• Emergency
  • 150 108

Penyakit Paru Kronis : Penyebab, Pencegahan dan Pengobatan

Penyakit Paru Kronis Penyebab, Pencegahan dan Pengobatan

Paru-paru sebagai salah satu organ terpenting manusia tak lepas dari risiko penyakit. Salah satunya adalah penyakit paru kronis yang bisa berlangsung bertahun-tahun hingga mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Terdapat banyak jenis penyakit paru kronis, dari penyakit paru obstruktif kronis (COPD), penyakit asma, fibrosis paru, hingga kanker paru. Semua masalah medis ini membutuhkan perhatian dari masyarakat agar terhindar dari penurunan kualitas hidup. Jika membutuhkan layanan homecare yang berkualitas, hubungi Kavacare Support di WA 0811-1446-777.

 


Apa Itu Penyakit Paru Kronis?

Penyakit paru kronis adalah penyakit kronis yang menyerang paru-paru dan bagian sistem pernapasan lain. Kronis di sini mengacu pada lamanya penyakit itu dialami oleh pasien dan dampak jangka panjang yang ditimbulkannya. Suatu penyakit disebut kronis jika bertahan selama satu tahun atau lebih dan membutuhkan perawatan medis secara berkelanjutan atau membatasi kehidupan sehari-hari pasien atau keduanya.

Beberapa jenis penyakit paru kronis yang paling umum antara lain penyakit paru obstruktif kronis atau COPD, kanker paru, fibrosis paru, penyakit asma, sleep apnea, dan penyakit paru akibat kerja. COPD dan asma adalah dua penyakit paru yang paling banyak dialami. Semua orang dari segala usia bisa terkena penyakit paru kronis, dari bayi hingga lansia. Dampak penyakit ini sangat besar tidak hanya pada kehidupan pasien, tapi juga keluarga dan orang lain di sekitarnya.

Penyakit paru kronis tercatat sebagai salah satu gangguan kesehatan yang paling umum di dunia. Sekitar 4 juta orang meninggal di seluruh dunia akibat penyakit ini. Sebagian besar kondisi paru kronis tak dapat disembuhkan sepenuhnya. Tapi jika penanganannya benar, orang yang mengidap penyakit kronis tetap dapat menjalani kehidupan normal.

 

Kenapa Kita Bisa Terkena Penyakit Paru Kronis?

Terdapat dua faktor risiko utama yang bisa menyebabkan penyakit paru kronis, yakni asap tembakau dan kualitas udara dalam dan luar ruangan. Penyakit paru akibat rokok bisa disebabkan oleh kebiasaan merokok ataupun paparan asap rokok dari orang lain. Orang yang gemar merokok lebih berisiko terkena COPD, penyakit asma, dan kanker paru.

Menurut hasil survei Global Youth Tobacco Survey 2019 yang dirilis Badan Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 225.700 orang meninggal tiap tahun akibat rokok atau penyakit lain yang berkaitan dengan asap rokok di Indonesia. Paparan asap rokok juga bisa menyebabkan sindrom kematian bayi mendadak pada bayi baru lahir.

Kandungan racun asap rokok dan udara yang tercemar secara perlahan tapi pasti akan mempengaruhi saluran pernapasan, termasuk paru-paru. Karena itu, orang yang sehari-hari sering terpapar kualitas udara yang buruk lebih rentan terkena penyakit paru kronis.

 

Apa yang Harus Dilakukan untuk Pencegahan?

Penyakit paru kronis dapat dicegah. Anda bisa melakukan upaya pencegahan dengan cara-cara berikut ini:

1. Berhenti merokok

Jika Anda merokok, berhentilah. Jika bukan perokok, jangan coba-coba. Merokok adalah penyebab utama penyakit pernapasan yang serius, termasuk kanker paru dan COPD. Asap rokok mengandung lebih dari 4.000 zat kimia berbahaya, sebanyak 50 di antaranya diketahui dapat menyebabkan kanker.

