• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Self Harm: Gejala, Pencegahan dan Pengobatan

Self harm

Self harm adalah tindakan menyakiti atau merugikan diri sendiri yang masih menjadi fenomena dan membutuhkan perhatian, terutama di kalangan remaja. Orang yang melakukan self harm umumnya tidak berniat membunuh dirinya sendiri, tapi risiko orang tersebut melakukan bunuh diri dan meninggal akibat upaya bunuh diri lebih tinggi jika tak mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.

buat jani dokter primaya

Mengenal Self Harm

Self harm adalah tindakan yang dimaksudkan untuk menimbulkan rasa sakit atau kerusakan pada tubuh seseorang. Tindakan merugikan diri sendiri yang dilakukan secara sengaja ini bisa berdampak serius pada kesehatan fisik dan mental individu yang melakukannya.

Tujuan utama self harm adalah meredakan atau mengurangi tekanan emosional yang dirasakan amat besar oleh individu yang bersangkutan. Tindakan ini biasanya bukanlah tanda bahwa pelakunya mencari-cari perhatian, tapi merupakan mekanisme respons mekanisme koping terhadap suatu tekanan atau kesulitan emosional yang keliru.

Dengan melakukan self harm, individu tersebut merasa bisa melepaskan ketegangan atau merasa lega meski sebenarnya justru tidak sehat. Ada juga individu yang merasa mati rasa karena masalah psikologis sehingga ingin merasakan sesuatu lewat self harm.

Menurut data Centers for Disease Control Amerika Serikat, fenomena self harm makin marak pada kelompok usia remaja. Sebanyak 30 persen remaja putri dan 10 persen remaja putra mengaku pernah dengan sengaja melukai diri sendiri. Meski begitu, anak-anak yang lebih kecil dan orang dewasa juga mungkin melakukannya, khususnya perempuan.

Adapun jenis self harm yang banyak dilakukan meliputi:

  • Mencakar, menggigit, atau membakar kulit
  • Memukul atau meninju diri sendiri atau dinding
  • Menusuk kulit menggunakan benda tajam
  • Mencabut-cabut rambut
  • Mengupas koreng dan luka
  • Memasukkan benda ke tubuh
  • Menyakiti diri sendiri di ranah digital
  • Overdosis obat-obatan
  • Minum minuman beralkohol berlebihan
  • Berolahraga terlalu keras sampai cedera atau pingsan
  • Melibatkan diri dalam perkelahian yang kemungkinan besar membuat mereka terluka
  • Membenturkan kepala atau badan ke dinding dan benda keras
  • Melakukan hubungan seks yang tidak aman

Setiap orang bisa melakukan tindakan self harm yang berbeda. Peran orang-orang di sekitarnya diperlukan untuk menyadari bahwa seseorang melakukan self harm sehingga bisa segera diberi bantuan.

Gejala Self Harm

Self harm bukanlah penyakit mental, tapi tindakan itu kerap muncul sebagai respons terhadap masalah kesehatan mental tertentu, seperti depresi, gangguan kecemasan, gangguan makan, gangguan kepribadian ambang, dan gangguan stres pasca-trauma.

Berikut ini beberapa tanda dan gejala yang mungkin mengindikasikan seseorang melakukan self harm:

  • Luka gores, memar, atau luka lain yang penyebabnya tidak jelas, biasanya pada pergelangan tangan, lengan, paha, atau batang tubuh, yang disebut muncul karena ketidaksengajaan atau justru tak mau menjelaskannya sama sekali
  • Menyimpan benda tajam seperti pisau cukur, silet, peniti, pisau, jarum, hingga tutup botol atau pecahan kaca
  • Kerap memakai baju lengan panjang atau jaket yang menutupi kulit walau di tengah cuaca panas
  • Bersikap impulsif dan labil
  • Mengungkapkan dirinya merasa putus asa atau tak berharga
  • Kesulitan dalam menjalin hubungan
  • Menarik diri dari pergaulan atau mengisolasi diri
  • Sering berlama-lama sendirian, misalnya di kamar tidur atau kamar mandi
  • Menghindari kegiatan atau situasi yang membuat kulit bisa terlihat, misalnya berenang atau berganti pakaian di ruang ganti
Baca Juga:  Penyakit Crohn's: Gangguan Pencernaan? Waspada Crohn's Disease

Penyebab Self Harm

Ada beragam faktor yang mungkin menyebabkan seseorang melakukan self harm, terutama berkaitan dengan tekanan emosional atau psikis yang dinilai terlalu berat. Pada beberapa orang, self harm didorong oleh keinginan mengungkapkan suatu hal yang terpendam. Mereka merasa self harm menjadi cara untuk:

