• Emergency
  • 150 108

Terapi Kanker Payudara: Deteksi dan Mengatasinya

Terapi Kanker Payudara Deteksi dan Mengatasinya

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sebanyak 2,3 juta perempuan terdiagnosis mengalami kanker payudara dan 685 ribu kematian secara global pada 2020. Hingga akhir 2020, ada 7,8 juta perempuan yang selama 5 tahun terakhir hidup dengan penyakit ini. Di Indonesia, kanker payudara  juga masih menjadi momok. Meski bisa diatasi, penyakit ini kerap baru terdeteksi pada stadium lanjut. Terapi kanker payudara akan lebih efektif bila penyakit itu diketahui sejak dini.

 


Mengenal Kanker Payudara

Kanker payudara terjadi ketika sel dalam jaringan payudara bermutasi dan berlipat ganda dengan cepat. Pertumbuhan sel yang tidak normal ini membentuk tumor. Tumor menjadi ganas saat sel berkembang dan menyebar di jaringan payudara hingga ke organ tubuh lain. Baik perempuan maupun laki-laki berisiko terhadap penyakit ini. Namun perempuan seratus kali lebih rentan.

Di seluruh dunia, breast cancer adalah salah satu pemicu kematian utama. Walau demikian, tingkat kematian akibat penyakit ini menurun dalam beberapa tahun terakhir berkat makin tingginya kesadaran para perempuan untuk mendeteksi dini penyakit tersebut. Terapi breast cancer makin terbukti efektivitasnya sebagai metode pengobatan pasien.

Breast cancer bisa diklasifikasikan berdasarkan penyebab, agresivitas, dan penanganannya. Awal mula kemunculan kanker ini bisa dari berbagai bagian payudara. Tapi bisa juga awalnya muncul dari area ketiak, tempat kelenjar getah bening. Kanker ini juga bisa menyebar ke organ tubuh lain (metastasis), seperti ke paru-paru, tulang, bahkan otak. Dokter perlu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh untuk menentukan pengobatan dan terapi kanker payudara yang sesuai.

 

Gejala

Deteksi dini memiliki peran utama dalam penanganan penyakit ini. Pada tahap awal, sel kanker masih kecil dan belum menyebar. Namun gejala kanker payudara bisa berlainan antara satu orang dan orang lain. Berikut ini beberapa gejala umumnya:

Perbedaan payudara: Termasuk bentuk, ukuran, warna kulit, atau tekstur kulit pada payudara yang berbeda dari biasanya.

Pembengkakan: Mungkin terjadi di sebagian atau seluruh payudara.

Puting berubah: Ada kemungkinan puting berubah menjadi lebih ke dalam.

Keluar cairan: Segala jenis cairan yang keluar dari puting, selain air susu, harus diperiksa oleh dokter.

Benjolan: Ada benjolan di payudara atau area ketiak.

Nyeri: Terasa di sebagian atau seluruh payudara.

Pada kebanyakan pasien, benjolan pada payudara adalah tanda awal risiko kanker. Benjolan yang keras dan tak beraturan tanpa rasa sakit kemungkinan besar bermula dari sel kanker. Namun bisa juga benjolan itu lembut dan lunak dengan bentuk bulat. Benjolan ini juga bisa menjadi gejala kanker kulit pada pria.

Baca Juga:  Pemeriksaan Mammografi, Apakah Efektif?

 

Penyebab

Penyebabnya bisa berasal dari riwayat keluarga, tapi juga mungkin bersifat sporadis alias tidak ada mutasi gen yang diwariskan. Dalam kanker payudara yang sporadis, terdapat sederet faktor risiko yang berperan, antara lain:

  • Hormon
  • Pola makan
  • Gaya hidup
  • Penyakit di payudara
  • Lingkungan

Perempuan dengan payudara yang padat juga terbukti lebih berisiko terhadap penyakit ini. Payudara padat memiliki lebih banyak jaringan ikat ketimbang jaringan lemak sehingga sulit menemukan tumor lewat prosedur mammogram.

 

Cara Mendeteksi

Walau ada gejala yang spesifik, banyak perempuan tidak mengalami gejala apa pun pada stadium awal. Kanker yang ditemukan pada stadium awal punya kesempatan lebih besar untuk sembuh dengan terapi. Itu sebabnya tes screening memainkan peran penting dalam deteksi dini kanker payudara.

Lembaga kesehatan di seluruh dunia merekomendasikan perempuan memeriksa payudara secara berkala untuk melihat ada-tidaknya tanda atau gejala kanker payudara. Perempuan harus mengenali payudaranya sehingga bisa menemukan perubahan bila ada dan langsung berkonsultasi dengan dokter.

