Dialisis pada Penyakit Ginjal Kronis: Kapan Harus Memulai?

day3_AWALBROS_7004, latihan fisik pasien gagal ginjal, rumah sakit awal bros, kapan harus mulai cuci darah

Dialisis atau cuci darah adalah prosedur yang dilakukan untuk membuang limbah berbahaya di dalam tubuh pada penyakit ginjal stadium akhir (penyakit ginjal kronis). Pada kondisi normal, sebenarnya proses ini dilakukan oleh ginjal. Namun, kapan harus mulai cuci darah jika pasien sudah memiliki penyakit ginjal kronis?

Dr. Indah Fitriani, SpPD selaku Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Primaya Hospital Bekasi Timur mengatakan bahwa keputusan memulai dialisis memang hal yang sulit karena terapinya berlangsung seumur hidup yang seringkali menyebabkan ketidaknyamanan dan risiko-risiko lain bagi pasien. Jika pertanyaannya adalah kapan harus mulai cuci darah, maka jawabannya adalah “Dialisis harus dimulai ketika manfaat dari berkurangnya tanda atau gejala uremikum melampaui risiko dan efek samping lain terhadap kualitas hidup pasien,” ujar Dokter Spesialis Penyakit Dalam tersebut.

Keputusan untuk memulai dialisis dapat dilihat dari uremia-related signs and symptoms, estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR), laju penurunan eGFR, kualitas hidup pasien, dan pilihan pasien. Keputusan untuk melakukan inisiasi dialisis ini seringkali kompleks. Pendekatan umum dapat dilakukan dengan kondisi:

  • Pasien dengan eGFR >15 ml/menit/1,73 m2. Pada pasien ini, tidak dilakukan inisiasi dialisis walaupun terdapat gejala yang mungkin terkait gagal ginjal stadium akhir (ESRD) karena biasanya pasien ini masih responsif dengan medikamentosa sehingga dialisis sangat jarang dilakukan.
  • Pasien asimtomatik dengan eGFR 5-15 ml/menit/1,73 m2. Pada kondisi pasien ini, dilakukan evaluasi ketat. Tidak dilakukan dialisis tanpa adanya tanda atau gejala terkait ESRD.
  • Pasien dengan eGFR 5-15 ml/menit/1,73 m2 dengan tanda atau gejala yang mungkin terjadi karena ESRD akan dilakukan tatalaksana konservatif. Jika tanda atau gejala terkait ESRD refrakter terhadap terapi, maka harus dilakukan inisiasi dialisis. Kecuali, jika adanya indikasi absolut dialisis sebaiknya jangan ditunda.
  • Pasien dengan eGFR <5. Pasien dengan kondisi ini dilakukan inisiasi dialisis walaupun tanpa tanda atau gejala terkait ESRD.
Baca Juga:  Bahaya Polusi Udara Bagi Kesehatan Paru

Kapan Harus Mulai Cuci Darah Pada Pasien Usia Lanjut

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Primaya Hospital Bekasi Timur, dr. Indah Fitriani, SpPD menjelaskan bahwa dialisis adalah terapi seumur hidup yang seringkali menyebabkan ketidaknyamanan dan risiko-risiko lain bagi pasien sehingga membutuhkan pertimbangan risk-benefit yang mendalam terutama pada pasien usia lanjut. Biasanya, setiap dialisis akan dilakukan general approach terlebih dahulu namun keputusannya kompleks karena tanda atau gejala uremikum seringkali tidak terlihat nyata dan hampir selalu non-spesifik.

Pada pasien usia lanjut, bila dilakukan dialisis, maka efeknya tidak sama dengan usia muda. Umumnya, dialisis pada pasien usia lanjut bisa menyebabkan kualitas hidup yang dapat menurun setelah inisiasi dialisis. Peningkatan kejadian rawat inap dan efek samping dialisis (fatigue malaise) lebih nyata pada pasien usia lanjut. “Untuk itu, edukasi pada pasien dan keluarga diperlukan atas komplikasi intradialitik (komplikasi yang terjadi selama prosedur hemodialisis atau dialisis),” terangnya.

Baca Juga:  Pentingnya Memiliki Gizi Yang Baik Untuk Anak

 

Artikel terkait:

Bagikan ke :