Istilah burnout makin sering jadi bahan perbincangan seiring dengan tuntutan zaman yang kian bergerak cepat dan keras, terutama di dunia pekerjaan. Banyak pekerja yang mengeluhkan gejala masalah kesehatan mental yang ditandai dengan kelelahan luar biasa ini. Artikel ini akan membahas gejala, penyebab, dan cara mengatasi burnout, juga memberikan panduan ihwal kapan perlu mencari bantuan medis.
Mengenal Burnout
Burnout adalah sindrom psikologis yang muncul akibat stres berkepanjangan di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola dan melibatkan perasaan lelah yang berlebihan serta penurunan motivasi. Menurut American Psychological Association, burnout terjadi ketika seseorang merasa kehabisan tenaga dan tidak mampu memenuhi tuntutan di tempat kerja. Dalam banyak kasus, pekerjaan yang sangat menuntut tanpa ada dukungan yang memadai dapat menjadi faktor penyebab burnout.
Orang yang mengalami burnout akan merasakan kelelahan fisik, emosional, atau mental yang disertai penurunan motivasi, penurunan kinerja, dan sikap negatif terhadap diri sendiri dan orang lain. Psikolog sosial Christina Maslach adalah orang pertama yang menggunakan istilah ini.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi telah mengklasifikasikan burnout dalam revisi ke-11 International Classification of Diseases (ICD-11) sebagai fenomena okupasional. Artinya, kondisi ini diakui secara global sebagai masalah serius yang berkaitan dengan pekerjaan.
Penting untuk dicatat, meskipun diakui WHO, burnout bukanlah kondisi medis atau diagnosis gangguan mental seperti depresi atau kecemasan. Dalam ICD-11, burnout termasuk dalam kategori “faktor yang mempengaruhi status kesehatan”, bukan penyakit. WHO juga secara khusus merujuk, kondisi ini pada konteks pekerjaan, bukan pengalaman di bidang kehidupan lain. Walau begitu, dampaknya bisa sangat nyata dan jika dibiarkan bisa memicu komplikasi serius dalam kehidupan.
Gejala Burnout
Sejalan dengan penelitian mengenai burnout oleh Christina Maslach, dalam ICD-11 dinyatakan bahwa kondisi burnout dapat ditegakkan jika memenuhi memenuhi tiga dimensi berikut:
- Penurunan energi atau kelelahan:perasaan lelah dan lemah secara fisik maupun mental.
- Peningkatan jarak mental, negativisme atau sinisme terhadap pekerjaan respons negatif, tidak peka, atau terlalu abai alias bersikap masa bodoh terhadap pekerjaan dan orang-orang di dalamnya.
- Penurunan efektivitas diri: merasa tidak kompeten, mengerjakan sesuatu yang sia-sia, dan produktivitas menurun drastis.
Selain tiga gejala utama di atas, studi juga menemukan gejala penyerta seperti gangguan tidur, ketegangan otot, dan masalah psikosomatis lain. Umumnya, gejala awal burnout seringkali ringan dan memburuk secara bertahap.
Penyebab Burnout
Penyebab burnout sangat beragam dan seringnya berakar dari lingkungan kerja yang buruk. Namun faktor personal juga bisa berpengaruh. Rinciannya:
Faktor Pekerjaan
- Tuntutan pekerjaan yang melebihi kapasitas, baik secara jumlah maupun kompetensi.
- Tuntutan pekerjaan untuk mengontrol atau menyembunyikan emosi.
- Tidak punya kuasa atas sumber daya, wewenang, atau cara melakukan pekerjaan.
- Kurangnya informasi mengenai target yang diharapkan dan bagaimana mencapainya.
- Supervisi yang kurang atau yang berfokus pada kritik .
- Kurangnya penghargaan baik dalam bentuk finansial, sosial, maupun rasa apresiasi dari atasan dan rekan kerja.
- Kurangnyahubungan positif dan dukungan sosial di tempat kerja, termasuk konflik yang tak terselesaikan dengan rekan kerja.
- Perlakuan tidak adil terkait dengan promosi, evaluasi, atau penugasan.
- Waktu kerja yang buruk, seperti pekerjaan dengan shift, pekerjaan di malam hari, pekerjaan dengan waktu yang panjang, atau sering lembur.
- Nilai-nilai pribadi berbenturan dengan tuntutan atau nilai-nilai organisasi. Misalnya diminta berbohong demi keuntungan perusahaan.
