang.

Ada sejumlah kiat bagi ayah yang masih menantikan momongan ketika usianya sudah tembus kepala empat:

  • Makan makanan bergizi atau yang bermanfaat untuk menjaga kualitas sperma
  • Tidak merokok karena kesuburan bisa terganggu jika ada paparan asap rokok
  • Pastikan kondisi area organ vital nyaman dan sejuk, misalnya tidak memakai celana terlalu kecil dan tidak sering mandi dengan air panas
  • Rutin berolahraga agar tubuh prima dan menambah volume sperma
Baca Juga:  Ketuban Pecah Dini, Apa yang Perlu Dipersiapkan?

 

Menjaga Kesehatan Janin di Tengah Pandemi Covid-19

Perkembangan janin harus selalu dipantau lewat pemeriksaan kehamilan oleh dokter atau bidan. Namun, di tengah pandemi Covid-19, bisa jadi orang tua enggan atau khawatir pergi ke rumah sakit karena adanya risiko penularan.

Sebaiknya orang tetap memeriksakan kehamilan demi kesehatan janin walau pandemi belum berakhir. Rumah sakit akan selalu memastikan penerapan protokol kesehatan untuk mencegah penularan. Kontrol kehamilan penting terutama bagi ibu hamil dengan risiko tinggi.

Pandemi juga mungkin membuat kesehatan janin terganggu ketika ibu dilanda stres atau kecemasan berlebih. Karena itu, kendalikan stres yang mungkin muncul lantaran terlalu takut terhadap Covid-19. Isi hari-hari dengan hal positif ketimbang memikirkan penularan virus corona.

Yang tak kalah penting adalah memastikan asupan nutrisi selama kehamilan. Ibu harus menjaga menu dan pola makan agar janin juga mendapatkan manfaat. Pastikan mendapat cukup asupan karbohidrat, protein, asam folat, zat besi, kalsium, serta vitamin demi kesehatan buah hati.

 

Ditinjau oleh:

dr. Putu Aditya, Sp.OG

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan

Primaya Hospital Betang Pambelum

 

Referensi:

Advanced paternal age: How old is too old? https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2566050/. Diakses 7 Agustus 2021

How can I improve my chances of becoming a dad? https://www.nhs.uk/common-health-questions/mens-health/how-can-i-improve-my-chances-of-becoming-a-dad/. Diakses 7 Agustus 2021

Older fathers associated with increased birth risks https://med.stanford.edu/news/all-news/2018/10/older-fathers-associated-with-increased-birth-risks.html. Diakses 7 Agustus 2021

Fertility and the Aging Male https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3253726/. Diakses 7 Agustus 2021

Increasing paternal age is associated with delayed conception in a large population of fertile couples: evidence for declining fecundity in older men. The ALSPAC Study Team (Avon Longitudinal Study of Pregnancy and Childhood) https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10920089/. Diakses 8 Agustus 2021

Fetal development https://medlineplus.gov/ency/article/002398.htm. Diakses 8 Agustus 2021

Dad’s involvement with baby early on associated with boost in mental development https://www.sciencedaily.com/releases/2017/05/170509083936.htm. Diakses 8 Agustus 2021

Bagikan ke :

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.