• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Penyebab dan Penanganan Rinitis Alergi Seasonal

Rinitis Alergi

Rinitis alergi seasonal tak luput curi perhatian. Rinitis atau rhinitis alergi ini berupa peradangan membran mukosa yang ada di hidung lantaran alergen. Misalnya saja, serbuk sari atau debu. Apabila tak segera diatasi, tentu bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.

Mengenal Rinitis Alergi Seasonal

Pada dasarnya, rinitis alergi memiliki nama lain, yakni demam serbuk sari atau hay fever. Untuk rinitis alergi seasonal itu sendiri memang berlangsung musiman. Misalnya, saat waktu tertentu dalam setahun. Rinitis ini disebut seasonal di konteks Indonesia karena memang tidak memiliki musim semi/gugur. Biasanya, dipicu oleh musim kemarau yang berdebu atau puncak musim bunga tertentu.

Rinitis Alergi

Gejala

Kondisi ini membuat penderitanya merasakan sejumlah gejala seperti berikut.

  • Bersin-bersin.
  • Pilek ataupun hidung tersumbat.
  • Mata jadi terasa gatal ataupun berair.
  • Gatal di tenggorokan atau mulut. Rasa gatal yang tak kunjung hilang di langit-langit mulut sering kali menjadi gejala yang paling mengganggu fokus kerja.
  • Mata membengkak.
  • Kelopak mata bawah warnanya gelap seperti mata panda.
  • Ada ruam pada kulit.
  • Sakit kepala.
  • Batuk-batuk.
  • Telinga sakit dan berdenging.
  • Infeksi yang disertai keluarnya cairan di telinga tengah atau otitis media.

Berdasarkan The Indonesian Journal of Otorhinolaryngology Head and Neck, rinitis alergi yang terjadi pada anak sifatnya intermiten dengan lebih sedikit gejala tetapi banyak komorbiditas daripada orang dewasa.

Penyebab

Penyakit rinitis alergi seasonal tersebut bisa menyerang lantaran alergi serbuk sari atau debu. Biasanya dari gulma, rumput ataupun pohon. Di Indonesia itu sendiri, pemicunya juga bisa berasal dari spora jamur saat musim hujan atau debu ekstrem saat El Nino/kemarau panjang.

Pahami juga sejumlah hal yang bisa meningkatkan risiko rinitis alergi. Berikut beberapa diantaranya.

  • Terpapar asap rokok.
  • Memiliki saudara kandung atau orang tua yang mengalami kondisi sama.
  • Menderita jenis alergi lain, misalnya asma.

Cara Dokter Mendiagnosis

Untuk memastikan kondisi kesehatan tersebut, dokter akan melakukan wawancara medis mendalam (anamnesis), tak terkecuali seputar gejala yang dirasakan oleh penderita. Dokter juga akan bertanya seputar riwayat penyakit maupun riwayat keluarganya.

Setelah itu, dokter akan lakukan tes alergi untuk melihat reaksi alerginya. Adapun metodenya ialah dengan tes tusuk kulit. Lalu, dokter juga akan lakukan tes darah untuk deteksi antibodi IgE sekaligus menghitung jumlah eosinofil.

Baca Juga:  Kenali Penyebab Alergi Dingin dan Cara Mengatasinya

Guna memastikan diagnosanya, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang. Mulai dari rontgen, CT scan, endoskopi hidup, sampai dengan tes aliran udara pernapasan. Rontgen atau CT Scan ini bukan prosedur rutin untuk rinitis alergi sederhana. Akan tetapi, untuk mendeteksi komplikasi seperti sinusitis kronis atau polip.

Penanganan

Apabila dokter sudah memastikan memang mengalami kondisi kesehatan rinitis alergi seasonal tersebut, maka akan langsung memberikan penanganan. Salah satunya dengan Nasal Irrigation. Tindakan ini dilakukan dengan menyemprotkan cairan saline ataupun cairan infus, sehingga rongga hidup bisa bersih.

