• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

5 Cara Mencegah Cedera Olahraga dengan Fisioterapi

5 Cara Mencegah Cedera Olahraga dengan Fisioterapi

Cedera olahraga adalah hal yang wajar terjadi, tetapi rasa sakit saat mengalami cedera tentu bisa mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Sehingga memahami cara mencegah cedera cukup penting, terutama bagi mereka yang hobi berolahraga.Hal ini tentu untuk mengurangi risiko terjadinya cedera olahraga dan mencegah terjadinya cedera jangka panjang.

Anda bisa menghubungi Kavacare Support di nomor 0811-1446-777 untuk mendapatkan layanan fisioterapi di rumah untuk pencegahan atau perawatan pascacedera. Kavacare memiliki layanan home care yang dapat menghadirkan fisioterapis, perawat, dan dokter ke rumah.

buat jani dokter primaya

 

1. Peran Fisioterapi Olahraga

Mencegah cedera dengan fisioterapi bisa menjadi langkah terbaik. Pasalnya fisioterapis olahraga dapat membantu Anda mengidentifikasi cedera dan menilai fungsi biomekanik untuk memperbaiki pola gerakan saat olahraga untuk mencegah cedera.

Tidak hanya itu, fisioterapis juga dapat membantu mencegah cedera olahraga dengan melakukan beberapa hal berikut:

  • Mengatur program pencegahan khusus untuk Anda.
  • Mengajarkan teknik pemanasan dan peregangan yang benar.
  • Menyarankan program latihan individu untuk memperbaiki ketidakseimbangan otot.
  • Melakukan identifikasi pada cedera sebelumnya yang belum sembuh.
  • Membuat latihan rehabilitasi khusus untuk Anda.
  • Mengajarkan latihan postural.
  • Mengembangkan program khusus dan memodifikasinya agar Anda bisa kembali berlatih dengan aman.
  • Seorang terapis juga bisa membantu meningkatkan performa olahraga dengan cara seperti menawarkan analisis video tentang aktivitas dan gerakan Anda.

Selain itu, fisioterapi olahraga memiliki beberapa manfaat, seperti:

1. Meningkatkan fleksibilitas otot dan sendi

Fisioterapi olahraga dapat meningkatkan kelenturan otot dan persendian melalui latihan dengan terapi tertentu. Fleksibilitas ini adalah aspek penting dalam menentukan performa seorang atlet.

2. Membantu tubuh rileks

Di dalam terapi ini ada teknik pijatan dan program terapi lainnya yang dapat membuat tubuh lebih rileks.

3. Membantu mencegah cedera

Seorang terapis olahraga dapat membuat rencana latihan khusus untuk seorang atlet sesuai dengan kondisi tubuhnya. Sehingga ini bisa mengurangi cedera ringan seperti robekan ligamen, keseleo, kejang, serta cedera akibat penggunaan otot dan tulang secara berlebihan.

4. Meningkatkan daya tahan tubuh

Dengan menggunakan layanan fisioterapi olahraga, seorang terapis dapat membuat rencana latihan tertentu. Misalnya latihan untuk memperkuat otot, persendian, dan ligamen. Di mana ini dapat meningkatkan daya tahan tubuh untuk mengatasi tuntutan fisik yang tinggi dari latihan olahraga.

5. Panduan yang akurat

Cedera dapat membuat atlet pensiun bila tidak mendapat penanganan yang tepat. Dengan terapis olahraga, atlet bisa mendapatkan rencana atau panduan olahraga yang akurat dan tepat. Sehingga bisa mencegah cedera berulang yang memperparah kondisinya.

 

2. Jenis Cedera Olahraga yang Umum

Cedera olahraga dibagi menjadi dua kategori besar yaitu akut dan kronis. Cedera akut biasanya terjadi secara tiba-tiba, sedangkan cedera kronis bisa terjadi karena penggunaan salah satu bagian tubuh secara berlebihan.

Dari kedua jenis cedera tersebut, berikut ini ada beberapa cedera yang umum terjadi pada atlet dan mereka yang hobi olahraga.

1. Patah tulang

Patah tulang dapat terjadi akibat beberapa faktor saat olahraga. Misalnya atlet sepak bola dapat mengalami cedera akibat terjatuh saat berusaha mengambil bola dari lawan. Sehingga menyebabkan area yang menjadi tumpuan ketika jatuh mengalami retak atau patah.

Baca Juga:  5 Tips Merawat Pasien Tirah Baring atau Bedrest

Namun, patah tulang ini juga bisa terjadi akibat adanya tekanan yang berlebihan pada bagian tubuh bawah seperti tulang paha, tibia, fibula, dan tulang kaki. Di mana kondisi fraktur stress ini lebih banyak menyerang atlet lari, tenis, basket, dan atletik.

2. Dislokasi sendi

Olahraga yang sering melakukan kontak dengan lawan seperti sepak bola bisa meningkatkan risiko cedera dislokasi sendi. Dislokasi sendi ini terjadi jika ada tekanan yang membuat dua tulang terpisah. Biasanya cedera olahraga ini terjadi pada bahu, siku, jari tangan, dan lutut.

3. Keseleo

Keseleo atau cedera ligamen juga umum terjadi pada seorang atlet. Bagian tubuh yan rentan keseleo yakni pergelangan kaki, lutut, dan pergelangan tangan. Biasanya cedera olahraga ini terjadi akibat adanya benturan saat jatuh atau pukulan yang membuat sendi keluar dari posisinya.

4. Strain

Ketegangan otot atau strain adalah adanya tarikan atau robekan pada otot atau tendon. Cedera olahraga yang satu ini rentan menyerang atlet sepak bola, basket, voli, dan tenis. Biasanya strain terjadi pada bagian otot atau tendon di antara dua sendi.

