Gangguan Bipolar, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

gangguan bipolar, rumah sakit awal bros tangerang

Gangguan bipolar adalah kondisi seseorang yang mengalami perubahan suasana hati secara fluktuatif dan drastis, misalnya tiba-tiba menjadi sangat bahagia dari yang sebelumnya murung. Nama lain dari gangguan bipolar adalah manik depresif. Dani Tri Astuti, M.Psi., Cht., Psi – psikolog dari Primaya Hospital Tangerang mengatakan bahwa banyak masyarakat yang menganggap gangguan ini sebagai sesuatu yang tabu serta masih belum sepenuhnya menyadari keberadaan penyakit bipolar dan bagaimana mendeteksi dan menanganinya.

Terdapat dua episode dalam gangguan bipolar, yaitu episode mania (fase naik) dan depresi (fase turun). Pada periode mania, penderita menjadi terlihat sangat bersemangat, enerjik, dan bicara cepat. Sedangkan pada periode depresi, penderita akan terlihat sedih, lesu, dan hilang minat terhadap aktivitas sehari-hari.

Berdasarkan perputaran episode suasana hati, ada sebagian penderita bipolar yang mengalami keadaan normal di antara mania dan depresi. Ada juga yang mengalami perputaran cepat dari mania ke depresi atau sebaliknya tanpa adanya periode normal (rapid cycling). Selain itu, ada juga penderita gangguan bipolar yang mengalami mania dan depresi secara bersamaan. “Contohnya, ketika penderita merasa sangat berenerjik, namun di saat bersamaan juga merasa sangat sedih dan putus asa. Gejala ini dinamakan dengan periode campuran (mixed state),” ujar Dani psikolog Primaya Hospital Tangerang

Penyebab Gangguan Bipolar

Hingga kini, para ahli belum mengetahui apa yang menyebabkan terjadinya gangguan bipolar. Beberapa berpendapat bahwa kondisi ini disebabkan oleh ketidakseimbangan neurotransmitter atau zat pengontrol fungsi otak. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa gangguan ini berkaitan dengan faktor genetik (keturunan).

Beberapa faktor yang diduga bisa meningkatkan risiko seseorang terkena gangguan bipolar adalah mengalami stress tingkat tinggi, pengalaman traumatik, kecanduan alkohol atau obat-obatan terlarang, dan memiliki riwayat keluarga dekat (saudara kandung atau orang tua) yang menderita kondisi bipolar.

Diagnosis Gangguan Bipolar

Menurut  psikolog Dani Tri Astuti, dibutuhkan evaluasi psikologis untuk mendiagnosis gangguan bipolar. “Dalam hal ini Psikolog/Dokter biasanya menanyakan tentang pola perilaku pasien, suasana hati yang dirasakannya, dan apa yang dipikirkannya. Selain itu, Psikolog/Dokter juga biasanya meminta pasien atau keluarga pasien memberi informasi yang berkaitan dengan episode mania atau depresi,” terangnya.

Karena ada kondisi lain yang juga bisa menyebabkan gejala yang sama seperti kondisi bipolar, yaitu hipotiroid dan hipertiroid maka pemeriksaan fisik yang berkaitan dengan dua penyakit tersebut juga perlu dilakukan untuk memastikan kondisi pasien.

Pengobatan Gangguan Bipolar

Tujuan penanganan  gangguan bipolar adalah untuk menurunkan frekuensi terjadinya episode-episode mania dan depresi agar penderita dapat hidup secara normal dan membaur dengan lingkungan. Selain memperbaiki pola hidup, penanganan biasanya mencakup pemberian obat-obatan yang dikombinasikan dengan terapi psikologis (contohnya terapi perilaku kognitif).

Untuk itu jangan ragu untuk selalu rutin memeriksakan kesehatan mental kita atau orang terdekat kita ke psikolog/psikiater demi kesehatan mental yang baik. Kesehatan mental merupakan hal yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Keduanya harus sama-sama dijaga. Primaya Hospital memiliki klinik psikologi dan psikiater terbaik untuk membantu Anda. Temukan jadwal dokter Primaya Hospital di sini.

 

Ilustrasi gambar oleh Thư Anh.

Bagikan ke :