• Emergency
  • 150 108
  • Chatbot

Helicopter Parenting, Waspadai Dampaknya pada Anak

Helicopter Parenting, Waspadai Dampaknya pada Anak

Kita akan mempelajari banyak hal yang menarik saat menjadi orang tua, antara lain mengenai berbagai pendekatan terhadap pola pengasuhan anak alias parenting. Dari sejumlah pola pengasuhan anak, helicopter parenting adalah salah satu yang patut menjadi perhatian. Apa itu helicopter parenting dan kenapa perlu diwaspadai? Mari kita bahas bersama.

 

buat jani dokter primaya

Mengenal Helicopter Parenting

Helicopter parenting adalah istilah yang bermula dari buku Parents & Teenagers karya psikolog Haim Ginott pada 1969. Di situ para remaja menyebut orang tua yang selalu berada di dekat mereka sebagai helicopter parents. Pada 2011, istilah ini menjadi kian populer hingga masuk kamus bahasa Inggris dengan definisi: orang tua yang terlalu terlibat dalam kehidupan anaknya.

Keterlibatan orang tua dalam kehidupan anak memang penting. Tapi keterlibatan itu ada batasnya. Emily Guarnotta, psikolog dari Amerika Serikat yang kerap menangani masalah pola pengasuhan anak, mengatakan pola pengasuhan helicopter parenting melebihi batas yang sesuai dengan usia anak.

Sebagai contoh, orang tua dari anak balita harus memantau perilaku sang buah hati untuk memastikan keselamatannya. Namun, seiring dengan pertambahan usia, orang tua harus perlahan-lahan memberikan anak kebebasan dan tanggung jawab yang lebih besar. Ketika justru terus membayangi anak dengan berupaya mengendalikan, memantau, dan mencampuri kehidupan anak, orang tua ini yang disebut helicopter parents.

Dengan kata lain, helicopter parenting adalah gaya pengasuhan anak yang hiperprotektif sehingga orang tua selalu berupaya terlibat dalam banyak aspek kehidupan anak. Umumnya pola pengasuhan ini dilandasi kekhawatiran dan ketakutan berlebih orang tua terhadap sang buah hati. Secara alami, orang tua tentu ingin melindungi anak dari segala ancaman. Tapi sikap itu bisa berbuah masalah ketika dipraktikkan secara berlebihan.

 

Apa Saja Contoh-contoh Helicopter Parenting?

Beberapa orang tua mungkin secara tidak sadar menerapkan pola pengasuhan helicopter parenting. Berikut ini contoh praktik pola pengasuhan itu berdasarkan usia anak:

Batita

  • Tidak membolehkan bayi merasakan pengalaman baru, misalnya bermain-main di sawah yang berlumpur
  • Berteriak keras dan marah ketika anak melakukan kesalahan kecil, seperti menumpahkan air dari gelas
  • Terlalu sering memakai kata “jangan” untuk ini-itu
  • Menghindari aktivitas yang kemungkinan besar tak bisa dilakukan anak
Baca Juga:  Cara Mengatasi Perut Kembung pada Bayi

Balita

  • Berada di dekat anak terus-menerus saat mereka bermain dengan teman seusia
  • Tidak membiarkan anak menyelesaikan problem mereka sendiri
  • Terus mengarahkan anak saat bermain
  • Menyahut memberikan jawaban yang diketahui anak saat anak ditanyai oleh orang lain
  • Memilihkan mainan yang dianggap lebih berguna untuk anak

Usia sekolah

  • Berlebihan dalam membantu anak saat makan, misalnya memotongkan lauk atau mengambilkan air minum
  • Melibatkan diri dalam pertengkaran anak dengan anak lain dan berusaha menyelesaikan masalah anak.
  • Memilihkan teman dan aktivitas sosial buat anak
  • Mengiming-imingi anak sesuatu agar anak mau ikut les atau kegiatan tertentu

Usia remaja

  • Menyelesaikan proyek sekolah atau pekerjaan rumah anak agar nilai anak lebih bagus
  • Membersihkan atau merapikan kamar atau lainnya yang dibuat berantakan atau kotor oleh anak
  • Membuat dalih atas perilaku anak yang buruk
  • Membuat hampir semua keputusan besar untuk anak, dari soal sekolah hingga asmara

 

Dampak Buruk Helicopter Parenting

Para psikolog meyakini hampir semua orang tua di satu titik pernah melakukan praktik helicopter parenting. Namun, sebagai gaya pengasuhan anak yang utama, helicopter parenting tidak disarankan. Sebab, pendekatan yang digunakan dianggap tidak efektif dan bisa berdampak buruk pada anak.

