• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Mengapa Skrining Tulang Penting di Segala Usia?

skrining tulang

Banyak orang mengira skrining tulang atau pemeriksaan kepadatan tulang hanya diperlukan saat sudah lanjut usia. Kenyataannya, osteoporosis bisa mulai berkembang sejak usia muda jika faktor risiko ada. Di Indonesia, osteoporosis memengaruhi jutaan orang, dan patah tulang pinggul menjadi komplikasi berat yang sering berujung kecacatan atau kematian. Skrining tulang dengan DEXA scan bisa deteksi osteopenia atau osteoporosis dini, bahkan pada usia 30 hingga 50 tahun.

Pencegahan dan pengobatan dini bisa tingkatkan kepadatan tulang hingga 10 persen dan kurangi risiko patah tulang hingga 50 persen. Bukan hanya lansia, wanita pascamenopause dini, pria dengan testosterone rendah, atau orang dengan riwayat obat kortikosteroid juga perlu skrining lebih awal. Dengan skrining rutin, masyarakat bisa hindari komplikasi mahal dan menyakitkan.

Artikel ini membahas mendalam mengapa skrining tulang penting untuk semua usia, gejala awal tulang keropos, penyebab risiko dini, cara diagnosis dengan DEXA, pengobatan jika ditemukan masalah, komplikasi jika diabaikan, pencegahan sejak muda, serta kapan harus melakukan skrining agar tulang tetap kuat sepanjang hayat.

Mengenal Skrining Tulang dan Osteoporosis

Skrining tulang adalah pemeriksaan untuk menilai kepadatan mineral tulang atau bone mineral density (BMD) dengan tujuan mendeteksi osteopenia dan osteoporosis sejak dini, bahkan sebelum terjadi patah tulang. Pemeriksaan standar emas yang paling banyak digunakan adalah Dual Energy X-ray Absorptiometry atau DEXA scan, karena akurat, cepat, dan paparan radiasinya sangat rendah.

Osteoporosis merupakan kondisi ketika tulang kehilangan massa dan kekuatannya secara signifikan sehingga menjadi keropos, rapuh, dan mudah patah, bahkan hanya akibat jatuh ringan atau aktivitas sehari-hari. Patah tulang akibat osteoporosis paling sering terjadi pada tulang belakang, panggul, dan pergelangan tangan, dan sering kali menjadi awal penurunan kualitas hidup pada usia lanjut.

Osteopenia adalah tahap awal sebelum osteoporosis, ditandai kepadatan tulang yang sudah lebih rendah dari normal tetapi belum mencapai kriteria osteoporosis. Kondisi ini sering tidak menimbulkan gejala apa pun, namun menjadi sinyal penting bahwa tulang mulai melemah dan membutuhkan intervensi dini melalui perubahan gaya hidup atau terapi tertentu.

Secara fisiologis, puncak massa tulang tercapai pada usia sekitar 25 hingga 30 tahun. Setelah fase ini, kepadatan tulang akan menurun secara perlahan sekitar 0,5 hingga 1 persen per tahun sebagai bagian dari proses penuaan alami. Jika disertai faktor risiko seperti kurang aktivitas fisik, asupan kalsium dan vitamin D yang rendah, merokok, atau penggunaan obat tertentu, penurunan ini dapat terjadi lebih cepat.

Baca Juga:  Sport Clinic: Cakupan Pelayanan Klinik Olahraga

Pada wanita, penurunan kepadatan tulang terjadi lebih drastis setelah menopause akibat penurunan hormon estrogen yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan pembentukan dan perombakan tulang. Dalam 5 hingga 10 tahun pertama setelah menopause, wanita dapat kehilangan hingga 20 persen massa tulangnya jika tidak dilakukan pencegahan.

Di Indonesia, osteoporosis merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Data menunjukkan sekitar 1 dari 3 wanita dan 1 dari 5 pria berusia di atas 50 tahun mengalami osteoporosis atau berisiko tinggi mengalaminya. Karena penyakit ini sering tidak bergejala hingga terjadi patah tulang, skrining tulang secara berkala menjadi langkah kunci untuk deteksi dini, pencegahan komplikasi, dan menjaga kualitas hidup jangka panjang.

Menurut International Osteoporosis Foundation 2024, skrining dini dan pencegahan bisa kurangi beban global osteoporosis hingga 50 persen.

Gejala Tulang Keropos yang Sering Terlewat

Osteoporosis disebut silent disease. Gejala muncul saat sudah lanjut.

