• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Infeksi Sapovirus, Pemicu Utama Gastroenteritis pada Anak

Infeksi Sapovirus

Gangguan pencernaan pada anak harus selalu diwaspadai, terutama jika terjadi secara mendadak atau berulang. Anak yang mengalami muntah, diare, bahkan nyeri perut mungkin tidak sekadar sensitif terhadap makanan tertentu. Kondisi ini bisa menjadi tanda adanya infeksi serius. Salah satu penyebab yang kerap luput dari perhatian orang tua adalah infeksi sapovirus.

Infeksi Sapovirus

Mengenal Infeksi Sapovirus

Sapovirus adalah virus penyebab penyakit yang menyerang saluran pencernaan anak. Khususnya bagian lambung dan usus kecil, sehingga memicu peradangan.

Sapovirus termasuk dalam keluarga Caliciviridae, mirip dengan norovirus. Hanya saja, lebih jarang terdengar dalam pemberitaan umum.

Sebutannya berasal dari kota Sapporo di Jepang, tempat terjadinya wabah diare menular akut pada sebuah rumah bayi tahun 1977. Saat awal penemuan, namanya adalah “Sapporo-like viruses”. Baru kemudian distandarisasi menjadi sapovirus guna memudahkan identifikasi dalam penelitian medis maupun laporan kesehatan.

Virusnya sendiri sangat menular. Penularan umumnya lewat konsumsi makanan dan minuman atau kontak dengan pihak terinfeksi. Misalnya, buah hati sedang bermain dengan teman yang ternyata terpapar virus ini.

Gejala Sapovirus pada Anak

Secara umum, anak yang terinfeksi sapovirus dapat menunjukkan gejala dalam waktu 1–4 hari pasca terpapar. Gejala infeksi sapovirus sering mirip dengan gastroenteritis virus lain.

Namun, ada beberapa tanda khas yang bisa dikenali oleh orang tua. Sebut saja, diare cair mendadak, muntah, nyeri perut, dan demam ringan. Gejalanya bisa berlangsung 2–7 hari, tergantung kondisi imun.

Selain itu, anak yang terinfeksi sapovirus bisa menjadi lebih rewel, kehilangan nafsu makan, bahkan mengalami penurunan berat badan. Ini karena berkurangnya asupan nutrisi. Pada kasus tertentu, terutama pada anak di bawah lima tahun, gejala dehidrasi seperti mulut kering, kurangnya buang air kecil, dan mata cekung juga bisa muncul.

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab utama infeksi sapovirus adalah virus itu sendiri. Kendati begitu, ada beberapa faktor risiko yang membuat anak semakin rentan. Salah satunya terkait faktor lingkungan.

Lingkungan sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak menjadi lokasi rawan penyebaran virus. Apalagi jika lingkungan cenderung kotor.

Faktor lainnya yakni makanan atau air terkontaminasi. Di sisi lain, anak-anak dengan sistem imun lemah, seperti menderita penyakit kronis, memiliki risiko cukup tinggi mengalami sapovirus. Sebab hal inilah, orang tua harus selalu waspada.

Baca Juga:  Hepatitis Akut Misterius: Gejala, Penanganan, dan Pencegahan

Cara Dokter Mendiagnosis Sapovirus

Diagnosis infeksi sapovirus tidak selalu langsung terlihat dari gejala karena mirip dengan gastroenteritis lain. Dokter biasanya memulai pemeriksaan dengan menanyakan tanda-tanda, riwayat kontak dengan anak sakit, serta pola makan anak.

Jika perlu, dokter dapat melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel tinja. Tujuannya untuk memastikan keberadaan virus sapovirus.

Real-time reverse transcription–polymerase chain reaction (RT-PCR) adalah metode paling umum dalam mengidentifikasi. Tes RT-PCR membantu membedakan sapovirus dengan penyebab lain seperti bakteri atau parasit. Diagnosis tepat sangatlah penting agar penanganan bisa fokus pada pencegahan dehidrasi sekaligus perawatan suportif yang sesuai.

