Bagi penyandang diabetes atau diabetesi, gula seringkali dianggap sebagai “musuh dalam selimut.” Keinginan untuk menikmati secangkir teh manis atau sepotong kue seringkali berbenturan dengan risiko lonjakan kadar gula darah yang membahayakan. Di tengah dilema ini, nama Stevia muncul sebagai primadona baru. Namun, benarkah pemanis alami ini benar-benar aman, atau sekadar tren kesehatan belaka?
Apa Itu Stevia?
Bukan hasil laboratorium kimia, Stevia berasal dari tanaman Stevia rebaudiana yang tumbuh asli di Amerika Selatan. Penduduk lokal di sana telah menggunakan daun ini sebagai pemanis selama berabad-abad.
Rahasia rasa manisnya terletak pada senyawa bernama steviol glikosida. Uniknya, Senyawa inilah yang memberikan rasa manis tanpa meningkatkan kadar gula darah secara signifikan.
Mengapa Diabetesi Melirik Stevia?
Ada beberapa alasan medis dan praktis mengapa Stevia menjadi pilihan unggul bagi mereka yang harus menjaga indeks glikemik:
- Nol Kalori, Nol Karbohidrat:Stevia murni tidak memberikan kontribusi kalori yang signifikan dan umumnya tidak meningkatkan kadar glukosa darah.
- Indeks Glikemik Rendah:Karena tidak diserap ke dalam aliran darah sebagai gula, Stevia memiliki indeks glikemik sangat rendah dan secara umum tidak menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah yang bermakna.
- Potensi Menurunkan Tekanan Darah:Beberapa studi menunjukkan potensi efek stevia terhadap tekanan darah, namun bukti masih terbatas dan tidak dapat menggantikan terapi medis.
Perhatikan “Jebakan” di Balik Label
Meski Stevia secara alami sangat baik, konsumen harus tetap jeli. Di rak supermarket, banyak produk berlabel “Stevia” sebenarnya adalah campuran.
- Bahan Pengisi:Karena Stevia murni sangat manis, produsen sering mencampurnya dengan bahan lain seperti erythritol, maltodekstrin, atau dekstrosa. Beberapa bahan tambahan seperti maltodekstrin atau dekstrosa dapat memengaruhi kadar gula darah, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah besar.
- Rasa “Aftertaste”:Bagi sebagian orang, Stevia meninggalkan rasa sedikit pahit atau seperti logam (bitter aftertaste) di lidah. Ini adalah hal normal dan biasanya teratasi jika dicampur dengan komposisi yang tepat.
Penggunaan stevia tidak menggantikan pengelolaan diabetes secara menyeluruh, termasuk pengaturan pola makan, aktivitas fisik, dan terapi obat bila diperlukan.
Tips Aman Mengonsumsi Stevia bagi Diabetesi
Jika Anda ingin mulai beralih ke Stevia, perhatikan panduan sederhana berikut:
- Baca Komposisi:Pilih produk yang mengandung ekstrak Stevia murni (Rebaudioside A) tanpa tambahan gula tersembunyi.
- Moderasi Tetap Kunci:Meskipun nol kalori, membiasakan lidah dengan rasa manis yang berlebihan tetap tidak disarankan untuk pola makan sehat jangka panjang.
- Perhatikan batas konsumsi:Batas konsumsi harian yang aman (Acceptable Daily Intake/ADI) untuk stevia adalah sekitar 4 mg/kg berat badan per hari (dalam bentuk steviol equivalents).
Segera konsultasikan diri Anda ke Primaya Hospital Kelapa Gading untuk skrining penanganan komperehensif anda.
Ditinjau oleh:
dr. Garry Aditya Pranata, Sp.PD
Spesialis Penyakit Dalam
Primaya Hospital Kelapa Gading
Referensi:
- https://www.fda.gov/about-fda/center-food-safety-and-applied-nutrition-cfsan/additional-information-about-high-intensity-sweeteners-permitted-use-food-united-states%23stevia
- https://apps.who.int/food-additives-contaminants-jecfa-database/Home/Chemical/3820
- https://www.sciencedirect.com/topics/agricultural-and-biological-sciences/stevia-rebaudiana
- https://www.medicalnewstoday.com/articles/287251
- https://www.healthline.com/health/diabetes/stevia-diabetes


