• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Penyandang Diabetes Berpuasa, Bolehkah?

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang paling dinanti oleh umat muslim tak terkecuali oleh penyandang diabetes (diabetisi). Bagi diabetisi, kegiatan berpuasa dalam jangka waktu yang cukup lama akan meningkatkan timbulnya risiko dehidrasi, hipoglikemia (gula darah sangat rendah) maupun hiperglikemia (gula darah sangat tinggi). Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, pemahaman  secara benar tentang perubahan perilaku diabetisi sangat diperlukan  selama bulan suci Ramadhan karena berdampak pada kadar gula darah selama berpuasa. Pemahaman yang baik akan sangat membantu dalam penyusunan progam pengobatan diabetisi selama menjalankan ibadah puasa.

Berpuasa di bulan Ramadhan merupakan keputusan pribadi namun disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter yang merawat. Yang harus dipahami adalah, perawatan kesehatan diabetisi sangat bersifat individual. Perencanaan pengelolaan akan berbeda pada setiap individu, begitu pula pengelolaan pada saat berpuasa Ramadhan. American Diabetes Association merekomendasikan diabetisi tipe 2 untuk melakukan perencanaan berpuasa dan pemeriksaan kesehatan sekurang-kurangnya satu atau dua bulan sebelum Ramadhan. Panduan tatalaksaan kelainan endokrin di daerah Asia Selatan juga merekomendasikan setidaknya perencanaan pengelolaan pada saat bulan Ramadhan dilakukan 3 bulan sebelumnya. Para diabetisi sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan risiko diabetisi dalam berpuasa. Berdasarkan  American Diabetes Association tahun 2020 terdapat 4 kategori risiko yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, dan rendah.

buat jani dokter primaya

Sebelum menjalankan ibadah puasa Ramadhan perlu mengindentifikasi apakah si Diabetisi termasuk pada kelompok risiko tinggi atau sangat tinggi. Pada kelompok ini tidak disarankan untuk menjalani puasa Ramadhan dikarenakan komplikasi akut yang sering terjadi. Kelompok ini antara lain adalah penyandang diabetes dengan: riwayat hipoglikemia (gula darah sangat rendah) berat dalam 3 bulan terakhir menjelang Ramadhan, riwayat hipoglikemia berulang, hipoglikemia yang tidak disadari atau bergejala, kendali gula yang buruk (gula darah masih relative tinggi), Diabetes Melitus tipe 1, sedang sakit atau dalam perawatan di rumah sakit, riwayat koma hiperglikemia (kadar gula tinggi) dalam 3 bulan terakhir menjelang Ramadhan, menjalankan pekerjaan fisik yang berat, hamil atau cuci darah kronik. Penyandang diabetes dengan ciri–ciri tersebut disarankan untuk tidak menjalankan puasa, namun sekali lagi kembali pada keputusan individu. Maka dari itu sebaiknya diabetisi dengan kriteria tersebut benar – benar melakukan persiapan yang baik dan diskusi yang mendalam dengan dokter yang merawat sebelum memulai ibadah.

Baca Juga:  Tips Memilih Dokter Kandungan Untuk Konsultasi

Komplikasi pada penyandang diabetes

Komplikasi akut yang sering terjadi pada penyandang diabetes antara lain adalah hipoglikemia, yaitu gula darah rendah, yang pada kondisi berat dapat  menyebabkan kehilangan kesadaran yaitu koma. Dilaporkan kejadian hipoglikemia di bulan Ramadhan dapat meningkat hingga 7 kali lipat pada pasien DM dan berefek pada meningkatnya angka rawat inap akibat hipoglikemia. Komplikasi lain antara lain adalah hiperglikemia yang dapat meningkat hingga 5 kali lipat pada pasien DM di bulan Ramadhan . Kendali gula yang buruk dapat bertambah berat dan mengakibatkan terjadinya  kondisi lanjut seperti Ketoasidosis Diabetikum atau krisis hiperglikemia yang merupakan salah satu kondisi yang mengancam nyawa. Hal lain yang dapat terjadi pada penyandang diabetes adalah dehidrasi dan meningkatnya kekentalan darah yang berakibat pada meningkatnya risiko stroke dan serangan jantung.

