Pemeriksaan spirometri merupakan metode medis yang digunakan untuk menilai fungsi paru-paru secara objektif. Tes ini mengukur jumlah udara yang dihirup dan dikeluarkan serta kecepatan aliran udara selama bernapas. Data tersebut membantu dokter mendeteksi gangguan pernapasan sejak tahap awal.
Tes fungsi paru ini dilakukan menggunakan alat bernama spirometer. Prosedur biasanya berlangsung sekitar 15–30 menit di rumah sakit atau klinik. Hasil pengukuran akan membantu dokter menilai kondisi paru serta menentukan langkah diagnosis dan pengobatan.
Mengenal Pemeriksaan Spirometri
Spirometri adalah tes fungsi paru yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan paru-paru dalam menampung serta mengeluarkan udara. Pemeriksaan ini biasanya berlangsung sekitar 15–20 menit di rumah sakit atau klinik dengan pengawasan tenaga medis.
Alat yang digunakan disebut spirometer, yaitu perangkat medis berbentuk tabung dengan sensor yang terhubung ke sistem komputer. Alat ini mencatat parameter penting seperti Forced Vital Capacity (FVC) dan Forced Expiratory Volume in 1 second (FEV1). FVC adalah jumlah udara maksimal yang dapat dihembuskan setelah menarik napas dalam, sedangkan FEV1 adalah jumlah udara yang dapat dikeluarkan dalam satu detik pertama.
Menurut buku Respiratory Physiology: The Essentials karya John B. West (2012), kapasitas total paru orang dewasa rata-rata sekitar 6 liter udara. Spirometri membantu menghitung seberapa besar kapasitas tersebut digunakan saat proses inspirasi dan ekspirasi.
Siapa yang Memerlukan Tes Spirometri?
Dokter biasanya menyarankan pemeriksaan spirometri bagi orang yang memiliki gejala gangguan pernapasan. Gejala tersebut dapat berupa batuk kronis, sesak napas, nyeri dada, atau napas berbunyi mengi (wheezing).
Selain itu, pemeriksaan ini juga cocok bagi orang yang memiliki faktor risiko penyakit paru. Contohnya adalah perokok aktif, pekerja yang sering terpapar debu industri, atau orang yang memiliki riwayat keluarga penyakit paru.
Organisasi Kesehatan Dunia bahkan menyebutkan bahwa penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) menjadi penyebab kematian ketiga di dunia sejak tahun 2019. Banyak kasus PPOK tidak terdeteksi hingga kondisi sudah cukup berat. Oleh karena itu, pemeriksaan fungsi paru menjadi penting untuk deteksi dini.
Tes ini juga sering dilakukan pada pasien sebelum operasi besar. Dokter perlu memastikan fungsi paru pasien cukup baik untuk menjalani prosedur anestesi. Berkat tes ini, risiko komplikasi pernapasan dapat diminimalkan.
Tujuan dan Manfaat Tes Spirometri
Pemeriksaan spirometri memiliki berbagai tujuan penting dalam dunia medis. Tes ini membantu dokter mengetahui apakah paru-paru bekerja secara normal atau mengalami gangguan. Selain itu, spirometri juga digunakan untuk memantau perkembangan penyakit pernapasan kronis.
Deteksi dini menggunakan spirometri sangatlah penting. Pemeriksaan ini dapat membantu mengidentifikasi gangguan paru, bahkan sebelum gejala berat muncul.
Selain itu, spirometri dapat membantu mengevaluasi efektivitas pengobatan. Dokter kerap membandingkan hasil tes sebelum dan sesudah pemberian obat bronkodilator. Apabila nilai fungsi paru meningkat, obat tersebut dinilai efektif memperbaiki saluran napas.
Penelitian dalam jurnal European Respiratory Journal tahun 2019 menunjukkan bahwa pengukuran fungsi paru menggunakan spirometri penting dalam identifikasi gangguan respirasi pada populasi berisiko. Studi tersebut melibatkan lebih dari 108.000 partisipan dari Denmark.
