Infeksi telinga pada anak, atau secara medis disebut otitis media, merupakan salah satu penyakit yang paling sering dialami oleh balita, terutama sebagai komplikasi setelah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) atau pilek. Di Indonesia, diperkirakan 60 hingga 80 persen anak pernah mengalami setidaknya satu kali infeksi telinga sebelum mencapai usia 3 tahun. Angka kunjungan ke dokter akibat kondisi ini sangat tinggi karena gejala utamanya berupa nyeri hebat yang muncul secara mendadak dan demam tinggi.
Banyak orang tua di Indonesia yang masih menganggap kondisi ini sebagai “telinga masuk angin” atau kemasukan air, lalu memberikan obat tetes telinga sembarangan tanpa resep dokter. Padahal, infeksi telinga akut memerlukan penanganan yang tepat untuk mencegah kondisi menjadi kronis atau menyebabkan robeknya gendang telinga (perforasi). Dengan langkah pencegahan seperti vaksin PCV (Pneumokokus)Â dan menjauhkan anak dari paparan asap rokok, risiko infeksi telinga dapat diturunkan hingga 50 persen. Mengingat infeksi yang berulang dapat mengganggu pendengaran dan perkembangan bicara anak, pemahaman mengenai tanda dan penanganan yang benar sangatlah krusial.
Mengenal Infeksi Telinga pada Anak
Otitis media adalah peradangan pada telinga tengah yang terletak tepat di belakang gendang telinga. Infeksi ini biasanya dipicu oleh bakteri atau virus yang bermigrasi dari tenggorokan melalui saluran kecil yang disebut tuba Eustachius.
Jenis-jenis infeksi telinga yang umum:
- Otitis Media Akut (OMA): Infeksi mendadak yang disertai nyeri, kemerahan, dan terkadang demam.
- Otitis Media Efusi (OME): Terdapat penumpukan cairan di telinga tengah namun tanpa gejala infeksi aktif. Ini sering kali mengganggu pendengaran anak secara halus.
- Otitis Media Supuratif kronis:Infeksi yang berlangsung lama atau berulang, yang berisiko merusak struktur telinga secara permanen.
Mengapa Anak Kecil Sangat Rentan? Anak balita, terutama usia 6–24 bulan, paling rentan karena struktur tuba Eustachius mereka masih pendek, sempit, dan posisinya lebih horizontal dibandingkan orang dewasa. Hal ini memudahkan kuman dari hidung atau tenggorokan untuk masuk ke telinga tengah, terutama saat anak sedang pilek.
Menurut American Academy of Pediatrics 2024, otitis media paling sering usia 6–24 bulan.
Infeksi telinga bisa sembuh sendiri atau butuh antibiotik.
Tanda Infeksi Telinga pada Anak
Karena bayi dan balita belum bisa mengutarakan rasa sakitnya dengan kata-kata, orang tua harus peka terhadap perubahan perilaku yang menjadi tanda khas infeksi:
Tanda pada Bayi dan Balita:
- Menarik atau Memegang Telinga: Anak tampak sering menarik-narik telinganya dengan gemas atau kesakitan.
- Rewel Berat: Menangis lebih sering dari biasanya, terutama saat dibaringkan karena tekanan di telinga meningkat saat posisi rebahan.
- Demam: Suhu tubuh meningkat sebagai respon terhadap infeksi.
- Sulit Tidur: Rasa nyeri yang berdenyut sering kali memburuk di malam hari.
- Kurang Nafsu Makan: Proses mengisap atau mengunyah menyebabkan perubahan tekanan di telinga yang memicu nyeri.
Tanda pada Anak yang Lebih Besar:
- Nyeri Telinga Hebat: Anak dapat mengeluh telinganya terasa “penuh” atau sangat sakit.
- Pendengaran Berkurang: Anak tampak tidak merespons suara pelan atau volume televisi diputar lebih keras.
- Cairan Keluar: Adanya cairan bening, kuning, atau bahkan bernanah yang keluar dari liang telinga (pertanda gendang telinga mungkin sudah robek).
- Sakit Kepala: Rasa nyeri yang menjalar ke sisi kepala.
Gejala ini paling sering muncul 3–5 hari setelah anak mengalami pilek atau batuk. Jika Anda melihat cairan keluar dari telinga, jangan mencoba membersihkannya dengan cotton bud terlalu dalam, karena hal ini dapat memperparah luka pada gendang telinga.
Penyebab Infeksi Telinga pada Anak
Memahami penyebab infeksi telinga sangat penting bagi orang tua agar dapat melakukan langkah pencegahan yang efektif. Infeksi telinga jarang berdiri sendiri; biasanya, ini adalah “penyakit ikutan” yang dipicu oleh kondisi kesehatan lain di area hidung dan tenggorokan.
Faktor Penyebab Utama:
- Infeksi Virus ISPA: Virus penyebab batuk pilek adalah pemicu paling umum. Virus menyebabkan peradangan di saluran napas yang kemudian menjalar ke telinga tengah melalui tuba Eustachius.
