• Emergency
  • 150 108
  • Chatbot

Obsessive Compulsive Disorder (OCD): Gejala dan Pengobatan

Obsessive Compulsive Disorder Gejala, Penyebab dan Mengobati

Sebagian masyarakat masih kurang memahami apa itu obsessive compulsive disorder (OCD) sehingga istilah ini kerap tak tepat penggunaannya. Istilah OCD sering disematkan pada orang yang memiliki kecenderungan terhadap sesuatu yang bersih dan rapi. Maka tak jarang orang yang senang bersih-bersih rumah atau menata barang-barangnya dengan rapi dibilang OCD. Padahal OCD adalah salah satu bentuk masalah kesehatan yang dampaknya dapat sangat mengganggu kehidupan pengidapnya.

 

buat jani dokter primaya

Mengenal Obsessive Compulsive Disorder (OCD)

Obsessive compulsive disorder (OCD) adalah gangguan mental yang membuat orang memiliki obsesi, perasaan, pikiran, dan perilaku berulang dan tak diinginkan yang membuat mereka melakukan sesuatu berkali-kali. Ketika tak bisa melakukan hal tersebut, orang itu akan merasa sangat cemas dan sedih, bahkan marah. Dan perilaku berulang ini tidak terkait dengan budaya atau ritual agama.

Untuk memahaminya, perlu diketahui dulu apa itu obsesi dan kompulsi yang bisa mengalami gangguan sehingga memunculkan OCD.

Obsesi adalah pikiran yang berulang, atau desakan pikiran yang tak diinginkan orang, tapi orang tersebut terus memikirkannya. Contohnya memikirkan orang yang dicintai disakiti orang lain, takut sakit karena memegang pegangan pintu yang kotor, khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk jika barang-barang di meja tak diatur dengan rapi, dan sebagainya.

Adapun kompulsi adalah suatu perilaku yang jika tidak dilakukan menimbulkan perasaan cemas, tidak nyaman, sehingga seseorang melakukan perilaku ini berulang ulang untuk mengatasi kecemasanya. Orang seperti terpaksa melakukan suatu hal itu meski sebenarnya tidak mau. Misalnya mencuci tangan berulang kali, menimbun barang-barang, selalu mengenakan pakaian yang sama dalam acara tertentu, menarik-narik rambut, dan seterusnya.

Obsesi dan kompulsi baru menjadi masalah bila terus muncul dan sudah sampai pada tahap mengganggu kehidupan sehari-hari sehingga disebut obsessive compulsive disorder (OCD). Dalam gangguan OCD, perilaku kompulsif dilakukan untuk meredakan kecemasan yang dipicu obsesi. Perilaku ini bisa berlebihan, menghabiskan waktu, dan bersifat merusak.

 

Gejala

Gejala obsessive compulsive disorder (OCD) pada tiap orang bisa berbeda-beda. Gejala yang umum terjadi antara lain:

  • Obsesi yang ekstrem terhadap kuman atau kotoran
  • Keraguan yang berulang, misalnya saat ke luar rumah bertanya-tanya sudah mengunci pintu atau belum
  • Ada pikiran untuk berbuat kekerasan, termasuk menyakiti diri sendiri
  • Keasyikan dengan simetri, kerapian, atau ketepatan
  • Sangat memperhatikan detail
  • Terlalu khawatir terhadap sesuatu
  • Pikiran atau perilaku agresif
  • Mengelompokkan atau menata benda-benda di sekitarnya berdasarkan hal tertentu
  • Mengulang kata-kata yang sama pada diri sendiri
  • Menanyakan hal yang sama berulang kali
Baca Juga:  Apa Beda Perilaku Kompulsif dan Impulsif?

 

Penyebab

Penyebab obsessive compulsive disorder (OCD) tak dapat diketahui dengan pasti. Sederet riset menyebutkan ada dugaan sumber masalahnya ada pada otak. Orang dengan OCD ketidak seimbangan nerotransmiter serotonin yang memadai di otak. Serotonin berfungsi menjaga keseimbangan mental.

OCD pun cenderung bersifat keturunan sehingga ada faktor genetik yang berpengaruh. Meski begitu, ada juga kasus penderita yang tak memiliki riwayat keluarga mengidap OCD.

 

Cara Dokter Mendiagnosis Obsessive Compulsive Disorder (OCD)

Dokter kejiwaan atau spesialis kesehatan mental bisa mendiagnosis obsessive compulsive disorder (OCD) pada anak hingga orang dewasa. Caranya adalah dengan mengevaluasi kondisi mental pasien. Dokter akan mencoba menemukan apakah pasien memiliki obsesi dan kompulsi yang terus-menerus, parah, dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Tidak ada tes khusus untuk menegakkan diagnosis OCD.

