![mimpi buruk](https://primayahospital.b-cdn.net/wp-content/uploads/2024/09/mimpi-buruk.jpg)
Selain insomnia, suara dengkuran, dan juga minuman berkafein, mimpi buruk juga dapat menjadikan seseorang tidak tidur nyenyak. Lalu, sejatinya apa sih gangguan mimpi buruk itu jika ditinjau dari segi medis?
Dalam medis, kondisi ini disebut sebagai parasomnia. Walau hampir semua orang pernah mengalaminya, namun kondisi ini dapat mengganggu aktivitas tidur seseorang. Akibatnya, tidur kurang cukup, sering terbangun di tengah malam, dan  tentunya bisa menimbulkan dampak secara psikis. Yuk cari tahu lebih mendalam seputar hal ini.
Apa Itu Gangguan Mimpi Buruk?
![](https://primayahospital.b-cdn.net/wp-content/uploads/2024/09/Gejala-Gangguan-Mimpi-Buruk-6.jpg)
Gangguan mimpi buruk yaitu jenis mimpi yang membuat seseorang merasakan kecemasan atau ketakutan. Umumnya, kondisi ini membuat seseorang terbangun secara tiba-tiba dari tidurnya dan semua orang pun berpotensi untuk mengalami kondisi ini entah itu anak-anak maupun dewasa.
Biasa disebut parasomnia atau nightmare disorder, mimpi buruk sejatinya termasuk gangguan tidur (sleep wake disoder). Namun, bila kondisi ini terjadi dalam waktu yang sering maka akan mengakibatkan gangguan tidur hingga mengalami stres. Hal ini juga menjadikan gangguan mimpi buruk dikategorikan sebagai masalah kesehatan mental.
Terdapat dua fase saat seseorang tidur. Yaitu fase non REM yang merupakan siklus awal tidur lalu diikuti oleh fase REM. Tiap fase tersebut berlangsung antara 90 – 100 menit. Nah, mimpi buruk kerap terjadi pada fase REM sehingga kerap terjadi pada tengah malam maupun saat menjelang pagi.
Ada cukup banyak penyebab mimpi buruk. Mulai dari faktor genetik hingga karena riwayat gangguan mental. Untuk itu, dokter umumnya akan menggunakan pemeriksaan mental hingga sleep study untuk mendiagnosis kondisi ini.
Tema mimpi buruk sangatlah beragam. Mulai dari bertemu hantu, berjumpa monster, diculik, meninggal, dikejar-kejar, terjatuh, terluka, tertabrak, terluka, mendengar suara aneh, dan ragam visual mengerikan.
Nama | Mimpi Buruk |
Gejala Utama | Mimpi yang mengakibatkan ketakutan atau kecemasan |
Dokter Spesialis | Dokter spesialis jiwa (psikiater) |
Penyebab Utama | Belum pasti apa penyebab utamanya |
Diagnosis | Pemeriksaan fisik, wawancara medis, dan pemeriksaan mental hingga sleep study |
Faktor Risiko | Dapat dialami siapa pun |
Pengobatan | Obat-obatan, psikoterapi, relaksasi |
Pencegahan | Pola hidup sehat, hindari buku/film horor, hindari obat penenang |
Komplikasi | Depresi, kekurangan tidur |
Faktor Risiko
Mimpi buruk dapat terjadi pada setiap orang. Akan tetapi, anak usia 3 – 6 tahun menjadi yang paling sering mengalami kondisi ini. Hal ini karena anak-anak pada usia ini memiliki imajinasi yang begitu aktif. Dengan begitu, mimpi-mimpi mereka pun lebih berupa mimpi yang berasal dari imajinasinya.
Selain itu, seseorang dapat menderita gangguan mimpi buruk saat ada anggota keluarganya yang juga mengalaminya. Jadi, bisa dikatakan bahwa kondisi ini bisa terjadi secara menurun berdasarkan riwayat keluarga.
Penyebab Mimpi Buruk
Secara medis, belum pasti apa penyebab mimpi buruk. Namun, kondisi ini diduga berkaitan dengan beberapa kondisi. Contohnya yaitu:
- Faktor genetik
- Kelainan fisik
- Gangguan otak dan syaraf
- Faktor psikologis
- Gangguan tumbuh kembang
- Kebiasaan makan sebelum tidur
- Efek samping obat-obatan tertentu
- Gangguan tidur
- Trauma fisik maupun mental
- Konsumsi minum-minuman beralkohol
- Penyalahgunaan narkoba
- Nyeri kronis karena penyakit tertentu
Gejala Gangguan Mimpi Buruk
Gejala mimpi buruk dapat dilihat jelas oleh penderitanya itu sendiri. Yaitu berupa perasaan cemas, khawatir, dan takut akan gambaran visual maupun suara yang terjadi pada saat mimpi.
