• Emergency
  • 150 108
  • Chatbot

Tekanan Darah Tinggi

Tekanan Darah Tinggi Gejala, Penyebab & Mengobati

Tekanan darah adalah tekanan yang diakibatkan oleh sirkulasi darah terhadap dinding pembuluh darah arteri tubuh, dinyatakan dalam satuan milimeter air raksa (mmHg). Tekanan darah ditulis dalam dua angka, misalnya 112/78 mm Hg. Angka atas, atau lebih besar, (disebut tekanan sistolik) adalah tekanan saat jantung berdetak. Angka bawah, atau lebih kecil, (disebut tekanan diastolik) adalah tekanan saat jantung beristirahat di antara detak jantung. Tekanan darah normal adalah di bawah 120/80 mm Hg. Tekanan darah dapat berubah – ubah sepanjang hari berdasarkan aktivitas.

Diagnosis hipertensi ditegakkan  apabila tekanan di arteri secara konsisten lebih tinggi dari seharusnya. Adanya pengukuran tekanan darah sistolik  ≥130 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik  ≥90 mmHg yang menetap dari waktu ke waktu maka itu dikategorikan kedalam hipertensi atau hipertensi. Seringkali hipertensi tidak memiliki tanda atau gejala, namun dapat tiba –tiba menyebabkan komplikasi yang fatal . Semakin tinggi tingkat tekanan darah seseorang, maka semakin besar risiko  untuk terjadinya  masalah kesehatan lainnya, seperti  penyakit jantung, dan stroke.

buat jani dokter primaya

 

Apa Faktor Resiko Tekanan Darah Tinggi?

Hipertensi sebaiknya dideteksi sedini mungkin sehingga bisa dilakukan intervensi untuk mengatasi dan mencegah komplikasi yang mungkin terjadi. Oleh karena itu kita harus mengetahui apa saja faktor resiko terjadinya hipertensi. Ada dua kategori faktor resiko hipertensi, yaitu yang bisa dimodifikasi atau diubah dan yang tidak bisa dimodifikasi.

Faktor risiko hipertensi yang dapat diubah antara lain

  1. pola makan yang tidak sehat (konsumsi garam berlebihan, pola makan tinggi lemak jenuh dan lemak trans, asupan buah dan sayuran yang rendah),
  2. kurang aktivitas fisik,
  3. merokok atau paparan asap rokok,
  4. konsumsi alkohol,
  5. kadar gula dan kolesterol yang tinggi
  6. dan kelebihan berat badan atau obesitas.

Sedangkan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi meliputi

  1. riwayat keluarga hipertensi,
  2. ras, atau suku tertentu
  3. bertambahnya usia
  4. jenis kelamin laki – laki
  5. mengalami kerusakan ginjal atau penyakit obstructive sleep apnea
  6. Stres psikososial.

 

Apa Gejala Hipertensi ?

Hipertensi disebut sebagai “silent killer”. Kebanyakan orang dengan hipertensi tidak menyadari masalahnya karena mungkin tidak memiliki tanda atau gejala. Oleh karena itu, pengukuran tekanan darah secara teratur menjadi sangat penting.  Ketika gejala benar-benar muncul biasanya  berupa sakit kepala di pagi hari, mimisan, irama jantung tidak teratur, perubahan penglihatan, dan telinga berdengung. Hipertensi berat dapat menyebabkan kelelahan, mual, muntah, kebingungan, kecemasan, nyeri dada, dan tremor otot.

Baca Juga:  Penyandang Diabetes Berpuasa, Bolehkah?

Satu-satunya cara untuk mendeteksi hipertensi adalah dengan meminta petugas kesehatan untuk mengukur tekanan darah. Meskipun seseorang dapat mengukur tekanan darahnya sendiri menggunakan perangkat otomatis, namun evaluasi oleh profesional kesehatan penting untuk penilaian risiko dan kondisi terkait.

 

Apa komplikasi dari hipertensi yang tidak terkontrol?

