• Emergency
  • 150 108
  • Chatbot

Inflammatory Bowel Disease (IBD)

Inflammatory Bowel Disease (IBD) Penyebab, Gejala dan Mengobati

Inflammatory bowel disease (IBD) adalah penyakit pada saluran pencernaan yang membutuhkan perhatian ekstra. Penyakit ini sering terjadi pada anak-anak dengan keluhan utama bersumber dari perut. Bila tidak segera mendapat penanganan, kondisi ini bisa semakin berkembang dan menimbulkan komplikasi.

 


Mengenal Inflammatory Bowel Disease (IBD)

Hampir semua anak pernah mengalami sakit perut. Pemicunya biasanya bukan kondisi yang serius, misalnya perut begah karena kebanyakan makan atau diare lantaran jajan sembarangan. Namun bila rasa sakit itu sering terjadi hingga menjadi rutinitas anak, bisa jadi ada masalah kesehatan yang lebih serius dibaliknya. Salah satunya inflammatory bowel disease (IBD).

Inflammatory bowel disease (IBD) adalah kondisi penyakit kronis yang menyebabkan peradangan di dalam saluran pencernaan. Kondisi ini bisa memicu munculnya rasa sakit dan kram di perut serta mengganggu proses pengolahan makanan menjadi energi. Ketika terdiagnosis mengalami penyakit radang usus ini, seseorang bisa jadi membutuhkan perawatan dalam jangka panjang.

Sebagai penyakit kronis, IBD muncul dan berkembang dalam jangka waktu panjang meski gejalanya datang dan pergi. Terdapat dua macam IBD yang paling umum, yakni:

1. Penyakit Crohn

Penyakit kronis ini menyerang saluran gastrointestinal. Seringnya usus halus/kecil dan usus besar yang terkena, tapi bisa juga bagian lain saluran gastrointestinal dari mulut hingga anus.

2. Kolitis ulseratif

Ciri khas penyakit ini adalah adanya peradangan pada usus besar. Akibatnya, lapisan usus besar menjadi merah dan bengkak serta kadang muncul borok atau bisul hingga menyebabkan diare dan perdarahan dari rektum.

Inflammatory bowel disease (IBD) bisa menyerang pria ataupun wanita di segala usia. Tapi penyakit ini paling sering ditemukan pada anak remaja berusia 16 tahun hingga dewasa 26 tahun. Pasien IBD mungkin bisa bertahun-tahun tak mengalami gejala IBD atau gejalanya berkurang. Namun gejala parah bisa tiba-tiba muncul tanpa diduga ketika peradangan berkembang lagi.

 

Gejala Inflammatory Bowel Disease (IBD)

Dampak inflammatory bowel disease (IBD) bisa berbeda-beda pada tiap individu. Ada yang langsung mengalami gejala parah tanpa ada tanda-tanda peringatan sebelumnya. Ada juga yang gejalanya berkembang sedikit demi sedikit dari ringan hingga berat.

Baca Juga:  Bintik Merah Saat Demam, Kapan Harus ke Dokter?

Gejala yang kerap muncul antara lain:

  • Sakit perut
  • Kelelahan tanpa penyebab jelas
  • Penurunan berat badan
  • Kehilangan nafsu makan
  • Diare
  • Demam
  • Perdarahan dari rektum
  • Tumbuh kembang terhambat

 

Penyebab Anak Inflammatory Bowel Disease (IBD)

Inflammatory bowel disease (IBD) diyakini terjadi karena kombinasi berbagai faktor, termasuk genetika, reaksi sistem imun terhadap bakteri tertentu di dalam usus, dan pola makan serta stres sebagai pemicu. Jadi penyebab penyakit radang usus ini tidak tunggal.

Karena alasan yang tidak diketahui, sistem imun bereaksi terlalu aktif terhadap sistem tubuh sendiri. Bagian dari tubuh yang menjadi target sistem imun ini bukan hanya saluran pencernaan, tapi kadang juga menjalar hingga organ lain seperti kulit, persendian, mata, atau hati.

