• Emergency
  • 150 108

Jenis-Jenis Hepatitis dan Perbedaannya

Jenis-Jenis Hepatitis dan Perbedaannya

Hepatitis adalah penyakit yang memiliki beragam jenis dan dapat menyerang siapa saja. Dari anak-anak hingga orang tua, semua bisa terkena. Ada setidaknya tujuh jenis hepatitis yang memiliki karakteristik masing-masing. Adanya kasus hepatitis yang belum diketahui karakteristiknya secara mendalam pada 2022 berpotensi menambah jenis hepatitis saat ini.

 


Apa Itu Hepatitis

Hepatitis berasal dari kata Latin “hepar” yang berarti hati atau lever dan “-itis” yang bermakna peradangan atau inflamasi. Dari kombinasi kedua kata itu, hepatitis adalah istilah medis untuk penyakit peradangan hati. Penyebab utama hepatitis adalah virus yang dibedakan menjadi virus hepatitis A, B, C, D, dan E.

Namun hati juga bisa mengalami peradangan karena penyebab lain, seperti konsumsi alkohol atau obat-obatan, penyakit autoimun, dan paparan racun. Peradangan hati yang terjadi bukan karena infeksi virus juga dapat disebut sebagai hepatitis.

 

Jenis – Jenis Hepatitis dan Perbedaanya

Virus hepatitis A, B, C, D, dan E sangatlah berbeda satu sama lain. Misalnya, secara genetik, hepatitis A lebih dekat dengan virus yang menyebabkan demam biasa dibanding hepatitis B. Sedangkan hepatitis C lebih dekat dengan virus penyebab demam dengue. Namun semua virus ini punya satu kesamaan, yakni dapat menyebabkan kerusakan ringan hingga sangat parah pada hati.

Adapun berdasarkan waktu kemunculannya, terdapat dua macam hepatitis, yakni akut dan kronis. Hepatitis akut terjadi ketika seseorang baru pertama kali terkena penyakit tersebut. Ketika peradangan hati tak kunjung dapat diatasi dan gejalanya terus ada dalam jangka waktu lama, orang itu disebut mengalami hepatitis kronis.

Hepatitis A dan E umumnya bersifat akut, sementara hepatitis B dan C bisa berubah menjadi kronis. Peradangan dan infeksi kronis dalam waktu lama bisa menyebabkan luka dan pengerasan hati. Dalam kasus terburuk, hepatitis bisa berkembang menjadi kanker hati.

 

1. Hepatitis Autoimun

Hepatitis autoimun adalah penyakit hepatitis kronis yang tak menular. Penyakit ini terjadi ketika sistem imun diri sendiri menyerang sel hati yang sehat dan normal. Penyebab penyakit ini belum diketahui pasti, tapi diduga terkait dengan ketidakseimbangan sel sistem imun.

Ada dua macam hepatitis autoimun, yaitu tipe 1 dan tipe 2. Hepatitis autoimun tipe 1 atau tipe klasik biasanya terdiagnosis pada masa dewasa, sedangkan tipe 2 saat kanak-kanak. Penanganan kedua tipe hepatitis autoimun ini sama, tapi tipe 2 bisa lebih parah dan lebih sulit dikendalikan.

Gejala yang terkait dengan hepatitis autoimun termasuk kelelahan, gatal, menguningnya kulit dan putih mata, mual, muntah, sakit perut, penurunan berat badan, tinja berwarna terang, urine berwarna gelap, nyeri sendi, dan ruam. Umumnya, jenis hepatitis ini didiagnosis dengan memeriksa gejala yang muncul, tes darah, dan biopsi hati.

Baca Juga:  Pencegahan Demam Berdarah

 

2. Hepatitis A

Ini salah satu jenis hepatitis yang umum terjadi. Penyebaran virus hepatitis A biasanya lewat makanan dan air yang sudah tercemar. Penularan kerap terjadi di lingkungan rumah. Misalnya ada satu orang rumah yang terinfeksi hepatitis A, orang lain yang serumah bisa tertular ketika makan bersama atau menggunakan alat makan yang sama, terutama jika belum tercuci bersih.

Biasanya orang yang terinfeksi virus hepatitis A bisa pulih sendiri tanpa perawatan dan akan kebal terhadap infeksi virus yang sama di masa mendatang. Namun jenis hepatitis ini juga bisa menyebabkan sakit parah. Untuk mencegah penularan, ada vaksin hepatitis A terutama bagi anak-anak.

