Trimester Kehamilan Pertama, Terdeteksi Potensi Kelainan Kandungan?

Trimester Kehamilan Pertama, Terdeteksi Potensi Kelainan Kandungan_

Trimester kehamilan menjadi kosakata yang lazim bagi kalangan ibu yang tengah mengandung. Trimester kehamilan adalah pembagian periode kehamilan setiap tiga bulan. Artinya, ada tiga trimester selama masa kehamilan yang berlangsung selama sembilan bulan. Pembagian ini bertujuan memudahkan pemeriksaan dan perawatan kandungan, antara lain dalam mendeteksi potensi kelainan.

Salah satu kelainan yang dapat terdeteksi dalam pemeriksaan trimester kehamilan adalah terkait dengan kromosom atau genetik bayi. Pemeriksaan bisa dilakukan sejak dari trimester pertama. Tapi umumnya baru pada trimester kehamilan kedua kelainan kromosom bisa terdeteksi, yakni dengan amniosentesis.

Kelainan kromosom pada janin bisa mengakibatkan sejumlah risiko kesehatan, dari bayi lahir cacat hingga keguguran. Kelainan kromosom yang bisa terdeteksi saat trimester kehamilan antara lain sindrom Down dan sindrom Edward. Tapi pemeriksaan tidak bisa memastikan janin mengalami kelainan kromosom atau tidak, melainkan hanya memberikan diagnosis yang akurasinya bisa sampai 99 persen. Hasil diagnosis itu bisa menjadi dasar untuk melakukan tindakan selanjutnya bila terdeteksi adanya kelainan kandungan.

 

Pemeriksaan Kelainan Kromosom Bayi (Amniosentesis)

Amniosentesis adalah tes yang bertujuan mengetahui kelainan genetik pada janin lewat pemeriksaan cairan ketuban atau amnion. Menurut sejumlah penelitian, tes ini memberikan hasil lebih baik ketika dijalankan pada saat trimester kehamilan kedua. Pada trimester kehamilan pertama, amniosentesis berisiko menimbulkan infeksi hingga keguguran.

Baca Juga:  Kelebihan dan Efek Samping Pemeriksaan USG 4D

Pemeriksaan kelainan kromosom bayi pada trimester kehamilan pertama yang disarankan adalah chorionic villus sampling (CVS). Meski demikian, tingkat keberhasilan amniosentesis tidak hanya ditentukan oleh usia kehamilan. Metode dan tenaga kesehatan yang menjalankan pemeriksaan turut berperan dalam menentukan akurasi tes tersebut.

Dalam amniosentesis, dokter mengambil sampel cairan ketuban untuk diuji di laboratorium. Ketuban adalah cairan berwarna bening pucat kekuningan yang mengelilingi janin dalam kandungan. Fungsi ketuban antara lain:

  • Melindungi janin dari risiko luka
  • Mencegah infeksi
  • Memungkinkan janin bergerak dan berkembang
  • Membantu mengendalikan suhu janin

Cairan ketuban mengandung sel dari janin yang berisi informasi genetik. Sel inilah yang akan menjalani pemeriksaan di laboratorium untuk mendeteksi ada-tidaknya kelainan kromosom.

 

Apa yang Perlu Diperhatikan Setelah Amniosentesis

Amniosentesis berlangsung di rumah sakit dan ditangani dokter kandungan pada masa trimester kehamilan kedua. Dokter memulai prosedur dengan membersihkan area perut ibu memakai antiseptik. Lalu dokter melihat posisi janin dan plasenta menggunakan ultrasonografi (USG). Lantas dokter memasukkan jarum tipis ke perut untuk mengambil sampel ketuban dengan panduan USG. Sampel itu lalu dibawa ke laboratorium untuk diperiksa.

Baca Juga:  Kehamilan : Tips Mengatasi Kekwatiran Menjelang Melahirkan

Setelah amniosentesis, ibu akan merasa sedikit tidak nyaman pada bagian perut. Sebaiknya ibu segera pulang dan beristirahat sepanjang hari serta tidak menjalankan aktivitas fisik yang berat, termasuk berhubungan badan.

Hasil amniosentesis tidak bisa keluar pada hari itu juga. Hasil seluruhnya baru bisa diketahui dalam 2-3 pekan. Tapi ada beberapa kondisi yang dapat terdeteksi dalam 2-3 hari seusai amniosentesis.

 

Kapan Harus ke Dokter

Tidak semua ibu memerlukan amniosentesis ketika menjalani pemeriksaan trimester kehamilan kedua. Umumnya hanya ibu hamil yang berisiko tinggi memiliki kelainan kandungan yang disarankan menjalaninya. Misalnya:

  • Ada riwayat kelainan genetik dalam keluarga
  • Berusia lebih dari 35 tahun
  • Tes skrining menunjukkan ada ketidaknormalan
Baca Juga:  Persiapan Melahirkan Normal di Rumah Sakit, Bunda Harus Tahu

Bila merasa punya risiko-risiko tersebut, ibu hamil sebaiknya ke dokter saat trimester kehamilan kedua guna menjalani amniosentesis. Dari beragam penelitian, akurasi amniosentesis mencapai 99 persen, tapi bukan berarti semua kelainan kromosom dapat terdeteksi.

 

Narasumber:

dr. Berryl Imran Burhan, Sp.OG

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan

Primaya Evasari Hospital

 

Referensi:

https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-down-syndrom-2019-1.pdf

https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/amniocentesis/about/pac-20392914

https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=amniocentesis-procedure-92-P07762

https://americanpregnancy.org/prenatal-testing/amniocentesis-733/

https://www.webmd.com/baby/pregnancy-amniocentesis#1

https://www.nhs.uk/conditions/amniocentesis/results/

Sumber Gambar : Freepic

Bagikan ke :