 

Cara Dokter Mendiagnosis Inflammatory Bowel Disease (IBD)

Ada sejumlah cara dokter untuk mendiagnosis inflammatory bowel disease (IBD). Dugaan awal bisa muncul dari pemeriksaan terhadap riwayat kesehatan pasien serta wawancara mengenai gejala yang dialami. Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan melihat hasil serangkaian tes diagnostik, seperti:

  • Tes darah
  • Ultrasonografi
  • Pemindaian tomografi terkomputasi (CT scan)
  • Pencitraan resonansi magnetik (MRI)
  • Pemeriksaan tinja untuk mengecek infeksi
  • Endoskopi untuk melihat kondisi usus di saluran cerna atas dan bawah
  • Pengambilan sampel (biopsi) usus untuk diperiksa di laboratorium
  • Gastroskopi dengan memasukkan alat periksa dari mulut untuk memeriksa saluran cerna atas

Pasien biasanya hanya perlu menjalani beberapa tes diagnostik saja sesuai dengan arahan dokter. Bila perlu, dokter bisa meminta pasien menjalani tes lain untuk memastikan diagnosis.

 

Pengobatan

Belum ada pengobatan yang dapat secara efektif menyembuhkan pasien inflammatory bowel disease (IBD). Tujuan perawatan pasien adalah mengendalikan gejala guna mempertahankan kualitas hidup pasien. Obat yang lazim digunakan untuk mengobati pasien IBD termasuk:

  • Antibiotik, seperti metronidazole dan ciprofloxacin
  • Obat asam asetilsalisilat antiperadangan seperti Mesalazine, Asacol, Sulfasalazin, Azulfidine, Balsalazid Colazol, dan Mesalamine Pentasa
  • Steroid, misalnya prednisone, prednisolone, atau budesonide
  • Imunodulator seperti azathioprine dan methotrexate
  • Biologi, seperti Infliximab-dyyb inflectra, Certolizumab Cimzia, dan Infliximab Remicade

Terapi nutrisi juga bisa diterapkan untuk mencegah kemunculan gejala penyakit Crohn. Operasi pengangkatan usus besar bisa menjadi opsi untuk kolitis ulseratif jika terapi medis lain tak efektif.

Baca Juga:  Donor Hati

 

Komplikasi

Sebagai penyakit kronis, inflammatory bowel disease (IBD) rentan menimbulkan komplikasi pada saluran pencernaan maupun sistem tubuh lain, seperti:

  • Penyempitan usus
  • Abses (benjolan nanah) di usus
  • Nyeri perut kronis
  • Perdarahan dari rektum
  • Lubang atau kebocoran pada saluran cerna
  • Kekurangan nutrisi
  • Kesulitan tubuh menyerap nutrisi
  • Osteoporosis
  • Peradangan pada mata, mulut, sendi, dan kulit
  • Batu ginjal

 

Pencegahan

Karena inflammatory bowel disease (IBD) dipicu oleh berbagai faktor, pencegahannya sulit dilakukan. Terutama untuk faktor risiko genetik. Meski begitu, ada cara untuk mengurangi risiko terkena penyakit radang usus ini, khususnya lewat penerapan pola hidup sehat dan aktif.

Para dokter merekomendasikan pembiasaan makan makanan sehat dengan gizi seimbang setiap hari. Harus ada buah dan sayuran dalam setiap porsi makan. Selain itu, dokter menyarankan untuk meminimalkan penggunaan obat antiperadangan nonsteroid seperti ibuprofen dan naproksen yang terkait dengan peningkatan risiko IBD.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Inflammatory bowel disease (IBD) dapat ditangani dengan lebih baik bila terdeteksi sejak dini. Namun gejala IBD seperti sakit perut dan diare memang merupakan gejala penyakit umum terutama di kalangan anak-anak. Meski demikian, bila gejala ini terus ada hingga lebih dari satu minggu atau makin parah, sebaiknya segera temui dokter. Bisa jadi itu gejala adanya peradangan pada saluran cerna yang memerlukan pemeriksaan medis secepatnya.

 

Reviewed by

dr. Anugrah Riansari, M.Kes, SpPD

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Primaya Hospital Semarang

Referensi:

  • Inflammatory Bowel Disease. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470312/. Diakses 12 Oktober 2022
  • Inflammatory bowel disease: clinical aspects and treatments. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4106026/. Diakses 12 Oktober 2022
  • What is inflammatory bowel disease (IBD)?. https://www.cdc.gov/ibd/what-is-IBD.htm. Diakses 12 Oktober 2022
  • Inflammatory Bowel Disease. https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/1872818. Diakses 12 Oktober 2022
  • What is Ulcerative Colitis?. https://www.crohnscolitisfoundation.org/what-is-ulcerative-colitis. Diakses 12 Oktober 2022
  • What is Crohn’s Disease?. https://www.crohnscolitisfoundation.org/what-is-crohns-disease. Diakses 12 Oktober 2022
Bagikan ke :

Buat Janji Dokter

Promo

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.