Saat melakukannya, harus menggunakan air yang steril (distilled water). Hal ini untuk menghindari risiko infeksi tambahan. Jangan pula menggunakan air keran biasa tanpa dimasak terlebih dahulu dalam Nasal Irrigation. Peringatan ini bertujuan untuk mencegah risiko Amoeba pemakan otak (Naegleria fowleri), walau kasusnya jarang.

Airnya juga harus bersuhu ruang atau hangat kuku agar tidak memicu syok pada selaput lendir. Sebenarnya, cara termudah mencuci hidung bagi pemula ialah dengan memiringkan kepala ke satu sisi di depan wastafel.

Bisa juga menanganinya dengan desensitisasi. Tindakan ini dilakukan dengan menyuntikkan zat yang memicu alergi ke kulit pasien selama interval waktu tertentu. Tak hanya itu, dokter juga akan mengatasinya dengan memberikan obat-obatan seperti:

  • Antihistamin
  • Dekongestan
  • Semprotan kortikosteroid. Steroid semprot memerlukan konsistensi yang berarti tidak langsung sembuh dalam satu kali semprot.
  • Obat penghambat leukotrien.
  • Suntikan alergi (imunoterapi).

Komplikasi

Apabila tak kunjung mendapatkan penanganan, maka penderitanya bisa mengalami komplikasi. Mulai dari sinusitis, infeksi telinga tengah, polip hidung, hingga perennial allergic rhinitis. Perennial allergic rhinitis ialah sifatnya kronis dan bisa berlangsung sepanjang tahun. Penderitanya juga bisa mengalami kondisi asma yang memburuk sampai dengan gangguan tidur.

Pencegahan

Siapa saja pasti tidak mau mengalami kondisi kesehatan rinitis alergi seasonal yang satu ini. Maka dari itu, perlu mencegahnya, sehingga terhindar dari penyakit tersebut. Menurut Kemenkes Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, untuk pencegahannya tentu perlu menghindari alergen yang memicunya.

Baca Juga:  Tonsillectomy : Prosedur Pembedahan untuk Mengangkat Amandel

Misalnya saja, tetap di rumah ketika polusi, debu atau serbuk sari tengah tinggi-tingginya. Sesudah beraktivitas di luar rumah, perlu segera mandi. Rajin membersihkan debu di furnitur rumah maupun bulu hewan peliharaan.

Jangan lupa tutup jendela jika angin sedang kencang karena bisa membawa debu. Gunakan pula masker saat ingin bepergian atau beraktivitas di luar rumah. Selain itu, jangan menggunakan karpet ataupun alas sejenisnya, sebab bisa memerangkap debu.

Kapan Harus ke Dokter?

Pastikan tidak menunda-nunda atau mengatasinya sendiri apabila merasakan gejala di atas. Terlebih lagi jika mengalami gejala lain seperti halnya reaksi alergi yang parah atau anafilaksis.

Apabila menyadari pengobatan yang dulu efektif tetapi kini tidak lagi bekerja, juga bisa langsung ke dokter. Begitu pula saat merasakan gejala yang tidak berpengaruh pada pengobatannya. Semakin cepat ke dokter, tentu lebih cepat pula mendapat penanganan.

Rinitis alergi seasonal perlu segera mendapatkan penanganan. Apabila tidak, penderitanya tak lagi bisa beraktivitas dengan lancar kembali. Begitu pula dengan pola tidur yang bisa kembali nyenyak seperti sedia kala. Ulasan ini sendiri bertujuan untuk edukasi dan bukan pengganti saran medis profesional.

Ditinjau oleh:

dr. Nila Santia Dewi, Sp. THT-KL

Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan – Kepala Leher

Primaya Hospital Semarang

 

Referensi:

Share to :

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Sahabat Sehat Primaya

Select an available coupon below