• Emergency
  • 150 108

Mengatasi Aritmia (Gangguan Irama Jantung) Dengan Ablasi Jantung

Mengatasi Aritmia (Gangguan Irama Jantung) Dengan Ablasi Jantung

Jantung yang berdetak terlalu cepat atau lambat atau tak beraturan dapat menimbulkan komplikasi serius, termasuk stroke dan pembekuan darah. Istilah medis untuk gangguan irama detak jantung itu adalah aritmia. Ablasi jantung, yang juga sering disebut ablasi kateter, adalah prosedur untuk mengobati aritmia dan mengembalikan detak jantung normal.

 


Mengenal Ablasi Jantung

Ablasi jantung adalah tindakan medis untuk memulihkan irama detak jantung, terutama jika pengobatan tidak dapat meredakan gejala aritmia. Biasanya, jantung berdetak antara 60 dan 80 kali per menit. Detak jantung ini dipicu oleh impuls listrik. Ablasi dapat digunakan untuk mengobati jantung yang berdetak terlalu cepat (lebih dari 100 detak per menit, dikenal sebagai takikardia) atau detak jantung yang tak terkoordinasi, yang dikenal sebagai atrial fibrilasi.

Dokter menjalankan ablasi jantung sebagai upaya menghilangkan penyebab utama masalah irama detak jantung pasien. Dalam prosedur ini, kateter kecil dimasukkan melalui pembuluh darah di selangkangan dan diarahkan ke jantung untuk membuat lubang kecil guna mengakses bagian dalam jantung.

Jika jantung berdetak tidak menentu dan terlalu cepat, elektroda di ujung kateter akan membantu menemukan lokasi impuls listrik yang rusak. Lokasi ini kemudian digores atau dihilangkan dengan energi panas atau dingin. Goresan tersebut akan memblokir impuls listrik yang menyebabkan gangguan sehingga irama detak jantung kembali normal.

Tingkat keberhasilan ablasi jantung bervariasi dan terkadang pasien masih memerlukan antikoagulan. Jika perlu, dokter mungkin menyarankan prosedur diulang. Prosedur ini dapat memakan waktu hingga enam jam. Biasanya, pasien perlu menjalani rawat inap dua sampai tiga malam.

 

Siapa yang Memerlukan Ablasi Jantung

Tidak semua orang yang mengalami takikardia atau atrial fibrilasi perlu menjalani ablasi jantung. Biasanya, ablasi tidak menjadi pilihan tindakan yang pertama untuk pasien. Dokter bisa merekomendasikan ablasi jika:

  • Obat-obatan tidak kunjung berhasil memperbaiki detak jantung
  • Ada efek samping serius dari penggunaan obat-obatan
  • Terdapat risiko tinggi komplikasi dari aritmia yang dialami
  • Tindakan ablasi sesuai dengan jenis aritmia
Baca Juga:  Apakah Penyakit Jantung Bisa Sembuh Total?

 

Tujuan Tindakan Ablasi Jantung

Gangguan irama detak jantung yang dikenal sebagai aritmia bisa mengakibatkan:

  • Jantung berdebar-debar
  • Kelelahan
  • Sesak napas
  • Pukulan

Tujuan ablasi jantung adalah mengembalikan ritme yang reguler untuk mencegah kondisi tersebut kembali terjadi.

 

Persiapan Sebelum Ablasi Jantung

Pasien mesti menjalani serangkaian tes sebelum ablasi jantung. Tes ini penting bagi dokter untuk mengetahui kondisi jantung dengan lebih detail. Jika hasil tes menyatakan pasien bisa menjalani ablasi, pasien harus melakukan persiapan. Di antaranya:

  • Berpuasa makan dan minum 6 jam sebelum tindakan
  • Bila sedang rutin mengonsumsi obat, beri tahu dokter
  • Tidak mengenakan perhiasan, parfum, atau losion dengan pewangi
  • Tak perlu berdandan
  • Jika ada cat kuku, bersihkan dulu
  • Bila mengenakan kacamata atau kontak lensa, bawa tempat untuk menyimpannya

 

Prosedur Ablasi Jantung

Ablasi jantung menggunakan laser atau energi panas atau dingin pada jaringan jantung yang menyebabkan gangguan irama detak jantung. Sebagai prosedur invasif minimal, dokter menggunakan kateter yang dipandu dengan pencitraan sinar-X dalam penanganan. Dokter juga akan memakai cairan kontras yang bisa membantu menemukan lokasi jaringan yang rusak lebih pasti.

