• Emergency
  • 150 108

Cedera Saraf Tulang Belakang, Bagaimana Pengobatannya?

Cedera Saraf Tulang Belakang, Bagaimana Pengobatannya

Cedera saraf tulang belakang atau spinal cord injury (SCI) adalah kondisi kesehatan yang serius dan mengganggu kehidupan. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan 250.000-500.000 orang menderita cedera ini setiap tahun di seluruh dumia. Sebagian besar kasus cedera saraf ini terjadi karena penyebab yang sebenarnya dapat dicegah, seperti kecelakaan di jalan raya, terjatuh, kekerasan, aktivitas olahraga yang berlebihan, ataupun penyakit lain.

 


Mengenal Cedera Saraf Tulang Belakang

Tiap manusia memiliki tulang belakang yang dilengkapi dengan saraf. Kumpulan saraf ini kerap disebut sebagai sumsum tulang belakang yang ibarat kabel penghubung otak dengan punggung bagian bawah, dan bagian tubuh lainnya. Saraf merupakan sel yang membawa pesan gerakan dan perasaan dari otak ke seluruh tubuh dan dari tubuh kembali ke otak.

Saraf tulang belakang mengontrol:

  • Pergerakan otot
  • Fungsi tubuh, seperti bernapas dan berkemih
  • Perasaan (sensasi) seperti panas, dingin, getaran, dan sentuhan
  • Kesadaran akan posisi dan gerakan tubuh

Ketika terjadi cedera saraf tulang belakang, kehidupan orang bisa jadi berubah drastis karena cara tubuh bergerak, merasakan, dan berfungsi pada umumnya pun berubah. Orang tersebut bisa jadi lumpuh atau sebagian anggota tubuhnya tak bisa lagi berfungsi seperti sebelumnya.

Setelah seseorang mengalami cedera, dokter tidak selalu dapat mengetahui bagaimana kondisi orang tersebut dalam jangka panjang. Pemulihan bisa berjalan hingga lebih dari dua tahun setelah cedera. Orang yang mengalami cedera saraf tulang belakang memerlukan perawatan medis secara intensif dan berkelanjutan agar dapat pulih.

Cedera saraf tulang belakang biasanya dibedakan menjadi dua jenis, yaitu lengkap (complete) dan tidak lengkap (incomplete). Pada cedera lengkap, tidak ada sinyal antara otak dengan titik di bawah lokasi cedera, sehingga tidak ada sensasi dan gerakan aktif maupun gerakan refleks. Gangguan terjadi di kedua sisi tubuh. Adapun orang dengan cedera tidak lengkap mungkin dapat lebih menggerakkan satu anggota tubuh daripada yang lain, dapat merasakan bagian tubuh yang tidak dapat digerakkan, atau satu sisi tubuhnya lebih berfungsi daripada yang lain.

 

Gejala Cedera Saraf Tulang Belakang

Cedera tulang belakang dapat menyebabkan satu atau lebih tanda dan gejala berikut:

  • Kehilangan gerakan/kelumpuhan
  • Kehilangan kemampuan untuk merasakan panas, dingin, dan sentuhan
  • Kehilangan kontrol usus atau kandung kemih
  • Aktivitas refleks yang berlebihan tau kejang
  • Perubahan fungi seksual, sensitivitas seksual dan kesuburan
  • Rasa sakit atau sensasi menyengat yang disebabkan oleh kerusakan pada serabut saraf
Baca Juga:  Mengenal RICE, Pertolongan Pertama Saat Cedera

di sumsum tulang belakang

  • Kesulitan bernapas, batuk, atau mengeluarkan lendir dari paru-paru
  • Nyeri punggung yang ekstrem atau tekanan di leher, kepala, atau punggung
  • Mati rasa, kesemutan, atau hilangnya sensasi di tangan, jari tangan, kaki atau jari kaki
  • Posisi leher atau punggung aneh atau bengkok

 

Penyebab Cedera Saraf Tulang Belakang

Cedera saraf tulang belakang dapat terjadi akibat kerusakan pada tulang belakang, ligamen, bantalan tulang belakang, atau sumsum tulang belakang itu sendiri. Penyebab kerusakan itu antara lain pukulan atau benturan tiba-tiba pada tulang belakang yang membuatnya patah, terkilir, remuk, atau tertekan satu sama lain. Pemicu lainnya adalah luka tembak atau pisau yang menembus dan memotong saraf tulang belakang.

Cedera tambahan bisa terjadi dalam hitungan hari atau pekan karena perdarahan, pembengkakan, peradangan, dan akumulasi cairan di dalam dan sekitar sumsum tulang belakang. Selain itu, ada penyebab cedera non-traumatis, seperti artritis, kanker, infeksi, atau degenerasi bantalan tulang belakang.

