Varian Beta B.1.351 Virus Corona, Benarkah Lebih Parah?

Varian Beta B.1.351 Virus Corona, Benarkah Lebih Parah (1)

Seperti virus-virus lain, virus corona penyebab Covid-19 dapat bermutasi dan memunculkan varian-varian baru. Saat ini, varian beta B.1.351 bersama varian alpha, delta, dan gamma hasil mutasi virus corona telah menjadi Variant of Concern di seluruh dunia. Virus hasil mutasi ini disebut-sebut bisa menimbulkan sakit yang lebih parah ketimbang virus aslinya yang lebih dulu menyebar pada akhir 2019. Apakah benar demikian?

 

Mengenal Varian Beta B.1.351 Covid-19

Varian beta pada mulanya dikenal dengan sebutan B.1.351. Varian beta B.1.351 pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada September 2020. Varian ini mengandung sejumlah mutasi dalam protein yang disebut spike yang dapat membuat virus mampu lebih menempel pada sel manusia.

Salah satu mutasi dalam varian beta B.1.351 adalah E484K, yang juga dikenal dengan nama mutasi Eek. Mutasi ini diduga dapat membantu virus menghindari antibodi dalam tubuh manusia. Selain pada beta, mutasi Eek terdapat pada varian gamma yang berasal dari Brasil dan alpha yang pertama kali teridentifikasi di Inggris.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan varian beta sebagai salah satu Variant of Concern sehingga membutuhkan perhatian lebih dari otoritas yang berwenang menangani kesehatan masyarakat. Para ilmuwan dan petugas kesehatan menaruh perhatian pada varian beta B.1.351 karena menyebar sangat cepat dari Afrika Selatan. Riset pun mengindikasikan beberapa vaksin kurang mampu melawannya.

Pada Februari 2021, misalnya, Afrika Selatan sempat menghentikan penggunaan vaksin tertentu karena uji klinis mengindikasikan vaksin itu tidak memberikan perlindungan yang baik terhadap gejala Covid-19 yang ringan atau sedang akibat infeksi varian beta. Namun penelitian lanjutan menemukan beberapa vaksin mampu menyediakan perlindungan kuat terhadap sakit yang parah akibat varian tersebut.

Saat Afrika Selatan diterjang gelombang kedua Covid-19 pada akhir 2020, varian beta mendominasi penularan di sana. Kala itu para peneliti menemukan jumlah kasus, rawat inap, dan kematian di rumah sakit lebih tinggi daripada gelombang pertama pandemi. Banyak faktor yang bisa mempengaruhi kemungkinan pasien meninggal di rumah sakit, termasuk banyaknya jumlah pasien yang perlu dirawat sehingga sistem rumah sakit kewalahan.

Namun, ketika peneliti mengamati angka rawat inap mingguan, potensi pasien meninggal di rumah sakit tetap lebih tinggi 31 persen pada gelombang kedua dibanding gelombang pertama. Karena itu, muncul dugaan varian beta bisa menyebabkan sakit yang lebih parah. Meski demikian, para peneliti menggarisbawahi bahwa mereka tidak memegang data varian apa yang menginfeksi pasien saat itu sehingga tidak ada kaitan langsung antara kondisi pasien yang memburuk dan varian beta B.1.351.

 

Gejala Varian Beta B.1.351 Covid-19

Seseorang yang terinfeksi virus corona bisa merasakan berbagai gejala yang berlainan dengan orang lain yang juga positif Covid-19. Karena itulah Covid-19 juga disebut sebagai penyakit 1.000 wajah saking banyaknya gejala yang muncul dan berbeda-beda. Hingga kini, gejala varian beta B.1.351 tak begitu berbeda dengan gejala infeksi varian awal virus corona.

Namun, dalam sejumlah riset, ada beberapa gejala khas yang didapati pada pasien Covid-19 yang terkonfirmasi terinfeksi varian tersebut, yaitu:

  • Demam
  • Anosmia (tidak mampu mencium bau)
  • Sakit kepala
  • Batuk berkepanjangan
  • Sakit perut
  • Sakit tenggorokan

 

Asal Penyebaran Varian Beta B.1.351 Covid-19

Awalnya, varian beta B.1.351 terdeteksi di Eastern Cape, Afrika Selatan, pada September 2020. Saat awal penyebarannya, pernah suatu ketika sebanyak 95 persen sampel dari pasien Covid-19 di negara itu merupakan varian beta. Tak lama kemudian, sebanyak 40 negara melaporkan kasus positif Covid-19 dengan varian beta.

