• Emergency
  • 150 108

Varian Virus Corona Amerika Serikat, Sejauh Mana Penyebarannya?

Varian Virus Corona Amerika Serikat, Sejauh Mana Penyebarannya

Mutasi virus adalah suatu hal yang wajar. Tapi virus tidak secara khusus bermutasi agar menjadi lebih berbahaya atau lebih mudah menular. Ada kalanya mutasi justru menciptakan varian virus yang lebih lemah. Namun virus corona yang menyebar sejak 2019 saat ini memunculkan beberapa varian yang disebut lebih membahayakan. Salah satunya virus varian Amerika Serikat epsilon.

 


Mengenal Varian Amerika Serikat Epsilon Covid-19

Pertama kali terdeteksi di California pada Juli 2020, varian Amerika Serikat epsilon mulanya dikenal sebagai B.1420 atau CAL.20C. Varian ini terdiri atas beberapa mutasi, antara lain L452R yang khususnya menarik perhatian.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) awalnya menyatakan epsilon merupakan Variant of Concern alias butuh perhatian lebih daripada varian lain karena lebih mengkhawatirkan. Pernyataan itu muncul menyusul naiknya jumlah kasus positif Covid-19 secara tiba-tiba pada pertengahan 2020.

Riset awal tentang varian Amerika Serikat epsilon menemukan varian ini 20 persen lebih menular ketimbang virus yang awal. Para ahli secara khusus khawatir terhadap tiga mutasi spesifik dalam protein spike yang digunakan virus untuk masuk dan menempel pada sel lain, lalu menggandakan diri.

Protein spike inilah yang dibuat oleh vaksin untuk melatih sistem imun memproduksi antibodi dan melindungi sel dari infeksi. Karena itu, bila protein spike virus corona berubah karena mutasi, ada kemungkinan vaksin yang menggunakan mRNA kurang efektif mencegah infeksi selanjutnya.

Sebuah studi dari University of Washington, Amerika Serikat, menemukan tiga mutasi itu bisa meredam potensi antibodi dalam aliran darah orang, baik antibodi dari vaksin maupun yang dihasilkan oleh infeksi Covid-19 sebelumnya. Para peneliti mendapati kemampuan antibodi itu untuk menetralkan varian epsilon Amerika Serikat berkurang antara 2 dan 3,5 kali.

Meski demikian, varian ini kemudian tidak lagi dominan, kalah oleh kedatangan varian lain, terutama delta. CDC pun menurunkan status epsilon menjadi Variant of Interest, satu level di bawah Variant of Concern. Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga sebelumnya memasukkan varian Amerika Serikat epsilon ke daftar Variant of Interest, tapi sudah mengeluarkannya dari daftar itu pada Juli 2021.

 

Gejala Varian Amerika Serikat Epsilon Covid-19

Munculnya varian epsilon diikuti pertambahan drastis angka kasus positif Covid-19 di Amerika Serikat. Karena itu, varian ini diduga lebih gampang menular. Namun apakah epsilon bisa membuat pasien sakit lebih parah, itu belum jelas benar. Gejala khusus varian ini pun belum bisa dipastikan.

Baca Juga:  Mengenal Omicron, Varian Covid-19, Benarkah 500 Persen Lebih Menular?

CDC mengidentifikasi gejala pasien Covid-19 di Amerika Serikat meliputi:

  • Demam atau menggigil
  • Batuk
  • Sesak napas atau kesulitan bernapas
  • Kelelahan
  • Nyeri otot
  • Sakit kepala
  • Kehilangan kemampuan merasakan atau mencium bau
  • Sakit tenggorokan

Pada Juli 2020, CDC menambahkan gejala berupa hidung meler, mual, dan diare sebagai indikasi adanya infeksi. Gejala ini bisa muncul dalam 2-14 hari setelah terpapar virus.

 

Asal Penyebaran Varian Amerika Serikat Epsilon Covid-19

Varian Amerika Serikat epsilon terdeteksi di California pada Juli 2020 dan segera menarik perhatian pada peneliti Amerika Serikat. Pada Januari 2021, rumah sakit Cedars-Sinai di Los Angeles mendeteksi sekitar separuh sampel virus dari pasien Covid-19 yang diperiksa adalah varian epsilon. Sebulan kemudian, sekitar 15 persen kasus Covid-19 di Amerika Serikat disebut disebabkan oleh epsilon.