Baca Juga:  Apakah Perlu Berjemur Saat Puasa di Tengah Corona Covid-19?

2. Hindari paparan asap rokok

Asap rokok dari orang lain sama berbahayanya dengan asap rokok yang diisap sendiri. Dua pertiga asap dari rokok tak dihirup oleh si perokok, melainkan menyebar ke udara di sekitarnya. Maka pastikan Anda menjaga diri agar tidak menjadi perokok pasif.

3. Cuci tangan rutin

Diperkirakan 80 persen penyakit paru menular lewat tangan yang tercemar kuman dan zat kimia berbahaya lain. Karena itu, terapkan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setiap hari. Gunakan hand sanitizer jika tak ada sabun dan air.

4. Waspada polusi udara

Polusi udara di dalam dan luar ruangan bisa memicu penyakit paru kronis. Kandungan polusi bisa membuat jaringan paru teriritasi, mengalami peradangan, hingga rusak. Polusi sekecil apa pun dapat menyebabkan masalah pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.

5. Lindungi diri dari risiko di tempat kerja

Beberapa orang yang bekerja di sektor tertentu lebih berisiko terkena kanker paru, penyakit asma, COPD, fibrosis paru, dan berbagai penyakit paru kronis lainnya. Gunakan alat pelindung dengan benar jika Anda bekerja di area dengan banyak debu dan zat kimia yang bisa masuk ke saluran pernapasan.

 

Apa yang Harus Dilakukan untuk Pengobatan Penyakit Paru Kronis?

Tujuan pengobatan penyakit paru kronis adalah mengendalikan gejala dan mencegah penyakit bertambah parah sekaligus membantu pasien menjalani kehidupan dengan normal. Perawatan bagi pasien penyakit paru kronis tergantung masalah yang dialami, antara lain:

1. Rehabilitasi paru

Metode perawatan ini mencakup fisioterapi, olahraga, teknik pernapasan, terapi nutrisi, relaksasi, konseling dukungan emosional, edukasi tentang kondisi dan pengobatan pasien, serta strategi untuk meningkatkan kualitas hidup.

2. Obat-obatan

Dokter mungkin meresepkan obat khusus untuk meredakan peradangan dan membantu pernapasan, bergantung pada gejala dan tingkat keparahan penyakit paru-paru. Dalam kasus berisiko tinggi, dokter mungkin juga menyarankan terapi oksigen.

3. Operasi

Operasi biasanya menjadi opsi terakhir untuk menangani COPD untuk mengurangi volume paru. Pasien juga mungkin menjalani prosedur operasi transplantasi jika fungsi paru sudah rusak total.

4. Perubahan gaya hidup

Demi menjaga kualitas hidup tetap baik, pasien juga akan diminta mengubah gaya hidup tidak sehat yang berkontribusi terhadap tingkat keparahan penyakit yang diderita. Misalnya dengan berhenti merokok bila sebelumnya terbiasa merokok.

 

Berbagai Macam Obat untuk Penyakit Paru Kronis, Mana yang Perlu Dipilih?

Dokter mungkin akan meresepkan beberapa macam obat untuk menangani penyakit paru kronis. Sebaiknya pasien mengikuti resep dokter yang dibuat berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap kondisi pasien. Obat itu antara lain:

