• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Bayi Baru Lahir Tidak Menangis? Waspadai Gejala Asfiksia Neonatorum

Bayi Baru Lahir Tidak Menangis? Waspadai Gejala Asfiksia Neonatorum

Asfiksia neonatorum adalah penyebab utama dari gangguan perkembangan pada bayi baru lahir. Menurut WHO pada tahun 2018, asfiksia merupakan penyebab utama kematian pada bayi, sebanyak 21% kematian terjadi pada bayi dengan asfiksia di negara berkembang. Kejadian asfiksia neonatorum ini sekitar 2-27 per 1000 kelahiran. Bila tidak segera mendapatkan penanganan dari dokter, kondisi ini berdampak sangat serius hingga dapat mengancam nyawa. Berdasarkan American Academy of Paediatrics (AAP) resusitasi yang tepat terutama pada 2 menit pertama dapat memperbaiki kondisi asfiksia dan menurunkan angka kematian sebanyak 30%. Oleh karena itu, penanganan asfiksia pada bayi baru lahir merupakan hal yang harus diprioritaskan.

Penanganan asfiksia neonatorum pada bayi baru lahir biasanya diberikan tambahan oksigenisasi sehingga tidak ada organ tubuh bayi yang mengalami kerusakan. Nah, bila bunda ingin tahu apa saja gejala dan penyebabnya, yuk simak rinciannya berikut ini.

buat jani dokter primaya

Pengertian Asfiksia Neonatorum

Asfiksia neonatorum atau disebut juga sebagai asfiksia perinatal (birth asphyxia) adalah sebuah kondisi kesehatan di mana bayi tidak mendapatkan oksigen yang cukup karena kegagalan untuk bernapas spontan dan teratur segera setelah lahir. Kondisi ini terjadi selama, sebelum, maupun sesudah persalinan.

Gejala yang tampak yakni berupa laju jantung menurun atau < 100 kali/menit saat lahir, tonus otot lemah, warna kulit bayi yang kebiruan, tidak menangis saat lahir, hingga sulit bernafas. Penilaian ini dapat kita lakukan untuk menilai APGAR score yang meruakan salah 1 kriteria untuk mediagnosis asfiksia. Tanpa perawatan yang tepat, maka afsiksia dapat mengganggu perkembangan bayi, merusak otak, dan bahkan mengancam nyawa.

Mengingat saat ini kebanyakan proses persalinan dilakukan di rumah sakit, maka proses perawatan dan penanganan akan kondisi ini pun dapat segera dilakukan. Dengan begitu, tidak terjadi komplikasi maupun memburuknya kesehatan si bayi.

 

Penyakit Asfiksia Neonatorum
Gejala Utama Kulit bayi kebiruan, sulit bernafas, terkadang tidak menangis saat lahir, otot lemah, laju nadi <100x/menit
Dokter Spesialis Dokter spesialis anak
Penyebab Pneumonia, sindrom aspirasi mekonium, penyakit membran hialin
Diagnosis Cek skor APGAR, rontgen, cek fisik, AGD

Diagnosis ditegakan minimal 1 dari 4 kriteria : (AAP)

  • Asidosis metabolic
  • Nilai APGAR 0-3 pda menit 5
  • Disfungsi organ – organ
  • Terdapat kejang, tonus lemah
Faktor Risiko Persalinan lebih dari 24 jam, berat badan janin terlalu rendah, pendarahan saat hamil, kehamilan ganda, ketuban pecah dini
Pengobatan Pengobatan menyesuaikan kondisi utama yang mendasarinya
Pencegahan Kontrol teratur ke dokter selama kehamilan
Komplikasi Hipertens pulmonal, disfungsi hati/ginjal/jantung, gangguan neurologis
Baca Juga:  Anak Mengalami Tantrum? Ini Cara Mengatasinya

Faktor Risiko

Dalam kebanyakan kasus, ada beberapa faktor yang membuat bayi rentan terkena penyakit ini seperti halnya:

  • Kehamilan pada ibu muda usia 20 – 25 tahun
  • Berat badan bayi yang rendah saat lahir
  • Preeklamsia / eklamsia
  • Kelahiran kembar 2 atau lebih
  • Riwayat asfiksia pada kelahiran awal
  • Kelahiran dengan posisi janin abnormal, partus macet
  • Tidak melakukan cek prenatal secara rutin
  • Ketuban mekoneum
  • Anemia dan perdarahan intrapartum
  • Diabetes melitus

Penyebab Asfiksia Neonatorum

Banyak hal yang menjadi sebab bayi terkena kondisi ini. Di antaranya yaitu:

  • Penyakit membran hialin (paru-paru belum matang)
  • Transient tachypea of newborn (paru terisi air ketuban)
  • Sindrom aspirasi mekonium (feses bayi masuk paru-paru)
  • Pneumonia (infeksi paru-paru pada bayi)
  • Prolaps tali pusat (tali pusat terputus sebelum bayi lahir)
  • Bayi lahir prematur
  • Ruptur uteri (robekan dinding otot rahim)
  • Infeksi selama proses persalinan
  • Anemia atau kekurangan darah
  • Tekanan darah terlalu tinggi/rendah selama kehamilan
  • Oksigen tidak tercukupi pada ibu hamil
  • Plasenta yang terpisah dari rahim selama kehamilan

Gejala

Setiap bayi penderita asfiksia mungkin memiliki gejala yang berbeda karena penyebabnya pun berbeda. Namun, secara umum akan memiliki gejala seperti berikut ini:

