• Emergency
  • 150 108
  • Chatbot

Tampak Sehat Namun Kena Penyakit Jantung, Ini Penyebabnya

Tampak Sehat Namun Kena Penyakit Jantung, Ini Penyebabnya

Penyakit jantung tidak mengenal usia ataupun gender. Baik muda maupun tua bisa terkena penyakit berbahaya itu. Begitu juga jenis kelamin pria ataupun wanita. Bahkan orang yang tampak sehat, misalnya atlet olahraga, bisa juga terdiagnosis memiliki penyakit ini. Sederet fakta tersebut menjadi alarm bagi kita agar lebih waspada.

 


Olahraga dan Penyakit Jantung

Pada masa lampau, dokter cenderung membatasi aktivitas fisik orang yang memiliki penyakit jantung, termasuk berolahraga. Sebab, olahraga meningkatkan kerja jantung. Karena itu, dokter khawatir jantung akan mengalami masalah saat dipacu untuk bekerja lebih keras ketika berolahraga. Namun kini pasien penyakit jantung justru tetap disarankan berolahraga demi kesehatan tubuh.

Olahraga adalah bagian dari gaya hidup sehat. Jadi siapa pun sebaiknya berolahraga secara rutin selama kondisinya memungkinkan. Bahkan rehabilitasi jantung bagi pasien di rumah sakit memasukkan olahraga sebagai salah satu programnya. Tentu jenis olahraga di sana disesuaikan dengan kondisi jantung tiap pasien. Tidak semua pasien menjalani olahraga yang sama. Dokter akan lebih dulu memeriksa pasien itu sebelum memberikan rekomendasi jenis olahraga yang tepat dan aman buat jantungnya. Namun satu hal perlu digarisbawahi: olahraga tidak menjamin orang bebas dari penyakit jantung.

 

Penyebab Penyakit Jantung, Meski Tampak Sehat dan Rajin Olahraga

Kabar tentang atlet yang mengalami penyakit jantung bahkan hingga meninggal beberapa kali terdengar baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Hal ini menimbulkan pertanyaan: bagaimana mungkin orang yang sehari-hari berolahraga bisa terkena masalah jantung? Bukankah gaya hidup sehat adalah kunci terhindar dari penyakit jantung?

Orang yang tampak sehat memang tidak berarti jauh dari masalah jantung. Sebab, ada banyak faktor risiko penyakit jantung. Seseorang mungkin saja tiba-tiba terkena serangan jantung meski sudah rutin berolahraga lantaran ada riwayat penyakit jantung dalam keluarganya. Atau bisa jadi orang tersebut memiliki penyakit jantung bawaan yang tak disadari.

Sejumlah riset menemukan sejumlah atlet ternyata memiliki kelainan jantung terlepas dari profesinya. Masalah itu baru diketahui setelah atlet menjalani pemeriksaan jantung, termasuk wawancara mengenai riwayat kesehatan keluarga. Ada juga faktor penggunaan obat-obatan tertentu yang membuat kerja jantung lebih berat. Obat ini dikonsumsi untuk meningkatkan performa atlet, tapi justru membahayakan jantung.

Baca Juga:  Serangan Jantung di Pagi Hari, Kenali Morning Surge

Meski demikian, prevalensi atlet yang memiliki masalah jantung disebut-sebut sangatlah kecil. Masyarakat banyak menyoroti kasus kematian atlet akibat penyakit jantung karena liputan media sekaligus status atlet yang merupakan figur terkenal.

 

Faktor Risiko Penyakit Jantung

Penyakit jantung memiliki julukan “silent killer” alias pembunuh senyap. Banyak orang baru tahu bahwa dia memiliki masalah jantung setelah mengalami serangan. Orang itu tidak sadar bahwa ada faktor risiko yang menggelayutinya. Faktor tersebut antara lain:

  • Obesitas atau kelebihan berat badan
  • Diabetes tipe 2
  • Tekanan darah tinggi
  • Kadar kolesterol tinggi
  • Merokok
  • Stres
  • Pola makan yang buruk
  • Kurang beraktivitas fisik
  • Riwayat penyakit jantung dalam keluarga
  • Pertambahan usia

Seseorang mungkin sudah rajin berolahraga setiap hari, tapi ternyata juga rajin merokok. Manfaat olahraga buat kesehatan jantung bisa jadi sirna akibat efek rokok. Untuk itu, diperlukan pemeriksaan oleh dokter untuk mengetahui kondisi jantung secara lebih spesifik.

