Hampir semua orang pasti pernah mengalami menahan buang air kecil (BAK) saat sedang dalam perjalanan. Beragam penyebabnya, dari macet di jalan tol, antrean toilet yang panjang, atau tidak ada fasilitas umum yang layak. Rasanya sepele dan sering dianggap bukan masalah besar, tapi apakah menahan BAK berulang kali atau dalam jangka lama benar-benar aman? Artikel ini membahas konsekuensi fisiologis dan risiko kesehatan yang mungkin timbul serta saran praktis untuk mengurangi masalah terkait saat bepergian.
Mengapa Kita Sering Menahan BAK?
Menahan BAK adalah respons alami manusia dalam situasi-situasi tertentu. Kebiasaan yang tampak sepele ini ternyata sering dialami banyak orang karena alasan situasi, seperti perjalanan jauh atau tuntutan professional agar tidak terlihat tidak sopan di acara resmi, hingga kondisi toilet umum yang kurang nyaman.1 Menariknya, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa guru dan tenaga medis memiliki prevalensi tinggi dalam menahan kencing akibat jadwal yang padat dan kurangnya waktu istirahat.2 Studi terhadap 146 tenaga medis yang menunda buang air kecil akibat kekhawatiran akan kebersihan toilet umum dan 57% diantaranya baru beranjak saat sudah benar-benar “tidak tahan lagi”.2
Secara psikologis, otak kita sering melakukan “negosiasi” dengan kandung kemih demi kenyamanan sementara atau menyelesaikan tugas yang dianggap lebih mendesak.1 Padahal kebiasaan menunda ini memaksa otot kandung kemih ekstra kerja keras untuk menampung beban di luar kapasitas normalnya, yang jika dilakukan berulang kali, dapat mengganggu koordinasi antara saraf otak dan otot panggul dalam mengenali sinyal berkemih yang sehat.3
Pada penderita demensia, menahan buang air kecil sering kali bukan masalah fisik. Otak kehilangan kemampuan untuk mengenali sinyal “penuh” atau lupa cara merespon sinyal tersebut (mencari toilet atau melepaskan pakaian”.3 Selain pada penderita demensia, kondisi seperti Multiple Sclerosis (MS) tidak merasakan sensasi ingin kencing meskipun kandung kemih sudah penuh, juga pada pasien dengan pembesaran prostat yang membuat aliran kencing menjadi sangat lambat, tersendat, atau bahkan berhenti total.3
Risiko di Balik Kebiasaan Menahan BAK
Meskipun menahan BAK sesekali mungkin tidak langsung menimbulkan masalah serius, jika dilakukan terlalu sering atau terlalu lama, kebiasaan ini bisa memicu berbagai komplikasi kesehatan. Berikut ini di antaranya:
Infeksi Saluran Kemih
Infeksi saluran kencing merupakan risiko paling umum dan paling sering dikeluhkan.4 Menahan BAK bukan sekedar masalah kenyamanan, melainkan ancaman serius bagi kesehatan saluran kemih.4 Ketika urin ditahan, urin menjadi statis di dalam kandung kemih, menciptakan lingkungan hangat yang ideal untuk pertumbuhan bakteri.5
Berdasarkan penelitian, dari 87% responden yang terdiri dari tenaga medis dan mahasiswa kedokteran yang mengaku sering menunda kencing karena kesibukan, 30% diantaranya mengalami gejala infeksi saluran kemih, seperti nyeri saat berkemih dan peningkatan frekuensi BAK.1
Gangguan Fungsi Kandung Kemih
Kandung kemih adalah organ berotot yang memiliki kemampuan elastis yang berfungsi menyimpan urine dengan kapasitas terbatas 300-500 ml.6 Namun, ibarat karet gelang yang terus-menerus ditarik melebihi batasnya, dalam waktu lama dapat menyebabkan otot kandung kemih yang sering dipaksa menahan urine dalam volume besar dapat kehilangan kelenturannya.7,8 Kondisi ini bisa menyebabkan dua masalah utama:
- Kandung kemih terlalu aktif: otot kandung kemih menjadi terlalu sensitif sehingga merasa ingin buang air kecil terus-menerus meskipun volume urine masih sedikit, menyebabkan keinginan mendesak untuk BAK, biasanya diseertai dengan frekuensi BAK menajdi sering dan sering terbangun di malam hari untuk BAK.9
- Retensi urine : Dalam kasus yang lebih parah, otot kandung kemih bisa menjadi tidka mampu menghasilkan tekanan kontraksi yang cukup kuat, sehingga sulit mengosongkan kandung kemih sepenuhnya atau bahkan sama sekali tidak bisa buang air kecil.8,9
Batu Kandung Kemih dan Batu Ginjal
Urine mengandung berbagai mineral dan garam.10 Menahan BAK terlalu lama dapat menyebabkan kandungan mineral dan garam akan mengendap. Endapan ini lama-kelamaan akan menempel dan mengeras membentuk krital kecil seperti butiran pasir. Jika kebiasaan menahan kencing terus berlanjut, butiran pasir ini akan tumbuh menjadi batu yang padat dan keras. Batu inilah yang nantinya akan menggesek diding kandung kemih, menyebabkan rasa nyeri luar bias am bahkan luka yang membuat kjencing bercampur darah.12
Komplikasi Ginjal
Secara alami, saluran kandung kemih memiliki katup satu arah untuk mencegah urine naik kembali. Tekanan yang sangat ekstrim dalam kandung kemih akibat menahan BAK yang lama dapat “mengalahkan” katup ini, sehingga urine yang seharusnya dibuang justru terdorong kembali kek ginjal. Hal tersebut menyebabkan system penampungan urine di gienjal akan melebar dan membengkak (hidronefrosis). Dalam jangka Panjang, hidronefrosis yang tidak ditangani menyebabkan kerusakanfungsi ginjal, seperti ginjal hilang kemampuan untuk menyaring racun dari darah, yang jika terjadi pada kedua ginjal, dapat menyebabkan gagal ginjal tahpa akhir yang memerlukaan cuci darah.11
Tips Mencegah Risiko Sering Menahan BAK
Berikut ini sejumlah strategi untuk menjaga kesehatan saluran kemih yang terkait dengan kebiasaan menahan BAK.