Namun kini varian itu tidak lagi dominan di Afrika Selatan ataupun negara-negara lain. Pada awal Juli 2021, hanya ada 5,6 persen sampel virus yang terdeteksi merupakan mutasi varian beta. Penurunan ini kemungkinan besar terjadi karena kedatangan varian delta yang sangat menular.

Beta sekarang telah dilaporkan ada di 123 negara, tapi masih jauh lebih jarang daripada delta. Per 11 Juli 2021, Indonesia juga hanya melaporkan 12 kasus varian beta B.1.351. Masih lebih banyak varian delta dengan 615 kasus dan varian alpha sebanyak 54 kasus.

 

Deteksi Varian Beta B.1.351 Covid-19

Seperti halnya varian virus corona lain, cara deteksi varian beta B.1.351 adalah lewat pengurutan genom. Genom adalah gugus kromosom yang ada dalam setiap inti sel organisme, termasuk virus corona. Pengurutan genom dilakukan di laboratorium oleh tenaga ahli yang memenuhi standar tertentu.

Saat ini belum ada metode tes polymerase chain reaction (PCR) yang bisa mendeteksi varian virus corona. Tes usap PCR saat ini hanya digunakan untuk mengkonfirmasi kasus positif atau negatif Covid-19. Untuk mendeteksi varian, sampel dari tes usap PCR perlu diteliti lewat teknologi pengurutan genom.

 

Pengobatan Varian Beta B.1.351 Covid-19

Varian beta B.1.351 diketahui tak efektif diobati dengan terapi antibodi monoclonal. Namun secara umum pengobatan pasien yang terinfeksi varian ini mengacu pada pedoman tata laksana dari sejumlah perhimpunan dokter, termasuk Ikatan Dokter Indonesia. Pedoman ini memuat tata cara dan aturan pemberian obat serta penanganan pasien berdasarkan derajat keparahan gejalanya.

Jenis obat-obatan yang dapat diberikan juga diperbarui berdasarkan hasil riset internasional. Karena itu, dokter dan tenaga kesehatan lain akan mengacu pada pedoman tersebut dalam memberikan perawatan kepada pasien.

 

Pencegahan Covid-19

Kunci utama untuk mencegah penularan virus corona adalah mengenakan masker dengan benar, mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer, serta menjaga jarak. Protokol kesehatan 3M itu dilengkapi dengan menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas. Varian beta B.1.351 juga bisa dicegah dengan protokol tersebut.

Cara lain adalah dengan mendapatkan vaksin dosis lengkap. Vaksinasi akan membuat tubuh memiliki antibodi terhadap virus. Bila terpapar, tubuh bisa lebih melawan infeksi virus tersebut. Bilapun positif, gejala pasien yang telah mendapat vaksin umumnya lebih ringan. Saat ini beberapa penelitian menunjukkan sejumlah vaksin ampuh menghadapi varian baru corona, termasuk varian beta.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Kita tidak tahu apakah varian virus yang menginfeksi kita adalah beta B.1.351 ketika pertama kali terkonfirmasi positif Covid-19. Gejala seperti batuk atau demam pun tidak selalu menandakan kita tertular virus corona. Ikuti saja prosedur yang berlaku mengenai penanganan pasien positif corona dari pemerintah. Jika gejalanya ringan, lakukan isolasi mandiri. Bila merasa gejala berat, terutama kadar oksigen turun drastis, segera datangi rumah sakit untuk mendapat penanganan dari dokter.

 

Ditinjau oleh:

dr. Zikanovelia, Sp.P

Dokter Spesialis Paru

Primaya Hospital Bhaktiwara

 

Referensi:

https://gvn.org/covid-19/beta-b-1-351/

https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/variants/variant-info.html

Bagikan ke :