Efektivitas Vaksin Pneumonia untuk Anak

Efektivitas Vaksin Pneumonia untuk Anak

Pneumonia alias radang paru-paru tercatat sebagai salah satu penyebab kematian utama pada anak balita di seluruh dunia. Pemicunya adalah bakteri pneumokokus (Streptococcus pneumoniae). Selain menyebabkan pneumonia, bakteri ini dapat menimbulkan penyakit seperti meningitis atau radang selaput otak dan infeksi aliran darah serta infeksi telinga. Untuk mencegah penularan penyakit berbahaya tersebut, vaksin anak telah tersedia di banyak negara di dunia, termasuk di Indonesia.

Sebuah penelitian yang terbit di The Lancet menyebutkan, secara global, episode klinis pneumonia pada anak kecil berkurang 22 persen dari 178 juta pada 2000 menjadi 138 juta pada 2015 setelah adanya vaksinasi. Bayi dan anak kecil menjadi perhatian utama karena masuk kelompok paling berisiko lantaran belum memiliki sistem imun yang matang.

Dulu dokter menggunakan antibiotik penisilin untuk merawat pasien infeksi bakteri pneumokokus. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, bakteri ini menjadi resistan terhadap antibiotik. Artinya, antibiotik tak lagi mampu memusnahkan bakteri itu. Sebab, bakteri bisa berubah menjadi lebih kuat untuk menyesuaikan diri terhadap perlawanan dari antibiotik. Karena itulah vaksin anak penting sebagai upaya pencegahan pneumonia dan penyakit lain akibat bakteri pneumokokus.

 

Mengenali Gejala Pneumonia Pada Anak

Tanda dan gejala pneumonia berbeda-beda, tergantung usia anak dan pemicunya. Layaknya infeksi pada umumnya, gejala pneumonia anak biasanya demam. Gejala ini membuat anak berkeringat, menggigil, dan merasa tidak nyaman. Anak juga menjadi kehilangan selera makan dan lemas, kurang aktif ketimbang biasanya. Khusus pada anak bayi, kulit mereka biasanya terlihat pucat dan lebih sering menangis.

Adapun gejala pneumonia yang spesifik antara lain anak menjadi kesulitan bernapas. Walhasil, terdapat beberapa gejala lain yang berhubungan dengan gangguan pernapasan itu, seperti:

  • Batuk
  • Napas cepat dan tersengal
  • Lubang hidung melebar
  • Rasa sakit pada dada dan perut, terutama saat batuk
  • Napas berat

Dokter bisa mendiagnosis pneumonia pada anak dengan mengamati gejala dan tanda serta lewat pemeriksaan fisik. Tapi perlu beberapa prosedur lain untuk menegakkan diagnosis, seperti dengan pemindaian sinar-X, guna melihat dengan lebih jelas kondisi paru-paru.

 

Pemberian Vaksin Pneumonia Untuk Anak

Vaksin anak untuk mencegah pneumonia ada beberapa jenis, yakni pneumococcus conjugated vaccine (PCV), haemofilus influenza tipe B (Hib), dan campak. Meski vaksin PCV tergolong baru dan lebih spesifik menyasar bakteri pneumokokus. Vaksin anak PCV baru ada di Indonesia pada 2017 dengan Lombok Barat dan Lombok Timur sebagai penerima yang pertama.

Ikatan Dokter Anak Indonesia menyarankan pemberian vaksin anak PCV tiga kali plus satu kali sebagai boosting atau vaksin penguat. Pemberian pertama adalah saat anak berusia 2 bulan, lalu 4 bulan dan 6 bulan. Adapun vaksin tambahan ketika usia anak 12-15 bulan.

Bila anak belum mendapat vaksin hingga berusia 7-12 bulan, pemberian vaksin adalah sebanyak dua kali dengan interval satu bulan. Sedangkan jika anak belum juga menerima vaksin ketika berumur 1-2 tahun, vaksin diberikan dua kali dengan jarak pemberian dua bulan. Buat yang belum divaksin sampai umurnya 2-5 tahun, vaksin juga diberikan dua kali dengan interval dua bulan.

 

Pentingnya Memberikan Vaksin Pneumonia untuk Anak

Menurut UNICEF, pneumonia pada anak telah menyebabkan kematian 800 ribu anak di seluruh dunia setiap tahun. Kasus kematian banyak terjadi pada anak yang memiliki kondisi medis seperti penyakit kronis paru dari kelahiran prematur, penyakit jantung bawaan, dan gangguan sistem imun.

Sedangkan vaksin anak telah terbukti menurunkan angka kematian dan infeksi di banyak negara di dunia. Karena itulah para pakar kesehatan menyarankan pemberian vaksin pneumonia untuk anak sesuai dengan jadwal. Bila terlambat, masih ada kesempatan melindungi anak dari pneumonia hingga usianya lima tahun. Konsultasikan dengan dokter anak untuk mendapat informasi lebih lanjut.

 

Ditinjau oleh:

dr. Enny Karyani, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

Primaya Hospital Betang Pambelum

 

Referensi:

https://www.immunize.org/catg.d/p2016.pdf

https://www.cdc.gov/vaccines/vpd/pneumo/hcp/recommendations.html

https://www.who.int/bulletin/volumes/86/5/07-044503/en/

https://fk.ui.ac.id/berita/penelitian-efektivitas-imunisasi-pcv-13-pada-imunisasi-dasar-dua-kali-dan-penguat-satu-kali-guna-mengurangi-beban-penyakit-ipd-akibat-pneumonia.html

https://data.unicef.org/topic/child-health/pneumonia/

https://www.thelancet.com/journals/langlo/article/PIIS2214-109X(18)30408-X/fulltext

https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/sekilas-vaksin-pneumokokus

Bagikan ke :