• Emergency
  • 150 108

Benarkah Vaksin Covid-19 Menyebabkan Mata Buta?

Benarkah Vaksin Covid-19 Menyebabkan Mata Buta

Pada akhir 2021, ada berita tentang seorang warga yang kehilangan penglihatan setelah mendapat vaksin Covid-19. Lantas banyak yang menghubungkan antara kejadian itu dan keamanan vaksin virus corona. Bahkan ada yang langsung menyebutkan warga tersebut buta karena efek samping vaksin Covid-19. Namun hasil pemeriksaan oleh dokter menyatakan warga itu mengalami neuritis optik dan tidak terkait dengan vaksinasi. Jadi sebenarnya apa yang terjadi?

 


Mengenal Neuritis Optik

Neuritis optik adalah peradangan yang mempengaruhi lapisan mielin saraf optik, yakni bagian dari saraf yang mengirimkan rangsangan visual ke otak. Saraf optik sebenarnya adalah saluran saraf yang berasal dari sel ganglion retina di bagian belakang mata. Saluran itu menjadi jalur informasi di otak. Saraf optik adalah satu-satunya saluran saraf yang tidak sepenuhnya terletak di dalam otak. Saraf ini membawa informasi visual dari retina ke area otak yang mengenali penglihatan.

Neuritis optik dapat terjadi pada anak-anak atau orang dewasa dan mungkin melibatkan salah satu atau kedua saraf optik. kondisi ini biasanya menyerang orang dewasa muda dari usia 20 hingga 40 tahun. Pada anak-anak, masalah medis ini biasanya terjadi pada kedua matanya. Sedangkan pada orang dewasa umumnya cuma satu mata.

Orang dewasa dengan neuritis optik lebih berisiko mengalami multiple sclerosis atau gangguan saraf pada otak, mata, dan tulang. Orang yang menderita Neuritis bisa mendapatkan kembali penglihatannya setelah menjalani perawatan yang tepat. Dalam kasus mata buta yang disebut efek samping vaksin Covid-19 pun pasien bisa melihat kembali meski belum pulih benar.

 

Apa Gejalanya?

Gejala neuritis optik meliputi:

  • Rasa sakit di dalam atau di sekitar mata. Rasa sakit mungkin bertambah ketika menggerakkan mata
  • Kemampuan melihat berkurang
  • Reaksi pupil tidak normal saat dihadapkan pada cahaya
  • Penglihatan warna tampak pudar atau kusam
  • Ada blind spot atau beberapa bagian penglihatan yang tidak jelas
  • Kehilangan penglihatan secara tiba-tiba pada satu atau kedua mata baik sebagian maupun seluruhnya
Baca Juga:  Gangguan Mata: Mitos dan Fakta

Gejala ini biasanya datang tiba-tiba dan memburuk selama sekitar dua minggu, tapi kemudian penglihatan bisa mulai membaik.

 

Penyebab Neuritis Optik

Penyebab pastinya tidak diketahui. Namun diperkirakan sistem kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan yang menutupi saraf optik. Neuritis optik juga dikaitkan dengan masalah kesehatan lain, termasuk:

  • Multiple sclerosis
  • Penyakit autoimun
  • Infeksi bakteri dan virus

Sebanyak 50 persen orang yang didiagnosis menderita multiple sclerosis mengalami neuritis optik.

 

Cara Mendeteksinya?

Jika mengalami sakit mata atau kehilangan penglihatan, Anda harus menemui dokter untuk mendapat pemeriksaan. Dokter mungkin merujuk Anda ke spesialis mata (dokter mata) yang dapat membuat diagnosis dengan melakukan pemeriksaan:

  • Fungsi penglihatan/visus
  • Bagian dalam mata/segmen posterior seperti nervus opticus dan retina
  • Penglihatan warna
  • Penglihatan sisi (perifer)
  • Bagaimana pupil mata bereaksi terhadap cahaya

Anda mungkin juga memerlukan tes lain untuk mengesampingkan penyakit lain atau untuk mengetahui penyebab neuritis optik. Dalam beberapa kasus, Anda mungkin diminta menjalani pemindaian magnetic resonance imaging (MRI) untuk memastikan Anda tidak memiliki multiple sclerosis.

 

Apakah ini Efek Samping Vaksin Covid-19?

Seperti vaksin lain, vaksin Covid-19 memiliki efek samping. Tapi sejauh ini belum ada laporan mata buta atau neuritis optik sebagai efek samping vaksin ini. Meski begitu, dalam sebuah penelitian berdasarkan peninjauan terhadap kejadian masalah mata selama 2010-2020, neuritis optik didapati sebagai kejadian paling umum yang terkait dengan sembilan vaksin berbeda dengan waktu kemunculan gejala rata-rata 10,8 hari setelah penyuntikan.

Baca Juga:  Cara Menjaga Kesehatan Mata

Soal berita tentang orang yang jadi buta setelah menerima vaksin Covid-19, dokter yang memeriksa memastikan orang tersebut mengalami neuritis optik dan Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) menyebutkan penyakit yang dialami orang tersebut bukanlah efek samping vaksin Covid-19.

Dalam beberapa kasus, pasien tak memerlukan perawatan apa pun. Setelah beberapa minggu, penyakit itu mungkin hilang sendiri dan penglihatan kembali normal. Kemungkinan pulih lebih besar jika pasien tak punya masalah kesehatan lain yang memicu neuritis optik. Namun, pada beberapa kasus kehilangan penglihatan dapat menetap, sehingga dokter merekomendasikan pemberian steroid yang disuntikkan ke pembuluh darah Anda untuk meminimalkan peradangan dan pembengkakan serta membantu pemulihan penglihatan.

 

Kapan Harus ke Dokter

Gejala neuritis optik bisa muncul dan hilang sendiri dalam beberapa hari atau minggu. Meski demikian, masalah penglihatan ini bisa mengganggu aktivitas dan produktivitas sehari-hari. Maka sebaiknya konsultasikan penyakit itu kepada dokter untuk pemulihan lebih cepat sekaligus mencegah penyakit kambuh lagi dengan mendeteksi penyebabnya. Dari penjelasan itu diketahui bahwa kabar viral seorang warga buta setelah mendapat vaksin Covid-19 tak terbukti kebenarannya.

 

Narasumber

dr. Eka Rahmadini HS, SpM

Dokter Spesialis Mata

Primaya Hospital Bhakti Wara

 

Referensi:

Adverse Ocular Events following COVID-19 Vaccination. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8475832/. Diakses 3 Januari 2022

Optic Neuritis. https://www.medicinenet.com/optic_neuritis/article.html. Diakses 3 Januari 2022

Optik Neuritis. https://www.aapos.org/glossary/optic-neuritis. Diakses 3 Januari 2022

Optic neuritis post-COVID-19 infection. A case report with meta-analysis. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8295047/. Diakses 3 Januari 2022

Optic neuritis after COVID-19 vaccine application. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/cen3.12682. Diakses 3 Januari 2022

Optic neuropathy after COVID-19 vaccination: a report of two cases. https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/00207454.2021.2015348. Diakses 3 Januari 2022

Bagikan ke :

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.