• Ambulance
  • 150 108
  • Chatbot

Disartria: Gangguan Bicara yang Perlu Diketahui

Disartria Gangguan Bicara yang Perlu Diketahui

Ketika berbicara, ada otot-otot yang berperan di dalamnya untuk menghasilkan ucapan yang jelas dan bisa dipahami. Maka, jika terjadi gangguan pada otot ini, kemampuan bicara seseorang akan terpengaruh. Disartria adalah istilah untuk menyebut gangguan bicara motorik yang terjadi akibat lumpuh atau melemahnya otot tersebut karena ada kerusakan pada sistem saraf.

 

buat jani dokter primaya

Mengenal Disartria

Disartria adalah gangguan berbicara yang disebabkan oleh kelainan motorik. Penyebabnya adalah kerusakan atau kelainan pada sistem motorik yang mengendalikan bagian tubuh yang terlibat dalam proses bicara, seperti rahang, kotak suara, dan lidah. Orang yang mengalami kondisi ini tidak dapat mengendalikan suara yang dihasilkan ketika berbicara. Akibatnya, ia akan kesulitan mengucapkan kata dengan jelas, mengatur ritme dan intonasi suara, serta mengendalikan volume suara.

Disartria bisa terjadi pada segala usia, dari anak-anak sampai orang dewasa. Terdapat beberapa jenis disartria yang dibedakan menurut sumber dan kelainan motorik yang melatarinya, antara lain:

  • Disartria spastik: otot kaku dan tegang sehingga ucapan lambat, kaku, dan terputus-putus
  • Disartria ataksik: gerakan otot tak terkoordinasi sehingga sulit menekankan kata saat berbicara
  • Disartria hipokinetik: gerakan otot terbatas atau lambat sehingga suara terdengar lemah dan monoton serta sulit mulai berbicara
  • Disartria hiperkinetik: gerakan otot tak terkendali sehingga suara terdengar sangat cepat dan tak bisa diprediksi
  • Disartria flaccid: terjadi kerusakan pada saraf motorik bawah yang membuat suara yang dihasilkan terdengar berat atau sengau
  • Disartria campuran: kombinasi dari beberapa jenis disartria

Disartria dapat menimbulkan dampak besar pada kehidupan orang yang mengalaminya, khususnya dalam hal komunikasi dan psikososial. Itu sebabnya diperlukan penanganan medis yang memadai untuk memulihkan kemampuan bicara pasien.

 

Gejala

Gejala disartria yang utama adalah kesulitan berbicara dengan jelas yang mengakibatkan orang lain sulit memahami perkataan yang keluar dari mulut penderitanya. Umumnya meliputi:

  • Berbicara terlalu cepat atau lambat
  • Suara sangat pelan atau sangat keras
  • Ucapan terdengar seperti gumaman
  • Cadel
  • Serak
  • Sengau
  • Suara seperti robot, monoton
  • Ucapan terputus-putus
  • Penekanan intonasi dan ritme bicara tidak tepat
  • Tampak ragu-ragu saat akan mulai berbicara, lalu ucapan keluar seperti tersembur
Baca Juga:  Terapi Gelombang Kejut Shock Wave Therapy (ESWT)

 

Penyebab

Disartria disebabkan oleh kerusakan pada otak dan saraf yang mengendalikan otot yang terlibat dalam proses bicara dan produksi suara. Kerusakan ini bisa terjadi pada masa tumbuh kembang ketika anak dalam kandungan atau saat lahir, bisa juga akibat kerusakan otak yang terjadi di kemudian hari.

Berikut ini beberapa faktor yang bisa memicu disartria:

  • Stroke
  • Penyakit Parkinson
  • Penyakit Alzheimer
  • Sklerosis lateral amiotrofik
  • Cedera otak traumatis
  • Kelainan struktur organ yang terlibat dalam proses bicara, seperti bibir sumbing
  • Efek samping obat-obatan atau zat tertentu, seperti obat penenang atau alkohol
  • Infeksi otak
  • Tumor otak

 

Cara Dokter Mendiagnosis Disartria

Umumnya diagnosis disartria dilakukan oleh dokter spesialis rehabilitasi medis atau ahli terapi wicara. Langkah diagnosis meliputi:

