Perkembangan Janin Terhambat, Apa yang Harus Dilakukan?

Perkembangan Janin Terhambat, Apa yang Harus Dilakukan_

Ibu hamil wajib senantiasa mewaspadai tanda dan gejala perkembangan janin terhambat. Salah satu tanda kondisi ini adalah bobot bayi dalam kandungan lebih kecil daripada bobot ideal sesuai dengan usia kehamilan. Dunia kedokteran mengenal kondisi perkembangan janin terhambat dengan nama intrauterine growth restriction (IUGR).

IUGR dapat bermula kapan pun selama masa kehamilan. Janin yang perkembangannya terhambat berpotensi mengalami masalah selama dalam kandungan hingga nantinya setelah persalinan. Masalah ini juga bisa berlanjut hingga mereka tumbuh besar.

Ketika perkembangan janin terhambat, pertumbuhan organ, jaringan, dan selnya turut terganggu. Ukuran bayi ketika lahir pun akan lebih kecil dari normalnya. Meski demikian, tidak semua bayi yang lahir dengan bobot kecil pasti mengalami IUGR. Karena itulah ibu hamil perlu memeriksakan diri ke dokter kandungan atau bidan setidaknya empat kali selama masa kehamilan.

Gejala Perkembangan Janin Terhambat

Ada dua tipe kondisi perkembangan janin terhambat, yaitu:

  • Simetris/primer: ukuran organ janin lebih kecil dari seharusnya, terjadi pada 20-30 persen dari total kasus IUGR.
  • Asimetris/sekunder: ukuran kepala dan otak normal, namun perut kurang. Kebanyakan terjadi pada usia kehamilan trimester ketiga. Sebanyak 70-80 persen dari total kasus IUGR bertipe asimetris.
Baca Juga:  Kehamilan : Tips Mengatasi Kekwatiran Menjelang Melahirkan

Gejala utama perkembangan janin terhambat dari dua tipe tersebut adalah ukuran janin yang lebih kecil dari angka ideal. Dalam pemeriksaan kehamilan, dokter memperkirakan ukuran janin dengan mengukur tinggi fundus pada ibu hamil atau jarak dari tulang panggul ke bagian teratas perut. Pengukuran bisa memakai ultrasonografi (USG) atau cara manual dengan berbaring di tempat tidur.

Ketika usia kehamilan 12 minggu, normalnya ukuran tinggi fundus 10-14 sentimeter. Ketika sudah 20 minggu, tinggi fundus sama dengan umur kehamilan. Sedangkan saat usia kehamilan 35 minggu, ukurannya bisa lebih kecil sekitar 3-4 sentimeter. Dokter akan menjalankan tes lain untuk mengkonfirmasi adanya gejala perkembangan janin terhambat, termasuk dengan pemeriksaan USG.

Pemeriksaan USG membantu dokter mengukur kepala, perut, lengan, dan kaki janin secara lebih akurat. Dokter lantas menggunakan hasil pengukuran itu untuk menghitung perkiraan berat badan bayi. Dari situ, dokter membandingkan bobot tersebut dengan bobot rata-rata bayi pada usia kehamilan yang sama pada tabel pertumbuhan. Jika sudah ada gejala perkembangan janin terhambat, dokter bisa meminta ibu hamil menjalani tes darah dan serangkaian pemeriksaan lain untuk menegakkan diagnosis.

Baca Juga:  Mengonsumsi Pil KB? Kenali Manfaatnya

Perawatan yang Diperlukan

Ibu hamil yang tampaknya sehat tidak selalu menandakan perkembangan janin berjalan lancar. Ada faktor lain yang bisa menjadi penyebab perkembangan janin terhambat, seperti gangguan genetik, kondisi plasenta, infeksi, dan sosio-ekonomi. Perlu pemeriksaan dokter untuk menilai pertumbuhan janin dalam kandungan.

Jika sudah ada diagnosis perkembangan janin terhambat, ibu hamil memerlukan penanganan lebih lanjut baik secara mandiri maupun dengan bantuan medis di rumah sakit. Salah satunya dengan menghentikan segala kebiasaan buruk yang berbahaya bagi kesehatan ibu ataupun bayi dalam kandungan. Misalnya berhenti merokok. Ibu juga mesti lebih banyak mengonsumsi makanan bernutrisi tinggi.

Namun, dalam sejumlah kasus, perubahan kebiasaan dan pola konsumsi ibu tak bisa mempengaruhi bobot janin. Bila ini yang terjadi, dokter akan lebih memfokuskan penanganan pada kondisi janin. Tujuannya adalah menjaga kelangsungan kehamilan seaman mungkin hingga waktunya persalinan.

Bila sudah menjelang atau memasuki masa persalinan, dokter juga mungkin meminta ibu hamil menjalani rawat inap agar bisa lebih intensif memantau kondisinya. Dokter akan segera menjalankan prosedur persalinan bila menilai IUGR kian membahayakan, termasuk dengan induksi ataupun operasi caesar.

Baca Juga:  Cara Menyuburkan Kandungan Setelah Berhenti KB

 

Ditinjau oleh:

dr. Enricko Michael S. D., M.Biomed, Sp. OG

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan

Primaya Hospital Betang Pambelum

 

Referensi:

https://www.webmd.com/baby/iugr-intrauterine-growth-restriction#1

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/B9781416000396500124

 

Bagikan ke :