Nyeri lutut saat bangun tidur, bunyi “krek-krek” di sendi, atau jari tangan terasa kaku dan sedikit bengkak sering dianggap sebagai “pengapuran biasa” atau “wajar karena usia”. Padahal, keluhan tersebut bisa merupakan tanda osteoartritis, yaitu penyakit sendi degeneratif yang paling sering terjadi di dunia. Kondisi ini dapat membuat aktivitas sederhana seperti berjalan, naik tangga, atau menggenggam benda menjadi semakin sulit—terutama pada usia lanjut.
Di Indonesia, osteoartritis diperkirakan dialami oleh jutaan orang dan angkanya cenderung meningkat seiring bertambahnya usia harapan hidup. Kabar baiknya, meski osteoartritis tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, keluhan dapat dikendalikan dan progres penyakit dapat diperlambat melalui penanganan yang tepat sejak dini.
Mari pahami osteoartritis: mulai dari proses terjadinya, gejala awal, faktor risiko, hingga pilihan terapi paling efektif agar sendi tetap aktif dan nyaman digunakan hingga usia lanjut.
Apa Itu Osteoartritis dan Bagaimana Proses Terjadinya?
Osteoartritis (OA) adalah penyakit sendi degeneratif yang paling sering ditemukan pada orang dewasa, terutama usia di atas 45 tahun. Pada osteoartritis, tulang rawan (kartilago) yang melapisi ujung tulang di dalam sendi mengalami kerusakan secara perlahan. Padahal, kartilago berfungsi sebagai bantalan licin dan elastis yang membantu meredam benturan serta mengurangi gesekan saat sendi bergerak.
Seiring waktu, kartilago yang semula halus akan menjadi kasar, menipis, bahkan menghilang. Ketika pelindung ini berkurang, ujung tulang dalam sendi dapat saling bergesekan sehingga timbul nyeri, kaku, pembengkakan, dan keterbatasan gerak. Proses ini biasanya berlangsung bertahun-tahun, dipengaruhi oleh penuaan maupun beban berlebih pada sendi.
Secara sederhana, tahapan perubahan pada osteoartritis dapat meliputi:
- Kartilago menipis akibat usia, tekanan berulang, atau cedera.
- Tulang di bawah kartilago menebal dan dapat membentuk tonjolan yang disebut osteofit (taji tulang), yang memicu nyeri saat sendi digunakan.
- Sinovium (selaput sendi) dapat meradang dan menghasilkan cairan berlebih, sehingga sendi tampak bengkak dan terasa tidak nyaman.
- Otot dan ligamen sekitar sendi melemah, membuat sendi kurang stabil dan rentang gerak makin terbatas.
Jika tidak dikelola dengan baik, kerusakan sendi dapat berlanjut hingga mengganggu aktivitas harian seperti berjalan, berdiri lama, naik tangga, atau bahkan memegang benda ringan. Semakin dini osteoartritis dikenali dan ditangani, semakin besar peluang mempertahankan fungsi sendi serta mencegah kerusakan berat.
Menurut Mayo Clinic, osteoartritis merupakan penyakit sendi yang paling umum dan memengaruhi ratusan juta orang di seluruh dunia.
Pembagian Osteoartritis: Primer dan Sekunder
Secara umum, osteoartritis (OA) dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu OA primer dan OA sekunder. Pembagian ini penting karena membantu dokter menilai apa pemicu utama kerusakan sendi, apakah terutama karena proses degeneratif alami atau akibat kondisi/penyakit tertentu yang mendahului.
1) Osteoartritis Primer (Primary OA)
OA primer adalah osteoartritis yang terjadi tanpa penyebab spesifik yang jelas, dan paling sering berkaitan dengan proses penuaan serta perubahan biologis pada kartilago dan tulang subkondral. Istilah sederhananya sering disebut “degeneratif” atau “wear and tear”, meskipun sebenarnya prosesnya juga melibatkan perubahan biokimia dan inflamasi ringan kronis di sendi.
Penyebab/pemicu utama OA primer:
- Usia bertambah → kemampuan perbaikan kartilago menurun
- Faktor genetik/riwayat keluarga (terutama OA tangan dan lutut)
- Kelebihan beban jangka panjang pada sendi (misalnya obesitas, aktivitas harian tertentu)
- Perubahan hormon dan metabolik (misalnya pada wanita pasca-menopause, sindrom metabolik)
OA primer paling sering mengenai lutut, panggul, tangan, dan tulang belakang, dan biasanya muncul perlahan seiring waktu.
