• Emergency
  • 150 108
  • Chatbot

Pengobatan Hernia Tanpa Operasi

Perkembangan Berat Badan Janin dalam Kandungan

Hernia adalah penyakit yang secara umum tidak berbahaya, tapi bisa berkembang menjadi masalah serius yang mengancam jiwa. Bila terkena hernia, kemungkinan besar Anda membutuhkan operasi untuk menyembuhkannya. Namun tidak semua kasus hernia pasti memerlukan operasi, tergantung kondisi hernia itu sendiri dan gejala pasien.

 


Penyebab dan Jenis Hernia

Hernia terjadi ketika ada bagian dari organ internal yang menekan dan menembus otot atau jaringan ikat organ lain. Kondisi ini umumnya terjadi di area perut atau selangkangan. Ada dua jenis utama hernia, yakni eksternal dan internal. Sebagian besar hernia bersifat eksternal. Artinya, organ itu menyebabkan tonjolan yang terlihat dari luar tubuh. Bila hernia terjadi secara internal, tonjolan berada di dalam tubuh. Contohnya hernia diafragma, yakni ketika ada bagian dari perut atau jaringan lain yang mendesak diafragma, yakni sekat antara rongga dada dan perut.

Berikut ini beberapa jenis hernia lain:

  • Hernia inguinalis: tonjolan terlihat di sekitar selangkangan dekat dengan bagian atas paha. Ini jenis hernia yang paling umum terjadi.
  • Hernia femoralis: tonjolan berada di selangkangan di bagian atas paha. Jenis hernia ini mirip dengan inguinalis. Bedanya adalah hernia femoralis menembus saluran femoral dan lebih kerap terjadi pada wanita, sedangkan hernia inguinalis menembus saluran inguinal dan lebih banyak didapati pada pria.
  • Hernia umbilikalis: tonjolan mendesak bagian perut di area pusar.
  • Hernia hiatus: tonjolan dari bagian perut menekan rongga dada lewat saluran diafragma.
  • Hernia insisional: tonjolan terjadi pada sekitar area luka bekas operasi di perut.
  • Hernia epigastrium: tonjolan mendesak area perut di antara pusar dan tulang dada.
  • Hernia spigelian: tonjolan menekan bagian perut di bawah pusar.

Secara global, hernia inguinal adalah jenis hernia yang paling sering dijumpai. Sekitar 25 dari 100 pria dan 2 dari 100 wanita pernah mengalami setidaknya sekali. Jenis hernia kedua yang paling umum adalah hernia umbilikalis dan insisional.

Penyebab hernia yang paling utama adalah lemahnya otot atau jaringan ikat di organ sekitar perut. Otot yang lemah bisa dipicu kelainan bawaan saat lahir, efek penuaan, dan tekanan berlebih/berulang pada area perut. Tekanan ini bisa bersumber dari aktivitas fisik yang menguras tenaga, kelebihan berat badan, kehamilan, batuk kronis, atau mengejan terlalu kuat saat mengalami konstipasi.

 

Pengobatan Hernia tanpa Operasi

Operasi bukanlah satu-satunya cara menyembuhkan hernia. Pasien hernia harus mendapat pemeriksaan menyeluruh dulu oleh dokter yang akan menilai apakah perlu operasi atau tidak. Operasi umumnya menjadi opsi terakhir untuk mengobati hernia.

Baca Juga:  Waspada Bahaya Muntaber, Leptospirosis, Demam Dengue, Infeksi Saluran Pernapasan, dan Eczema Kulit Saat Musim Hujan dan Banjir

Ada metode pengobatan hernia tanpa operasi yang mungkin bisa menjadi pilihan jika memungkinkan. Salah satunya adalah penggunaan alat khusus bernama truss. Truss adalah semacam ikat pinggang yang dikenakan layaknya celana dalam untuk menjaga tonjolan tetap di tempatnya dan menghilangkan ketidaknyamanan. Alat lainnya dengan fungsi serupa adalah korset atau binder. Alat ini umumnya direkomendasikan bagi pria, terutama kalangan lansia yang kondisinya rentan bila harus naik meja operasi.

Tapi harus digarisbawahi bahwa truss bisa dimanfaatkan hanya bila hernia masih dapat didorong masuk secara manual ke tempatnya semula. Setelah tonjolan itu hilang, truss masih harus dikenakan selama beberapa waktu sesuai dengan anjuran dokter. Berbeda bila tonjolan hernia tak dapat didorong kembali atau terperangkap sehingga harus dilakukan operasi untuk menghilangkannya.

