Dampak Fetal Distress Pada Perkembangan Janin

Dampak Fetal Distress Pada Perkembangan Janin

Fetal distress adalah salah satu kondisi pada janin yang memerlukan perhatian oleh orang tua pada masa kehamilan. Pemeriksaan rutin oleh dokter spesialis kandungan dan kebidanan dapat menemukan masalah yang bisa mengganggu perkembangan janin ini. Dengan pemantauan yang memadai, dokter pun bisa segera memberikan tindakan untuk mencegah komplikasi yang berisiko mengancam jiwa janin dalam kandungan.

 

Mengenal Fetal Distress

Fetal distress mengacu pada kondisi ketika perkembangan janin dalam rahim tidak lancar. Kondisi yang juga disebut sebagai gawat janin ini sering menjadi tanda bahwa pasokan oksigen ke otak bayi tidak memadai. Bila masalah mendasar yang memicu kondisi ini tidak secepatnya diatasi, bisa terjadi cedera otak yang serius sehingga menyebabkan problem lain, seperti keterlambatan perkembangan atau cerebral palsy.

Dokter, perawat, atau bidan mesti mencari tanda-tanda fetal distress dalam pemeriksaan kehamilan. Salah satunya dengan mengamati detak jantung janin lewat pemantauan secara berkala. Di rumah sakit, dokter bisa memakai alat monitor jantung janin yang mampu mencatat detak jantung janin dan kontraksi ibu secara berkelanjutan. Pemantauan juga menyasar cairan ketuban dan gas darah.

Demi keselamatan janin, pemantauan detak jantung sangat penting ketika terjadi peningkatan risiko. Interpretasi hasil pemantauan itu juga harus benar baik oleh dokter, perawat, maupun bidan. Fetal distress relatif jarang terjadi. Rasionya adalah 25 berbanding 100. Artinya, dari 100 kelahiran, bisa terjadi 25 kasus. Umumnya, tanda-tanda masalah ini muncul pada trimester ketiga kehamilan atau selama proses persalinan.

 

Gejala Fetal Distress

Begitu ibu mengalami tanda-tanda melahirkan, tim dokter akan memantau gejala adanya kondisi gawat pada janin. Di bawah ini beberapa cara untuk mendeteksi gejala fetal distress:

1. Tendangan berkurang

Dokter acap meminta ibu menghitung jumlah tendangan janin selama kehamilan. Penghitungan ini merupakan cara terbaik untuk mengetahui apakah janin baik-baik saja di dalam rahim. Tidak ada jumlah pasti berapa tendangan janin, tapi berkurangnya frekuensi gerakan janin pasti ketahuan bila ibu rutin memantaunya tiap hari. Bila merasa ada penurunan aktivitas janin, sebaiknya beri tahu dokter untuk segera dilakukan pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG).

Baca Juga:  Manfaat Mengetahui Usia Kehamilan

2. Perdarahan yang tidak biasa

Ibu hamil wajar mengalami perdarahan yang keluar dari vagina asalkan dalam jumlah kecil. Bila terjadi perdarahan yang tidak biasa atau dalam jumlah banyak, artinya ada yang tidak beres dengan kehamilan tersebut. Selain menjadi gejala fetal distress, perdarahan vagina bisa menunjukkan adanya masalah medis lain, seperti plasenta previa (plasenta menghalangi jalan rahim), solusio plasenta (plasenta terlepas dari dinding rahim), serta vasa previa (pembuluh darah di plasenta berkembang dan menghalangi jalan rahim).

3. Tekanan darah tinggi

Banyak perempuan dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi tidak mendapati masalah serius selama kehamilan hingga persalinan. Namun harus ada perhatian lebih bila ibu hamil memiliki tekanan darah tinggi. Sebab, ada kemungkinan hipertensi saat hamil berujung pada preeklamsia. Komplikasi kehamilan ini dipicu tekanan darah tinggi dan bisa mengancam jiwa ibu serta bayinya. Ketika terjadi preeklamsia, janin bisa kekurangan oksigen dan mengalami fetal distress.

4. Kram dan nyeri punggung

Ibu hamil wajar mengalami kram. Namun bila kram itu datang dengan intensitas tinggi disertai nyeri punggung, bisa jadi ada masalah yang lebih serius. Dua gejala itu bisa mengindikasikan lepasnya plasenta dari dinding rahim dan memicu fetal distress. Perlu pemeriksaan oleh dokter untuk memastikan ibu dan bayinya baik-baik saja.

Di luar indikasi tersebut, terdapat sejumlah kondisi yang bisa mengarah pada fetal distress, antara lain intrauterine growth restrictions (terhambatnya perkembangan janin), perubahan volume cairan ketuban, dan berat badan yang bertambah secara berlebihan.

 

Penyebab Fetal Distress

Dokter, perawat, atau bidan yang memeriksa ibu hamil harus senantiasa memantau kesehatan janin dalam rahim serta si ibu sendiri. Pemantauan ini dilakukan sejak masa kehamilan hingga detik-detik persalinan untuk mengetahui tanda peringatan dan mengidentifikasi penyebab fetal distress sejak dini. Berikut ini beberapa kondisi yang kerap menyebabkan fetal distress:

1. Salah posisi

Janin perlu dalam posisi tertentu agar aman saat persalinan. Bila posisinya salah, persalinan justru bisa membahayakan janin dan ibu. Tertariknya bahu hingga menyebabkan kerusakan saraf saat kelahiran adalah salah satu komplikasi yang dapat terjadi akibat salah posisi janin.