Cara Mengatasi Sapovirus pada Anak

Pengobatan gangguan sapovirus pada anak sebagian besar bersifat dukungan. Hal itu karena belum ada obat khusus untuk virus ini. WHO menyebut fokus utamanya yakni mencegah dehidrasi dan menjaga nutrisi anak yang terinfeksi.

Orang tua dapat memberikan cairan oral rehidrasi, jus buah encer, atau sup hangat untuk menggantikan cairan serta elektrolit yang hilang. Upayakan sering mengonsumsi makanan yang mudah dicerna. Seperti bubur, nasi tim, atau pisang. Hindari olahan berlemak atau pedas sementara waktu.

Obat yang bekerja memperlambat pergerakan usus atau “agen antimotilitas” seperti loperamide, sebaiknya tidak digunakan. Apalagi pada anak-anak di bawah 18 tahun. Mengingat efek sampingnya dapat menimbulkan risiko komplikasi.

U.S. Food and Drug Administration (FDA) juga tidak menyetujui penggunaan obat ondansetron untuk mual dan muntah pada semua kasus diare. Kendati begitu, Infectious Diseases Society of America (IDSA) masih merekomendasikan penggunaannya pada anak usia lebih dari 4 tahun dalam kondisi tertentu.

Komplikasi yang Bisa Terjadi

Meskipun sebagian besar infeksi sapovirus ringan dan sembuh dalam beberapa hari, komplikasi tetap bisa terjadi. Terutama dehidrasi yang semakin parah. Dehidrasi bisa menyebabkan penurunan tekanan darah, gangguan keseimbangan elektrolit, hingga kerusakan organ jika tidak cepat tertangani.

Anak dengan kondisi medis tertentu, seperti penyakit jantung bawaan, ginjal, atau sistem imun lemah, juga berisiko tinggi mengalami komplikasi serius. Oleh karena itu, pengawasan ketat selama masa kritis sangat penting untuk mencegah kondisi yang lebih parah.

Baca Juga:  Sudden Infant Death Syndrome, Sindrom Kematian Mendadak pada Bayi

Pencegahan Gangguan Sapovirus

Selanjutnya, pencegahan gangguan sapovirus bisa orang tua mulai dari kebiasaan hidup bersih. Termasuk mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air, membersihkan permukaan mainan dan area yang sering anak sentuh.

Hindari berbagi peralatan makan dan minum, terutama ketika ada anak yang sedang sakit. Orang tua juga sebaiknya mengajarkan anak untuk menutup mulut saat batuk maupun bersin. Arahkan mereka mengurangi kontak langsung dengan teman yang sedang sakit.

Anak perlu cukup istirahat dan mengonsumsi makanan bergizi agar sistem imun tetap kuat. Tidur yang cukup membantu tubuh memproduksi sel kekebalan dan hormon pemulih.

Sementara asupan nutrisi seimbang seperti protein, sayuran, buah, dan cairan mendukung tubuh melawan infeksi. Hal ini dapat mempercepat pemulihan dari diare atau infeksi sapovirus.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika anak menunjukkan tanda dehidrasi berat, muntah hebat, atau demam tinggi, segera bawa ke dokter atau fasilitas kesehatan. Selain itu, anak yang menunjukkan tanda lesu, tidak mau makan, atau penurunan berat badan signifikan, pemeriksaan medis sangat dianjurkan. Dokter dapat memberikan panduan rehidrasi, menilai risiko komplikasi, sekaligus menentukan apakah perlu perawatan di rumah sakit.

Pastikan mewaspadai bahaya infeksi sapovirus sejak dini demi kesehatan jangka panjang buah hati tercinta. Penanganan tepat waktu akan mempercepat pemulihan anak dan mengurangi risiko penyebaran virus ke anggota keluarga lain.

Ditinjau oleh:

dr. Ketut Indriani, MH. Kes, Sp.A

Spesialis Anak

Primaya Hospital Pasar Kemis

Referensi:

Share to :

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Sahabat Sehat Primaya

Select an available coupon below