  • Bronkodilator untuk membuka saluran pernapasan ke paru-paru agar napas menjadi lega. Obat ini bisa digunakan dengan menggunakan alat inhaler atau nebulizer.
  • Kortikosteroid untuk mengatasi peradangan pada paru akibat rokok, suhu udara ekstrem, atau polusi udara. Obat ini bisa dipakai dengan alat inhaler atau nebulizer, juga dalam bentuk tablet atau lewat suntikan.
  • Antibiotik yang berfungsi mencegah infeksi akibat bakteri yang bisa muncul ketika seseorang mengalami penyakit paru kronis, terutama COPD.
  • Vaksin untuk mencegah infeksi akibat virus yang bisa memperparah kondisi paru.
  • Anxiolitik untuk meredakan gangguan kecemasan yang kerap muncul pada penderita penyakit paru kronis, terutama ketika penyakit sudah mencapai stadium akhir. Contoh obat: diazepam dan alprazolam.
  • Opioid untuk meredakan nyeri dengan dosis tinggi. Obat opioid hanya boleh digunakan dengan resep dokter.
Baca Juga:  Masa Inkubasi Covid-19, Berapa Lama?

Pasien dapat berkonsultasi dan meminta penjelasan tentang obat yang diresepkan sehingga dapat menentukan pilihan yang tepat untuk menangani penyakitnya.

 

Kapan Perlu Kontrol ke Tenaga Medis untuk Penyakit Paru Kronis?

Jika Anda merasa ada masalah pernapasan dan memiliki risiko terkena penyakit kanker paru, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter spesialis paru. Gejala penyakit paru kronis bervariasi tergantung jenisnya. Tapi umumnya ada gejala seperti:

  • Sulit bernapas, khususnya ketika beraktivitas
  • Keluar bunyi dari dada saat bernapas (mengi)
  • Dada terasa sesak
  • Batuk yang berlangsung lama hingga berbulan-bulan baik berdahak maupun tidak
  • Badan terasa lemas
  • Berat badan turun tanpa penyebab jelas
  • Bagian kaki bawah terlihat membengkak

Jika Anda didiagnosis mengalami penyakit paru kronis, dokter akan meminta Anda menjalani kontrol secara berkala sesuai dengan kondisi Anda dan rekomendasi dokter.

 

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Hidup Nyaman dengan Penyakit Paru Kronis?

Tim dokter yang memeriksa pasien akan membantu memberikan perawatan yang sesuai dengan kondisi pasien agar pasien tetap dapat hidup nyaman dengan penyakit paru kronis. Dari sisi pasien sendiri, perlu ada upaya aktif demi menjaga kualitas hidup. Yang paling utama adalah menerapkan gaya hidup sehat. Contoh konkretnya antara lain tidak merokok dan menjauhi asap rokok. Olahraga teratur juga berperan dalam pemulihan fungsi sistem pernapasan. Memastikan konsumsi makanan dengan gizi seimbang juga penting untuk menjaga berat badan agar tidak sulit bernapas.

Pasien dapat mengikuti program terapi yang disediakan rumah sakit atau layanan homecare untuk menangani penyakit paru kronis. Lewat program ini, pasien akan dibekali cara untuk mengendalikan gejala sekaligus meningkatkan kualitas hidup yang terpengaruh penyakit yang diderita. Mendapatkan layanan homecare untuk penyakit paru kronis dapat berupa pendampingan pribadi di rumah, atau konsultasi ahli gizi, hingga kunjungan ahli terapi.

 

Referensi:

Chronic Lung Diseases: Causes and Risk Factors. https://www.healthline.com/health/understanding-idiopathic-pulmonary-fibrosis/chronic-lung-diseases-causes-and-risk-factors. Diakses 14 April 2022

A Nationwide Framework for Surveillance of Cardiovascular and Chronic Lung Diseases. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK83163/. Diakses 14 April 2022

About Chronic Diseases. https://www.cdc.gov/chronicdisease/about/index.htm. Diakses 14 April 2022

COPD.https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/copd/symptoms-causes/syc-20353679. Diakses 14 April 2022

Chronic respiratory diseases. https://www.who.int/health-topics/chronic-respiratory-diseases#tab=tab_2. Diakses 14 April 2022

Tips for Improving Your Quality of Life With COPD. https://www.webmd.com/lung/copd/copd-treatments-improving-your-quality-of-life. Diakses 14 April 2022

Bagikan ke :

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.