 

Diagnosis Cedera Saraf Tulang Belakang

Untuk mendiagnosis cedera saraf tulang belakang, dokter akan mengecek gerakan atau sensasi di sekitar titik cedera, termasuk napas dan respons pasien. Adapun tes medis untuk memeriksa cedera ini antara lain:

  • Sinar-X menunjukkan gambar dua dimensi sebagian bear bagian tubuh, seperti sendi atau sistem organ utama. Retakan atau ketidakselarasan pada tulang belakang dapat segera terlihat dengan pemeriksaan ini.
  • Computerized tomography (CT) scan memberikan gambaran dua dimensi yang cepat dan jelas tentang organ, tulang, dan jaringan. CT dapat mendeteksi patah tulang, perdarahan, dan penyempitan kanal tulang belakang.
  • Magnetic resonance imaging (MRI) menghasilkan gambar tiga dimensi rinci dari struktur tubuh, termasuk jaringan, organ, tulang, dan saraf. Hasil tes ini dapat menunjukkan trauma otak dan tulang belakang akibat cedera.

 

Perawatan Cedera Saraf Tulang Belakang

Perawatan untuk cedera saraf tulang belakang bergantung pada otot, sensasi, dan fungsi yang terpengaruh. Perawatan yang utama meliputi:

  • Pemberian obat-obatan
  • Bantuan pernapasan
  • Penggunaan kateter untuk membantu membuang air kecil
  • Operasi tulang belakang
Baca Juga:  Gejala Spondilosis dan Faktor Risikonya

Pasien juga perlu perawatan jangka panjang untuk menghadapi perubahan hidup yang dialami. Perawatan rehabilitasi in termasuk belajar menggunakan kursi roda atau kruk, melatih kekuatan otot tubuh, mengatasi perasaan frustrasi, takut, sedih, atau marah.

 

Pencegahan Cedera Saraf Tulang Belakang

Sebagian bear penyebab cedera saraf tulang belakang dapat dicegah. Contohnya:

  • Berkendara dengan aman. Tabrakan mobil adalah salah satu penyebab paling umum cedera saraf tulang belakang. Kenakan sabuk pengaman setiap kali Anda berada di dalam mobil. Bila capek, sebaiknya menepi dan beristirahat dulu.
  • Bagi anak-anak, pastikan menggunakan kursi pengaman anak yang sesuai dengan usia dan berat badan di mobil. Anak-anak di bawah usia 12 tahun sebaiknya duduk di kursi belakang untuk menghindari cedera akibat keluarnya kantong udara di kursi depan
  • Mencegah jatuh. Misalnya dengan berpegangan ketika naik-turun tangga, menggunakan keset anti-selip di kamar mandi, dan berhati-hati sat mengenakan sepatu hak tinggi.
  • Waspada saat Selalu kenakan perlengkapan keselamatan yang direkomendasikan dan hindari gerakan yang berpotensi menimbulkan cedera.

 

Kapan Harus ke Dokter

Siapa pun yang mengalami kejadian traumatis pada kepala atau leher, misalnya terbentur atau terjatuh, memerlukan pemeriksaan medis segera untuk mengecek apakah terjadi cedera saraf tulang belakang. Faktanya, tindakan yang paling aman adalah berasumsi terjadi cedera tulang belakang sampai terbukti sebaliknya karena cedera serius tidak selalu langsung terlihat. Bila tak diketahui, cedera bisa menjadi lebih parah. Selain itu, mati rasa atau kelumpuhan bisa terjadi secara bertahap. Jarak waktu antara cedera dan perawatan juga menentukan peluang pemulihan pasien cedera tulang belakang.

 

Narasumber

dr. Hendra Hermanto, Sp.OT

Dokter Spesialis Bedah Ortopedi dan Traumatologi

Primaya Hospital Bhakti Wara

 

Referensi

Spinal cord injury. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/spinal-cord-injury. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/spinal-cord-injury. Diakses 26 Desember 2021

Spinal Cord Injuries. https://emedicine.medscape.com/article/793582-overview. Diakses 26 Desember 2021

Spinal cord injury. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/spinal-cord-injury/symptoms-causes/syc-20377890?p=1. Diakses 26 Desember 2021

Traumatic Spinal Cord Injury: An Overview of Pathophysiology, Models and Acute Injury Mechanisms. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6439316/. Diakses 26 Desember 2021

Spinal Cord Injury. https://www.aans.org/en/Patients/Neurosurgical-Conditions-and-Treatments/Spinal-Cord-Injury. Diakses 26 Desember 2021.

Bagikan ke :

Promo

Masuk ke Akun Anda dibawah ini

Isi form dibawah ini untuk melakukan pendaftaran

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.