 

Kondisi Seseorang yang Memerlukan Operasi untuk Mengobati Hernia

Operasi hernia tidak selalu harus dilakukan segera. Pasien bisa menunggu waktu operasi jika ukuran hernia kecil dan tidak menyebabkan gejala yang mengganggu, terutama rasa sakit. Tapi penting untuk mengetahui bahwa hernia bisa makin besar seiring dengan waktu. Saat ini mungkin belum ada masalah yang terjadi, tapi sangat mungkin nantinya muncul komplikasi yang serius jika tak segera diobati.

Salah satu komplikasi itu adalah strangulasi, yang terjadi ketika jaringan yang menonjol terjepit atau tergencet oleh dinding otot. Akibatnya, pasokan darah terputus dan jaringan akan mati. Pasien yang mengalami gejala komplikasi ini harus menjalani operasi secepatnya:

  • Mual
  • Muntah
  • Demam
  • Sakit makin terasa
  • Tonjolan makin besar
  • Tonjolan berubah warna menjadi ungu atau merah

Yang pasti, jika tonjolan hernia tak bisa didorong kembali, pasien harus menjalani operasi untuk penyembuhan. Akan lebih baik jika operasi langsung dilakukan bila tonjolan sudah pasti tak bisa didorong balik sebelum terjadi komplikasi yang membahayakan.

Ada dua macam pilihan operasi yang bisa dilakukan, yakni bedah terbuka dan laparoskopi. Dengan bedah terbuka, dokter akan membuat sayatan pada area hernia dan mendorong jaringan ke lokasi semula atau mengambilnya. Untuk hernia yang berukuran besar, dokter akan memasang semacam jaring fleksibel untuk menahannya agar tidak menonjol lagi sebelum menutup sayatan.

Baca Juga:  Anosmia: Hidung Tidak Bisa Mencium Bau

Bila memakai laparoskopi, dokter menggunakan alat bernama laparoskop yang dimasukkan lewat sayatan kecil di dekat lokasi hernia. Laparoskop adalah semacam tabung tipis fleksibel yang dilengkapi kamera di ujungnya. Dokter menggunakan gambar rekaman kamera untuk mengobati hernia dan memasang jaring pengaman.

Masa pemulihan dari bedah terbuka lebih lama daripada laparoskopi. Tapi jenis operasi yang bisa dilakukan tergantung ukuran, jenis, dan lokasi tonjolan hernia. Dokter juga akan mempertimbangkan gaya hidup, kesehatan, dan usia pasien.

 

Hal yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan Saat Hernia

Ketika mengalami hernia, seseorang perlu segera memeriksakan kondisinya. Dokter akan merekomendasikan penanganan yang tepat, termasuk memberitahukan hal yang boleh dan tak boleh dilakukan demi mencegah hernia memburuk sebelum operasi. Anjuran ini tergantung jenis hernia yang diderita pasien serta kondisi hernia itu sendiri. Tapi umumnya hal yang boleh dan tak boleh dilakukan antara lain:

Boleh

  • Makan dengan porsi seperti biasa
  • Beraktivitas seperti biasa
  • Perbanyak makanan berserat, terutama sayuran dan buah
  • Minum 1,5-2 liter air tiap hari

Tidak boleh

  • Melakukan aktivitas yang menguras energi
  • Terlalu banyak makan daging merah, santan, gorengan, dan makanan tak sehat lain
  • Merokok
  • Minum minuman beralkohol
  • Langsung rebahan setelah makan
  • Batuk atau bersin terlalu kencang
  • Mengejan terlalu keras saat buang air besar
  • Mengangkat benda yang terlalu berat

 

Kapan Harus ke Dokter?

Hernia memang tidak selalu membahayakan. Tapi seiring dengan waktu hernia yang kecil dan tak menimbulkan rasa sakit bisa membesar dan membuat penderitanya tak nyaman serta kesakitan. Ketika terjadi komplikasi, nyawa pasien bisa terancam. Karena itu, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter bila muncul hernia. Dari situ, pasien bisa mengetahui apa langkah selanjutnya untuk menyembuhkan hernia sebelum mengalami komplikasi.

 

Reviewed by:

dr. Shandy William

Head of Medical Check Up

 

Referensi:

Do I Need Surgery for Hernia?. https://www.webmd.com/digestive-disorders/need-surgery-hernia. Diakses 14 Maret 2022

Do Hernias Always Need to Be Fixed?. https://health.clevelandclinic.org/do-hernias-always-need-to-be-fixed/. Diakses 14 Maret 2022

Hernias: Overview. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK395554/. Diakses 14 Maret 2022

Hernias: Causes, Types, and Treatments. https://www.medicinenet.com/hernias_causes_types_treatments/article.htm. Diakses 14 Maret 2022

Battling a Bulging Hernia. https://newsinhealth.nih.gov/2017/12/battling-bulging-hernia. Diakses 14 Maret 2022

Bagikan ke :

Promo

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.