Gejala hipoglikemia yang harus diwaspadai oleh penderita antara lain adalah adanya gejala lemas disertai berkeringat banyak, gelisah, sakit kepala, bingung dan pusing, mudah mengantuk, mudah lapar, mudah marah dan detak jantung yang cepat. Apabila merasakan gejala seperti tersebut diatas, segeralah memeriksakan gula Anda. Apabila didapati gula darah < 70 mgdL, maka Anda disarankan harus segera berbuka puasa. Efek jangka panjang kondisi hipoglikemia dapat menyebabkan hilangnya kesadaran atau kejang yang memerlukan penanganan darurat. Selain gejala hipoglikemia, gejala hiperglikemia juga harus diwaspadai. Beberapa tanda hiperglikemia adalah  lemas, haus yang berlebihan, hilangnya konsentrasi, sering buang air kecil dan sakit kepala atau didapatkan kadar gula darah >300 md/dL maka diabetisi sebaiknya membatalkan puasa karena pada kondisi hiperglikemia yang berat dan tidak segera ditangani dapat menyebabkan koma.

Tips untuk penyandang diabetes

Diabetisi sebaiknya berkonsultasi dengan dokter  untuk mempersiapkan diri menjalani ibadah Ramadhan. Konsultasi sebaiknya dilakukan 1-3 bulan sebelum berpuasa meliputi pemeriksaan kesehatan rutin, menghitung resiko berpuasa, diskusi tentang perencanaan diet, serta aktivitas fisik selama berpuasa dan pengaturan dosis dan jadwal konsumsi obat-obatan selama bulan puasa. Pemantauan kadar gula darah secara mandiri menggunakan alat periksa gula darah  selama berpuasa sangat disarankan. Dianjurkan pemeriksaan dilakukan minimal 3-4 kali dalam sehari yaitu saat sahur, tengah hari (pukul 12.00 – 13.00), saat berbuka dan 2 jam setelah berbuka puasa, selain itu juga dapat melakukan pemeriksaan tambahan bila ada keluhan. Bila ditemukan kadar gula darah <70 mg/dL  beberapa jam saat mulai berpuasa maka dianjurkan untuk segera membatalkan puasa, begitu pula bila kadar gula darah >300 mg/dL agar dapat terhindar dari komplikasi yang berat.

Baca Juga:  Penyakit Kencing Manis (Diabetes Mellitus)

Pola makan atau diet selama bulan puasa adalah hal mutlak yang harus diperhatikan oleh diabetisi.  Diabetisi juga dianjurkan untuk sahur mendekati jam imsak misalnya 30 menit sebelum imsak. Berbagai macam kudapan yang biasanya tersedia pada bulan Ramadhan kadang mengganggu usaha penyandang diabetes untuk dapat menjaga stabilisasi kadar gula selama berpuasa sehingga edukasi dan pemahaman yang baik terhadap pengaturan pola makan harus dimengerti oleh penyandang dan juga keluarga. Asupan cairan yang cukup (selama tidak ada pembatasan cairan karena penyakit tertentu), harus sangat diperhatikan. Diskusi tips dan trik konsumsi cairan untuk tetap menjaga status hidrasi selama bulan puasa sangat penting bagi penyandang diabetes. Dianjurkan mengkonsumsi cairan yang cukup sebelum memulai berpuasa dan setelah berbuka puasa, atau pada saat dimana masih bisa mengkonsumsi cairan untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Diabetisi juga dianjurkan untuk tetap melakukan aktivitas fisik selama bulan Ramadhan, tentunya olahraga ringan yang masih aman dilakukan. Hindari melakukan olahraga saat siang hari dan  olahraga dapat dimulai 1 jam sebelum berbuka atau saat mendekati jadwal berbuka. Sholat tarawih juga dapat dipertimbangakan sebagai salah satu bagian aktivitas fisik selama berpuasa.

Sebagai kesimpulan, puasa Ramadhan adalah ibadah yang membawa keberkahan bagi semua umat Muslim, baik secara spiritual maupun jasmani. Pada penyandang diabetes perlu mendapat perhatian dan perlakukan khusus dalam hal berpuasa. Agar Diabetisi dapat menjalani ibadah dengan aman, terhindar dari komplikasi dan merasakan manfaat ibadah secara maksimal,  maka perlu persiapan yang baik sebelum melakukan  puasa di bulan suci Ramadhan. . Marhaban Ya Ramadhan dan selamat menjalankan Ibadah Puasa bagi semua Diabetisi.

Narasumber:

DR. dr. Fabiola Maureen Shinta Adam, Sp. PD-KEMD

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Primaya Hospital Makassar

 

Share to :

Buat Janji Dokter

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.