Faktor Individu
Karakteristik kepribadian tertentu lebih rentan mengalami burnout, antara lain individu yang mudah cemas, cenderung bergantung pada situasi atau orang lain, perfeksionis, dan people pleaser (selalu ingin menyenangkan orang lain). Individu yang sangat kompetitif, impulsif, agresif, dan memiliki ekspektasi tinggi dalam pekerjaannya juga memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami burnout. Hal ini semakin diperparah apabila individu tersebut memiliki cara koping terhadap stres yang cenderung tidak efektif, seperti penghindaran.
Cara Dokter Mendiagnosis Burnout
Karena burnout bukan diagnosis medis seperti flu atau diabetes, tidak ada tes laboratorium atau kriteria diagnostik klinis yang baku dan disepakati secara universal untuk mengidentifikasinya. Biasanya dokter atau psikolog akan menggunakan alat ukur psikometri yang sudah tervalidasi, seperti Maslach Burnout Inventory (MBI). MBI adalah kuesioner yang mengukur tiga dimensi burnout (kelelahan emosional, sinisme, dan efektivitas diri) pada seseorang. Skor tinggi pada kelelahan dan sinisme serta skor rendah pada efektivitas diri mengindikasikan burnout.
Cara Mengatasi Burnout
Ada sejumlah cara untuk memulihkan diri dari burnout. Di antaranya:
- Terapi perilaku kognitif untuk membantu mengubah pola pikir dan perilaku negatif yang berkontribusi pada stres.
- Teknik mindfulnessyang menekankan pada latihan untuk mencapai kesadaran penuh dalam membantu individu mengelola stres.
- Terapi penerimaan dan komitmen (ACT) dan terapi emotif rasional (RET) yang membantu individu menerima pikiran dan perasaan yang sulit
- Menetapkan batasan, misalnya tidak memeriksa e-mailkantor setelah jam kerja dan memprioritaskan perawatan diri, seperti waktu makan, tidur, serta olahraga.
- Berbicara dengan teman, keluarga, atau profesional kesehatan mental.
- Berpindah pekerjaan atau divisi/tim.
Komplikasi Burnout
Bila tidak ditangani, burnout dapat mengakibatkan sejumlah komplikasi yang serius, seperti:
- Gangguan kesehatan mental, termasuk depresi berat atau gangguan kecemasan.
- Gangguan kesehatan fisik, antara lain penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes tipe 2.
- Kecenderungan menggunakan alkohol, kafein, atau obat-obatan terlarang sebagai pelarian.
- Gangguan tidur kronis, seperti insomnia atau tidur tidak nyenyak yang terus-menerus.
Komplikasi juga bisa terjadi pada kehidupan sosial dan karier, antara lain penurunan kinerja dan masalah dalam hubungan interpersonal.
Pencegahan Burnout
Pencegahan burnout harus dilakukan secara proaktif, baik oleh individu maupun organisasi/tempat kerja, sebagai berikut:
Individu:
- Mengidentifikasi apa yang bermakna dalam pekerjaan bagi individu secara personal.
- Membangun daya tahan, terutama kesadaran emosi, dan pola pikir berkembang.
- Memisahkan waktu kerja dan waktu pribadi secara tegas.
Organisasi:
- Membuat ekspektasi kerja yang jelas, proses yang adil, dan kebijakan yang mendukung kesejahteraan karyawan.
- Menciptakan budaya saling dukung agar karyawan merasa aman secara psikologis.
- Melatih pemimpin yang berempati dan mampu mengenali gejala
Kapan Harus ke Dokter?
Jika Anda merasa gejala burnout makin parah dan mulai mempengaruhi kualitas hidup, sangat penting untuk mencari bantuan medis. Mendapatkan bantuan dari seorang profesional bisa menjadi langkah penting menuju pemulihan dari burnout yang melelahkan.
Ditinjau oleh :
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa
Primaya Hospital Bekasi Barat
Referensi:
- Examining the evidence base for burnout. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10630726/. Diakses 20 Februari 2026
- Burn-out an “occupational phenomenon”: International Classification of Diseases. https://www.who.int/news/item/28-05-2019-burn-out-an-occupational-phenomenon-international-classification-of-diseases. Diakses 20 Februari 2026
- Burnout. https://mentalhealth-uk.org/burnout/. Diakses 20 Februari 2026
- Burnout: Symptoms, Treatment, and Tips on How to Deal: https://www.helpguide.org/mental-health/stress/burnout-prevention-and-recovery. Diakses 20 Februari 2026
- Burnout. https://www.psychologytoday.com/us/basics/burnout. Diakses 20 Februari 2026
- APA Dictionary of Psychology. https://dictionary.apa.org/burnout. Diakses 20 Februari 2026
- Burnout: A Review of Theory and Measurement. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8834764/. Diakses 20 Februari 2026
- Burnout phenomenon: neurophysiological factors, clinical features, and aspects of management. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9478693/. Diakses 20 Februari 2026