Screening untuk tujuan deteksi berbeda dengan metode diagnosis kanker payudara. Screening dilakukan untuk mendeteksi abnormalitas pada payudara, sedangkan diagnosis untuk mengonfirmasi apakah abnormalitas itu kanker atau bukan. Salah satu cara screening adalah melihat fisik payudara lewat bantuan cermin. Penggunaan mammogram juga menjadi metode screening standar di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

Mammogram adalah metode pemeriksaan payudara dengan alat khusus menggunakan teknologi sinar-X. Ada dua macam mammogram, yaitu screening dan diagnostik. Bila menemukan abnormalitas dalam screening, dokter dapat merekomendasikan mammogram diagnostik untuk memeriksa lebih lanjut temuan tersebut.

Prosedur utama untuk mendiagnosis penyakit ini adalah dengan biopsi, yakni mengambil sampel jaringan payudara dan memeriksanya di laboratorium. Pemeriksaan ini sekaligus dapat menyimpulkan seberapa ganas sel kanker yang tumbuh di payudara.

 

Pengobatan dan Jenis Terapi untuk Kanker Payudara

Pengobatan dan jenis terapi kanker payudara bergantung pada lokasi kanker, penyebarannya, dan ketergantungan pertumbuhan sel kanker pada hormon tertentu. Operasi menjadi metode pengobatan yang banyak dipilih. Selain itu, ada metode terapi, yakni radiasi, kemoterapi, dan hormonal yang dilakukan seusai operasi.

Baca Juga:  Terapi Kanker Kulit: Pengobatan dan Penanganan

Terapi radiasi

Metode ini bertujuan membunuh sel kanker yang mungkin tersisa setelah dilakukan operasi. Terapi radiasi hanya ditujukan pada area spesifik yang diberi sinar. Biasanya terapi ini berlangsung selama lima hari setiap pekan selama lima hingga enam pekan. Tidak ada rasa sakit dari penyinaran radiasi, tapi mungkin bisa membuat kulit teriritasi.

Kemoterapi

Terapi kanker payudara menggunakan berbagai obat-obatan untuk membunuh sel kanker dan mencegahnya tumbuh. Ada setidaknya tiga strategi kemoterapi, yaitu:

  • Adjuvant: diberikan pada pasien yang berpotensi ditangani dengan operasi atau radiasi.
  • Presurgical: untuk mengecilkan tumor atau membunuh sel kanker sebelum dilakukan operasi.
  • Therapeutic: kemoterapi rutin pada kanker payudara metastasis.

Hormonal

Terapi kanker payudara ini umumnya dilakukan karena penyakit ini sensitif terhadap perubahan hormon. Terapi hormonal bertujuan mencegah kembalinya tumor dan mengatasi gejala tersisa.

 

Pencegahan

Faktor risiko yang paling penting dalam perkembangan kanker payudara adalah gender, usia, dan genetik. Untuk itu, perempuan disarankan lebih sadar untuk memeriksa payudaranya secara mandiri dan berkala. Terlebih bila ada anggota keluarga yang punya riwayat penyakit ini.

Bagi orang yang memiliki faktor risiko dan tak menunjukkan gejala, mammogram adalah cara yang pas untuk menemukan kanker yang tersembunyi. Berdasarkan penelitian, perempuan disarankan mulai rutin menjalani mammogram saat berusia 40 tahun. Makin bertambah usia, makin besar kebutuhan mammogram karena banyak penderita penyakit ini adalah perempuan yang telah masuk periode menopause.

Mengubah gaya hidup juga bisa menjadi langkah penting untuk mencegah kanker payudara, misalnya:

  • Menghindari rokok
  • Menjaga berat badan sehat
  • Makan gizi seimbang
  • Rutin berolahraga
  • Menghindari polusi serta paparan sinar matahari langsung dan bahan kimia berbahaya

Kapan Harus ke Dokter?

Abnormalitas yang ditemukan saat pemeriksaan fisik payudara secara mandiri tidak berarti menjadi tanda seseorang menderita kanker payudara. Namun sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Apalagi jika ada anggota keluarga yang diketahui memiliki riwayat penyakit ini. Makin cepat diketahui, makin besar peluang kesembuhan lewat terapi kanker payudara.

 

Ditinjau oleh:

dr. Rima Aghnia Permata Sari

Dokter Umum – Primaya Hospital Pasar Kemis

 

Referensi:

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/breast-cancer/symptoms-causes/syc-20352470

https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/breast-cancer

Bagikan ke :

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.