Demam Berdarah Dengue

demam berdarah dengue

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan infeksi virus akut yang disebabkan oleh virus dengue. Terdapat 4 subtipe virus dengue, yaitu DENV1, DENV 2, DENV 3,dan DENV 4.

Penyakit DBD paling sering ditularkan melalui perantaraan gigitan nyamuk aedes aegyepti betina. Nyamuk lain seperti aedes albopticus juga dapat menjadi sumber penularan.


Ibu hamil yang mengalami infeksi demam berdarah dengue juga dapat menularkan virus dengue kepada janin yang dikandungnya, tetapi belum terbukti terjadinya penularan melalui Air Susu Ibu (ASI).

Penularan yang sangat jarang terjadi adalah melalui transfusi darah, transplantasi organ atau melalui kecelakaan tertusuk jarum dari bekas penderita demam dengue.

Penyakit DBD ini banyak terjadi di Negara dengan iklim subtropis-tropis termasuk di Indonesia. Saat ini angka kejadian demam berdarah dengue masih tinggi tetapi angka kematiannya sudah menurun. Infeksi dengue bisa mengenai semua usia, pada anak- anak usia tersering adalah usia 10-14 tahun.

Gejala Demam berdarah dengue (DBD)

Manifestasi infeksi virus dengue bervariasi dengan spektrum yang luas, mulai dari infeksi tanpa gejala (asimtomatik), demam yang tidak khas, demam dengue (dengue fever) dengan atau tanpa disertai perdarahan, demam berdarah dengue (DBD/dengue hemorrhagic fever), sampai keadaan yang paling berat yang dapat menyebabkan kematian yaitu sindrom syok dengue (SSD ) atau dengue syok syndrome (DSS).

Perjalanan infeksi demam dengue dapat dilihat pada tabel , yang terdiri dari 3 fase

  1. Fase demam

Fase ini terjadi pada hari ke 1-3 demam, yang ditandai demam tinggi mendadak. Gejala penyerta lain adalah nyeri kepala, nyeri dibelakang bola mata,dan nyeri otot. Dapat juga timbul mual, muntah, nyeri perut. Pada fase ini sering sulit dibedakan dengan gejala infeksi virus lainnya.

Pada hari pertama demam jika dilakukan pemeriksaan laboratorium NS 1 (pemeriksaan protein antigen virus) dapat memberikan hasil yang positif. Pada hari ke 2 demam dapat timbul perdarahan spontan ringan berupa bintik perdarahan pada kulit atau melalui uji provokasi (Rumple Leede), mimisan dan, atau gusi berdarah.

Pada fase ini tidak semua penderita mengalami perdarahan spontan. Hal ini yang membedakan penderita hanya mengalami demam dengue atau demam berdarah dengue.

Pada akhir hari ke 3 demam selain gejala tersebut diatas pada pemeriksaan laboratorium di jumpai penurunan jumlah keping darah (trombosit) atau yang sering disebut trombositopenia. Pemeriksaan darah putih (leukosit) menunjukkan penuruan (leukopenia).

  1. Fase Kritis

Fase kritis dimulai pada hari ke 4 sampai hari ke 6 atau hari ke 7 setelah timbul demam. Pada fase ini justru penderita tidak mengalami demam atau demam sudah turun. Pada fase ini karena demam sudah turun, orangtua seringkali beranggapan anak sudah sembuh.

Hal ini berakibat terjadi keterlambatan pasien dibawa ke RS, dan pasien datang dalam kondisi syok. Pada fase ini permeabilitas pembuluh darah meningkat, yang berakibat terjadinya kebocoran plasma ke rongga tubuh. kebocoran plasma darah ke rongga tubuh sering tampak pada jaringan ikat longgar seperti kelopak mata, sehingga kelopak mata tampak bengkak.

Kebocoran plasma juga bisa terjadi pada rongga dada dan rongga perut . Hal ini dapat mengakibatkan pasien sesak napas, lingkar perut bertambah, disertai nyeri perut yang meningkat. Kebocoran plasma yang masif dapat mengakibatkan terjadinya peredaran darah yang tidak lancar atau dengue syok syndrome.

Hal ini ditandai dengan anggota gerak menjadi pucat dan teraba dingin, pulsasi nadi tidak kuat, sesak napas, gelisah dan tekanan darah turun. Dengue syok syndrome selain diakibatkan kebocoran plasma akibat permeabilitas kapiler yang meningkat juga bisa disebabkan oleh karena perdarahan masif seperti perdarahan saluran cerna.

Perdarahan terjadi karena kadar trombosit yang rendah atau karena gangguan faktor pembekuan darah.

Kebocoran plasma yang masif berakibat darah menjadi kental yang pada pemeriksaan laboratorium tampak sebagai nilai hematokrit yang meningkat. Pada perdarahan yang masif pemeriksaan hematoktrit bisa turun dibawah angka normal.