Anak yang mendapat pola asuh helikopter cenderung kurang berkembang. Otak dan ototnya kurang terlatih karena selalu ada intervensi orang tua dalam proses tumbuh kembang anak. Sejumlah studi mendapati dampak buruk helicopter parenting terhadap anak dalam jangka pendek ataupun jangka panjang, seperti:

  • Kepercayaan diri lebih rendah
  • Kurang mampu mengelola penyebab stres dalam hidup
  • Tingkat kecemasan dan depresi lebih tinggi
  • Kurang berempati
  • Kurang bisa bersikap sosial
  • Lebih berisiko mengonsumsi obat resep dokter dan menyalahgunakan obat-obatan terlarang
  • Punya masalah emosional
  • Lebih mudah merasa frustrasi
  • Selalu menuntut keinginannya terpenuhi

 

Bagaimana Gaya Parenting yang Paling Efektif?

Mesti ditekankan dulu di sini bahwa semua orang tua pasti memiliki gaya parenting sendiri-sendiri yang dianggap cocok. Satu orang tua mungkin merasa pola yang mereka anut efektif, sementara orang tua lain berpendapat sebaliknya dan merasa pola lain yang mereka praktikkan lebih efektif. Bahkan jika gaya pengasuhan itu adalah helicopter parenting.

Tak mustahil pula antara ayah dan ibu punya perbedaan pendapat mengenai gaya parenting yang efektif. Dalam kasus ini, orang tua perlu merumuskan bersama apa kira-kira pola asuh yang pas buat kebaikan anak. Secara umum, ada empat gaya parenting yang lazim dipraktikkan, yakni:

  • Otoriter (komunikasi satu arah dari orang tua, fokus pada ketaatan, disiplin keras)
  • Otoritatif (suportif dan komunikatif)
  • Permisif (maklum pada sikap anak, tidak memaksakan aturan)
  • Acuh tak acuh (kurang memperhatikan anak)
Baca Juga:  Seputar Ruam Popok Pada Bayi dan Anak

Dari keempat pola asuh itu, banyak pakar berpendapat gaya parenting otoritatif adalah yang paling baik. Sejumlah studi mendapati orang tua otoritatif lebih mungkin memiliki anak dengan tingkat kepercayaan diri tinggi dan meraih kesuksesan akademis. Anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoritatif juga punya keterampilan sosial lebih baik dan lebih mampu menyelesaikan masalah dalam hidup.

 

Kapan Harus ke Psikolog?

Mengasuh anak adalah kewajiban orang tua yang tak bisa ditinggalkan. Tapi memberikan pengasuhan yang tepat memang bukan perkara mudah. Bila Anda dan pasangan merasa saat ini cenderung menerapkan helicopter parenting, ada baiknya mempertimbangkan ulang pola pengasuhan tersebut. Jika perlu, Anda dapat berkonsultasi dengan psikolog keluarga untuk mendapat masukan mengenai gaya parenting yang cocok dan efektif untuk buah hati Anda.

 

Narasumber

Ade Dian Komala, M.Psi., Psikolog

Psikolog Klinis Anak dan Remaja

Primaya Evasari Hospital

Referensi:

  • Helicopter Parenting and Adolescent Development: From the Perspective of Mental Health. https://www.intechopen.com/chapters/72823. Diakses 10 Oktober 2022
  • Parenting Styles: A Closer Look at a Well-Known Concept. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6323136/. Diakses 10 Oktober 2022
  • The authoritative parenting style: An evidence-based guide. https://parentingscience.com/authoritative-parenting-style/. Diakses 10 Oktober 2022
  • Why Helicopter Parenting Fosters Failure. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-baby-scientist/202007/why-helicopter-parenting-fosters-failure. Diakses 10 Oktober 2022
  • A Systematic Review of “Helicopter Parenting” and Its Relationship With Anxiety and Depression. https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fpsyg.2022.872981/full. Diakses 10 Oktober 2022
  • What Is Helicopter Parenting?. https://www.parents.com/parenting/better-parenting/what-is-helicopter-parenting/. Diakses 10 Oktober 2022
Bagikan ke :

Buat Janji Dokter

Promo

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.