• Contact Center
  • 1500 007
  • Chatbot

BPH (Pembesaran Prostat Jinak): Bagaimana Cara Mengatasinya?

BPH (Pembesaran Prostat Jinak) Bagaimana Cara Mengatasinya

Ketika seseorang memiliki prostat yang sehat, biasanya ia tak sadar akan dengan keberadaan organ ini. Namun, seiring dengan bertambahnya usia, organ seksual pria yang terletak tepat di bawah kandung kemih ini dapat mengalami pembesaran dan mempengaruhi kualitas hidup. Suatu kondisi yang ditandai dengan masalah seputar buang air kecil ini disebut BPH (Benign Prostatic Hyperplasia).

 

buat jani dokter primaya

Mengenal BPH (Pembesaran Prostat Jinak)

BPH atau hiperplasia prostat jinak merupakan kondisi ketika kelenjar prostat membesar melebihi ukuran yang seharusnya. Kondisi ini umum terjadi pada pria yang berusia lebih tua. Gejala BPH dapat mengganggu kualitas hidup, tetapi kondisi ini berbeda dengan kanker dan tidak meningkatkan risiko mengalami kanker prostat.

Prostat sendiri berada di sekitar leher kandung kemih dan uretra atau saluran kemih dari kandung kemih ke luar tubuh. Saat membesar, prostat bisa menekan uretra dan menyebabkan masalah seperti kesulitan berkemih, kerap buang air kecil, merasa nyeri setiap kali buang air kecil, dan aliran yang urine melemah.

Benign prostatic hyperplasia tidak membahayakan jiwa, namun pengobatan bisa jadi diperlukan bila gejala yang muncul menyebabkan masalah yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa perawatan, pembesaran prostat bisa berkembang menjadi penyakit yang lebih serius, termasuk kerusakan ginjal. Oleh karena itu, bila mengalami gejala yang terkait dengan hiperplasia prostat jinak, sebaiknya berkonsultasilah dengan dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.

 

Gejala

BPH dapat menjadi asimtomatis atau tak menunjukkan gejala dan tak sengaja terdiagnosis dalam pemeriksaan rektal (colok dubur) yang dilakukan untuk mengecek masalah kesehatan lain, seperti wasir, inkontinensia feses (tak mampu mengendalikan buang air besar), atau dugaan kanker dubur.

Jika ada, gejala itu antara lain:

  • Laju urine yang lemah atau keluar sedikit-sedikit
  • Nyeri hebat saat buang air kecil
  • Kencing berdarah
  • Infeksi saluran kemih berulang
  • Batu kandung kemih
  • Sulit memulai buang air kecil
  • Tidak dapat berkemih dengan tuntas
  • Tidak mampu mengendalikan buang air kecil
  • Kerap merasa ingin buang air kecil, terutama saat malam hari
Baca Juga:  Lansia Minum Kopi, Apakah Boleh?

 

Penyebab

Penyebab BPH ada berbagai faktor, mulai dari genetik, gaya hidup, hingga hormonal. Salah satu teori yang diterima secara luas adalah hormon testosteron dan dihidrotestosteron yang memiliki kontribusi paling besar terhadap kondisi ini. Walhasil, terdapat terapi farmakologis yang dikembangkan untuk menargetkan hormon ini.

Semakin tua usia seorang pria, risiko mengalami hiperplasia prostat jinak pun akan meningkat. Menurut literatur yang sudah ada, prevalensi BPH meningkat setelah usia 40 tahun. Risiko terkena pembesaran prostat semakin besar bila terdapat anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama. Demikian pula jika menerapkan gaya hidup yang tidak sehat seperti kurang beraktivitas fisik dan senang makan makanan berlemak.

