• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

Defisiensi Vitamin E: Pentingnya Asupan dan Dampak Kesehatan

Defisiensi Vitamin E Pentingnya Asupan dan Dampak Kesehatan

Tubuh kita memerlukan vitamin yang cukup agar dapat berfungsi dengan baik. Kekurangan salah satu jenis vitamin saja dapat berakibat buruk untuk  kesehatan. Tak terkecuali ketika mengalami kekurangan atau defisiensi vitamin E.

 

buat jani dokter primaya

Mengenal Defisiensi Vitamin E

Defisiensi vitamin E adalah kondisi medis yang terjadi ketika kadar  vitamin E dalam tubuh tidak mencukupi. Vitamin E adalah vitamin larut lemak yang dapat ditemukan dalam beragam jenis makanan. Di dalam tubuh vitamin E berperan sebagai antioksidan, yang membantu menjaga sel dari kerusakan akibat radikal bebas. Selain itu, vitamin E juga dibutuhkan tubuh untuk pembentukan membran sel, metabolisme otot, dan sistem kekebalan tubuh yang baik. Oleh karena itu, kekurangan vitamin E dapat  menyebabkan berbagai gejala medis yang dapat memengaruhi kualitas hidup individu. Kebutuhan vitamin E bervariasi bergantung pada usia dan jenis kelamin. National Institute of Health (NIH) Berdasarkan angka kecukupan gizi tahun  2019 merekomendasikan remaja berusia 10 tahun hingga orang dewasa mendapatkan asupan 15 mg vitamin E setiap hari.

Defisiensi vitamin E pada dasarnya sangat jarang terjadi pada orang sehat. Terdapat banyak sumber makanan sehari-hari yang mengandung vitamin ini sehingga mudah didapatkan. Kekurangan vitamin E dapat terjadi ketika menjalani diet rendah lemak atau  terkait dengan penyakit tertentu yang mengakibatkan gangguan pencernaan atau penyerapan lemak oleh tubuh.Penyerapan vitamin E di dalam tubuh membutuhkan bantuan lemak.

 

Gejala

Defisiensi vitamin E tergolong langka. Namun bila terjadi, gejalanya meliputi:

  • Gangguan neurologis seperti kelemahan otot, kesulitan berjalan, koordinasi yang buruk, sulit menjaga keseimbangan, tremor, kehilangan daya refleks, dan nyeri neuropatik
  • Mudah lelah, kulit pucat, detak jantung cepat, dan sesak napas karena kerusakan sel darah merah yang lebih cepat dari yang seharusnya.
  • Gangguan pada kulit dan rambut, seperti kering, kasar, dan mudah rusak
  • Gangguan pada mata, misalnya penglihatan kabur, sulit melihat dalam kondisi pencahayaan rendah, dan perubahan pada retina
  • Mudah terkena infeksi karena turunnya daya tahan tubuh

 

Penyebab

Defisiensi vitamin E dapat terjadi karena kurangnya asupan makanan yang mengandung vitamin E sehari-hari. Pola makan yang tidak seimbang juga dapat  membuat seseorang kekurangan vitamin E. Faktor lain yang berpengaruh terhadap terjadinya kondisi ini termasuk:

  • Gangguan penyerapan lemak karena tubuh memerlukan lemak untuk menyerap vitamin E, misalnya karena penyakit hati, gangguan pankreas, gangguan saluran empedu, atau penyakit celiac dan cystic fibrosis.
  • Kelainan genetik yang memengaruhi kemampuan tubuh dalam menyerap, mengolah, dan mengangkut vitamin E, seperti abetalipoproteinemia dan sindrom defisiensi vitamin E terisolasi.
  • Kondisi medis yang menyebabkan malabsorpsi atau penurunan kemampuan tubuh untuk menyerap zat gizi, seperti penyakit Crohn dan colitis ulseratif.
Baca Juga:  Perbedaan Gelato dan Es Krim Biasa, Mana yang Lebih Sehat

 

Cara Dokter Mendiagnosis Defisiensi Vitamin E

Dokter umumnya mendiagnosis defisiensi vitamin E dengan melakukan pemeriksaan riwayat medis, gejala, dan fisik pasien serta menjalankan tes laboratorium. Dalam pemeriksaan riwayat medis, dokter akan meminta informasi tentang pola makan, penyakit yang sedang/pernah dialami, obat-obatan yang rutin dikonsumsi, dan apakah ada riwayat defisiensi vitamin E dalam keluarga.