  • Pemeriksaan riwayat medis pasien, termasuk riwayat penyakit/cedera dan gangguan bicara
  • Pemeriksaan fisik secara menyeluruh untuk mengevaluasi sistem saraf dan otot yang berperan dalam proses bicara
  • Serangkaian tes bicara dan bahasa, misalnya mengucapkan kata/kalimat, bercerita, menirukan suara, mengulang frasa, membaca tulisan, dan bernyanyi
  • Tes fungsi motorik dengan menggerakkan bibir, rahang, lidah, dan langit-langit mulut sesuai dengan instruksi
  • Prosedur medis lain, seperti pemindaian otak, tes neurologis, dan tes laboratorium untuk mengidentifikasi penyebab disartria yang dialami pasien

 

Cara Mengatasi Disartria

Bila seseorang didiagnosis dengan disartria, pendekatan medis yang utama adalah terapi wicara dan bahasa. Terapi ini berguna untuk membantu meningkatkan kemampuan bicara dan komunikasi lewat latihan-latihan yang bertujuan menguatkan otot bicara, meningkatkan pengendalian sistem motorik, dan mengembangkan strategi komunikasi yang sesuai.

Program terapi bagi pasien bisa berbeda-beda, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan individu dalam hal bicara dan bahasa. Program ini biasanya mencakup latihan fisik yang bertujuan meningkatkan kontrol motorik dan koordinasi gerakan lewat penguatan otot-otot yang digunakan ketika berbicara, misalnya otot wajah, lidah, dan rahang.

Dalam kasus disartria parah, biasanya diperlukan alat bantu komunikasi agar pasien bisa lebih efektif berkomunikasi. Alat bantu ini bisa berupa perangkat elektronik canggih hingga papan sederhana dengan huruf atau gambar.

Baca Juga:  Fisioterapi untuk Memulihkan Fungsi Saluran Napas dan Paru pada Pasien Bronkitis

 

Komplikasi

Penderita disartria tak dapat berkomunikasi secara efektif karena orang lain sulit memahami ucapannya. Walhasil, individu tersebut bisa merasa frustrasi dan terisolasi sehingga sulit berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan karier. Kualitas hidupnya pun akan terpengaruh secara keseluruhan.

Menurut penelitian, orang yang mengalami gangguan bicara terkait dengan kerusakan saraf menghadapi berbagai keterbatasan dalam hal kehidupan sosial. Tingkat kepuasan hidupnya pun rendah dan mengalami dampak negatif pada aspek psikososial.

Penderita disartria juga bisa mengalami kesulitan makan dan menelan, misalnya sering tersedak. Karena itu, ada risiko masuknya makanan atau cairan ke saluran pernapasan yang bisa menyebabkan infeksi paru-paru.

 

Pencegahan

Disartria tak selalu bisa dicegah. Meski demikian, terdapat beberapa cara untuk meminimalkan risiko mengalaminya, antara lain:

  • Menjaga kesehatan otak dengan melindungi kepala dari risiko cedera
  • Mengendalikan faktor risiko kerusakan saraf dengan menerapkan gaya hidup sehat
  • Menjaga kadar gula darah, kolesterol, dan tekanan darah yang normal
  • Bila mengalami cedera kepala, segera mencari bantuan medis dan mengikuti prosedur perawatan medis
  • Menjalani pemeriksaan kehamilan secara rutin bagi ibu hamil

 

Kapan Harus ke Dokter?

Disartria memerlukan penanganan medis untuk meningkatkan kemampuan komunikasi penderitanya sehingga lebih dapat terlibat dalam kehidupan masyarakat. Makin cepat disartria ditangani, makin besar peluang pemulihan. Jika ada gejala anak mengalami disartria, sebaiknya segera bawa ke dokter untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

 

Narasumber

dr. Imran Safei, Sp.KFR (K)

Dokter Spesialis Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

Primaya Hospital Makassar

Referensi:

  • Impact of Clear, Loud, and Slow Speech on Scaled Intelligibility and Speech Severity in Parkinson’s Disease and Multiple Sclerosis. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5564324/. Diakses 5 Juni 2023
  • Dysarthria (difficulty speaking). https://www.nhs.uk/conditions/dysarthria/. Diakses 5 Juni 2023
  • Dysarthria. https://www.asha.org/public/speech/disorders/dysarthria/#signs. Diakses 5 Juni 2023
  • Dysarthria. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17653-dysarthria. Diakses 5 Juni 2023
  • Dysarthria in Adults. https://www.asha.org/practice-portal/clinical-topics/dysarthria-in-adults/. Diakses 5 Juni 2023
  • Distinguishing Perceptual Characteristics and Physiologic Findings by Dysarthria Type. https://www.asha.org/practice-portal/clinical-topics/dysarthria-in-adults/distinguishing-perceptual-characteristics/. Diakses 5 Juni 2023
Bagikan ke :

Buat Janji Dokter

Promo

Search

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.