- Terapkan jadwal berkemih. Biasakan untuk mengosongkan kandung kemih setiap 3 hingga 4 jam sekali. Jika dalam perjalanan, rencanakan untuk melakukan pemberhentian.9
- Batasi konsumsi asupan kafein seperti teh atau kopi, alcohol, minuman bersoda yang dapat merangsang otot kandung kemih berkontraksi.9
- Minum air putih sekitar 1,5-2 liter per hari agar urine tidak terlalu pekat sehingga terhindari dari risiko batu kandung kemih,9
- Hindari merokok. Zat kimia dan nikotin dalam rokok dapat mengiritasi lapisan dinding kandung kemih, sehingga kandung kemih menjadi lebih sensitive dan mudah berkontraksi meskipun belum penuh.9,12
- Gunakan tisu basah bila fasilitas toilet kurang bersih. Cuci tangan sebelum dan setelah BAK bila memungkinkan untuk mengurangi risiko ISK.13
Kapan Harus ke Dokter
Menahan buang air kecil saat perjalanan memang terasa seperti solusi praktis dalam situasi tertentu. Namun, di balik kepraktisan sesaat itu, tersimpan risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap remeh. Jika punya kebiasaan menahan BAK dan muncul gejala seperti berikut ini, sebaiknya datangi dokter untuk berkonsultasi.
- Nyeri dan terasa terbakar saat berkemih
- Buang air kecil disertai darah
- Nyeri hebat di area perut bawah dan pinggang
- Gejala infeksi saluran kencing yang disertai dengan demam dan menggigil5
Bukti menunjukkan bahwa menahan BAK sesekali pada orang sehat umumnya tidak menyebabkan kerusakan permanen. Namun menahan urine berulang atau berkepanjangan dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih, mengganggu fungsi kandung kemih, dan dalam kasus ekstrem menyebabkan retensi akut atau kerusakan ginjal.4
Ditinjau oleh:
Spesialis Urologi
Primaya Hospital Bekasi Utara
Sumber
- Zoorob, D., Gentry-Akers, A., Sbeity, E., & Ganjam, S. (2024). Toileting behaviors and lower urinary tract symptoms among female physicians and medical students. Cureus, 16(10), e72237. doi.org
- Wagg, A., Gibson, W., Ostaszkiewicz, J., Johnson, T., Kuchel, G., & International Consultation on Incontinence. (2020). Urinary incontinence in frail older adults. Neurourology and Urodynamics, 39(4), 1150-1161. doi.org
- European Association of Urology (EAU). (2026).Guidelines on Neuro-Urology. EAU Guidelines Office.
- Lyu, L., Wang, Y., & Chen, H. (2022).Behavioral risk factors for urinary tract infection in women: A case-control study. Journal of Clinical Nursing, 31(15-16). doi.org
- European Association of Urology (EAU). (2025). Guidelines on Urological Infections. EAU Guidelines Office.
- Lukacz, E. S., Sampselle, C., Gray, M., Macdiarmid, Sp., Rosenberg , M.,, Ellsworth, P., & Palmer, M. H. (2011). A healthy bladder: a consensus statement. International Journal of Clinincal Practice, 65(10), 1026-1036. doi.org
- Lundy, S. D., & Chung, D. E. (2018). The effects of habits and behavior on the lower urinary tract. Current Bladder Dysfunction Reports, 13(4), 211-218. doi.org
- Gormley, E. A., Lightner, D. J., Burgio, K. L., Chai, T. C., Clemens, J. Q., Culkin, D. J., & Unger, C. A. (2023).Diagnosis and treatment of overactive bladder (non-neurogenic) in adults: AUA/SUFU guideline. Journal of Urology. doi.org
- European Association of Urology (EAU). (2026). Guidelines on Non-neurogenic Female LUTS. EAU Guidelines Office.
- Sampaio, F. J. (2014).Renal pelvis and kidney damage in obstructive uropathy. International Braz J Urol, 40(3), 287-290. doi.org
- European Association of Urology (EAU). (2026). Guidelines on Urolithiasis. EAU Guidelines Office.
- Chung, J. W., & Kim, S. H. (2020).Impact of smoking habit on overactive bladder symptoms and urgency urinary incontinence. Scientific Reports, 10(1), 1-8. doi.org
- Lundy, S. D., & Chung, D. E. (2018). The effects of habits and behaviors on the lower urinary tract. Current Bladder Dysfunction Reports, 13(4), 211–218. doi.org