2) Osteoartritis Sekunder (Secondary OA)
OA sekunder adalah osteoartritis yang terjadi karena ada penyebab yang dapat diidentifikasi, yaitu suatu kondisi yang lebih dulu merusak sendi atau mengubah biomekanik sendi, sehingga mempercepat kerusakan kartilago. OA sekunder bisa terjadi pada usia lebih muda dibanding OA primer, terutama bila ada riwayat cedera atau kelainan struktur sendi.
Penyebab OA sekunder yang paling sering:
- Pasca trauma/cedera sendi: fraktur intra-artikular, cedera ligamen (ACL/PCL), robekan meniskus, dislokasi
- Kelainan bentuk/ketidaksejajaran (malalignment): lutut O (varus) / X (valgus), ketidakseimbangan panjang tungkai
- Kelainan bawaan/struktur sendi: displasia panggul, deformitas kongenital
- Penyakit metabolik/penumpukan kristal: hemochromatosis, ochronosis; (gout/CPPD dapat memperburuk kerusakan sendi tertentu)
- Penyakit inflamasi atau infeksi sendi sebelumnya: septic arthritis, inflamasi kronis yang menyebabkan kerusakan permukaan sendi
- Gangguan vaskular/nekrosis (terutama pada panggul): avascular necrosis (AVN) yang berujung pada kerusakan sendi
- Pasca operasi tertentu pada sendi yang mengubah stabilitas/biomekanik (misalnya meniscectomy luas)
Dengan memahami apakah OA termasuk primer atau sekunder, strategi pencegahan dan terapi bisa lebih tepat—misalnya, OA sekunder karena malalignment dapat lebih diuntungkan oleh koreksi sumbu (kasus terpilih), sedangkan OA primer lebih menekankan kontrol beban, latihan, dan manajemen faktor risiko.
Gejala Osteoartritis yang Sering Muncul Bertahap
Gejala osteoartritis biasanya muncul perlahan, awalnya ringan, lalu makin terasa seiring waktu.
Keluhan yang sering ditemukan antara lain:
- Nyeri sendi setelah aktivitas atau terasa lebih berat pada malam hari
- Kaku sendi saat bangun tidur (morning stiffness), biasanya < 30 menit
- Bunyi “krek-krek” atau “klik” saat sendi digerakkan (krepitus)
- Sendi terasa “tertahan” atau sulit digerakkan penuh
- Bengkak ringan di sekitar sendi
- Sendi terasa lemah atau tidak stabil
- Perubahan bentuk sendi (misalnya jari tampak membesar/bengkok, lutut tampak O atau X)
Sendi yang paling sering terkena adalah lutut, pinggul, tangan, dan tulang belakang.
10 Faktor Risiko Utama Osteoartritis
Berikut faktor yang paling sering meningkatkan risiko osteoarthritis:
| Faktor Risiko | Penjelasan |
| Usia >50 tahun | Kartilago menipis secara alami |
| Wanita (terutama pasca-menopause) | Estrogen turun → perlindungan sendi berkurang |
| Obesitas / berat badan berlebih | Beban mekanik pada lutut dan pinggul meningkat (setiap +5 kg = beban lutut +20 kg) |
| Riwayat cedera sendi sebelumnya | Robekan meniskus/ligamen atau fraktur sekitar sendi dapat mempercepat OA |
| Aktivitas atau Pekerjaan berulang | Sering jongkok lama, mengangkat beban, atau gerakan repetitif |
| Kelainan Bentuk / Bawaan | Lutut O/X, pinggul dangkal |
| Faktor Genetik | Riwayat keluarga osteoartritis, terutama OA tangan dan lutut |
| Olahraga intensitas tinggi tanpa pemulihan | Risiko overuse dan cedera berulang. (Lari maraton tanpa pemulihan) |
| Diabetes & sindrom metabolik | Berhubungan dengan inflamasi sistemik dan kualitas jaringan |
| Asupan nutrisi kurang baik (mis. vitamin D/C) | Mempengaruhi kesehatan tulang dan jaringan penunjang |
Cara Dokter Mendiagnosis Osteoartritis
Diagnosis osteoartritis tidak ditegakkan dari satu pemeriksaan saja, melainkan kombinasi beberapa langkah berikut:
- Wawancara keluhan dan riwayat kesehatan
Dokter menilai kapan nyeri muncul, faktor yang memperberat/mengurangi, riwayat cedera, aktivitas, berat badan, pekerjaan, serta riwayat keluarga. - Pemeriksaan fisik sendi
Dokter menilai:
- Nyeri tekan
- Krepitus saat digerakkan
- Kekakuan setelah lama tidak bergerak
- Bengkak atau perubahan bentuk sendi
- Penurunan rentang gerak
- Pemeriksaan pencitraan (rontgen)
Rontgen merupakan pemeriksaan utama untuk mengonfirmasi OA. Temuan khas meliputi:
- Penyempitan celah sendi
- Osteofit (taji tulang)
- Sklerosis tulang subkondral (penebalan tulang di bawah kartilago)
- Deformitas sendi
- MRI (bila diperlukan)
MRI dipertimbangkan bila dicurigai kerusakan jaringan lunak (meniskus/ligamen/kartilago) atau keluhan berat tetapi rontgen belum menjelaskan penyebabnya. - Tes laboratorium (untuk menyingkirkan penyebab lain)
Pemeriksaan darah atau cairan sendi dilakukan untuk membedakan OA dari penyakit lain seperti rheumatoid arthritis, gout, atau infeksi sendi.