Persiapan Sebelum Tes Spirometri
Persiapan sebelum menjalani pemeriksaan spirometri penting untuk memastikan hasil tes akurat. Dokter biasanya akan memberikan beberapa instruksi dan pasien harus mematuhinya sebelum melakukan pemeriksaan.
Salah satu persiapan utama adalah menghentikan kebiasaan merokok setidaknya 24 jam sebelum tes. Asap rokok dapat menyebabkan penyempitan saluran napas sementara yang dapat memengaruhi hasil pengukuran.
Pasien juga hendaknya tidak mengonsumsi alkohol sekitar 4–8 jam sebelum pemeriksaan. Selain itu, sebaiknya hindari makan dalam porsi besar minimal 2 jam sebelum tes karena dapat mengganggu kemampuan bernapas. Pakaian yang digunakan juga sebaiknya longgar agar tidak membatasi pergerakan dada saat menarik napas dalam.
Pasien juga dianjurkan menghindari olahraga berat setidaknya 30 menit sebelum tes. Aktivitas fisik dapat meningkatkan frekuensi napas dan mengubah hasil pengukuran. Dokter terkadang meminta pasien menghentikan penggunaan obat inhaler sementara waktu. Hal ini dilakukan jika tujuan tes adalah menilai kondisi paru tanpa pengaruh obat.
Prosedur Tes Spirometri
Prosedur pemeriksaan spirometri umumnya berlangsung singkat dan dilakukan oleh tenaga medis terlatih. Pasien akan diminta duduk dengan posisi tegak agar paru-paru dapat mengembang secara maksimal.
Dokter atau petugas medis akan memasang klip pada hidung pasien untuk menutup lubang hidung. Hal ini bertujuan agar udara hanya keluar melalui mulut ke dalam alat spirometer.
Selanjutnya, pasien diminta menarik napas dalam-dalam, menahan napas beberapa detik, lalu menghembuskannya sekuat mungkin melalui corong alat. Proses ini biasanya diulang sebanyak tiga kali untuk mendapatkan hasil yang konsisten.
Dalam beberapa kasus, dokter akan memberikan obat bronkodilator terlebih dahulu untuk membuka saluran napas. Setelah sekitar 15 menit, tes spirometri akan diulang untuk membandingkan hasil sebelum dan sesudah obat diberikan.
Hasil Tes Spirometri
Hasil tes pemeriksaan spirometri akan dianalisis oleh dokter spesialis paru. Data hasil tes biasanya ditampilkan dalam bentuk grafik serta nilai numerik yang menggambarkan kapasitas paru.
Tes ini mengukur beberapa parameter utama yang menunjukkan kemampuan paru dalam menampung dan mengalirkan udara. Parameter tersebut berfungsi sebagai indikator kesehatan sistem pernapasan.
Tes spirometri dilakukan untuk mengukur kapasitas vital paksa atau Forced Vital Capacity (FVC). FVC adalah jumlah total udara yang bisa diembuskan setelah menarik napas dalam.
Selain itu, pemeriksaan spirometri ini dapat mengetahui berapa banyak udara yang diembuskan dalam satu detik pertama atau disebut dengan Forced Expiratory Volume in One Second (FEV1). Selain kerusakan yang mungkin terjadi pada paru-paru, FEV1 biasanya juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti usia, jenis kelamin, tinggi badan, atau ras.
Perbandingan antara FEV1 dengan FVC (FEV1/FVC) akan menghasilkan sebuah persentase. Persentase tersebut menjadi indikator apakah seseorang memiliki masalah pada paru-paru atau tidak. Persentase itu pula yang memungkinkan dokter mengetahui sejauh mana penyakit paru yang dialami pasien.