 

Cara Dokter Mendiagnosis BPH (Pembesaran Prostat Jinak)

Untuk mendiagnosis BPH, dokter akan melakukan beberapa tes dan pemeriksaan, termasuk:

  • Pemeriksaan fisik: dokter akan memeriksa prostat lewat pemeriksaan digital rektum (PDR) atau colok dubur untuk mengevaluasi ukuran, bentuk, dan konsistensi prostat.
  • Tes darah: tes darah bertujuan mengukur kadar antigen spesifik prostat (PSA) dalam darah. Kadar PSA yang tinggi bisa jadi menunjukkan adanya masalah pada prostat, termasuk benign prostatic hyperplasia maupun kanker prostat.
  • Uroflometri: tes untuk mengukur kecepatan aliran urine ketika buang air kecil.
  • MRI atau USG: pencitraan resonansi magnetik (MRI) atau ultrasonografi (USG) bisa membantu dokter melihat ukuran dan bentuk prostat secara detail.
  • Biopsi: bila ada dugaan kanker prostat, dokter mungkin akan merekomendasikan tes biopsi dengan mengambil sampel jaringan prostat guna diperiksa di bawah mikroskop.

 

Cara Mengatasi BPH (Pembesaran Prostat Jinak)

Ada beberapa cara untuk mengatasi BPH, antara lain:

  • Perubahan gaya hidup: perubahan gaya hidup seperti menghindari minuman beralkohol dan kafein, mengurangi asupan garam, menjaga berat badan yang sehat, dan rutin berolahraga bisa membantu mengurangi gejala BPH.
  • Obat-obatan: beberapa jenis obat bisa membantu meringankan gejala BPH, seperti obat golongan alpha blocker dan inhibitor 5-alpha reductase.
  • Terapi laser: terapi ini bisa membantu mengurangi gejala dan ukuran prostat, tetapi terapi ini biasanya direkomendasikan hanya jika obat-obatan tidak efektif.
  • Operasi: jika gejala sangat mengganggu dan tidak dapat diatasi dengan cara-cara lain, operasi mungkin diperlukan. Ada beberapa jenis operasi yang dapat dilakukan, seperti Reseksi prostat transurethral (TURP) dan ablasi laser.
Baca Juga:  Domperidone: Manfaat, Efek Samping, dan Dosisnya

 

Komplikasi

BPH dapat menyebabkan sejumlah komplikasi jika tidak diobati atau tidak ditangani dengan benar, diantaranya seperti:

  • Infeksi saluran kemih
  • Batu ginjal
  • Kerusakan ginjal
  • Retensi urine (sulit mengosongkan kandung kemih secara sempurna)
  • Batuk darah
  • Gangguan seksual

 

Pencegahan

Belum diketahui cara efektif untuk mencegah BPH. Namun penerapan gaya hidup sehat bisa membantu mengurangi menurunkan risiko terkena BPH. Misalnya dengan rajin berolahraga dan menerapkan pola makan gizi seimbang guna menjaga berat badan sehat. Selain itu, kurangi konsumsi kafein dan minuman beralkohol karena zat-zat tersebut dapat mengiritasi kandung kemih. Penting juga untuk tidak menahan buang air kecil agar fungsi kandung kemih tak terbebani.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Kelenjar prostat dapat membesar seiring dengan bertambahnya usia. Dalam berbagai kasus, tidak ada masalah dalam proses yang normal ini. Namun bila ada gejala yang mengarah ke BPH sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter sebelum masalah tersebut berkembang lebih parah.

 

Reviewer

dr. Muhammad Rifqi

Dokter Umum – Primaya Hospital Sukabumi

Referensi:

  • Epidemiology of clinical benign prostatic hyperplasia. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5717991/. Diakses 8 Maret 2023
  • Benign Prostatic Hyperplasia: An Overview. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1477638/. Diakses 8 Maret 2023
  • Benign Prostatic Hyperplasia and the Risk of Prostate Cancer and Bladder Cancer. https://journals.lww.com/md-journal/fulltext/2016/05030/benign_prostatic_hyperplasia_and_the_risk_of.12.aspx. Diakses 8 Maret 2023
  • What is Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)?. https://www.urologyhealth.org/urology-a-z/b/benign-prostatic-hyperplasia-(bph). Diakses 8 Maret 2023
  • Benign Prostatic Hyperplasia (BPH). https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/benign-prostatic-hyperplasia-bph. Diakses 8 Maret 2023
  • Benign Prostatic Hyperplasia: A New Metabolic Disease of the Aging Male and Its Correlation with Sexual Dysfunctions. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24688539/. Diakses 8 Maret 2023
Share to :

Buat Janji Dokter

Promo

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.