Penanganan Osteoartritis: Dari Konservatif hingga Operasi
1) Penanganan non-obat (fondasi utama)
- Menurunkan berat badan bila berlebih
- Olahraga low-impact: renang, sepeda, jalan kaki terukur, tai chi
- Fisioterapi: latihan penguatan otot (terutama quadriceps dan otot panggul)
- Modifikasi aktivitas dan ergonomi
- Alat bantu bila perlu: tongkat, knee brace, atau insole tertentu
2) Obat-obatan
- Parasetamol atau NSAID topikal/oral sesuai indikasi dokter
- Injeksi kortikosteroid atau hyaluronic acid pada kasus tertentu
- Suplemen glucosamine/chondroitin: bukti bervariasi, respons tiap orang berbeda
3) Terapi prosedural/modern (sesuai indikasi)
- PRP (Platelet-Rich Plasma)
- Terapi regeneratif tertentu (mis. berbasis sel) di pusat layanan yang kompeten
4) Operasi (bila sudah berat atau gagal terapi konservatif)
- Osteotomi untuk koreksi sumbu pada kasus terpilih
- Penggantian sendi (mis. total knee replacement/total hip replacement) bila kerusakan berat dan kualitas hidup menurun signifikan
(Catatan: artroskopi “pembersihan” pada OA degeneratif tidak selalu bermanfaat dan indikasinya harus selektif.)
Cara Mencegah Osteoartritis Sejak Muda
- Pertahankan berat badan ideal
- Latihan seimbang: penguatan otot + fleksibilitas + kardio ringan
- Hindari beban berulang yang berlebihan pada sendi
- Gunakan alas kaki yang nyaman dan menyerap benturan
- Terapkan pola makan anti-inflamasi: ikan, buah beri, sayuran, kacang-kacangan, rempah seperti kunyit
Informasi lengkap tentang nyeri sendi dapat dibaca pada artikel lutut nyeri dan layanan ortopedi dari Primaya Hospital.
Osteoartritis Bukan Akhir dari Aktivitas
Osteoartritis memang bersifat kronis dan tidak dapat “hilang total”, tetapi bukan berarti harus hidup dengan nyeri selamanya. Dengan deteksi dini, pengaturan berat badan, latihan yang tepat, terapi terarah, serta pilihan tindakan modern bila diperlukan, banyak penderita dapat tetap aktif dan mandiri tanpa harus langsung operasi.
Mulai sekarang, perhatikan pola nyeri sendi Anda dan konsultasikan ke dokter ortopedi bila keluhan menetap. Sendi yang sehat adalah kunci hidup aktif hingga usia lanjut—jangan biarkan osteoartritis membatasi kebebasan gerak Anda.
Ditinjau oleh:
dr. Dewi Kurniati Paturussi, M.Kes, Sp.OT
Spesialis Bedah Ortopedi dan Traumatologi
Primaya Hospital Hertasning
Referensi:
- Mayo Clinic. Osteoarthritis – Symptoms and Causes. Diakses pada 5 Desember 2025. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteoarthritis/symptoms-causes/syc-20351925
- American Academy of Orthopaedic Surgeons. Osteoarthritis. Diakses pada 5 Desember 2025. https://orthoinfo.aaos.org/en/diseases–conditions/osteoarthritis/
- Arthritis Foundation. Osteoarthritis Overview. Diakses pada 5 Desember 2025.
- Indonesian Orthopaedic Association (PABOI). Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis 2023.



