• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Conduct Disorder, Gangguan Mental Anak yang Perlu Penanganan

Perilaku anak yang agresif atau kerap melanggar aturan sering dianggap sebagai fase kenakalan biasa. Namun, jika pola ini terjadi secara konsisten dan mengganggu kehidupan sehari-hari, orang tua sebaiknya waspada adanya gangguan mental serius. Salah satu kondisi yang kerap tidak disadari adalah conduct disorder.

Conduct Disorder

Mengenal Conduct Disorder

Conduct disorder (CD) merupakan gangguan mental yang ditandai dengan pola perilaku anak melanggar hak orang lain, aturan sosial, atau norma. Penderita CD dapat menunjukkan agresi terhadap orang atau hewan.

Gangguan ini termasuk kondisi serius yang berbeda dengan kenakalan anak pada umumnya. Hal itu karena sifatnya yang persistensi serta intensitasnya cenderung tinggi. Akibat dari ketidakmampuan mengontrol pun bisa sangat parah.

Melansir jurnal WHO (Badan Kesehatan Dunia), CD diperkirakan terjadi pada sekitar 4–10% anak maupun remaja. Adapun angka kejadiannya lebih tinggi pada anak berjenis kelamin laki-laki daripada perempuan.

Gejala CD pada Anak

Conduct disorder biasanya mulai terlihat sebelum anak berusia 10 tahun. Namun, kasus-kasus tertentu baru muncul pada masa remaja.

Gejala CD bisa bervariasi tergantung usia anak dan tingkat keparahan gangguan. Ada beberapa tanda yang umum terlihat. Sebut saja, agresi fisik seperti memukul atau menggigit teman, kekerasan terhadap hewan, perusakan barang, berbohong dan menipu, hingga mencuri.

Anak juga mungkin menentang peraturan di rumah maupun sekolah. Bahkan, sengaja menimbulkan konflik dengan orang lain.

Selain perilaku yang terlihat, anak dengan CD bisa menunjukkan masalah emosional secara tidak langsung. Misalnya mudah marah, frustrasi, atau kurang empati terhadap orang lain.

Orang tua juga bisa memperhatikan perubahan suasana hati yang drastis. Ini meliputi isolasi dari teman sebaya, atau penurunan prestasi sekolah akibat perilaku yang sulit terkendali.

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab conduct disorder bersifat multi-factor. Dengan kata lain, pemicunya melibatkan kombinasi faktor biologis, psikologis, serta lingkungan.

Faktor biologis termasuk keturunan atau riwayat gangguan mental dalam keluarga. Selain itu, juga ketidakseimbangan neurotransmitter di otak, atau gangguan perkembangan saraf.

Baca Juga:  Post-Traumatic Stress Disorder: Gejala, Mencegah dan Mengobati

Lingkungan juga berperan besar. Misalnya, pola asuh kurang konsisten, kekerasan dalam rumah tangga, pengabaian, hingga paparan perilaku kriminal. Anak yang sering berpindah sekolah, mengalami tekanan sosial, atau berada di lingkungan dengan perilaku antisosial juga memiliki risiko tinggi.

Faktor psikologis, seperti gangguan perhatian, kesulitan mengelola emosi, atau trauma masa kecil, turut memperburuk gejala CD. Kombinasi faktor-faktor ini menjadikan anak lebih rentan menunjukkan perilaku agresif disertai antisosial parah.

Cara Dokter Mendiagnosis CD

Diagnosis conduct disorder perlu dilakukan oleh tenaga medis profesional seperti psikiater atau psikolog anak. Prosesnya berlangsung dengan wawancara mendalam bersama anak dan orang tua. Ini untuk memahami riwayat perilaku, pola interaksi sosial, dan gejala yang muncul.

Dokter atau psikolog akan menggunakan kriteria diagnostik yang tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Termasuk frekuensi dan intensitas perilaku agresif, perusakan, penipuan, atau pelanggaran aturan.

