• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Memahami Penyakit Lupus (SLE) dan Dampaknya bagi Tubuh

Systemic Lupus Erythematosus

Penyakit lupus adalah suatu penyakit autoimun yang melibatkan sistem kekebalan tubuh yang menyerang organ sehat dan memicu peradangan pada berbagai bagian tubuh. Diagnosis kondisi ini cukup sulit, karena gejalanya sering menyerupai penyakit lain, termasuk ruam wajah berbentuk sayap kupu-kupu.

Hingga kini, penyakit lupus  belum ditemukan terapi yang definitif. Kendati demikian, berbagai pengobatan medis dapat membantu mengelola gejala serta meminimalkan pemicu dari faktor lingkungan atau genetik.

Systemic Lupus Erythematosus

Mengenal Penyakit Lupus

Berdasarkan penjelasan dari Mayo Clinic, lupus adalah penyakit autoimun yang terjadi saat sistem kekebalan tubuh menyerang jaringannya sendiri. Kondisi ini memicu peradangan luas yang dapat mempengaruhi kulit, sendi, ginjal, otak, jantung, hingga paru-paru. Nama lain dari penyakit ini adalah SLE atau Systemic Lupus Erythematosus.

Sistem imun seharusnya menjadi garda terdepan pelindung tubuh dari serangan virus dan bakteri. Namun, pada penderita lupus, tubuh memproduksi antibodi yang justru menyerang sel-sel sehat di dalam tubuh. Hal ini menuntut manajemen medis yang berkelanjutan. Tujuannya agar penderita tetap dapat mempertahankan kualitas hidup yang optimal dan produktif.

Gejala yang Sering Muncul

Menurut informasi dari NHS, gejala penyakit Lupus pada setiap individu sangat bervariasi tergantung pada organ mana yang mengalami peradangan. Gejala yang paling umum dirasakan adalah rasa lelah ekstrem yang tidak kunjung hilang. Selain itu, demam tanpa penyebab yang jelas, nyeri, kaku, dan pembengkakan pada sendi.

Penderita sering mengalami ruam kulit berbentuk seperti kupu-kupu. Bentuk ini melintasi pipi dan pangkal hidung  yang merupakan tanda khas dari penyakit lupus.

Gejala lain yang dapat muncul yakni jari tangan atau kaki kelihatan pucat saat merasa dingin atau stres. Ada juga sesak napas, nyeri dada, serta sakit kepala dan berkurangnya memori.

Gejala-gejala ini sering kali tidak  disadari sebagai bagian dari penyakit autoimun. Hal ini karena sifatnya yang sering dianggap sebagai kelelahan biasa.

Dampak Lupus bagi Tubuh

Merujuk pada penjelasan dari Kementerian Kesehatan RI, penyakit lupus bisa menyerang segala usia, dari bayi hingga wanita usia 89 tahun. Dampak lupus sangat luas, karena peradangan dapat menyerang berbagai sistem organ vital secara sistemik.

Pada ginjal, peradangan dapat menyebabkan kondisi serius yang disebut lupus nefritis. Jenis lupus ini menurunkan kemampuan ginjal untuk menyaring limbah dari darah.

Pada sistem saraf pusat, Lupus dapat memengaruhi otak, memicu sakit kepala kronis, gangguan memori, hingga kejang. Selain itu, peradangan pada selaput pembungkus organ seperti jantung dan paru-paru, dapat menyebabkan nyeri dada tajam saat bernapas.

Lupus juga memengaruhi sel darah yang meningkatkan risiko anemia, penurunan jumlah sel darah putih, serta gangguan pembekuan darah serius. Dampak ini tidak hanya bersifat fisik. Kondisi ini juga memengaruhi kondisi psikologis pasien karena harus hidup dengan ketidakpastian (keraguan).

Penyebab dan Faktor Risiko

Berdasarkan keterangan dari CDC, penyebab pasti Lupus belum diketahui sepenuhnya. Namun, penyakit ini muncul akibat kombinasi kompleks faktor genetik dan lingkungan.

Baca Juga:  Penyakit Tiroid: Gejala, Diagnosis, dan Pengobatannya

Seseorang yang memiliki kecenderungan genetik tertentu mungkin akan menderita lupus ketika terpapar pemicunya. Contohnya seperti sinar matahari (UV), infeksi virus, atau penggunaan obat-obatan tertentu yang merangsang respons imun berlebih.

Faktor hormonal juga memainkan peran penting dimana penyakit ini jauh lebih sering menyerang perempuan pada usia reproduktif. Perempuan usia 15 hingga 45 tahun memiliki risiko lebih tinggi. Hal ini karena adanya dugaan bahwa hormon estrogen berkontribusi dalam memicu hingga meningkatkan aktivitas autoimun dalam tubuh.

Cara Dokter Mendiagnosis Lupus

Mendiagnosis penyakit lupus memerlukan kehati-hatian, karena gejalanya yang menyerupai banyak penyakit lainnya. Tidak ada tes tunggal yang dapat memastikan diagnosis lupus secara instan.