Prosedur diawali dengan pemberian cairan infus lewat lengan oleh perawat. Kateter juga akan dipasang pada saluran kemih untuk membantu mengalirkan urine selama prosedur dan pemulihan. Tergantung kondisi pasien dan jenis aritmia yang ditangani, pasien mungkin menjalani anestesi umum sehingga tidak sadar selama ablasi berlangsung. Jika tidak, pasien hanya diberi bius lokal dan terjaga selama ablasi.

Di ruang tindakan, dokter akan memantau irama detak jantung dengan alat yang terpasang pada dada dan punggung pasien. Dokter mungkin perlu memasang mesin pernapasan untuk sementara.

Kateter untuk tindakan ablasi biasanya dimasukkan lewat area pangkal paha. Perawat mungkin perlu mencukur bulu di area ini agar lebih mudah memasukkan kateter. Bila semua sudah siap, dokter memasukkan kateter dan mengarahkannya ke jantung dengan bantuan gambar sinar-X dan cairan kontras.

Baca Juga:  Alami Tekanan Darah Tinggi? Hati-Hati Sakit Jantung

Setelah menemukan jaringan yang rusak, dokter melakukan ablasi untuk menghancurkannya. Lama prosedur bervariasi, biasanya 2-6 jam. Sesudah semua proses selesai, semua peralatan dilepaskan dan pasien dibawa ke ruang pemulihan.

 

Risiko dan Efek Sampingnya

Ablasi mengandung risiko yang kecil. Dokter akan menjelaskan risiko ini sebelum prosedur. Di antaranya:

  • Perdarahan di area tubuh yang dimasuki kateter
  • Terjadi hematoma atau kumpulan darah di bawah kulit tempat masuknya kateter
  • Kerusakan saluran impuls kelistrikan yang normal

Adapun efek samping yang lazim timbul termasuk:

  • Nyeri dada ringan
  • Detak jantung berlompatan
  • Irama detak jantung lebih cepat

Area jantung yang jaringannya diablasi butuh waktu sekitar 8 pekan untuk pulih. Beberapa hari setelah ablasi, biasanya pasien masih harus mengonsumsi obat anti-aritmia atau menjalani perawatan terkait lain.

 

Perawatan Pasien Sesudah Ablasi Jantung

Pasien akan menjalani pemantauan di ruang pemulihan sesudah ablasi. Bila kondisi sudah stabil, pasien dibawa ke kamar rawat inap. Biasanya, pasien perlu menjalani rawat inap setidaknya selama sehari. Pasien harus didampingi ketika pulang, tidak disarankan menyetir kendaraan sendiri.

Di rumah, pasien tidak boleh melakukan aktivitas fisik yang berat selama setidaknya sepekan. Umumnya, pasien bisa kembali bekerja dalam tiga hari setelah ablasi jantung.

 

Ditinjau oleh

dr.Bambang Budiono,Sp.JP,FIHA,FAPSC,FAPSIC,FSCAI

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

Primaya Hospital Makassar

 

Referensi:

Heart Ablation – Explained by a Cardiologist. https://myheart.net/articles/heart-ablation-explained-by-a-cardiologist/. Diakses 11 Oktober 2021

Catheter ablation. https://www.bhf.org.uk/informationsupport/heart-matters-magazine/medical/catheter-ablation. Diakses 11 Oktober 2021

Cardiac Catheter Ablation for Heart Rhythm Abnormalities. https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2728488. Diakses 11 Oktober 2021

Long-term outcomes after ablation of persistent atrial fibrillation: an observational study over 6 years.https://openheart.bmj.com/content/3/2/e000394. Diakses 11 Oktober 2021

Atrial Fibrillation. https://www.heart.org/en/health-topics/atrial-fibrillation. Diakses 11 Oktober 2021

Bagikan ke :

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.