• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Infeksi Saluran Pernapasan Atas pada Anak

Infeksi saluran pernapasan atas atau ISPA pada anak meningkat drastis di musim hujan karena virus mudah menyebar di udara lembab dan dingin. Di Indonesia, ISPA menjadi penyebab utama kunjungan anak ke puskesmas dan rumah sakit selama musim penghujan, dengan ratusan ribu kasus setiap tahun. Banyak orang tua menganggap batuk pilek biasa dan beri obat bebas sembarangan, padahal ISPA bisa berkembang menjadi pneumonia atau sinusitis jika tidak ditangani tepat. Virus seperti rhinovirus, influenza, atau RSV paling sering sebabkan ISPA pada anak balita.

Pencegahan sederhana seperti vaksin, cuci tangan, dan jaga kehangatan bisa kurangi risiko hingga 60 persen. Perawatan di rumah dengan hidrasi, istirahat, dan obat simptomatik aman dukung pemulihan cepat tanpa antibiotik berlebih. Dengan pemahaman gejala dan pencegahan, orang tua bisa lindungi anak dari komplikasi musim hujan.

Artikel ini membahas mendalam apa itu ISPA pada anak, gejala awal sering terlewat, penyebab utama di musim hujan, cara diagnosis akurat, perawatan rumah efektif, komplikasi berbahaya, pencegahan praktis, serta kapan harus segera ke dokter agar anak tetap sehat meski hujan deras.

Mengenal Infeksi Saluran Pernapasan Atas pada Anak

Infeksi Saluran Pernapasan Atas, atau yang lebih dikenal dengan singkatan ISPA, merupakan kondisi peradangan atau infeksi yang terjadi pada saluran napas bagian atas, meliputi hidung, tenggorokan (faring), sinus, hingga telinga tengah. Kondisi ini adalah salah satu alasan paling umum mengapa orang tua membawa anak mereka ke dokter.

Secara medis, sebagian besar kasus ISPA pada anak disebabkan oleh infeksi virus (seperti Rhinovirus atau Adenovirus), dan hanya sebagian kecil yang dipicu oleh infeksi bakteri. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa penggunaan antibiotik tidak selalu diperlukan kecuali jika ada indikasi infeksi bakteri yang jelas dari dokter.

Jenis-jenis ISPA yang umum dijumpai pada anak meliputi:

  • Rhinitis atau Pilek: Peradangan pada lapisan hidung yang ditandai dengan gejala hidung tersumbat, bersin-bersin, dan keluarnya lendir (ingus).
  • Faringitis: Infeksi pada tenggorokan yang sering menyebabkan rasa nyeri saat menelan, tenggorokan terasa gatal, dan terkadang disertai demam.
  • Sinusitis: Peradangan pada rongga sinus (ruang udara di sekitar hidung) yang sering kali terjadi sebagai komplikasi setelah pilek yang berkepanjangan.
  • Otitis Media: Infeksi pada telinga tengah yang sering terjadi pada anak-anak karena saluran eustachius(penghubung telinga dan tenggorokan) mereka masih pendek dan mendatar, sehingga cairan mudah terperangkap.

Anak usia balita cenderung jauh lebih rentan terkena ISPA dibandingkan orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh mereka yang belum matang sepenuhnya untuk melawan berbagai jenis virus baru.

Selain faktor internal, risiko penularan meningkat drastis saat anak mulai bersosialisasi dan melakukan kontak erat dengan teman sebaya di lingkungan daycare, taman bermain, atau sekolah, di mana virus dapat dengan mudah berpindah melalui percikan ludah (droplet) saat batuk atau bersin.

Kondisi geografis juga memengaruhi pola penyebaran penyakit ini. Di musim hujan, tingkat kelembaban udara yang tinggi di Indonesia menciptakan lingkungan yang sangat ideal bagi virus untuk bertahan hidup lebih lama di udara maupun pada permukaan benda yang sering disentuh anak. Kelembaban yang tinggi juga dapat memicu iritasi saluran napas, yang membuat sistem pertahanan alami di hidung anak menjadi lebih lemah dan mudah ditembus oleh kuman penyakit.

Baca Juga:  Vaksin Covid-19 untuk Anak Usia 6-11 Tahun

Menurut Centers for Disease Control and Prevention 2024, ISPA virus paling sering pada anak.

ISPA biasanya sembuh sendiri 7 hingga 10 hari.

Gejala Infeksi Saluran Pernapasan Atas pada Anak

Gejala awal:

  • Pilek atau hidung mampet
  • Batuk ringan
  • Sakit tenggorokan
  • Demam ringan
  • Rewel atau lelah

Gejala lanjut:

  • Batuk berdahak
  • Sesak napas
  • Demam tinggi
  • Nyeri telinga
  • Muntah dahak

Gejala musim hujan sering lebih berat karena udara dingin.

Penyebab Infeksi Saluran Pernapasan Atas di Musim Hujan

Penyebab utama virus:

  • Rhinovirus
  • Influenza
  • RSV
  • Adenovirus

Faktor musim hujan:

  • Udara lembab
  • Anak lebih banyak indoor
  • Polusi tinggi
  • Suhu dingin lemahkan imun

Di Indonesia, polusi kabut asap musim hujan perburuk gejala.

Cara Dokter Mendiagnosis ISPA pada Anak

Diagnosis:

  • Anamnesis gejala
  • Pemeriksaan fisik tenggorokan telinga
  • Tes rapid influenza/RSV jika perlu
  • Rontgen dada pneumonia

Diagnosis klinis cukup untuk ISPA virus.