Namun itulah puncak penularan epsilon di Amerika Serikat. Pada Juni 2021, hanya 1 persen sampel yang diperiksa di Amerika Serikat terdeteksi sebagai epsilon. Di seluruh dunia, sebanyak 46 negara melaporkan kasus positif dengan varian epsilon. Namun tingkat penularannya tidak begitu tinggi seperti di Amerika Serikat. Indonesia tidak melaporkan adanya deteksi varian epsilon dalam kasus di dalam negeri.

 

Deteksi Varian Amerika Serikat Epsilon Covid-19

Para ahli rutin memantau potensi mutasi yang bisa mengubah kemampuan virus corona. Pemantauan ini diikuti deteksi varian yang mungkin muncul dalam penularan virus di suatu wilayah. Cara deteksi epsilon sama dengan metode deteksi varian lain, yakni lewat pengurutan genom.

Para peneliti mengurutkan genom dari sampel virus yang diambil dari pasien positif Covid-19. Hasil pengurutan ini lalu dibandingkan dengan koleksi data genom virus corona dari seluruh dunia. Data itu ada dalam GISAID Initiative yang berisi informasi pengurutan genetik virus corona dan data lain yang relevan seputar pandemi Covid-19.

Bila ditemukan adanya data genetik virus yang berbeda dari pengurutan genom sampel, peneliti akan melaporkan dan mengumumkannya kepada publik sehingga otoritas kesehatan terkait bisa mengambil kebijakan sebagai langkah antisipasi.

Baca Juga:  Badai Sitokin pada Penderita Covid-19, Apa Penyebabnya?

 

Pengobatan Covid-19

Para peneliti menemukan mutasi varian Amerika Serikat epsilon bisa mengurangi kemanjuran vaksin hingga 70 persen dan mampu melawan terapi antibodi monoklonal. Namun diperlukan informasi lebih lanjut mengenai kemampuan varian itu dalam melawan obat-obatan tertentu yang selama ini diberikan sesuai dengan pedoman tata laksana penanganan pasien Covid-19.

Hingga ada bukti bahwa varian tersebut bisa mengurangi efektivitas obat tertentu yang selama ini diresepkan kepada pasien Covid, pasien akan mendapat pengobatan sesuai dengan pedoman tata laksana itu. Pedoman ini disusun sejumlah organisasi dokter spesialis dan Ikatan Dokter Indonesia dan akan diperbarui secara berkala sesuai dengan perkembangan informasi seputar Covid-19.

 

Pencegahan Covid-19

Langkah utama pencegahan varian epsilon tidak berbeda dengan varian lain, yaitu dengan 3M: mengenakan masker dengan benar, mencuci tangan sesering mungkin, serta menjaga jarak dengan orang lain. Protokol itu akan lebih baik jika ditambah 2M: mengurangi mobilitas dan menjauhi kerumunan.

Saat ini pun sudah ada vaksin yang tersedia bagi publik. Vaksinasi adalah metode yang telah terbukti bisa melawan penularan virus. Namun harus diingat bahwa orang yang sudah divaksin tidak lantas kebal terhadap infeksi virus corona. Risiko tertular masih ada, tapi sangat kecil. Jikapun tertular, gejalanya kerap kali ringan. Karena itu, orang yang telah mendapat vaksin tetap harus menerapkan protokol kesehatan secara disiplin.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Pada prinsipnya, setiap orang harus memeriksakan diri bila merasakan ada gejala yang diduga Covid-19. Setidaknya menjalani tes PCR dulu untuk memastikan apakah benar terjangkit atau tidak. Bila ternyata positif, harus dilihat dulu bagaimana gejalanya. Bagi pasien positif tanpa gejala atau bergejala ringan, isolasi mandiri bisa dilakukan. Sedangkan bila ada gejala parah seperti demam tinggi dan sulit bernapas, sebaiknya pasien segera dilarikan ke rumah sakit yang bisa menangani pasien Covid-19.

 

Ditinjau oleh:

dr. Oktaviani Dewi Ratih

Dokter Umum

Primaya Hospital Pasar Kemis

 

Referensi:

https://gvn.org/covid-19/epsilon-b-1-427-b-1-429/

https://www.sciencedaily.com/releases/2021/07/210706093857.htm

https://www.who.int/en/activities/tracking-SARS-CoV-2-variants/

Bagikan ke :

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.