  • Mengekspresikan perasaan yang sulit diungkapkan
  • Meredakan pikiran atau perasaan emosional yang membebani
  • Merasakan punya kendali
  • Menghukum diri sendiri atas suatu pengalaman atau perasaan tertentu
  • Mengungkapkan pikiran atau perasaan untuk melakukan bunuh diri

Adapun faktor yang meningkatkan kemungkinan seseorang melakukan self harm antara lain:

  • Menjadi korban pelecehan atau perundungan
  • Mengalami kejadian traumatis
  • Masalah keluarga, seperti perceraian
  • Kekhawatiran terhadap kondisi finansial
  • Terintimidasi
  • Perubahan yang terjadi mendadak dalam kehidupan, misalnya kematian orang terdekat, pindah rumah, pindah sekolah, dan berakhirnya suatu hubungan
  • Tekanan ekstrem atau kritik dari keluarga, teman, atau lingkungan sekitar
  • Merasa rendah di mata orang atau ada masalah pada penampilannya
  • Menderita masalah kesehatan atau penyakit berat
  • Merasa bersalah, gagal, atau tak dicintai
  • Menjadi korban diskriminasi

Cara Dokter Mendiagnosis Ganguan Mental

Dokter dapat mendiagnosis gangguang mental dengan melakukan serangkaian pemeriksaan yang meliputi wawancara klinis dan evaluasi psikologis. Dokter ahli kesehatan mental akan menanyai pasien seputar kesehatan mental yang mungkin berkaitan dengan self harm. Adapun dalam evaluasi psikologis, dokter akan menggunakan tes psikologis untuk menilai tingkat stres, gejala depresi, kecemasan, atau masalah kesehatan mental lain.

Jika self harm terkait dengan masalah kesehatan mental tertentu, dokter akan menggunakan kriteria diagnostik yang telah ditetapkan, misalnya Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), untuk menentukan diagnosis yang tepat.

Cara Mengatasi Self Harm

Orang yang mengalami self harm membutuhkan perhatian dan bantuan orang lain, terutama keluarga dan dokter atau ahli kesehatan mental yang bisa memberikan penanganan tepat sesuai dengan kondisi pasien. Faktor pemicunya perlu diidentifikasi dulu agar dapat ditemukan strategi penanganan yang sesuai.

Baca Juga:  Sakit Gigi Tak Kunjung Sembuh, Apa Solusinya?

Terapi psikologis, seperti terapi kognitif perilaku atau terapi perilaku dialektika, banyak menjadi pilihan dan efektif untuk mengatasi self harm. Ahli terapi akan membantu mengidentifikasi pola pikir dan perilaku yang merugikan serta mengembangkan strategi untuk mengubahnya.

Komplikasi Self Harm

Self harm bisa memicu konsekuensi kesehatan yang membahayakan dan bahkan fatal. Selain itu, perilaku yang merugikan itu bisa menambah dampak negatif pada kesehatan mental. Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain:

  • Kepercayaan diri menurun
  • Perasaan bersalah dan malu kian besar
  • Infeksi luka
  • Bekas luka permanen
  • Patah tulang
  • Kehilangan pertemanan
  • Depresi berat
  • Kecanduan alkohol dan obat-obatan
  • Bunuh diri

Pencegahan Self Harm

Cara utama untuk mencegah self harm adalah mencari bantuan profesional ketika ada tanda atau gejala yang mengarah ke perilaku tersebut. Dokter atau ahli kesehatan mental akan membantu memberikan strategi pencegahan yang sesuai. Strategi itu mungkin berupa:

  • Mengidentifikasi pemicu self harm
  • Menjauhkan benda-benda yang berpotensi digunakan untuk melakukan self harm
  • Berolahraga rutin untuk menjaga kesehatan fisik dan mental
  • Makan makanan bergizi seimbang
  • Mengelola stres dengan melakukan hal yang disenangi

Penting pula untuk menciptakan dukungan sosial dari keluarga dan teman agar terhindar dari rasa kesepian dan keputusasaan.

Kapan Harus ke Dokter?

Perilaku self harm harus mendapat penanganan yang tepat, terutama jika berkaitan dengan gangguan kesehatan mental yang bisa berdampak fatal. Kesadaran dan bantuan dari orang sekitar amat penting bagi individu yang melakukan self harm. Jika ada tanda atau gejala self harm, segera ajak bicara serta datangi dokter atau ahli kesehatan mental untuk di periksa lebih lanjut.

Narasumber:

dr. Agnilia Octia Sari, Sp. KJ

Spesialis Kedokteran Jiwa

Primaya Hospital Pasar Kemis

 

Referensi:

Share to :

Buat Janji Dokter

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.