• Emergency
  • 150 108

Hepatitis Akut Misterius: Gejala, Penanganan, dan Pencegahan

Hepatitis Akut Misterius Gejala, Penanganan, dan Pencegahan

Setelah Covid-19 mereda, muncul temuan kasus penyakit baru berupa hepatitis akut yang menyerang anak-anak. Hepatitis yang bersifat akut sebetulnya sudah lama ada. Namun virus yang memicu kasus hepatitis yang dilaporkan pertama kali pada April 2022 ini ternyata tidak terdeteksi dalam tes hepatitis A, B, C, D, dan E sehingga disebut sebagai hepatitis akut misterius.

 


Mengenal Hepatitis Akut

Hepatitis adalah penyakit peradangan hati yang bisa terjadi karena berbagai penyebab. Infeksi virus bisa memicu penyakit ini. Terdapat lima jenis virus hepatitis yang telah diketahui dapat menyebabkan peradangan hati. Konsumsi alkohol berlebih, obat-obatan, dan zat beracun juga dapat memicu hepatitis. Begitu pula penyakit autoimun.

Hepatitis akut terjadi ketika peradangan hati muncul secara cepat dan tiba-tiba. Jenis hepatitis ini bisa menimpa bayi yang baru lahir hingga kalangan lanjut usia. Secara umum, hepatitis akut tak memerlukan penanganan khusus dan pasien dapat sembuh sendiri.

Adapun penyakit hepatitis yang terjadi secara mendadak dan parah pada anak yang sebelumnya sehat sangat jarang dijumpai. Karena itulah ketika muncul laporan sejumlah kasus hepatitis akut pada anak yang terjadi secara bersamaan bahkan hingga menyebabkan kematian, para pakar kesehatan langsung bergerak untuk menelitinya lebih lanjut.

Hingga kini, belum ada kepastian apa yang menjadi penyebab atau etiologi hepatis akut misterius di kalangan anak-anak berusia di bawah 16 tahun tersebut. Namun hipotesis yang utama saat ini adalah pemicu hepatitis tersebut merupakan adenovirus. Adenovirus adalah salah satu kelompok virus yang umum dan sering menyebabkan gejala seperti flu biasa.

Dari 169 kasus yang diteliti Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada April 2022, sebanyak 74 kasus diketahui ada infeksi adenovirus. Sebanyak 18 anak di antaranya terinfeksi adenovirus tipe 41 yang umumnya memicu gejala terkait dengan pernapasan dan pencernaan.

Meski begitu, penjelasan ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Sebab, tidak semua anak yang terkena hepatitis akut misterius tersebut positif adenovirus. Selain itu, infeksi adenovirus pada anak sangat lazim sehingga ada kemungkinan adenovirus yang ditemukan dalam kasus WHO adalah jenis adenovirus biasa, bukan spesifik menjadi penyebab hepatitis akut.

Baca Juga:  Tanda Bayi Lapar dan Cukup Menerima ASI Eksklusif

Adapun ihwal kaitan hepatitis akut dengan Covid-19, pada peneliti belum menemukannya. Termasuk kaitannya dengan vaksin Covid-19. Walau demikian, dari 169 kasus dalam laporan WHO, hasil tes 20 anak menunjukkan positif virus corona. Para pakar menyebutkan temuan itu kemungkinan besar bersifat kebetulan lantaran Covid-19 memang masih ada dan sudah banyak menginfeksi orang-orang di seluruh dunia.

 

Gejala

Gejala hepatitis akut sangat bervariasi. Umumnya orang yang terkena infeksi hepatitis akut akan mengalami gejala mirip flu, seperti demam, kelelahan, mual dan muntah, dan sakit kepala. Gejala lainnya termasuk:

  • Urine berwarna lebih gelap
  • Diare
  • Tinja tampak berwarna pucat
  • Nafsu makan menurun
  • Penurunan berat badan tanpa pemicu jelas
  • Nyeri otot, sendi, dan perut
  • Sensitif terhadap cahaya matahari
  • Kulit dan putih mata menguning
  • Gatal-gatal
  • Ruam di kulit

Adapun dalam sebagian besar kasus yang diteliti, gejala yang paling banyak dilaporkan terkait dengan pencernaan. Khususnya nyeri perut, diare, dan muntah-muntah. Pasien juga mengalami perubahan warna kulit dan putih mata menjadi tampak kekuningan. Kebanyakan pasien tidak mengalami demam sama sekali. Selain itu, enzim lever para pasien meningkat di atas kadar normal yang menjadi tanda adanya peradangan atau kerusakan hati.

 

Penanganan Hepatitis Akut Misterius

Penanganannya saat ini masih sama seperti hepatitis biasa. Namun Kementerian Kesehatan Indonesia telah menyusun definisi dan membuat enam kategori demi mempermudah mitigasi, pelacakan, dan evaluasi kasus ini. Rinciannya:

  • Confirmed: kasus yang telah terkonfirmasi. Saat ini belum bisa didefinisikan karena penyebab hepatitis akut misterius ini masih belum jelas.
  • Suspect: mungkin terkena hepatitis akut tapi bukan virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Jumlah enzim serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) atau serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) yang banyak terdapat dalam hati lebih dari 100 IU/L. Usia suspek kurang dari 16 tahun dan masuk kriteria kasus yang ditetapkan per 1 Oktober 2021 (tanggal dugaan deteksi kasus hepatitis akut misterius pertama di Amerika Serikat).
  • Probable: mungkin terjangkit hepatitis akut tapi penyebabnya bukan virus hepatitis A, B, C, D, atau E. Jumlah enzim SGOT dan SGPT lebih dari 500 IU/L. Usia pasien kurang dari 16 tahun dan masuk kriteria kasus yang ditetapkan per 1 Oktober 2021.
  • Epi-Linked: mungkin terpapar hepatitis akut tapi bukan salah satu dari virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Pasien dari segala usia dan berstatus kontak dekat dari kasus 1 Oktober 2021.
  • Pending Classification: masuk kriteria probable, tapi masih menunggu hasil tes serologi hepatitis.
  • Discarded: hasil serologi hepatitis positif A, B, C, atau E atau ada etiologi lainnya.
Baca Juga:  Terlambat Imunisasi Anak? Ini Dampak yang Wajib Kamu Ketahui 

 

Pencegahan

Selagi menunggu hasil penelitian selanjutnya mengenai hepatitis akut misterius, para orang tua dan anak-anak bisa mengupayakan langkah pencegahan yang sama seperti kasus hepatitis biasa. Di Indonesia tersedia vaksin hepatitis A dan B. Vaksin hepatitis B masuk program imunisasi dasar yang disediakan pemerintah bagi anak-anak. Sedangkan vaksin hepatitis A bisa diperoleh secara mandiri dan bisa untuk anak ataupun orang dewasa.

Vaksinasi telah terbukti ampuh mencegah sejumlah penyakit menular. Karena itu, untuk ikhtiar mencegah hepatitis, sebaiknya anak diberi vaksin hepatitis sesuai dengan jadwal imunisasi yang direkomendasikan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Selain itu, pastikan menjalani hidup bersih dan sehat, seperti rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, memastikan semua alat makan tercuci dengan bersih, selalu memasak bahan makanan yang bersih dan matang, dan menghindari kontak dengan orang yang sedang sakit.

 

Reviewed by

dr. Frieda Handayani, SpA (K)

Dokter spesialis anak Konsultan Gastro Hepatologi

Primaya Evasari Hospital

 

Referensi:

Bagikan ke :

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.