 

3. Hepatitis B

Hepatitis B adalah jenis hepatitis yang paling banyak dijumpai di seluruh dunia dan paling sering memicu kanker hati. Penularan hepatitis B terjadi lewat hubungan seksual atau kontak darah. Namun kebanyakan pasien hepatitis B kronis tertular dari ibunya saat lahir.

Hepatitis B akut lebih banyak dialami orang dewasa dan bisa sembuh sendiri tanpa penanganan khusus. Tapi, saat anak-anak terinfeksi, peluang hepatitis B yang diderita menjadi penyakit kronis yang serius mencapai 90 persen. Karena itu, vaksinasi hepatitis B penting untuk mencegah penyebaran penyakit ini sejak dini.

 

4. Hepatitis C

Hepatitis C juga salah satu jenis hepatitis yang lazim. Pasien hepatitis C rentan mengalami kanker hati saat penyakit yang diderita menjadi kronis. Sebanyak 80 persen orang yang terinfeksi virus hepatitis C menderita gejala yang kronis. Bahkan ada yang sampai membutuhkan transplantasi karena kerusakan hati sudah terlalu parah.

Penularan virus hepatitis C umumnya lewat penggunaan jarum suntik secara tidak aman, terutama di kalangan pengguna narkoba. Penularan juga bisa terjadi lewat prosedur tato dan tindik yang tidak steril, hubungan seksual, dan berbagi barang pribadi yang rentan terkontaminasi darah seperti pisau cukur dan gunting.  Saat ini belum tersedia vaksin hepatitis C.

 

5. Hepatitis D

Jenis hepatitis ini tidak umum karena hanya dapat menginfeksi orang yang telah terkena hepatitis B. Karena itu, pasien hepatitis B bisa terkena infeksi virus hepatitis ganda. Penyebaran hepatitis D sama dengan hepatitis B, yakni lewat darah dan cairan yang telah terkontaminasi.

Baca Juga:  Apa Sebab Pembesaran Kelenjar Getah Bening?

Hepatitis D bisa bersifat akut, kronis, ataupun keduanya. Orang yang terinfeksi hepatitis B dan D kronis lebih berisiko mengalami komplikasi. Hepatitis D bisa dicegah lewat vaksinasi.

 

6. Hepatitis E

Seperti hepatitis A, jenis hepatitis ini menyebar lewat air dan makanan yang tercemar virus. Gejala hepatitis E relatif ringan, tapi bisa menyebabkan penyakit serius bagi ibu hamil. Ada peningkatan risiko kematian hingga 20 persen pada ibu hamil yang terinfeksi virus hepatitis E pada trimester ketiga masa kehamilan.

Umumnya pasien hepatitis E bisa sembuh sendiri tanpa perawatan spesifik, kecuali penyakitnya sudah berkembang menjadi kronis. Saat ini belum ada vaksin hepatitis E yang tersedia secara luas.

 

7. Hepatitis Neonatal

Jenis hepatitis ini merupakan sebutan untuk kasus peradangan hati yang terjadi pada usia awal bayi, biasanya 1-2 bulan. Bayi yang baru lahir bisa menderita hepatitis karena tertular oleh ibunya. Transmisi virus umumnya terjadi pada masa kehamilan atau sesaat setelah kelahiran bayi.

Seorang ibu mungkin tidak sadar bahwa dia membawa virus hepatitis saat hamil sehingga bayinya tertular secara tak sengaja. Bayi yang menderita hepatitis neonatal bisa mengalami komplikasi seperti kulit gatal-gatal, mudah memar, dan kerusakan otak. Pemeriksaan kehamilan secara rutin bisa menjadi cara untuk mencegah terjadinya hepatitis neonatal.

Demikian uraian mengenai jenis hepatitis yang berbeda-beda. Pada dasarnya, semua macam hepatitis itu dapat dicegah dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Upaya yang sama bisa dilakukan untuk mencegah penularan hepatitis akut yang viral pada 2022.

 

Reviewed by

dr. Frieda Handayani, SpA (K)

Dokter spesialis anak Konsultan Gastro Hepatologi

Primaya Evasari Hospital

 

Referensi:

Bagikan ke :

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.