Dokter juga akan menanyakan gejala yang dialami serta mencari tanda-tanda kekurangan vitamin E lewat pemeriksaan fisik, misalnya dengan mengecek fungsi neurologis, kelainan kulit, atau gangguan penglihatan.

Adapun dalam tes laboratorium, dokter akan melakukan tes untuk mengukur kadar vitamin E dalam tubuh serta menjalankan pemeriksaan hitung darah lengkap guna memeriksa adanya perubahan pada sel darah merah yang mungkin berkaitan dengan kekurangan vitamin E.

Bila perlu, dokter dapat  meminta pasien menjalani tes lain seperti tes keseimbangan oksidatif, tes penyerapan lemak, atau tes lain untuk mendeteksi penyakit yang terkait dengan kondisi malabsorpsi.

 

Cara Mengatasi Defisiensi Vitamin E

Upaya mengatasi defisiensi vitamin E umumnya mencakup perubahan pola makan dan/atau pemberian suplemen. Dokter akan membantu pasien meningkatkan asupan makanan yang kaya vitamin E untuk membantu memenuhi kebutuhan harian.

Sumber makanan yang banyak mengandung vitamin E antara lain minyak nabati seperti minyak gandum, minyak jagung, dan minyak biji matahari, juga kacang-kacangan, biji-bijian, sayuran hijau, serta buah-buahan seperti kiwi dan alpukat. Dokter juga dapat menyarankan konsumsi suplemen bila terjadi kekurangan vitamin E yang signifikan dan asupan makanan yang kaya vitamin E tidak cukup.

Baca Juga:  Anak Tetap Kurus Padahal Makan Banyak? Waspadai Sindrom Malabsorpsi

Selain itu, jika ada kondisi medis yang melatari terjadinya kekurangan vitamin E, penanganan akan difokuskan pada pengobatan kondisi tersebut agar penyerapan vitamin E dapat optimal.

 

Pencegahan

Cara utama untuk mencegah defisiensi vitamin E adalah dengan memastikan kecukupan asupan makanan yang kaya vitamin E setiap hari. Untuk meminimalkan penyusutan kandungan vitamin E dalam makanan yang hendak dikonsumsi, simpan makanan itu dengan benar.

Vitamin E termasuk sensitif terhadap panas, cahaya, dan oksidasi sehingga harus disimpan di dalam wadah kedap udara dan terhindar dari paparan langsung sinar matahari. Selain itu, jangan memasaknya terlalu lama atau menggunakan suhu terlalu tinggi agar kandungan vitamin E tidak menyusut.

Yang tak kalah penting adalah menghindari faktor risiko berupa kondisi medis yangdapat meningkatkan risiko kekurangan vitamin E, seperti masalah penyerapan lemak, gangguan hati, atau gangguan saluran empedu. Berkonsultasilah dengan dokter untuk mendapat saran pencegahan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Penting untuk dicatat bahwa gejala defisiensi vitamin E dapat  berbeda antara satu individu dengan yang lain. Jika Anda mengalami gejala yang mencurigakan atau khawatir mengalami kekurangan vitamin E, penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter demi mendapatkan pemeriksaan dan diagnosis yang tepat.

 

Reviewer

dr. Fenny, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi

Primaya Hospital Depok

Referensi:

  • What are the symptoms of low vitamin E?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321800. Diakses 13 Mei 2023
  • What Causes Vitamin E Deficiency?. https://www.medicinenet.com/what_causes_vitamin_e_deficiency/article.htm. Diakses 13 Mei 2023
  • Vitamin E-Fact Sheet for Consumers. https://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminE-Consumer/. Diakses 13 Mei 2023
  • Vitamin E Deficiency. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK519051/. Diakses 13 Mei 2023
  • Vitamin E Deficiency. https://www.msdmanuals.com/home/disorders-of-nutrition/vitamins/vitamin-e-deficiency. Diakses 13 Mei 2023
  • Overview of vitamin E. https://www.uptodate.com/contents/overview-of-vitamin-e. Diakses 13 Mei 2023
  • Pignitter M, Grosshagauer S, Somoza V. Stability of vitamin E in foods. In: Weber P, Birringer M, Blumberg J,, Eggersdorfer M, Frank J. (eds) Vitamin E in Human Health. Nutrition and Health. Humana Press, Cham. https://doi.org/10.1007/978-3-030-05315-4_16
Share to :

Buat Janji Dokter

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.