  • Bibir kebiruan
  • Kulit yang pucat dan membiru
  • Denyut jantung terlalu lambat/cepat
  • Sulit bernafas
  • Bayi lunglai lemah
  • Saat lahir tidak menangis
  • Bayi merintih kesakitan

Diagnosa

Dalam mendiagnosa afsiksia, umumnya dokter akan menggunakan perhitungan skor APGAR yang meliputi:

  • Appereance: yakni penampilan bayi apakah ia tampak kebiruan pada bibir maupun kulit tubuhnya atau tidak.
  • Pulse: yakni nilai denyut jantung yang bisa dicek langsung nadinya ataupun menggunakan stetoskop.
  • Grimace: yakni respons bayi saat diberikan rangsangan apakah mampu bertindak normal ataukah sebaliknya.
  • Activity: aktivitas kontraksi otot bayi yang bisa diketahui langsung oleh dokter setelah memeriksanya.
  • Respiration: menilai apakah bayi bernafas secara normal atau tidak dengan cara mendengarkannya secara langsung.

Bila dalam kondisi normal, maka masing-masing poin di atas tersebut diberi nilai 2. Kurang normal nilai 1, dan jika tidak normal mendapatkan nilai 0. Jadi, bila totalnya 10 maka artinya normal. Namun jika skor totalnya di bawah 7, maka bayi berpotensi mengalami asfiksia neonatorum.

Berdasarkan AAP, diagnosis asfiksia neonatorum dapat ditegakkan apabila terdapat 1 dari 4 kriteria :

  1. APGAR 0-3 pada menit ke 5
  2. Terdapat kelainan neurologis seperti kejang, tonus lemah
  3. Terdapat asidosis metabolik dari hasil analisa gas darah (AGD)
  4. Terdapat disfungsi multiorgan

Untuk dapat menegakan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan laboratorium, AGD, serta foto rontgen dada. Tujuannya adalah untuk memastikan kondisi paru-paru bayi sehat atau tidak.

Baca Juga:  Tips Membawa Bayi Keluar Rumah di Tengah Pandemi Covid-19

Pengobatan

Asfiksia neonatorum level ringan atau sedang bisa sembuh dengan perawatan yang tepat. Namun, untuk level yang parah maka bisa mengakibatkan cacat permanen. Hal ini karena sel-sel tubuhnya telah cedera atau rusak parah akibat tidak mendapat asupan oksigen dalam waktu yang lama.

Oleh karena itu, dokter akan melakukan pengobatan sesuai level atau tingkat keparahan dari bayi yang bersangkutan. Umumnya, perawatan utamanya meliputi:

  • Pemberian oksigen pada ibu hamil sebelum persalinan
  • Resusitasi saat persalinan
  • Pemberian ventilasi tekanan positif dan kompresi dada bila diperlukan
  • Penyedotan cairan di paru-paru (sindrom aspirasi mekonium)
  • Pemberian cairan dan obat-obatan saat resusitasi awal
  • Persalinan caesar atau darurat

Apabila kasusnya parah, maka akan dilakukan pengobatan pasca resusitasi yang lebih intensif seperti halnya:

  • Perawatan di ruang intensif / NICU
  • Pemasangan alat bantu perapasan sesuai indikasi
  • Mendinginkan tubuh bayi dengan induksi hipotermia
  • Pemberian obat kontrol kejang
  • Pemberian nutrisi via intravena (IV)
  • Dialisis (cuci darah)
  • Pemberian obat kontrol tekanan darah
  • Memompa jantung & paru-paru untuk tindakan bantuan hidup
  • Pemberian obat rangsang jantung seperti epinefrin

Komplikasi

Pada kasus yang parah, asfiksia neonatroum dapat menimbulkan gangguan sistemik tubuh seperti:

  • Hipoksik Iskemik Ensefalopati
  • Gangguan pengelihatan dan pendengaran
  • Hipertensi pulmonal
  • Disfungsi hati
  • Disfungsi ginjal
  • Gangguan otot jantung
  • Gangguan pernafasan

Kapan Harus ke Dokter?

Biasanya, asfiksia neonatorum segera diketahui oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi saat persalinan. Melalui pemeriksaan rutin selama parental, kemungkinan terjadinya kondisi ini dapat terminimalisir karena sudah terdeteksi sejak masih dalam kandungan.

Kemudian, bila anak sewaktu lahiran mengalami kondisi ini, maka pastikan bunda selalu memeriksanya secara rutin ke dokter spesialis anak hingga ia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Dengan begitu, tidak ada komplikasi yang terjadi nantinya.

 

Narasumber:

dr.Monica Katherina Soegiarto, Sp. A

Spesialis Anak

Primaya Hospital Semarang

Referensi:

  • Birth asphyxia. https://www.seattlechildrens.org/conditions/birth-asphyxia. Diakses pada 22 November 2023.
  • Birth asphyxia. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430782/. Diakses pada 22 November 2023.
  • Amniotic fluid embolism. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4874066/. Diakses pada 22 November 2023.
  • Pathophysiology of perinatal asphyxia. https://link.springer.com/article/10.1007/s13167-011-0100-3. Diakses pada 22 November 2023.
  • Perinatal and neonatal asphyxia. https://www.birthinjuryguide.org/birth-injury/causes/perinatal-neonatal-asphyxia/. Diakses pada 22 November 2023.
  • Perinatal asphyxia. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/perinatal-asphyxia. Diakses pada 22 November 2023.
  • Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tatalaksana Asfiksia. https://www.kemkes.go.id/eng/pnpk-2019—tata-laksana-asfiksia. Diakses pada 25 Desember 2023.
Bagikan ke :

Buat Janji Dokter

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.