 

Deteksi Penyakit Jantung Sejak Dini

Dampak fatal penyakit jantung bisa dicegah dengan deteksi dini. Terutama bagi orang yang merasa memiliki faktor risiko. Ada sejumlah cara deteksi dini secara klinis, antara lain:

  • Elektrokardiogram (EKG): Tes untuk mengecek aktivitas kelistrikan jantung
  • Tes darah: Tujuannya melihat kadar kolesterol dan gula darah
  • CT scan: Pemeriksaan kondisi jantung dengan pemindaian menggunakan sinar-X
  • Echocardiogram: Tes untuk melihat apakah ada masalah dalam mekanisme kerja jantung lewat gambar bergerak menggunakan teknologi ultrasonografi
  • Tes stres: Pasien diminta melakukan aktivitas fisik, misalnya berjalan di treadmill, untuk mengecek respons jantung terhadap tekanan dari aktivitas tersebut
  • MRI: Pemindaian dengan teknologi magnet dan gelombang radio guna mengamati dan menilai kondisi jantung secara lebih detail

 

Apa yang Harus Dilakukan Jika Kena Serangan Jantung?

Serangan jantung memerlukan penanganan segera karena tergolong masalah medis darurat. Serangan itu cenderung terjadi tiba-tiba sehingga orang yang mengalami tak sempat mencari pertolongan. Terlebih bila orang-orang di sekitarnya juga tak mengerti apa yang harus dilakukan terhadap orang yang terkena serangan jantung.

Baca Juga:  Amankah Berhubungan Intim Setelah Kena Serangan Jantung

Rata-rata orang bisa bertahan selama 3 jam setelah terkena serangan jantung sebelum mendapat pertolongan medis. Makin cepat dibawa ke instalasi gawat darurat rumah sakit, makin besar peluangnya untuk selamat. Bila Anda atau orang di sekitar mengalami serangan jantung, segera ke rumah sakit atau hubungi ambulans.

Sementara menanti petugas medis, lakukan pertolongan pertama, yakni:

  • Upayakan duduk dan tetap tenang
  • Longgarkan pakaian, misalnya melepas ikat pinggang jika ada
  • Konsumsi obat pereda nyeri dada, misalnya nitrogliserin

 

Kapan Harus ke Dokter?

Serangan jantung tidak selalu langsung terjadi dalam intensitas berat. Bisa juga serangan itu ringan saja dan nyeri hilang dalam beberapa waktu setelah mendapat pertolongan pertama. Namun sebaiknya langsung temui dokter jika pernah mengalami atau menduga mengalami gejala serangan jantung.

Rasa nyeri pada dada seperti tertusuk atau tertekan beban berat yang cuma berlangsung beberapa detik pun bisa jadi merupakan salah satu gejala penyakit jantung. Untuk mendapat kepastian, hanya dokter yang bisa memberikan diagnosis lewat pemeriksaan medis.

 

Ditinjau oleh:

dr. Roy Christian, Sp.JP(K), FIHA

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

Primaya Hospital Tangerang

 

Referensi:

Mind/body health: Heart disease. https://www.apa.org/topics/chronic-illness/heart-disease. Diakses 5 September 2021

Increasing proportion of ST elevation myocardial infarction patients with coronary atherosclerosis poorly explained by standard modifiable risk factors. https://journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/2047487317720287. Diakses 5 September 2021

Healthy heart, happy life. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4248376/. Diakses 5 September 2021

Health Factors and Risk of All-Cause, Cardiovascular, and Coronary Heart Disease Mortality: Findings from the MONICA and HAPIEE Studies in Lithuania. https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0114283. Diakses 5 September 2021

Healthy Lifestyle Factors in the Primary Prevention of Coronary Heart Disease Among Men. https://www.ahajournals.org/doi/full/10.1161/circulationaha.106.621417. Diakses 5 September 2021

Sudden Cardiac Death in Athletes. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4969030/. Diakses 5 September 2021

Incidence of Sudden Cardiac Death in National Collegiate Athletic Association Athletes. https://www.ahajournals.org/doi/full/10.1161/CIRCULATIONAHA.110.004622. Diakses 5 September 2021

Bagikan ke :

Promo

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.