Hipertensi dapat menyebabkan kerusakan serius pada jantung. Tekanan yang berlebihan dapat mengeraskan arteri, mengurangi aliran darah dan oksigen ke jantung. Tekanan yang meningkat dan berkurangnya aliran darah ini dapat menyebabkan:

  • Nyeri dada, juga disebut angina.
  • Serangan jantung, yang terjadi ketika suplai darah ke jantung tersumbat dan sel otot jantung mati karena kekurangan oksigen. Semakin lama aliran darah tersumbat, semakin besar kerusakan pada jantung.
  • Gagal jantung, yang terjadi ketika jantung tidak dapat memompa cukup darah dan oksigen ke organ tubuh vital lainnya.
  • Detak jantung tidak teratur yang dapat menyebabkan kematian mendadak.

Hipertensi juga bisa menyebabkan pembuluh darah di otah pecah atau terjadi sumbatan  arteri yang memasok darah dan oksigen ke otak, menyebabkan stroke. Selain itu, hipertensi juga dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang berujung pada gagal ginjal.

 

Pencegahan dan Pengelolaan

  • Makan makanan sehat yang rendah lemak jenuh dan lemak trans serta kaya akan buah-buahan, sayuran,dan  biji-bijian. Konsumsi produk susu rendah lemak diperbolehkan.
  • Usahakan untuk mengonsumsi garam kurang dari 1.500 mg/hari sodium.
  • Makan makanan yang kaya potasium. Targetkan 3.500 – 5.000 mg diet kalium per hari.
  • Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sehat.
  • Menjadi lebih aktif secara fisik. Targetkan 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang atau setidaknya 75 menit aktivitas fisik berat per minggu, atau kombinasi keduanya, tersebar sepanjang minggu. Tambahkan aktivitas penguatan otot setidaknya dua hari seminggu untuk manfaat kesehatan yang lebih banyak.
  • Jangan merokok dan hindari paparan asap rokok
  • Tidak mengkonsumsi alkohol.
  • Secara teratur memeriksa tekanan darah. Ketahui berapa seharusnya tekanan darah Anda dan usahakan untuk mempertahankannya pada tingkat itu.
  • Mengurangi dan mengelola stres.
  • Minumlah obat seperti yang dikatakan oleh ahli kesehatan Anda.
  • Mengelola kondisi medis lainnya.
Baca Juga:  Cara Mengatasi Sesak Nafas Karena Batuk

 

Obat-obatan

Obat yang digunakan untuk terapi hipertensi antara lain: (1) Penghambat ACE (seperti captopril, lisinopril dan ramipril, (2) calcium channel blocker (contoh amlodipin, diltiazem, nifedipin, verapamil, nicardipine), (3) penghambat reseptor angiotensin II (contohnya valsartan, candesartan, irbesartan, telmisartan), (4) diuretik (contoh : hydrochlorothiazide, furosemid), (5) beta blocker (contoh propranolol, bisoprolol), (6) alpha blocker (contoh Doxazosin, prazosin, terazosin), dan (7) agonis reseptor alfa-2 (contoh clonidine, methyldopa) yang dengan khasiat masing-masing berfungsi menurunkan tekanan darah.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Hipertensi hanya bisa diketahui lewat pemeriksaan tekanan darah. Seseorang bisa melakukan pemeriksaan secara mandiri dengan tensimeter yang bisa didapatkan secara bebas. Bila hasil pengukuran menunjukkan angka diastolik dan sistolik yang tinggi, sebaiknya segera mendatangi dokter untuk berkonsultasi dan menjalani pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga medis profesional. Tes skrining juga diperlukan bila ada riwayat hipertensi dalam keluarga meski Anda tidak menunjukkan gejala.

 

Narasumber

dr. Prema Hapsari, Sp. PD

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Primaya Hospital Makassar

Referensi:

  • WHO 2021. Hypertension. Avalaible at https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hypertension.
  • American Heart Association. What is Hypertension. Available at https://www.heart.org/-/media/files/health-topics/answers-by-heart/what-is-high-blood-pressure.pdf
  • Goit, L.N. and Yang, S.N. (2019) Treatment of Hypertension: A Review. Yangtze Medicine, 3, 101-123. https://doi.org/10.4236/ym.2019.32011
  • KDIGO 2021. Clinical practice guideline for the management of blood pressure in chronic kidney disease. Kidney International (2021) 99, S1–S87
  • Centers for Disease Control and Prevention. High Blood Pressure Symptoms and Causes. Available at https://www.cdc.gov/bloodpressure/about.htm
Bagikan ke :

Buat Janji Dokter

Promo

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.