Operasi Hernia dengan Laparoskopi

pengobatan hernia, tindakan laparoskopi, operasi hernia, rumah sakit awal bros evasari

Saat ini teknologi kedokteran mengalami perkembangan yang cukup pesat. Terdapat  dua teknik operasi hernia yang umum dilakukan, yakni operasi terbuka dan laparoskopi. Banyak masyarakat yang ketakutan bila menjalani pembedahan karena akan merasakan sakit yang luar biasa dan pemulihan yang lama. Namun hal itu tidak terjadi bilamana kita melakukan operasi pengobatan hernia dengan teknologi pembedahan minimal invasif atau laparaskopi.

Dr. Charley Dokma Tua Simanjuntak, B.Med.Sc., SpB selaku Dokter Spesialis Bedah Umum dari Primaya Evasari Hospital Jakarta menjelaskan bahwa hernia secara definisi adalah menonjolnya suatu organ melalui suatu titik lemah pada dinding yg seharusnya membatasi organ tersebut. Hernia yang paling sering terjadi adalah hernia inguinal (wilayah sekitar lipatan paha). Pada hernia inguinal terjadi penonjolan organ dari dalam rongga perut seperti usus dan lemak perut melalui sebuah kelemahan pada dinding perut yang mengakibatkan menonjolnya organ tersebut ke daerah lipatan paha atau bahkan bisa mencapai kantung kemaluan pada laki-laki.

Kategori Penyakit Hernia

Secara medis, hernia dapat dikategorikan menjadi dua yaitu pertama, hernia bawaan yang terjadi pada bayi dan anak-anak. Kedua, hernia  yang didapat (acquired), yang terjadi pada pasien dewasa. “Biasanya hernia bawaan pada bayi dan anak-anak sering terjadi pada mereka yang lahir prematur,”jelasnya. Sedangkan Hernia didapat, biasanya pada pasien dewasa. Hernia pada usia dewasa ini disebabkan oleh kenaikan tekanan dalam perut yang terus menerus. Misalnya, karena batuk yang sering dan berulang, sering mengangkat beban berat dan gangguan prostat yang mengakibatkan harus mengejan untuk berkemih. Kenaikan tekanan ini akhirnya memicu kelemahan dinding perut sehingga terjadilah hernia.

Baca Juga:  Metode Robotic Surgery

Perlu disadari bahwa gejala penyakit hernia lipat paha ini berupa benjolan pada lipat paha yang dapat hilang timbul. Hernia bisa juga menetap dan dapat membesar jika dibiarkan. Pada bayi atau anak-anak biasanya muncul saat menangis keras atau setelah aktifitas fisik seperti berlari. Benjolan dapat mengecil atau bahkan menghilang saat bayi atau anak tidur. Pada beberapa pasien, benjolan tersebut dapat terjepit dan terperangkap sehingga tidak dapat masuk lagi ke dalam rongga perut. Bahayanya adalah jika organ yang terjepit tersebut mengalami kondisi kekurangan oksigen akibat tidak adanya darah yang dapat mengalir karena kuatnya jepitan cincin hernia. Kondisi ini merupakan kedaruratan dan harus segera dioperasi. Pasien dapat merasakan gejalanya seperti nyeri hebat pada benjolan, warna kulit benjolan menjadi merah dan pada kasus yang lanjut dapat disertai dengan perut kembung dan muntah.

Pengobatan Hernia Menurut Dokter Spesialis Bedah Primaya Hospital

Dokter Spesialis Bedah Umum dari Primaya Evasari Hospital Jakarta, Dr. Charley Dokma Tua Simanjuntak, B.Med.Sc., SpB mengatakan bahwa sampai saat ini hernia hanya bisa diobati melalui tindakan operasi. Pada bayi dan anak, dilakukan tindakan untuk menutup saluran yang menghubungkan rongga perut dan kantong kemaluan yang seharusnya tertutup dengan sendirinya saat lahir. Pada pasien dewasa, dimana hernia disebabkan oleh kelemahan dinding perut, dilakukan pemasangan alat bantu bernama mesh yang berguna untuk memperkuat daerah dinding perut yang melemah tersebut.

Baca Juga:  Solusi Bedah yang Lebih Baik untuk si Buah Hati

Tindakan operasi untuk pengobatan hernia juga dapat dilakukan secara terbuka.  Dengan cara ini akan terdapat luka yang ukurannya sekitar 5-7 cm (tergantung usia dan ukuran tubuh pasien). Selain itu, dapat juga menggunakan teknik laparoskopi. Laparoskopi menggunakan kamera dan alat yang dimasukkan ke dalam rongga perut melalui luka sekitar 2 cm pada beberapa titik di perut pasien.

Manfaat Laparoskopi Sebagai Pengobatan Hernia

Menurut Dr. Charley Dokma Tua Simanjuntak, B.Med.Sc., SpB selaku Dokter Spesialis Bedah Umum dari Primaya Evasari Hospital Jakarta bahwa pada pasien anak, apalagi dengan kondisi prematur, terkadang dapat ditemukan hernia pada kedua sisi lipat paha walaupun yang terlihat dari luar hanya satu sisi. Dengan menggunakan teknik laparoskopi, dokter dapat memeriksa sisi selain yang dikeluhkan dan dapat melakukan tindakan apabila memang diperlukan.

“Karena luka yang diakibatkan tindakan laparoskopi lebih kecil dibanding operasi terbuka, nyeri yang dirasakan pasien pun lebih minimal. Nyeri yang minimal ini berarti lebih cepatnya masa perawatan pasca bedah dan pasien dapat segera kembali ke aktifitas normalnya.” kata Dokter Spesialis Bedah Umum tersebut.

Baca Juga:  Beda Batuk Gejala Corona Covid-19 dengan Batuk Biasa

Prosedur tindakan laparoskopi ini memerlukan pasien dalam kondisi dibius umum (bius total). Setelah itu dokter akan membuat luka di daerah pusar yang pada saat sembuh tersamar dengan garis pada pusar. Kemudian, tindakan laparoskopi ini menggunakan juga gas khusus yang tidak berbahaya bagi tubuh manusia dan akan dimasukkan ke dalam rongga perut. Ini dilakukan dengan menggunakan alat khusus melalui luka yang sudah dibuat. Setelah perut terisi gas, kamera khusus akan dimasukkan ke dalam rongga perut. Kemudian alat khusus inilah yang menggantikan kerja kedua tangan dokter bedah di dalam rongga perut pasien. Biasanya operasi berlangsung sekitar 1 jam dan setelah operasi pasien boleh makan dan dapat rawat jalan keesokan harinya.

 

Artikel terkait:

Bagikan ke :