Cara Mengatasi atau Perawatan ISPA pada Anak

Perawatan rumah:

  • Istirahat cukup
  • Hidrasi banyak
  • Obat demam paracetamol
  • Tetes saline hidung
  • Uap hangat
  • Makan bergizi

Antibiotik hanya diberikan jika infeksi disebabkan oleh bakteri.

Perawatan dukung pemulihan 7–10 hari.

Komplikasi ISPA pada Anak

Komplikasi:

  • Pneumonia
  • Sinusitis kronis
  • Otitis media
  • Bronkitis
  • Asma flare

RSV pada bayi bisa berat.

Pencegahan ISPA di Musim Hujan

Pencegahan:

  • Vaksin influenza tahunan
  • Cuci tangan rutin
  • Jaga kehangatan
  • Hindari kerumunan
  • Masker anak sakit
  • Nutrisi vitamin C zinc
  • Ventilasi rumah baik

Pencegahan kurangi ISPA hingga 60 persen.

Kapan Harus ke Dokter

Meskipun sebagian besar infeksi saluran pernapasan pada anak dapat membaik dengan perawatan mandiri dan istirahat yang cukup di rumah, orang tua dituntut untuk selalu waspada terhadap “lampu kuning” atau tanda-tanda peringatan. Gejala yang tampak ringan bisa berkembang menjadi kondisi serius dalam waktu singkat jika tidak dipantau dengan teliti.

Segeralah membawa anak Anda ke dokter atau unit gawat darurat jika ditemukan kondisi berikut:

  • Demam lebih dari 3 hari: Demam merupakan tanda bahwa tubuh sedang melawan infeksi. Namun, jika demam menetap atau suhu tubuh tetap tinggi selama lebih dari 72 jam, hal ini bisa menjadi indikasi adanya infeksi sekunder yang disebabkan oleh bakteri atau kondisi medis lain yang memerlukan penanganan khusus seperti antibiotik.
  • Sesak napas atau kesulitan bernapas: Perhatikan pola napas anak Anda. Jika frekuensi napas tampak jauh lebih cepat dari biasanya, terdapat tarikan dinding dada ke dalam (retraksi) saat menghirup udara, atau cuping hidung yang kembang kempis secara berlebihan, itu adalah tanda nyata bahwa anak sedang berjuang untuk mendapatkan oksigen.
  • Batuk berat dan terus-menerus: Waspadai batuk yang terdengar sangat menggonggong (croup), batuk yang disertai suara mengi (wheezing), atau batuk yang tidak kunjung berhenti hingga menyebabkan anak sulit berbicara, sulit tidur, atau bahkan memicu muntah yang hebat.
  • Tidak mau makan atau minum: Penolakan terhadap asupan cairan dan makanan adalah kondisi yang sangat berisiko. Hal ini dapat dengan cepat memicu dehidrasi pada anak, yang ditandai dengan bibir kering, frekuensi buang air kecil yang berkurang (popok tetap kering dalam waktu lama), dan anak yang tampak lesu serta tidak bertenaga.
  • Bayi berusia kurang dari 3 bulan mengalami demam: Bagi bayi yang masih sangat muda, demam sekecil apa pun adalah kondisi yang harus segera dievaluasi secara medis. Karena sistem imun bayi baru lahir belum sempurna, demam pada usia ini sering kali menjadi satu-satunya tanda adanya infeksi serius.
Baca Juga:  Cukupi Nutrisi Untuk Pertumbuhan Gigi pada Bayi

Sangat penting untuk diingat bahwa melakukan konsultasi dini dapat membantu menghindari komplikasi yang lebih berat, seperti radang paru-paru (pneumonia) atau infeksi telinga kronis yang dapat mengganggu pendengaran. Jangan ragu untuk mempercayai insting Anda sebagai orang tua; jika kondisi anak terasa tidak biasa, segera cari bantuan profesional untuk memastikan penanganan yang tepat dan cepat.

Informasi lengkap ISPA anak dapat dibaca pada artikel layanan anak dan layanan paru dari Primaya Hospital.

Lindungi Anak dari ISPA Musim Hujan

Infeksi saluran pernapasan atas pada anak di musim hujan bisa dicegah dan diatasi dengan perawatan tepat. Dengan gejala, pencegahan, dan perawatan di atas, anak bisa tetap aktif meski hujan. Mulai hari ini: vaksin, cuci tangan, jaga kehangatan, dan pantau gejala. Ingat: ISPA biasa bisa berat jika diabaikan. Lindungi anak sekarang untuk musim hujan sehat dan ceria!

Referensi:

  1. Respiratory Viruses. https://www.cdc.gov/respiratory-viruses/index.html. Diakses pada 23 Desember 2025.
  2. Upper Respiratory Tract Infections in Children. https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/ear-nose-throat/Pages/Upper-Respiratory-Tract-Infections-in-Children.aspx. Diakses pada 23 Desember 2025.
  3. Pedoman Penanganan ISPA pada Anak. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pernapasan/pedoman-ispa-anak. Diakses pada 23 Desember 2025.

Panduan Pencegahan ISPA Musim Hujan. https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-publik/Pedoman-ISPA-2023.pdf. Diakses pada 23 Desember 2025.

Share to :

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Sahabat Sehat Primaya

Select an available coupon below