- Pengukuran FVC
FVC pada tes spirometri menunjukkan total jumlah udara yang dapat diembuskan secara paksa dari paru-paru. Berikut cara membaca hasil persentase FVC:
- 80% atau lebih: normal
- Kurang dari 80%: tidak normal
Hasil FVC yang tidak normal dapat menandakan adanya penyumbatan pada saluran napas. Kondisi ini dapat terjadi pada penyakit paru obstruktif atau restriktif.
- Pengukuran FEV1
FEV1 bertujuan untuk mengukur udara yang dapat dikeluarkan dari paru-paru dalam satu detik pertama. Nilai ini dapat menunjukkan tingkat keparahan gangguan pernapasan. Menurut standar American Thoracic Society, interpretasi hasil FEV1 adalah sebagai berikut:
- 80% atau lebih: normal
- 70–79%: tidak normal pada tahap ringan
- 60–69%: tidak normal pada tahap sedang
- 50–59%: tidak normal pada tahap sedang menuju parah
- 35–49%: tidak normal pada tahap parah
- Kurang dari 35%: tidak normal pada tahap sangat parah
- Pengukuran Rasio FEV1/FVC
Dokter akan mengukur FVC dan FEV1 secara terpisah lalu menghitung rasio FEV1/FVC. Rasio tersebut menunjukkan seberapa banyak udara yang dapat dikeluarkan paru dalam satu detik pertama. Semakin tinggi nilai rasio, semakin baik fungsi paru-paru seseorang.
Pada anak usia 5–18 tahun, rasio kurang dari 85% dapat menunjukkan gangguan paru. Pada orang dewasa, rasio kurang dari 70% biasanya menandakan adanya penyakit paru obstruktif.
Efek Samping Tes Spirometri
Pemeriksaan spirometri termasuk prosedur medis yang relatif aman dan tidak menimbulkan rasa sakit. Meski demikian, beberapa orang mungkin mengalami efek samping ringan setelah menjalani tes.
Efek samping yang paling sering terjadi adalah pusing atau rasa sesak napas sementara setelah menghembuskan napas dengan kuat. Kondisi ini biasanya berlangsung singkat dan akan membaik dalam beberapa menit.
Selain itu, proses meniup spirometer juga dapat meningkatkan tekanan pada kepala, dada, dan perut. Oleh karena itu, pasien dengan riwayat penyakit jantung, hipertensi berat, atau operasi tertentu perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum menjalani tes spirometri.
Spirometri memiliki peran penting dalam diagnosis berbagai penyakit sistem pernapasan. Beberapa penyakit yang sering dideteksi melalui tes ini antara lain asma, PPOK, fibrosis paru, bronkitis kronis, dan emfisema.
Selain untuk diagnosis, pemeriksaan spirometri ini juga digunakan untuk memantau perkembangan penyakit dan menilai respons terhadap terapi. Melalui pemantauan rutin, dokter dapat menyesuaikan pengobatan agar fungsi paru tetap optimal.
Ditinjau oleh
Spesialis Paru
Primaya Rajawali Hospital Bandung
Referensi:
- Chronic obstructive pulmonary disease (COPD). https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/chronic-obstructive-pulmonary-disease-(copd). Diakses 13 Maret 2026
- Gambaran Fungsi Paru dengan Spirometri pada Pasien Asma Persisten. https://jurnalrespirologi.org/index.php/jri/article/view/152. Diakses 13 Maret 2026.
- Gambaran Hasil Spirometri pada Wanita Pedesaan Krueng Raya. https://jurnal.usk.ac.id/JKS/article/view/18500. Diakses 13 Maret 2026
- Penerapan Spirometri Insentif Pada Pasien Efusi Pleura: Studi Kasus. https://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/kesehatan/article/view/16776. Diakses 13 Maret 2026
- Prognostic significance of chronic respiratory symptoms in individuals with normal spirometry. https://publications.ersnet.org/content/erj/54/3/1900734. Diakses 13 Maret 2026
- Spirometry. https://www.lung.org/lung-health-diseases/lung-procedures-and-tests/spirometry. Diakses 13 Maret 2026