Penilaian tambahan seperti observasi di sekolah dan skala perilaku dapat membantu memastikan diagnosis. Diagnosis yang tepat sangatlah penting agar intervensi dapat semua pihak sesuaikan berdasarkan kebutuhan anak.

Cara Mengatasi CD pada Anak

Penanganan conduct disorder memerlukan kombinasi psikologis, edukasi, dan kadang obat-obatan. Terapi perilaku kognitif (CBT) sering dokter atau psikolog gunakan. Tujuannya untuk membantu anak mengenali pola pikir yang memicu perilaku agresif sekaligus belajar strategi pengendalian emosi.

Selain terapi langsung kepada anak, pendidikan bagi orang tua juga tak kalah penting. Orang tua belajar menerapkan aturan konsisten, memberikan konsekuensi jelas, serta memodelkan perilaku positif. Harapannya, anak dapat tumbuh di lingkungan yang mendukung.

Jika anak menunjukkan gejala kecemasan, depresi, atau gangguan perhatian, dokter mungkin mempertimbangkan penggunaan obat-obatan. Terutama untuk mendukung pengelolaan emosi. Tindakan ini harus dengan pengawasan ketat.

Komplikasi yang Bisa Terjadi

Jika tidak segera tertangani, conduct disorder dapat menimbulkan berbagai komplikasi jangka panjang. Anak berisiko mengalami masalah akademik karena perilaku yang mengganggu di sekolah. Mereka juga menjadi kesulitan menjalin hubungan sosial serta potensi keterlibatan dalam kegiatan kriminal.

Baca Juga:  Bahaya Begadang karena Revenge Bedtime Procrastination

Selain itu, CD sering berhubungan dengan gangguan kesehatan mental lainnya. Misalnya saja, depresi berat, gangguan kecemasan berulang, penyalahgunaan zat berbahaya, atau gangguan kepribadian anti-sosial di masa dewasa.

Pencegahan Gangguan CD

Meskipun tidak semua kasus CD dapat dicegah, beberapa langkah mampu mengurangi risiko timbulnya gangguan ini. Salah satunya yakni menciptakan lingkungan keluarga yang stabil dan penuh perhatian sejak dini. Selain itu, memberikan batasan dan konsekuensi konsisten, serta mendukung anak belajar keterampilan sosial maupun emosional.

Sekolah dan masyarakat juga berperan, seperti program bimbingan serta intervensi dini untuk anak dengan masalah perilaku. Dukungan psikologis dapat membantu mengelola frustasi dan agresi. Pencegahan juga mencakup deteksi dini anak dengan faktor risiko tinggi agar segera mendapat bimbingan atau terapi.

Kapan Harus ke Dokter?

Orang tua sebaiknya mencari bantuan profesional jika anak menunjukkan perilaku yang mencurigakan. Misalnya saja, sering mengamuk atau menimbulkan masalah di lingkungan sekitar. Tanda-tanda lain termasuk penipuan atau pencurian berulang, perusakan barang, serta kesulitan membangun hubungan sosial dengan teman sebaya.

Konsultasi lebih cepat memungkinkan dokter atau psikolog merancang program terapi yang tepat. Hal ini membantu memberikan pendidikan bagi orang tua sekaligus meminimalkan dampak negatif jangka panjang pada perkembangan anak.

Secara keseluruhan, conduct disorder tidak bisa selalu kita anggap sebagai fase nakal anak semata. Penting bagi anak untuk mendapatkan diagnosis dini, intervensi psikologis, dukungan keluarga, dan pengawasan lingkungan. Hal ini membuat anak dapat belajar mengelola emosi serta perilaku secara sehat. Hasilnya pun dapat mengurangi risiko komplikasi, serta membangun keterampilan sosial yang positif.

Ditinjau oleh:

dr. Hery Murtantyo Hutomo, Sp.KJ

Spesialis Kedokteran Jiwa

Primaya Hospital Bekasi Utara

Share to :

Cerita Pasien

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Sahabat Sehat Primaya

Select an available coupon below