Baca Juga:  Hipertensi Dalam Kehamilan

2. Masalah peredaran darah

Darah mengandung oksigen yang dibutuhkan untuk perkembangan janin. Saat terjadi masalah peredaran darah, janin mungkin tidak memperoleh asupan oksigen yang cukup hingga memicu komplikasi hipoksia (sistem tubuh tak bisa berfungsi normal karena kurang oksigen). Beberapa masalah kesehatan ibu bisa menyebabkan masalah peredaran darah, seperti diabetes, asma, dan tekanan darah tinggi.

3. Tali pusat kusut

Tali pusat bisa kusut atau terpelintir pada janin dalam kandungan. Anggota tubuh janin bisa terluka dan memicu fetal distress. Situasi bisa lebih membahayakan bila leher janin yang terlilit tali pusat.

4. Penggunaan alat bantu kelahiran

Terdapat beberapa alat bantu kelahiran seperti vakum ekstraktor dan forcep yang justru bisa membuat janin mengalami fetal distress bila penggunaannya tak tepat. Selain itu, ada risiko cedera tengkorak atau otak dalam penggunaan alat bantu ini.

5. Solusio plasenta

Plasenta janin dalam rahim terlepas sehingga tak ada pasokan nutrisi dan oksigen. Ketika ada tanda awal solusio plasenta, dokter mesti segera melakukan tindakan medis secepatnya demi menyelamatkan ibu dan bayinya.

6. Rahim robek

Di tengah proses persalinan, ada risiko rahim robek atau ruptur uteri yang bisa mengakibatkan fetal distress. Perdarahan internal bisa terjadi dan membahayakan baik ibu maupun janin dalam kandungan.

 

Mendeteksi Fetal Distress

Dokter umumnya mendeteksi fetal distress berdasarkan pola detak jantung yang tidak normal pada janin. Selama persalinan, detak jantung janin dipantau terus-menerus dengan mesin pemantau. Perangkat ultrasonografi (USG) Doppler dapat digunakan untuk memeriksa detak jantung setiap 15 menit selama tahap persalinan awal dan setelah setiap kontraksi pada tahap lanjut.

Dokter juga dapat menggunakan kardiotokografi (CTG) untuk melihat respons denyut jantung janin terhadap gerakan janin dan kontraksi ibu. Deteksi juga bisa dilakukan dengan memeriksa volume cairan ketuban lewat USG. Banyak-sedikitnya cairan ketuban berkaitan dengan perkembangan janin.

 

Penanganan Fetal Distress

Ketika ada tanda awal fetal distress, tim medis yang menangani persalinan mesti bertindak segera. Tim mesti berburu dengan waktu untuk membantu persalinan dengan aman. Persalinan untuk kondisi gawat janin ini masih bisa lewat cara normal dengan bantuan obat induksi. Tapi prioritas tim medis adalah membantu persalinan yang aman secepat mungkin. Jadi operasi sesar juga bisa menjadi pilihan, terutama buat janin kembar.

Baca Juga:  Cegah Kanker Serviks

Melahirkan bayi kembar di bawah kondisi fetal distress amatlah berisiko. Tim medis mungkin tidak punya cukup waktu untuk mengeluarkan semua janin. Lewat operasi sesar, persalinan bayi kembar bisa dilakukan dengan stres yang lebih minim.

Jika ibu merasa ada perubahan pada aktivitas janin atau jumlah tendangan berkurang, segeralah datangi rumah sakit. Begitu juga bila ketuban pecah dan berwarna kuning kecokelatan, yang berarti ada campuran meconium atau feses janin.

Di rumah sakit, kondisi janin dan ibu harus segera mendapat pemantauan intensif. Ibu mungkin perlu menggunakan alat bantu pernapasan atau menerima oksigen tambahan serta cairan infus. Dokter yang akan menentukan apakah operasi sesar diperlukan atau tidak.

 

Cara Mencegah Fetal Distress

Fetal distress adalah kondisi yang muncul karena berbagai faktor. Ibu tak bisa mencegahnya, tapi bisa melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kondisi gawat janin ini. Yang paling penting adalah menjalani pemeriksaan rutin setiap trimester kehamilan agar perkembangan janin terpantau dan mengikuti rekomendasi dokter kandungan atau bidan.

Terutama bila ibu hamil terdiagnosis memiliki kondisi yang bisa meningkatkan risiko fetal distress pada janin, seperti tekanan darah tinggi atau diabetes. Pemeriksaan kehamilan harus lebih sering pada trimester terakhir kehamilan. Dengan begitu, dokter bisa lebih detail memantau kondisi janin, terutama detak jantungnya, untuk menyiapkan skenario bila ada kemungkinan terjadi fetal distress.

 

Narasumber:

dr. Lazuardy Rachman, Sp.OG

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan

Primaya Hospital Bekasi Utara

 

Referensi:

https://www.msdmanuals.com/home/women-s-health-issues/complications-of-labor-and-delivery/fetal-distress

https://americanpregnancy.org/healthy-pregnancy/labor-and-birth/fetal-distress-9221/

Bagikan ke :