Pada fase ini selain diperlukan monitor gejala klinis, juga diperlukan monitor pemeriksaan laboratorium. Pada hari ke 4/5 demam jejak antibodi sudah bisa dideteksi dengan pemeriksaan Imunoglobulin (Ig)G/M anti dengue.

Hasil Ig G yang positif menunjukkan riwayat infeksi dengue pada masa lampau, sedangkan hasil Ig M anti dengue positif merupakan petanda adanya infeksi akut.

Karena adanya reaksi silang hasil IgG dan IgM dengan infeksi lain selain dengue membuat dokter harus menyingkirkan adanya penyakit lain selain demam dengue/ demam berdarah dengue.

Pencitraan seperti pemeriksaan ultrasonografi ataupun foto dada dapat dilakuakan sesuai indikasi.

  1. Fase penyembuhan/rekovalesen

Pada fase ini mulai terjadi masa penyembuhan. Fase ini dimulai pada hari ke 7 setelah demam, yang ditandai suhu sedikit meningkat. Dapat dijumpai kemarahan pada anggota gerak disertai rasa gatal.

Tatalaksana

Tidak ada terapi spesifik untuk infeksi dengue. Pada fase awal tanpa warning sign (muntah-muntah hebat, nyeri perut hebat, dehidrasi) penderita dapat di rawat di rumah dengan pemberian cairan secara oral yang adekuat serta pemberian obat penurun demam. Obat penurun demam dan pengurang nyeri dapat

mengurangi gejala nyeri otot, nyeri sendi dan demam. Pilihan terbaik adalah asetaminofen atau yang sering dikenal sebagai parasetamol.

Obat anti inflamasi non steroid (NSAIDs/non-steroidal anti- inflammatory drugs), seperti ibuprofen dan aspirin harus dihindari. NSAIDs meningkatkan risiko perdarahan dengan menganggu fungsi trombosit dan dapat berakibat iritasi lambung. Selain itu aspirin dapat mengakibatkan efek sindroma Reye.

Pada fase kritis pemberian cairan yang adekuat baik secara oral maupun melalui infus bertujuan mengatasi dehidrasi dan berfungsi mengisi cairan di pembuluh darah yang mengalami kebocoran sehingga peredaran darah menjadi lancar.

Selain itu pemberian cairan infus juga dapat menggantikan sementara volume darah yang hilang akibat perdarahan yang masif, sampai tersedia darah yang dibutuhkan. Pemberian transfusi darah atau komponen darah hanya diberikan pada keadaan perdarahan yang masif dan pertimbangan medis khusus lainnya.

Pemberian obat-obatan lain selain tatalaksana tersebut diatas dapat diberikan pada infeksi dengue dengan komplikasi.

Komplikasi Demam Berdarah Dengue

Komplikasi dari infeksi dengue dapat berupa, perdarahan intrakranial, ensefalopati, miokarditis atau sepsis.

Pencegahan Demam Berdarah Dengue

Penyakit demam berdarah dapat dicegah dengan melakukan tindakan 3M plus.

Tindakan 3M terdiri dari:

  1. Menguras, adalah membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es, tempat minum burung, vas bunga, dan lain-lain sekurang-kurangnya 7 hari sekali;
    Pengurasan bak mandi tidak hanya dengan air, namun juga perlu penyikatan dinding bak
    Untuk genangan air yang tidak terjangkau dan tidak dapat dikuras (seperti talang air hujan), dapat ditaburkan bubuk larvasida (abate
  1. Menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, toren air, dan sebagainya;
  2. Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk atau kalau tidak memungkinkan dibuang dengan cara menguburnya.

Tindakan Plus lain yang dapat dilakukan adalah penggunaan kelambu saat tidur dan lotion anti nyamuk, serta pemeliharaan ikan sebagai predator nyamuk. Fogging (pengasapan) hanya bermanfaat untuk membasmi nyamuk dewasa, jentik tidak dapat mati dengan pengasapan.

Vaksin dengue sudah dipasarkan sejak tahun 2015, tetapi pada pemberiannya memerlukan syarat tertentu dan harus didiskusikan dengan tenaga kesehatan.

Dengan mengetahui gejala dan tanda bahaya DBD serta cara pencegahannya, diharapkan angka kejadian dan kematian akibat dengue di Indonesia dapat dikurangi.

 

Ditinjau oleh :

dr. Ernawati Kusumaningrum, Msc, SpA

Primaya Hospital Bekasi Utara

 

Referensi

https://www.cdc.gov/dengue/index.html

http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/memahami-demam- berdarah-dengue

http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/memahami-demam- berdarah-dengue-bagian-2

https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dengue-and-severe- dengue

Infeksi Virus Dengue, Pedoman Pelayanan Medis, Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2009

Bagikan ke :