- Infeksi Bakteri: Bakteri seperti Streptococcus pneumoniaedan Haemophilus influenzae sering kali mengambil alih saat daya tahan tubuh anak menurun akibat virus, menyebabkan infeksi bernanah di balik gendang telinga.
- Tuba Eustachius Buntu: Saluran ini berfungsi menyeimbangkan tekanan dan mengalirkan cairan dari telinga. Jika saluran ini tersumbat karena lendir atau pembengkakan amandel (adenoid), cairan akan terperangkap dan menjadi tempat kuman berkembang biak.
- Alergi: Anak dengan riwayat alergi hidung (rinitis alergi) sering mengalami pembengkakan saluran napas yang memicu sumbatan pada telinga.
Faktor Risiko Lingkungan dan Kebiasaan:
- Asap Rokok Pasif: Paparan asap rokok adalah musuh utama telinga anak. Zat kimia dalam rokok melumpuhkan bulu-bulu halus (silia) di tuba Eustachius, sehingga kuman lebih mudah masuk ke telinga.
- Penggunaan Dot dan Botol Saat Tidur: Memberikan susu botol atau dot saat bayi berbaring datar sangat berisiko. Saat bayi mengisap dalam posisi terlentang, cairan susu dapat terdorong masuk ke dalam tuba Eustachius dan memicu infeksi.
- Daycare (Penitipan Anak): Anak-anak di penitipan lebih sering terpapar virus batuk pilek dari teman sebayanya, yang secara otomatis meningkatkan frekuensi infeksi telinga.
Penting untuk Diketahui: Di Indonesia, kebiasaan membersihkan telinga anak dengan cotton bud secara kasar juga dapat menyebabkan iritasi liang telinga luar yang jika terinfeksi dapat menjalar atau menutupi gejala infeksi telinga tengah.
Cara Dokter Mendiagnosis Infeksi Telinga
Diagnosis:
- Otoscopy gendang telinga
- Tympanometry
- Kultur cairan jika pecah
Diagnosis klinis cukup mayoritas.
Cara Menangani Infeksi Telinga pada Anak
Penanganan rumah:
- Kompres hangat
- Paracetamol nyeri
- Hidrasi cukup
- Posisi tegak
Penanganan medis:
- Antibiotik amoxicillin
- Tetes telinga nyeri
- Myringotomi kronis
Watchful waiting virus.
Komplikasi Infeksi Telinga pada Anak
Komplikasi:
- Pecah gendang
- Gangguan pendengaran
- Mastoiditis
- Meningitis jarang
- Gangguan bicara
Komplikasi lebih tinggi berulang.
Pencegahan Infeksi Telinga pada Anak
Pencegahan:
- Vaksin PCV influenza
- ASI eksklusif
- Hindari asap rokok
- Tidak dot tidur
- Cuci tangan
Pencegahan kurangi otitis 50 persen.
Tips Praktis Menangani Infeksi Telinga
Tips:
- Elevasi kepala tidur
- Hindari air masuk telinga
- Pantau suhu
- Catat obat
- Dukung istirahat
Tips bantu pemulihan cepat.
Kapan Harus ke Dokter
Segera ke dokter jika:
- Demam tinggi
- Nyeri hebat
- Cairan berdarah/nanah
- Bayi <6 bulan
- Demam >3 hari
Konsultasi THT anak berulang.
Informasi lengkap infeksi telinga anak dapat dibaca pada artikel layanan anak dan layanan telinga hidung tenggorokan dari Primaya Hospital.
Tangani Infeksi Telinga Cepat
Infeksi telinga pada anak dengan tanda dan penanganan tepat bisa pulih tanpa komplikasi. Dengan pencegahan, tips rumah, dan respons cepat di atas, orang tua bisa lindungi anak. Mulai hari ini: vaksin, hindari asap, pantau tanda, dan konsultasi dokter. Ingat: telinga anak sensitif — tangani dini untuk pendengaran sehat. Atasi infeksi telinga untuk anak bahagia dan aktif!
Ditinjau oleh:
dr. Ilman Fathony Martanegara, Sp. THT-BKL
Spesialis Telinga Hidung Tenggorok – Bedah Kepala dan Leher
Primaya Rajawali Hospital
Referensi:
- Ear Infection Information. https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/ear-nose-throat/Pages/Ear-Infection-Information.aspx. Diakses pada 27 Desember 2025.
- Ear Infections in Children. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ear-infections/symptoms-causes/syc-20351616. Diakses pada 27 Desember 2025.
- Pedoman Penanganan Otitis Media pada Anak. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/telinga-hidung-tenggorokan/pedoman-otitis-media. Diakses pada 27 Desember 2025.
- Panduan Kesehatan Anak. https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-publik/Pedoman-Kesehatan-Anak-2023.pdf. Diakses pada 27 Desember 2025.



