Anak sering mengeluh โlutut sakitโ saat lari, โpunggung pegalโ setelah duduk lama, atau โpinggul nyeriโ saat tidur miring โ orang tua biasanya menjawab โbiasa, lagi tumbuhโ. Padahal, 8 dari 10 keluhan nyeri tulang dan sendi pada anak bukan โnyeri tumbuhโ biasa, melainkan tanda awal gangguan ortopedi yang jika dibiarkan bisa menyebabkan cacat permanen.
Di Indonesia sendiri, tercatat ada lebih dari 1 juta anak usia sekolah memiliki masalah tulang dan sendi, namun 70 % baru terdeteksi saat sudah parah karena dianggap โnanti sembuh sendiriโ. Kabar baiknya: 95 % kasus bisa disembuhkan sempurna jika terdeteksi sebelum usia 15 tahun.
Mari, mengenali beberapa masalah tulang dan sendi paling sering diabaikan serta terlewatkan pada anak dan remaja agar buah hati Anda tumbuh dengan postur sempurna dan bebas nyeri!
Mengapa Masalah Tulang dan Sendi Anak Sering Diabaikan?
Masalah tulang dan sendi pada anak kerap luput dari perhatian karena gejalanya tidak selalu menimbulkan nyeri hebat. Padahal, anak berada dalam fase pertumbuhan pesat (growth spurt), di mana tulang bisa bertambah panjang 2โ3 kali lebih cepat dibanding otot dan ligamen. Ketidakseimbangan ini membuat sendi dan tulang rentan terhadap cedera, nyeri, dan deformitas ringan yang sulit dideteksi.
Faktor lain yang memperbesar risiko:
- Olahraga intens: anak-anak yang sering bermain bola, lari, atau senam bisa mengalami cedera repetitif pada sendi dan ligamen.
- Tas sekolah berat: membawa beban berat di satu sisi punggung atau bahu dapat memicu nyeri punggung, skoliosis ringan, atau postur tubuh yang salah.
- Postur duduk yang salah: duduk terlalu lama dengan posisi membungkuk di meja belajar atau menggunakan gadget dapat menekan tulang belakang dan sendi secara tidak merata.
Akibatnya, cedera kecil atau kelainan ringan bisa berkembang menjadi masalah jangka panjang jika tidak dikenali dan ditangani sejak dini. Deteksi dini, pengawasan postur, serta olahraga yang tepat menjadi kunci menjaga tulang dan sendi anak tetap sehat.
Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS) 2024, 30โ50 % kunjungan ortopedi anak adalah kondisi yang bisa dicegah jika orang tua tahu tanda-tandanya sejak dini.
Ini 12 Masalah Tulang dan Sendi Anak yang Sering Terlewatkan
- Osgood-Schlatter Disease
Nyeri di bawah lutut (tempat tendon patela menempel) saat lari/lompat โ sering pada anak aktif usia 10โ15 tahun. - Sinding-Larsen-Johansson (SLJ)
Nyeri di ujung bawah tempurung lutut โ mirip Osgood tapi lebih atas. - Severโs Disease (Calcaneal Apophysitis)
Nyeri tumit saat berjalan/lari โ paling sering usia 8โ14 tahun. - Slipped Capital Femoral Epiphysis (SCFE)
Pinggul nyeri + pincang mendadak โ darurat ortopedi usia 10โ16 tahun. - Perthes Disease
Pinggul nyeri + pincang โ usia 4โ10 tahun, lebih sering anak laki-laki. - Skoliosis Idiopatik Remaja
Punggung melengkung S/C โ 80 % tidak terdeteksi hingga >30ยฐ. - Kifosis Scheuermann
Punggung bungkuk berlebih โ sering dianggap โpostur jelekโ. - Kaki O/X (Genu Varum/Valgum) Patologis
Bengkok tidak sembuh setelah usia normal. - Flat Feet (Kaki Datar) Simptomatik
Telapak kaki rata + nyeri setelah berdiri lama. - Osteochondritis Dissecans (OCD)
Lutut โterkunciโ atau bengkak โ potongan tulang rawan lepas. - Growing Pain yang Sebenarnya Bukan
Nyeri malam hari + bengkak โ bisa leukemia atau infeksi tulang. - Spondilolisis / Spondilolistesis
Nyeri pinggang saat olahraga โ sering pada senam, sepak bola.