Dokter biasanya melakukan kombinasi pemeriksaan riwayat medis, pemeriksaan fisik secara menyeluruh, dan tes laboratorium. Tes darah sangat penting untuk mendeteksi Antinuclear Antibody (ANA), yang merupakan indikator umum aktivitas sistem imun yang menyerang sel tubuh sendiri.

Dokter juga mungkin melakukan tes urine untuk memeriksa keberadaan protein atau sel darah merah. Mengingat, ini menjadi penanda awal bahwa sistem kekebalan tubuh mulai berdampak pada fungsi ginjal.

Selain itu, dalam beberapa kasus, dokter mungkin merekomendasikan biopsi jaringan. Tujuannya untuk mendapatkan konfirmasi yang lebih akurat mengenai peradangan yang terjadi di organ tubuh dan menetapkan terapinya.

Cara Mengatasi dan Pengobatan

Hingga saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan lupus sepenuhnya. Fokus utama penanganan medis adalah untuk mengendalikan gejala, mencegah peradangan, serta meminimalkan kerusakan organ jangka panjang. Pengobatan akan disesuaikan secara individual dengan tingkat keparahan gejala yang dialami oleh masing-masing pasien.

Dokter mungkin meresepkan obat anti-inflamasi non steroid (NSAID) untuk mengurangi nyeri dan peradangan sendi yang ringan. Obat golongan anti malaria, seperti hidroksiklorokuin juga sering digunakan. Tujuannya untuk mengontrol ruam, nyeri sendi, dan mencegah kerusakan organ secara jangka panjang.

Untuk kasus yang lebih berat, dokter akan memberikan obat imunosupresan. Ini adalah golongan obat yang berfungsi menekan aktivitas sistem kekebalan tubuh. Fungsinya agar tidak terus-menerus menyerang jaringan tubuh sendiri.

Komplikasi yang Dapat Terjadi

Jika tidak dikelola dengan baik dan konsisten, peradangan akibat lupus dapat menyebabkan kerusakan permanen pada organ vital. Ginjal adalah organ yang paling sering terdampak. Hal ini dapat memicu kondisi berbahaya seperti gagal ginjal tahap akhir.

Baca Juga:  Transplantasi Hematopoietik Autolog, Apa Saja Manfaatnya?

Komplikasi pada sistem kardiovaskular juga bisa terjadi. Di sini, penyakit lupus meningkatkan risiko peradangan pada otot jantung (miokarditis) atau penyempitan pembuluh darah yang memicu serangan jantung.

Selain itu, lupus dapat meningkatkan risiko masalah paru-paru kronis, gangguan saraf, hingga anemia hemolitik. Komplikasi ini menegaskan betapa pentingnya pengawasan medis yang ketat dan kepatuhan pasien.

Pencegahan dan Pengelolaan

Meskipun tidak dapat sepenuhnya dicegah karena melibatkan faktor genetik, langkah terbaik yang dapat diambil adalah menghindari pemicu kekambuhan (flare). Pasien sangat dianjurkan untuk menggunakan tabir surya dengan faktor pelindung tinggi (sunscreen SPF 50 atau lebih). Terutama setiap hari saat beraktivitas di luar ruangan untuk melindungi kulit dari sinar UV.

Selain itu, penderita harus beristirahat cukup. Penderita lupus harus mengelola tingkat stres dengan bijak melalui teknik relaksasi dan menghindari kebiasaan merokok.

Menerapkan pola makan sehat juga sangat membantu dalam menjaga stabilitas kondisi kesehatan secara menyeluruh bagi penyintas lupus. Tujuannya agar sistem imun tidak terpicu secara berlebihan.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera jadwalkan kunjungan ke dokter jika mengalami gejala yang menetap seperti nyeri sendi yang tidak kunjung hilang. Selain itu, jika terdapat ruam wajah yang muncul setelah terpapar matahari, kelelahan hebat, atau demam.

Jika sudah terdiagnosa lupus, jangan ragu untuk menghubungi dokter segera bila muncul tanda-tanda baru. Misalnya seperti pembengkakan di area kaki, perubahan warna urine, atau sesak napas yang tidak biasa.

Deteksi dini penyakit lupus dan pengobatan yang konsisten adalah kunci utama kesehatan. Ini adalah Tindakan yang tepat sehingga penderitanya tetap dapat menjalani hidup yang produktif.

Jangan mengabaikan sinyal tubuh. Konsultasi rutin dengan tim medis akan memastikan setiap perubahan kondisi dapat dikelola dengan langkah yang tepat. Melalui tindakan medis yang efektif, penderita penyakit lupus dapat mengelola kondisi mereka dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih aman.

Ditinjau oleh:

 

Spesialis Penyakit Dalam

Primaya Hospital Makassar

Referensi:

Share to :

Cerita Pasien

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Sahabat Sehat Primaya

Select an available coupon below