Gejala awal:

  • Nyeri punggung bawah kronis
  • Penurunan tinggi badan >3 cm
  • Postur bungkuk atau kyphosis
  • Patah tulang trauma ringan
  • Nyeri tulang atau sendi

Pada usia muda, gejala sering diabaikan sebagai nyeri otot biasa.

Patah tulang pergelangan atau tulang belakang pertama sering jadi tanda pertama osteoporosis.

Penyebab Risiko Tulang Keropos di Usia Muda

Penyebab utama:

  • Kurang asupan kalsium dan vitamin D
  • Kurang olahraga beban
  • Merokok dan alkohol
  • Diet ekstrem atau anoreksia
  • Obat kortikosteroid jangka panjang
  • Gangguan hormon seperti hipertiroid atau hipogonadisme
  • Penyakit celiac atau inflamasi usus

Pada wanita muda: amenore karena olahraga berlebih atau gangguan makan.

Di Indonesia, konsumsi kalsium rata-rata hanya 300 mg/hari, jauh di bawah anjuran 1.000 mg.

Cara Dokter Mendiagnosis Tulang Keropos

Diagnosis utama DEXA scan pinggul dan tulang belakang.

Hasil T-score:

  • Normal: > -1
  • Osteopenia: -1 hingga -2,5
  • Osteoporosis: ≤ -2,5

Pemeriksaan lain: FRAX tool untuk risiko patah 10 tahun, tes darah vitamin D, kalsium, hormon.

Skrining direkomendasikan wanita >65 tahun, pria >70 tahun, atau lebih muda dengan risiko tinggi.

Baca Juga:  Mengatasi Nyeri Lutut Saat Jongkok Tanpa Obat

Cara Mengatasi atau Pengobatan Tulang Keropos

Pengobatan:

  • Suplemen kalsium dan vitamin D
  • Obat bisphosphonate (alendronate)
  • Denosumab
  • Terapi hormon pada kasus tertentu
  • Olahraga beban dan keseimbangan

Pengobatan dini tingkatkan kepadatan tulang hingga 10 persen.

Komplikasi Tulang Keropos

Komplikasi:

  • Patah tulang pinggul
  • Patah vertebra kompresi
  • Nyeri kronis
  • Kehilangan mobilitas
  • Depresi
  • Mortalitas tinggi pasca patah pinggul

Patah tulang pinggul tingkatkan risiko kematian 20 persen tahun pertama.

Pencegahan Tulang Keropos Sejak Muda

Pencegahan:

  • Konsumsi kalsium 1.000–1.200 mg/hari
  • Vitamin D dari matahari dan makanan
  • Olahraga beban 3–5 kali/minggu
  • Hindari rokok dan alkohol
  • Jaga berat badan ideal
  • Konsumsi protein cukup

Pencegahan sejak remaja tingkatkan peak bone mass.

Kapan Harus Melakukan Skrining Tulang

Skrining direkomendasikan:

  • Wanita >65 tahun, pria >70 tahun
  • Usia lebih muda dengan risiko: menopause dini, obat steroid, riwayat patah
  • Riwayat keluarga osteoporosis
  • Merokok berat atau alkohol
  • Penyakit kronis seperti rheumatoid arthritis

Ulangi skrining setiap 2–5 tahun tergantung hasil.

Informasi lengkap skrining tulang dapat dibaca pada artikel layanan ortopedi dan layanan rehabilitasi medik dari Primaya Hospital.

Skrining Tulang adalah Investasi Kesehatan Jangka Panjang

Skrining tulang bukan hanya untuk lansia, tapi penting untuk semua usia dengan risiko. Dengan deteksi dini, pencegahan gaya hidup, dan pengobatan tepat di atas, osteoporosis bisa dicegah atau dikendalikan.

Mulai hari ini: tambah kalsium, olahraga beban, hindari rokok, dan konsultasi dokter untuk skrining jika ada risiko. Ingat: tulang kuat dimulai dari sekarang. Skrining tulang adalah langkah bijak untuk mobilitas bebas nyeri hingga usia lanjut!

Ditinjau oleh:

dr. Guntur Utama Putera, Sp.OT, AIFO-K, FICS

Spesialis Bedah Ortopedi dan Traumatologi

Primaya Evasari Hospital

 

Referensi:

  • International Osteoporosis Foundation. Facts and Statistics 2024. Diakses pada 18 Desember 2025. https://www.iofbonehealth.org/facts-statistics
  • Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PEROSI). Pedoman Skrining dan Pencegahan Osteoporosis 2023.
  • World Health Organization. Assessment of Osteoporosis at Primary Health Care Level 2024.
  • Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pencegahan Osteoporosis 2023.
Share to :

Buat Janji Dokter

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Sahabat Sehat Primaya

Select an available coupon below