Gejala Bahaya yang Wajib Segera ke Ortopedi Anak
- Nyeri malam hari yang membangunkan tidur
- Pincang atau tidak bisa menapak
- Bengkak/sendiri panas merah
- Demam + nyeri tulang
- Postur semakin bungkuk dalam 6 bulan
- Nyeri + BB turun + lemas
Cara Deteksi Dini di Rumah
Mendeteksi masalah tulang dan sendi anak sedini mungkin penting agar penanganan bisa lebih efektif dan mengurangi risiko deformitas permanen. Berikut beberapa langkah dan cara sederhana yang bisa dilakukan orang tua di rumah:
- Adamโs Forward Bending Test โ lakukan setiap 6 bulan untuk memeriksa lengkungan samping tulang belakang (skoliosis). Minta anak membungkuk 90ยฐ ke depan dan amati apakah ada sisi punggung yang menonjol.
- Ukur jarak lutut/pergelangan kaki โ periksa apakah terdapat ketidakseimbangan saat berdiri rapat, tanda potensi kaki O/X atau ketidaksejajaran tulang.
- Memperhatikan pola berjalan dan juga postur saat duduk โ anak yang berjalan pincang, berjinjit, atau duduk membungkuk terus-menerus bisa menandakan masalah tulang belakang atau sendi panggul.
- Tanya anak tentang nyeri โ apakah sakit terasa malam hari atau setelah aktivitas, karena nyeri malam bisa menjadi tanda red flag ortopedi.
- Cek tinggi badan setiap 6 bulan โ penyusutan tinggi badan atau pertumbuhan tidak seimbang bisa menjadi indikasi deformitas tulang atau gangguan pertumbuhan.
Deteksi dini ini memungkinkan intervensi non-bedah lebih efektif, seperti fisioterapi atau brace, sebelum masalah berkembang menjadi permanen.
Penanganan Modern untuk Anak & Remaja
Masalah tulang dan sendi pada anak dan remaja kini bisa ditangani dengan teknologi medis yang lebih aman, efektif, dan minim risiko komplikasi. Penanganan modern tidak hanya fokus pada operasi, tetapi juga kombinasi brace, fisioterapi, dan intervensi minimal invasif.
Contoh penanganan:
- Brace malam untuk Osgood-Schlatter atau Severโs disease โ membantu mengurangi nyeri dan mencegah deformitas pada lutut atau tumit.
- Brace Milwaukee atau Chรชneau untuk skoliosis ringan-sedang (20โ40ยฐ) โ mencegah perburukan lengkungan tulang belakang saat anak masih tumbuh.
- Latihan Schroth dan fisioterapi khusus anak โ memperkuat otot postural, meningkatkan fleksibilitas, dan mendukung pertumbuhan tulang yang sehat.
- Operasi guided growth (plat 8) โ koreksi deformitas kaki O/X secara bertahap pada anak yang masih tumbuh.
- Operasi fusi tulang belakang dengan growing rod โ untuk skoliosis berat, memungkinkan pertumbuhan tulang tetap berlangsung meski tulang belakang diperbaiki.
Pendekatan ini memastikan anak bisa tetap aktif, bersekolah, dan berolahraga sambil meminimalkan risiko komplikasi jangka panjang pada tulang dan sendi.
Informasi lengkap ortopedi anak dapat dibaca pada artikel kaki pekuk dan layanan ortopedi dari Primaya Hospital.
Jangan Biarkan โNyeri Tumbuhโ Menjadi Cacat Seumur Hidup
Ccatatan penting adalah dimana masalah tulang dan sendi pada anak bukan sekedar โhal biasa atau normal yang nanti sembuh sendiriโ. Dengan deteksi dini sebelum usia 15 tahun dan penanganan tepat, 95 % kasus bisa sembuh sempurna โ anak tetap bisa berlari, menari, dan berolahraga seperti teman sebayanya.
Mulai hari ini, lakukan Adamโs test setiap 6 bulan, catat setiap keluhan nyeri, dan jangan ragu bawa ke ortopedi anak jika ada tanda mencurigakan. Anda perlu mencatat dimana Anak hanya tumbuh sekali. Dan karena itu, jaga tulang & sendi mereka semaksimal mungkin agar mereka bisa mengejar semua mimpi tanpa rasa sakit!
Ditinjau oleh:
dr. Reyhan Pradnya Pradana, M.Ked.Klin, Sp.OT
Spesialis Ortopedi dan Traumatologi
Primaya Hospital Semarang
Referensi:
- American Academy of Orthopaedic Surgeons. Common Pediatric Orthopaedic Conditions. Diakses pada 5 Desember 2025. https://orthoinfo.aaos.org/en/diseases–conditions/common-pediatric-orthopaedic-conditions/
- Mayo Clinic. Osgood-Schlatter Disease, Severโs Disease, SCFE. Diakses pada 5 Desember 2025.
- Pediatric Orthopaedic Society of North America (POSNA). Patient Education 2024.
- Indonesian Pediatric Orthopaedic Society. Pedoman Ortopedi Anak 2023.