Biasanya, mimpi buruk terjadi dengan begitu jelas atau nyata. Dengan begitu, penderitanya mengalami ketakutan, rasa marah, cemas, sedih, maupun perasaan bersalah. Kondisi ini juga kerap disertai dengan beberapa gejala fisik seperti:
- Berkeringat
- Jantung berdebar kencang
- Nafas tidak beraturan
- Sleep paralysis
- Rasa takut untuk tidur kembali
Cara Dokter Mendiagnosis
Dokter dapat mendiagnosis mimpi buruk melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, sekaligus pemeriksaan lanjutan seperti pemeriksaan mental dan polisomnografi.
Pencegahan Mimpi Buruk
Agar risiko terjadinya mimpi buruk lebih minim, maka ada beberapa metode pencegahan yang dapat Anda lakukan. Di antaranya yaitu:
- Pastikan suasana kamar selalu nyaman
- Olahraga rutin setiap harinya
- Hindari konsumsi obat-obatan tanpa resep
- Atur jadwal tidur dengan baik dan cukup
- Hindari menonton atau membaca konten horor
- Lakukan hal yang membuat rileks sebelum tidur
Pengobatan Gangguan Mimpi Buruk
Berdasarkan American Academy of Sleep Medicine, bahwa IRT (Image Rehersal Therapy) menjadi treatment yang mereka rekomendasikan untuk gangguan mimpi buruk. Dengan bantuan terapis, para pasien diharapkan bisa lebih sedikit mengalami mimpi buruk.
Selain IRT, juga ada beberapa metode terapi lain yang bisa digunakan seperti:
- CBT
- systematic desensitization
- hipnoterapi
- testimony method
- lucid dreaming terapi
- sleep dynamic terapi
- progressive deep muscle relaxation
- self-exposure
Beberapa obat anti anxiety juga mungkin dokter berikan apabila memang membutuhkannya. Beberapa obat-obatan yang kerap dokter resepkan meliputi:
- triazolam
- nitrazepam
- prazosin
Komplikasi
Apabila tidak mendapatkan perawatan yang tepat, maka kondisi ini dapat mengakibatkan serangkaian kondisi seperti:
- Kegelisahan dan ketakutan akan mimpi buruk yang berulang
- Gangguan mood dan juga gangguan kecemasan
- Depresi
- Mengantuk yang berlebihan di siang hari
- Percobaan atau keinginan untuk bunuh diri
Kapan Harus ke Dokter?
Walaupun mimpi buruk merupakan kondisi yang umum, namun ada beberapa hal yang membuat Anda perlu mengkhawatirkannya. Di antaranya yaitu:
- Terjadi hampir tiap hari
- Mengakibatkan terganggunya aktivitas sehari-hari
- Memengaruhi perubahan perilaku
- Menimbulkan kecemasan
- Mengakibatkan rasa lelah dan ngantuk setiap saat
Narasumber:
dr. Rima Yanie
Dokter Umum
Primaya Hospital Betang Pambelum
Referensi:
- Nightmare disorder. https://unitedbrainassociation.org/brain-resources/nightmare-disorder/. Diakses pada 02 September 2024.
- Management of nightmares. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6263296/. Diakses pada 02 September 2024.
- Aetiology and treatment of nightmare disorder. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6850667/. Diakses pada 02 September 2024.
- Nightmares share genetic risk factors. https://www.nature.com/articles/s41398-023-02637-6. Diakses pada 02 September 2024.
- Conquering nightmares on the phone. https://link.springer.com/content/pdf/10.1007/s11818-021-00320-w.pdf. Diakses pada 02 September 2024.
- Nightmare disorder and isolated sleep paralysis. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8116464/. Diakses pada 02 September 2024.
- When disturbing dreams affect quality of life. https://adaa.org/learn-from-us/from-the-experts/blog-posts/consumer/when-disturbing-dreams-affect-quality-life. Diakses pada 02 September 2024.