5. Tendinitis

Tendinitis adalah peradangan yang terjadi pada tendon yang merupakan jaringan fibrosa fleksibel yang menghubungkan otot ke tulang. Cedera ini sering terjadi pada siku, bahu, pergelangan tangan, pinggul, lutut, dan pergelangan kaki. Tendinitis dapat terjadi akibat cedera akut, tetapi lebih sering terjadi karena gerakan berulang yang berlebihan.

6. Bursitis

Ini adalah peradangan pada bursae atau kantong kecil berisi cairan yang berfungsi sebagai bantalan antara tulang dan bagian penggerak lainnya. Bursitis dapat terjadi akibat adanya benturan dan gerakan yang berulang secara berlebihan. Cedera olahraga ini sering terjadi pada bagian tubuh seperti bahu, siku, pinggul, dan lutut.

7. Cedera rotator cuff

Cedera olahraga ini umum terjadi pada atlet yang sering melakukan gerakan tangan di atas kepala secara berlebihan. Misalnya seperti atlet renang, tenis, dan badminton. Namun, cedera rotator cuff juga dapat terjadi karena cedera akut. Sementara rotator cuff sendiri adalah empat otot tendon yang berfungsi untuk menstabilkan persendian di bahu.

 

3. Berbagai Gerakan Pemanasan Sebelum Olahraga

Melakukan pemanasan yang benar sebelum olahraga menjadi salah satu langkah mencegah cedera yang efektif. Supaya menurunkan risiko cedera, berikut lima gerakan pemanasan sebelum olahraga yang bisa Anda terapkan.

1. Gerakan berbaris di tempat

Anda perlu berdiri tegap, kemudian angkat kaki kanan dan kiri secara bergantian. Anda bisa hanya jalan di tempat atau melakukannya sambil berjalan maju-mundur. Gerakkan juga lengan Anda ke atas dan ke bawah sesuai irama langkah kaki dengan lengan tertekuk serta tangan mengepal. Lakukan gerakan pemanasan ini selama 3 menit.

Baca Juga:  8 Hal Penting dalam Penggunaan Popok Lansia

2. Heel digs

Selanjutnya ada gerakan heel digs atau galian tumit yang perlu Anda lakukan selama 60 detik. Gerakan ini bisa Anda lakukan dengan menggerakkan tumit ke depan secara bergantian dengan kaki yang mengarah ke atas. Anda juga perlu menekuk satu kaki sebagai penyangga atau yang tidak digerakkan ke depan.

3. Angkat lutut

Lalu ada gerakan mengangkat lutut ke atas. Untuk melakukan pemanasan ini, pertama Anda perlu berdiri tegak. Kemudian mengangkat lutut kanan dan kiri bergantian setinggi pinggang. Selanjutnya gerakkan tangan kanan untuk menyentuh lutut kiri dan sebaliknya. Lakukan gerakan pemanasan ini selama 30 detik atau 30 kali gerakan.

4. Gerakan gulungan bahu

Pemanasan selanjutnya untuk mencegah cedera olahraga ialah gerakan gulungan bahu. Untuk memulai pemanasan ini, buat posisi tubuh Anda berdiri tegap. Setelah itu, putar bahu Anda ke depan 5 kali dan ke belakang 5 kali. Posisi lengan biarkan menggantung di sisi tubuh Anda.

5. Menekuk lutut

Terakhir ada gerakan menekuk lutut. Anda bisa berdiri dengan kaki terbuka selebar bahu, lalu angkat kedua tangan ke depan. Setelah itu turunkan tubuh dan tekuk lutut Anda, kemudian ubah posisi tubuh kembali tegak. Ulangi gerakan ini sampai 10 kali.

Mencegah cedera olahraga dapat membuat performa seorang atlet tetap stabil dalam pertandingan. Pencegahan ini juga penting bagi Anda yang punya hobi olahraga. Agar menjaga Anda tetap bugar serta tidak melakukan olahraga berlebihan yang dapat menyebabkan cedera akut dan kronis. Oleh karena itu, Anda mungkin membutuhkan seorang fisioterapis olahraga.

 

(Artikel ini telah direview oleh dr. Keyvan Fermitaliansyah, Care Pro & Dokter Umum di Kavacare)

Referensi:

  • First Response Healthcare. The Role of Physiotherapy in Preventing and Managing Sports Injuries. Dikases pada 29 Oktober 2023 dari https://firstresponse.ae/the-role-of-physiotherapy-in-preventing-and-managing-sports-injuries/#:~:text=A%20sports%20physiotherapist%20will%20create,tears%2C%20sprains%2C%20and%20spasms.
  • Georgy, David. 2021. Has your sports injury kept you from playing the game you love. Diakses pada 29 Oktober 2023 dari https://australiansportsphysio.com/physio-sports-injury-prevention/
  • Physio. Sports Performance. Diakses pada 29 Oktober 2023 dari https://physio.org.nz/how-physio-helps/sports-performance
  • Mendonça, L. D., Schuermans, J., Wezenbeek, E., & Witvrouw, E. (2021). Worldwide Sports Injury Prevention. International journal of sports physical therapy, 16(1), 285–287. https://doi.org/10.26603/001c.18700
  • National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases. 2021. Sports Injuries. Diakses pada 30 Oktober 2023 dari https://www.niams.nih.gov/health-topics/sports-injuries
  • NHS. 2022. How to warm up before exercising. Diakses pada 30 Oktober 2021 dari https://www.nhs.uk/live-well/exercise/running-and-aerobic-exercises/how-to-warm-up-before-exercising/
Share to :

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.