 

Cara Mengatasi Obsessive Compulsive Disorder (OCD)

Penanganan obsessive compulsive disorder (OCD) didasarkan pada umur, gejala, dan kondisi kesehatan keseluruhan pasien. Tingkat keparahan OCD juga menjadi faktor yang dipertimbangkan dalam pemilihan metode penanganan yang tepat.

Berikut ini umumnya cara mengatasi OCD yang biasanya dilakukan secara kombinasi:

  • Terapi kognitif untuk membantu pasien mengidentifikasi dan memahami kekhawatirannya serta mengajari pasien mengurangi atau mengatasi kekhawatiran itu dengan lebih baik.
  • Terapi perilaku untuk membantu pasien mengubah atau membatasi perilaku obsesif kompulsif.
  • Terapi keluarga terutama bagi orang tua jika pasiennya masih anak-anak agar paham dan terlibat aktif dalam pengobatan pasien.
  • Obat-obatan untuk menaikkan kadar hormon serotonin di otak.
  • Penggunaan antibiotik bila ditemukan kaitan OCD yang diderita dengan infeksi bakteri streptokokus.
Baca Juga:  Ayo Kenali Gejala Depresi

 

Komplikasi

Obsessive compulsive disorder (OCD) bisa memicu problem lanjutan atau komplikasi yang juga memerlukan perhatian, di antaranya:

  • Banyak waktu yang dihabiskan untuk melakukan hal yang sama tiap hari
  • Masalah kesehatan karena perilaku berulang, misalnya dermatitis kontak atau peradangan pada kulit karena sering mencuci tangan
  • Sulit mengejar pelajaran di sekolah
  • Mengalami kesulitan dalam aktivitas sosial
  • Bermasalah dalam pekerjaan
  • Sulit menjalin hubungan dengan orang lain
  • Kualitas hidup buruk
  • Pikiran dan perilaku bunuh diri

 

Pencegahan

Para pakar kesehatan belum menemukan cara untuk mencegah obsessive compulsive disorder (OCD) hingga saat ini. Bagi orang tua yang mendapati ada tanda atau gejala anaknya mengalami OCD, sebaiknya segera bawa anak ke dokter untuk menjalani evaluasi secepat mungkin. Deteksi dan perawatan sejak dini bisa meredakan gejala dan meningkatkan peluang tumbuh kembang anak secara normal. Penanganan dini juga akan meningkatkan kualitas hidup pasien secara keseluruhan.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera jadwalkan konsultasi dengan dokter bila ada gejala yang mengarah ke obsessive compulsive disorder (OCD). Terutama jika perilaku atau pikiran obsesif-kompulsif sudah mengganggu kehidupan sehari-hari dan berlangsung lama hingga membuat orang-orang di sekitarnya ikut terpengaruh.

 

Narasumber

dr. Hery Murtantyo Hutomo, Sp.KJ

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa

Primaya Hospital Bekasi Utara

Referensi:

  • What Is Obsessive-Compulsive Disorder?. https://www.psychiatry.org/patients-families/obsessive-compulsive-disorder/what-is-obsessive-compulsive-disorder. Diakses 30 Oktober 2022
  • Overview – Obsessive compulsive disorder (OCD). https://www.nhs.uk/mental-health/conditions/obsessive-compulsive-disorder-ocd/overview/. Diakses 30 Oktober 2022
  • About OCD. https://iocdf.org/about-ocd/. Diakses 30 Oktober 2022
  • Obsessive-Compulsive Disorder.Obsessive-Compulsive Disorder. Diakses 30 Oktober 2022
  • Obsessive-Compulsive Disorder in Children. https://www.cdc.gov/childrensmentalhealth/ocd.html. Diakses 30 Oktober 2022
  • What Is Obsessive Compulsive Disorder?. https://kids.frontiersin.org/articles/10.3389/frym.2019.00138. Diakses 30 Oktober 2022
  • Obsessive-Compulsive Disorder: Diagnosis and Management. https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2015/1115/p896.html. Diakses 30 Oktober 2022
  • Questioning Whether You Have OCD When You Have OCD. https://adaa.org/learn-from-us/from-the-experts/blog-posts/consumer/questioning-whether-you-have-ocd-when-you-have. Diakses 30 Oktober 2022
Bagikan ke :

Buat Janji Dokter

Promo

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.